My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Miss you


__ADS_3

Selalu saja salah waktu dan tempat. Atau, mungkin sudah jalannya mereka semua bertemu secara mendadak. Brian yang datang tiba-tiba menerobos masuk ke ruangan saat posisi pintu kamar rawat itu terbuka, setelah kedatangan Dicky beberapa saat sebelumnya.


Susan terlihat pias, menemukan situasi dihadapannya kini. Kecanggungan terasa, bahkan sampai ke posisi dimana Mama dan Eli sedang berbincang tidak jauh dari posisi Susan, Dicky, dan Brian.


"B—brian, ka—kamu sudah pulang?" tanya Susan gugup.


" ... " Brian terdiam menatap Susan dengan wajah kesal, sambil memasukan kedua tangannya ke saku celana.


"Oh, apa saya gak boleh menjenguk sahabat saya sendiri? baru duduk lho saya," ucap Dicky berpura-pura naif.


"Jadi anda mau disini?!" tanya Brian, sambil melihat ke arah Dicky, kemudian kembali menatap Susan. "Sue, aku harus keluar?! ... oke." Brian membalikkan badan dan berjalan kearah pintu.


"Bri! tunggu!" panggil Susan dengan panik.


Brian menghentikan langkahnya dan menunduk, menarik napas kasar tanpa menoleh sedikit pun. Eli yang sempat terkejut pun  bangun dari duduknya, lalu menggelengkan kepalanya sedikit. Bermaksud agar Dicky mau mengalah keluar ruangan.


"Bri, aku mohon ... "


Mama yang sempat ke sisi ruangan lain menghampiri Susan dan Dicky, diikuti Eli. Mama segera mendekat ke arah Dicky.


"Yuk! Ee ... kita keluar dulu ya, Dicky. Ngobrol sama tante, kangen lho tante sama kamu, mau tau kabar mama-mu gimana sekarang, nanti kita balik lagi." Lalu, Mama mendekat ke arah telinga Dicky dan berbisik, "maklumlah, lagi bertengkar, hehehe."


"Oh, ... Ya udah Tante, kita cari cemilan, yuk! Tenaaang Tante ... Dicky traktir, hehehe"


Brian yang mendengar Mama, menoleh dan merespon segera menghampiri.


"Tante? maaf. E—eh ... saya nggak liat tante tadi. Pintunya— terbuka soalnya, kaget, makanya saya langsung menghampiri Susan," ungkap Brian merasa tidak enak. Segera mengulurkan tangan hendak menyalami, mencium tangan Mama.


"Iya, tante tadi lagi ngobrol sama Eli, tapi terus mau ambilkan minuman di lemari es. Kasian ini, baru pada pulang kerja kayaknya mereka langsung kesini, hehe," ucap Mama sambil mengulurkan tangan, menyambut salam Brian.


"Oh, iya. Maaf ya, Tante," Brian tersenyum seraya menganggukkan kepala. "Tante apa kabar, Om juga bagaimana, sehat?"


"Sehat, Alhamdulillah. Om dan Tante baik-baik aja kok, kamu gimana? udah lama kayaknya gak main kerumah ..., sibuk?" ucap Mama lalu menepuk lengan Brian. "Kamu kurusan lho Brian, betul deh."


'Mulaaai ... mulaaai ... ' cibir Susan dalam batin.

__ADS_1


"Ow, betul? ya, saya sibuk Tante. Nanti senggang waktu saya main kerumah."


"Eh, makasih lho ya, udah diurusi ini soal rawat inapnya Susan. Tante kaget lho, semuanya sudah 'nak Adam yang tangani hingga beres," puji Mama.


"Sama-sama Tante, biar Om—Tante gak perlu repot, nanti biar hasil observasinya kita tunggu dari Dokter. Saya pastikan Susan boleh keluar jika betul-betul sudah pulih."


'Dan mulai lah acara saling mengambil hati ini,' batin Susan.


"Iya, nih. Tuh ... kasihan lho Brian, San— lagi sibuk kerja jadi repot mikirin kamu," ucap Mama ke arah Susan, dan kembali melanjutkan bicara pada Brian. "Susan itu susah dinasehati, suka gak mau makan, gak mau keluar kamar, diam aja di kamar habis pulang kerja. Sakit 'kan jadinya."


"Betul begitu?" Brian mengerlingkan mata ke arah Susan. Wajahnya terlihat kesal, tapi tidak dapat menyembunyikan sudut bibirnya yang sedikit naik.


'Benar saja 'kan perkiraanku, Mama memang susah sekali gak cerita kemana-mana' batin Susan makin kesal.


" ... " Susan terdiam menunduk, mengalihkan pandangan.


Brian memang tidak terlalu dekat dengan kedua orang tua Susan, jika dibandingkan dengan Dicky. Tapi dimata Mama, pilihan Susan kali ini jauh lebih tepat, tanpa mengetahui bahwa Eli dan Dicky yang selama ini hanya sebagai sahabat, ternyata adalah mantan kekasih Susan.


Brian yang lebih dewasa, serta latar belakang yang sangat baik adalah pilihan terbaik yang Mama temui. Mama bahkan belum melihat satu kecacatan apapun dari sosok Brian yang terlihat lebih berwibawa untuk anaknya yang seringkali masih bersikap kekanak-kanakan.


"Apa— mau saya pesankan makanan? menu makan malam untuk Tante sudah disediakan dari rumah sakit itu ... kenapa, gak suka ya Tante? nanti saya belikan dari resto lain ya, Tante mau apa?" ucap Brian memberondong pertanyaan.


