
Kampus esok hari
“Permisi pak Brian, ruang konseling sudah siap peserta sudah menunggu di ruang kelas” Bu Ike melongok dari balik pintu.
“Baik, saya akan segera menyusul Ibu Ike, Oh ya bagaimana dengan jumlahnya?”
“Masih kurang satu pak, semoga ia segera hadir, nanti saya akan coba konfirmasikan kehadirannya karena ... ini sudah seharusnya masuk ke Sesi materi pak”
‘Jangan anak itu ... semoga bukan dia yg belum datang.’ Brian
“Saya akan menyusul Bu, silahkan tunggu di ruang kelas saja”
Bu Ike berjalan disusul dengan Brian yang berjalan tidak jauh darinya, jantungny berdebar sesaat memasuki ruangan dan matanya menyapu sekeliling ruangan yang terdapat beberapa mahasiswa yang sudah terduduk rapi dan benar saja yang tidak dia harapkan adalah kenyataannya.
Sesi hari itu tetap berjalan sesuai dengan rencana, materi yang tersampaikan tidak menampakan sisi khawatir Brian terhadap kekurangan peserta konselingnya.
‘Kurang ajar anak itu ... dia pikir ini main-main apa.’ Brian
Sore itu Brian kembali ke kamar hotelnya dengan wajah masam, ia melempar tas laptopnya ke sofa dan membanting tubuhnya yang lelah ditempat tidur setelah beraktifitas hari ini.
‘Kenapa dia tidak hadir... ini bisa mengancam penelitianku, kalau saja pengumpulan datanya tidak sesulit ini mungkin aku lebih baik mengabaikan dia, tapi kepercayaan dirinya yg begitu rendah sangat membuatku tertarik meneliti lebih jauh dan mengembangkan pribadinya menjadi lebih baik. Sial! penasaran aku dibuatnya.’ Brian
Brian sangat tergila-gila dengan penelitiannya kali ini, ini adalah kasus terakhir yang ingin dia coba selesaikan diantara yang sudah-sudah sukses ia lakukan, meskipun pada awalnya kasus ringan semacam ini adalah permasalahan mendasar yang terjadi pada setiap orang, namun subjek nya kali ini yang sangat membuatnya sangat penasaran menggali lebih jauh lagi sisi kehidupannya.
****
Selama semalaman kak Edo berada di dalam kamar Susan, tanpa sedikitpun beranjak dari sofa kecil disudut ruangan hanya jika ada kebutuhan melayani adiknya yang sedang dalam kondisi terpuruk saat itu, ia terus berpikir sebelum menyangka-nyangka keadaan terburuk apa yg telah dialami Susan.
‘Apa yang akan kukatakan pada mama dan papa mengenai kondisi Susan saat ini, aku harus bertindak apa kali ini ... sampai detik ini pun aku tidak tau apa yang terjadi padanya secara pasti, semoga yang kukira semua salah mengenai dirinya ... apa yang diucapkan orang-orang itu semalam begitu mengacaukan pikiranku pada hal paling buruk yang mungkin saja adalah kenyataannya.’ kak Edo
Kurang lebih Pukul tujuh pagi itu Eli sudah berada di depan pintu rumah untuk menghampiri dan melihat kondisi Susan saat ini, ia pun semalaman terjaga dan tidak bisa melepaskan pikirannya dari Susan, ingin segera bertemu untuk tau pasti siapa orang yang bertanggung jawab atas ini semua.
Kak edo membukakan pintu rumah dan terpancar rasa lelah dari wajahnya.
“Masuklah El ... dia masih terlelap, sebaiknya kita bicara disini saja”
__ADS_1
Eli sepertinya ingin menolak saran kak Edo, namun melihat situasi saat ini Eli hanya yakin tidak ingin mengganggu Susan yang masih terlelap tidur.
“Kau mau kubuatkan kopi atau teh El?”
“Tidak, terima kasih ... aku sudah pagi ini”
Mereka duduk bersama di depan ruang TV dalam beberapa saat masih saling terdiam berada dipikirannya masing-masing, sampai Eli membuka pembicaraan.
“Aku ingin membawanya ke dokter pagi ini, aku ingin melakukan tes visum untuk Susan, mohon ijinkan aku membantu membuka masalah ini.”
“Apa yang kau pikirkan itu sama denganku El ... aku hanya berusaha menguatkan diri untuk kemungkinan terburuk!”
