
Dicky berjalan menuju ruang HR, lagi-lagi mengintip dari balik kaca melihat aktifitas sibuk orang-orang di dalamnya. Sedangkan Susan terlihat sedang duduk sedikit bersandar di kursi yang menghadap komputer. Memijat kecil pangkal hidungnya seraya menatap layar monitor yang menyala.
'such a perfect time!' ucap Dicky sambil tersenyum dan melihat sekitarnya tiada siapa pun yang nampak akan mengganggu kesempatan nya.
Dicky mengetuk pintu ruangan itu yang sedikit terbuka.
TOK TOK
"Permisi. Adaa ... Mbak Susan?" Dicky bersikap manis pura-pura.
"Eh, Mas Erick. Ya, ada apa mas? kok nyarinya Susan aja, disini kan banyak" canda Mba Wulan.
"Hahaha masa semuanya 'Mbak"
Susan menoleh kearah Dicky yang tersenyum memandangnya dari kejauhan.
"Mbak Susan!" Dicky memanggil dengan sikap sopan dan pura-pura polos.
"Ya, ada apa. Nanti ya, aku masih sibuk nih" jawab Susan datar. Membuang muka menatap layar monitor lagi.
"Sebentar aja 'Mbak. Ada perlu"
"San, hampiri dulu sana. Gak enak lho itu anak pusat nanti dikira jutek kita" Bisik Mba Yuni.
'Duh! Mereka gak tau apa-apa tentang kami, ada rencana apa lagi dia'
Namun ketimbang jadi tidak enak hati atas bujukan Mbak Yuni, Susan menyanggupi menghampiri Dicky.
"Hhh ..., ok. Ada apa Massss Erick!"
Susan bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri Dicky.
"Ehh ... Ada perlu sebentar Mbak"
"Disini saja, kenapa?" bertanya dengan sikap dingin. Menatap tajam.
Satu ruangan seakan senyap menyimak percakapan itu dengan sikap Susan yang kurang ramah.
Susan mendongak memandang dengan sinis membelakangi teman-teman se ruangannya. Mencurigai maksud kedatangan Dicky kali ini.
"Bisa keluar sebentar, ada yang mau aku kasih liat"
"Ya. Disini aja kenapa?"
"Ke bagian Layanan, 'Mbak" Senyum pura-pura nya sekejap hilang dan menatap mengancam.
"Eh"
Namun kembali tersenyum saat Susan sempat terhenyak.
"Saaaaan ... " tegur Mbak Wulan.
"Huh, ok." Susan berjalan keluar ruangan dan mengikuti Dicky yang menggiringnya ke lokasi aman untuk mereka bicara.
__ADS_1
Sambil berjalan menjauhi ruangan Susan bertanya kembali.
"Ada apa lagi kamu, tidak cukup meng intimidasi aku tadi malam, hah!?" berkata pelan
"Hahaha. Selalu saja pikiranmu buruk tentangku. Aku hanya mau memberi minuman, kulihat kamu sedang sibuk, ya 'kan?!" menyodorkan satu cup kopi dingin yang digenggamnya.
"Apa ini, mau mengajak berdamai atau mau memberiku racun?"
"Ambil!" tegas Dicky.
Susan kembali terhenyak dan menerima cup kopi itu dengan ragu.
"Kalau cuma itu kenapa alasan ke Operasional segala?" Susan kembali meninggikan suara.
"Sini kamu!" Dicky menarik lengan Susan dan menuntun ke arah ruang meeting.
"Kamu mau aku teriak saja ya! Lepas!"
"Aku cuma mau bicara, tidak usah berlebihan! Santai sedikit kenapa sih!"
Susan menghela napas kasar saat mereka mulai berada disudut luar ruang meeting yang jarang dilalui orang.
"Oke, cepat. Aku masih banyak kerjaan 'Dic. Dan kenapa kamu juga masih disini!"
"Selalu saja terburu-buru." Dicky tertawa kecil "Oh ya, ngomong-ngomong ... Katanya kau sudah punya pacar, ya?"
"Kalau ya kenapa, kalau tidak kenapa?"
"So? Mau pamer itu saja? Hhhh gak penting!"
"Ya, terserah. Tapi sudah kutinggalkan dia di UK. Kalau aku cari yang baru lagi, kau rela tidak?"
"Kau selama ini di UK??" Susan berbisik pelan "Kau pergi sejauh itu untuk menghindar dari masalah? ... Banci!!" hardik Susan seketika.
"Hei! Mama ku bersusah payah melindungiku agar jauh dari masalah besar yang sudah kau buat! Bukannya melindungiku saat itu tapi kau malah menghampiri si Brian itu dan bersenang-senang dengannya!"