"Udah ... udah ... kamu disini aja deh, kalian ngobrol, ya? ... gak kok, bukan gak suka. Tante mau ngobrol aja sama teman-temannya Susan."


'Mantan itu 'Ma ..., mantaaan,' batin Susan.


"E—eh iya, Tante," jawab Brian merasa tidak enak hati.


Sambutan Brian tentu saja terdengar basa-basi bagi Dicky, yang kala itu bersikap acuh saat meninggalkan ruangan rawat. Tentunya, Mama mencoba mengimbangi keberadaan Dicky, atas alasan hubungan dekat antar keluarga dan menganggap Dicky sudah seperti bagian dari keluarga mereka.


Susan dan Brian kini dihadapkan suasana canggung sesaat semua orang keluar dari ruangan. Kerinduan besar antara keduanya tersembunyi dibalik sikap acuh tak acuh karena mempertahankan gengsi. Di satu sisi Brian yang masih tidak terima dengan pertemuan Susan dan Dicky yang tersembunyi telah dinilai buruk dalam sudut pandang yang berbeda bagi Brian.


Bagaimana Brian bisa tahu pertemuan tersembunyi keduanya?


Beberapa potongan hasil rekaman CCTV yang diatur sedemikian rupa oleh Dicky, menampakkan kebersamaan antara dirinya dan Susan dalam situasi tanpa perdebatan, damai, bahkan terkesan mesra. Yaitu, dua video rekaman yang dikirimkan untuk Brian secara berturut-turut melalui email.

__ADS_1


Amarah Brian semakin menjadi-jadi karena masih menduga-duga. Tapi mampu membuatnya memutuskan ikut pulang ke UK dengan Ibunya, tanpa memberi kabar atau alasan sedikitpun untuk Susan. Brian hanya merasa butuh waktu untuk lebih tenang, dan tidak mempercayai segala rekayasa yang dibuat oleh Dicky.


Tapi, meski dengan sebuah bukti visual, Brian tidak sebodoh itu untuk percaya. Dia lebih mempercayai insting serta kemampuan analisisnya yang kuat, hal yang paling sepele untuk seseorang bergelar D.Clin.Psy (gelar doktoral psikologi di inggris).


Namun, segala perihal edukasi jika disandingkan dengan masalah percintaan, sudut pandangnya sendiri cenderung subjektif dari biasanya. Jauh dari segala prasangka perselingkuhan, Brian hanya tidak menerima sikap Susan yang selalu saja ceroboh tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, mengingat bagaimana sosok Dicky yang selalu berani bertindak apapun.


Di sisi lain, Susan sudah enggan mempertanyakan tindakan Brian yang tiba-tiba saja pergi tanpa kabar. Hingga ia sendiri nyaris pasrah akan kelanjutan hubungan mereka berdua ke jenjang pernikahan.


Kini Brian duduk di sisi ranjang rawat sambil melirik sesekali ke arah Susan. Ekspresinya tidak mampu menyembunyikan kemarahan, meski sangat bertentangan dengan kerinduannya selama dua minggu ini.


"Bunga yang bagus. Maaf, aku gak bawa bunga," gumam Brian. Ia meraih buket bunga dengan kartu ucapan tertanda si pemberi adalah Dicky, semakin membuat sikapnya sinis terhadap Susan.


"Aku gak minta apa-apa. Kamu tau yang aku harapkan disini cuma kehadiran kamu. Tapi dengar, aku gak perlu diberi rasa iba, cukup penjelasan atas kepergian kamu bisa melegakan perasaanku. Kamu bosan atau apa? setelah malam yang kita habiskan waktu itu,  kamu—,"ucap Susan tanpa sedikitpun memandang Brian. Brian menyambut perkataan Susan sebelum ia menyelesaikan ucapannya.


"Aku bukan orang yang suka main-main. Apa gak sebaiknya pertanyaan itu kamu yang jawab sendiri?!" sanggah Brian.


"O-okey ..., jadi ini masalahnya di aku. Hah! tolonglah, Pak Dok-tor~,  sepertinya kamu kurang objektif. Kamu sendiri yang hilang tanpa kabar, kamu yang menghindar tidak ingin aku hubungi, sekarang masalahnya ada di aku?!"


Brian bergeming, sesaat terdiam tanpa mengucapkan satu katapun membalas pertanyaan Susan. Kemudian melanjutkan kembali kata-katanya.


"Aku tau kamu sudah berbuat ceroboh dibelakangku! Peringatanku kamu abaikan kesekian kalinya. Berjalan dengan pikiran dan keputusanmu sendiri, sedangkan kamu tau orang yang kamu hadapi bisa saja berbahaya buatmu! Masih pantas aku beri kepercayaan?!"


"Maks—sudmu ... apa??" ucap Susan ragu. Cukup terkesiap dengan perkataan Brian.


"Kenapa harus mendatangi rumah si predator malam-malam, dan sedang apa kalian makan siang mesra-mesraan di kafetaria kantor, hm?? Atau memang kamu gak bisa jauh dari Dicky, katakan sekarang!"


"Ah, itu ... A—aku ..."


'Sial! berbuat apa lagi si Dicky! gimana Brian tau soal ini!' gumam Susan dalam hati.


"Sudah pernah kukatakan. Aku akan berhenti memperjuangkan kamu, jika kamu sendiri yang memilih pria lain. Jadi, pastikan perasaanmu mulai sekarang! aku gak bisa melanjutkan pernikahan dengan orang yang masih bimbang, dan aku gak ingin memiliki Istri yang masih menerima untuk diganggu oleh pria lain!" tegas Brian.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2