“Bukan maksud ingin bertindak berlebihan, tapi memang itu tindakan yang paling utama untuk mengetahui kondisinya saat ini”
“Kami punya dokter keluarga yang bisa kupanggil kapanpun, hanya saja aku tidak berani memanggilnya karena dokter ini bisa saja memberitahu orangtua kami”
“Apaa ... Om dan tante ada rencana pulang hari ini?”
“Tidak, seperti biasa mereka akan menginap satu minggu setiap bulannya di Bandung, Nenek kami juga dalam kondisi sakit disana”
Itu alasannya kenapa orangtua mereka memang seringkali tidak berada dirumah.
“Terserah kau, aku sudah buntu dengan ini semua!”
Eli meraih ponselnya dalam saku dan mencari dokter kandungan terbaik yang ada di sekitar area kota kecil itu.
“Dokter Alexy. SpOG ... ini Edo, apa kau setuju?”
“Laki-laki? yang benar saja kamu!”
“Akan ada asisten yang akan menemaniny Edo, tenanglah ... “
Kak Edo hanya mengibaskan tanganya sepintas tanpa menjawab apa-apa, seketika suara benda terjatuh keras terdengar dari lantai atas.
BUUGG
SUSAN!! Kak Edo dan Eli seketika berpandangan dan bergegas berlari ke kamar atas diikuti Eli yang mengejar dari belakang menuju sumber suara.
__ADS_1
Ditemui oleh Kak Edo dan Eli kamar tersebut sudah dalam kondisi berantakan, bantal yang tergeletak dekat pintu kamar, lampu tidur yang berada jatuh dekat mejanya sudah lepas dari penutupnya kondisi Susan yang melilitkan dirinya dalam selimut bersembunyi dalam teriakan histerisnya.
Eli berlari masuk mendahului kak Edo berusaha ingin memeluk Susan namun dicegah keras seketika termundur dari langkahnya oleh kak Edo.
“KAU MAU APA!! DIAM DISITU ... ! INI ADIKKU, JANGAN CARI-CARI KESEMPATAN YA!!!” Kak Edo berteriak menggelegar seakan-akan terlepaskan emosi terdalamnya bagi siapapun yg mencoba menyentuh adiknya lagi.
Eli termundur dan berdiri tak bergeming.
‘Padahal aku hanya ingin memeluknya ... ingin sekali melindunginya saat ini untuk menenangkannya, bukan untuk apa-apa ... Sial si Edo ini!’ Eli kecut
Susan meraung-raung dari balik selimutnya, kak Edo membuka perlahan selimut yang menutupinya namun tetap tertahan oleh Susan yang masih bersikeras menutup dirinya.
“Ini aku, ini kak Edo ... bukan siapa-siapa ... Susan ... dengar ... lihat dulu ini aku kakakmu” kak Edo berkata halus.
Eli perlahan maju dan duduk disisi ujung tempat tidur memperhatikan situasi saat itu.
“Love ... ini aku” Eli mencoba sedikit membujuk.
Kak Edo sigap menoleh ke arah Eli seketika saat ia mengatakan itu. memandang tajam tanpa berucap apa-apa.
‘LOVE!!! apa ini!!’ kak Edo memandang sinis
Eli dan Susan selama ini memang merahasiakan hubungan mereka dari siapapun terlebih kak Edo, mengantisipasi ketatnya peraturan kak Edo yang super posesif terhadap keluarganya.
Susan perlahan mau mengendurkan genggaman kuat selimut yang menutupnya tadi, ia memeluk kak Edo dengan seerat-eratnya sambil tenggelam dalam tangisannya.
‘Lepaskan tangismu Dik ... aku akan terus melindungimu mulai dari sekarang tidak ada lagi yg bisa menyentuh dan menyakitimu!’ Batin kak Edo.
“Minumlah dahulu ... tenangkan dirimu ... kau harus makan ... mau ya?” kak Edo mengelus punggung Susan.
Susan masih terdiam dalam segukan tangisnya yang muncul sesekali dalam napas yang terasa sesak karena kesedihannya tadi.
“Kau harus makan, Love ... mau ku bantu suapi?” bujuk Eli dengan halus.
Lagi-lagi kak Edo menoleh cepat dan memandang tajam.
“Apa lagi ini! Lap Lop Lap Lop saja dari tadi ... dia sarapan nasi bukan Lap Lop Lap Lop!!” bentak kak Edo dengan ketus.
__ADS_1
‘HEI KAKAK GILA! Aku hanya membujuk kekasihku tau!’ Eli merengut kesal dalam hati.
Bersambung