"Kamu gak tau apa-apa saat itu! Tiba-tiba saja pergi tanpa kabar saat aku mencarimu kemana-mana!"
"Ah, sudahlah. Tidak usah munafik! Wanita macam apa yang menghampiri Pria ke hotel berkali-kali. Siapa yang tau kalian berbuat apa disana! Apa sebutan yang pantas untuknya, wanita panggilan?"
PLAKK
Dicky menyeringai dengan pipinya yang memerah atas tamparan yang diterimanya.
"Kau bahkan tidak tau apa-apa 'Dic!!"
"Apa?? Apa yang aku tidak tau. Hubungan kalian? Lihat sana, pacarmu sedang bersama orang-orangnya sekarang, masih mau menyangkal kalau kalian berdua pacaran!?"
Susan terhenyak mendengar perkataan Dicky. Bagaimana ia tau kalau Brian kini adalah kekasihnya.
"Ka—kami belum lama bertemu kembali, beberapa bulan sebelum kedatanganmu lagi. Tapi untuk kau ketahui, hubungan ku dengan Brian saat itu sebatas pertemanan"
"Teman?? Jadi kalian berdua memang sekongkol untuk menjeratku ke penjara kan?"
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak pernah menghianatimu seperti itu, bahkan sesaat sebelum kau menghilang ... Aku mencoba bertahan memperjuangkan nasibmu!"
"Hah, nyatanya kau hanya diam saat Brian dan 'Orang'nya melayang kan surat itu di hadapan Mama ku, 'kan?
" Aku pun tidak tau soal itu. Bagaimana ia berani menuntutmu tanpa sepengetahuanku!"
Dicky terdiam terhenyak mendengar pernyataan Susan.
"Kenyataannya kini mereka tidak mencariku lagi karena kamu sudah menyerahkan dirimu, 'kan!"
Tangan Susan mengepal dengan geram, kali ini sudah tidak sanggup menampar Dicky yang sembarang bicara.
"Kau sampah! Aku mengejar Brian ke hotelnya untuk mencaci nya, memohonnya untuk menarik tuntutan sebelum kau pergi! Tanpa kau sedikitpun tau saat itu perasaan ku mulai tumbuh padamu" suara Susan bergetar menahan amarah.
Wajahnya memerah dan matanya mulai menguraikan airmata.
Dicky sempat terkesima dengan perkataan Susan nyaris tidak percaya dengan apa yang didengar nya barusan.
"Perasaan apa? Katakan!"
"Saat itu ... Kau memilih pergi tanpa tau ... Aku mulai mencintaimu"
"Tapi kenapa kau malah sekarang berbalik arah dengan mencintai orang yang telah diam-diam merusak hubungan kita!"
"Dia tidak merusak. Kau saja yang gegabah! Dia sudah menarik tuntutan itu sesaat sebelum kau pergi, ia bahkan mengakui kesalahannya tidak membiarkanku tau tentang semua rencana nya"
"Tapi dia ... "
"Sampai kapan pun kau tidak akan puas menyalahkan orang lain akibat perbuatan mu sendiri. Dia bahkan sudah melupakan itu semua atas permintaan ku, dia hanya berusaha melindungiku dari kalian yang selalu memaksakan kehendak. Dan, satu hal lagi Dicky ... Ternyata, hatinya jauh lebih mulia daripada mu" Susan bergegas pergi meninggalkan Dicky berjalan menuju ke toilet untuk menghapus airmatanya.
Dicky yang masih bingung dengan perasaannya saat itu pun masih belum puas. Kembali mengikuti Susan dari belakang.
Dicky bersandar di depan toilet wanita menunggu Susan keluar untuk kembali bicara.
Saat Susan keluar, Dicky kembali menghampiri dan tidak mencoba menyentuhnya sama sekali.
"San"
Langkah Susan terhenti dan mencoba mengabaikan Dicky. Enggan membalikan badan.
"Mau apa lagi kamu, lupakan masa lalu kita. Jalan kita sudah masing-masing"
"Aku hanya mau bilang, meski aku belum bisa percaya tentang perasaan mu saat itu. Aku tidak pernah mampu memaafkan pengkhianatan mu dengan Eli yang membuat calon bayi kita terbunuh, kau ingat itu" ucap Dicky datar, kemudian berbalik meninggalkan Susan dengan mata yang mulai berkaca-kaca mengingat masa lalu buruk mereka.
Susan memejamkan mata menahan tangis, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Dicky yang pergi meninggalkannya.
'Dan tetap saja Dicky ... Kau tidak tau apa-apa tentang apa yang terjadi padaku dan kebohongan besar yang diucapkan Eli saat itu'
.
.
Bersambung
__ADS_1