My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Petualangan Sederhana Brian


__ADS_3

Malam itu, aku kerap berpikir bahwa Brian sangat ketergantungan oleh para asisten nya dalam banyak hal. Tapi terlalu jahat jika menuduhnya tidak berpikir sama sekali. Ia bukan bayi.


'Paling tidak dia sedang berusaha, bukan diam ditempat menunggu jodoh datang, bukan?' hatiku membela sikap dan cara hidupnya.


Semoga perkataanku menyebut dirinya 'Tuan' tidak menyakiti perasaan. Aku bahkan tidak tau bagaimana ia melalui hidup selama ini. Siapa orang dibelakang yang telah membesarkannya di Indonesia dari kecil hingga dewasa dengan pengetahuan luas dalam bidangnya. Hanya ada satu kata 'Uncle' yang pernah sekali disebut Adam, Siapa dia.


Menangani LSM sekaligus sebagai konselor, menjalani bisnis edukasi dan beberapa investasi saham yang turut menyokong finansialnya. Selebihnya lagi, banyak yang aku tidak tau. Itu memang tidak mudah sebagai anak tunggal yang berjuang di negara orang.


Tidak pantas aku menilai apapun, benar-benar dedikasi hidupnya selama ini diluar masalah percintaan yang ia abaikan bertahun-tahun. Tentu saja dia jadi sangat dewasa di usianya saat ini.


****


Esok pagi hari,


Rutinitas memaksaku bangun lebih awal. Terlarut berpikir semalaman tentang Brian hingga terlupa laporan yang harus kukirim dalam batas waktu akhir bulan. Kuputuskan sambi dalam perjalanan nanti.


Kini, terburu-buru kuraih ransel hitam berukuran sedang, kusisipkan tablet, hingga berjingkat-jingkat saat kuselipkan flat shoes ringan pada kakiku. Tidak ada jadwal training hari ini, sehingga lebih nyaman menggunakan kemeja berlengan pendek berlogo perusahaan hari itu.


Saat menuruni tangga dengan tergesa-gesa, Mama menyambutku dengan satu nama pamungkas pengalih pikiran. 'Brian'.


"San. Brian udah nunggu dari tadi, hampiri dulu sana. Sudah hampir sejam."


"Eh, lho. Brian? Aduh Susan gak dengar, Masa sih 'Ma? Gak ada suara mobil masuk."


"Hmm kamu, lebih baik kamu segera berangkat deh, sebelum Papa balik dari Olahraga"


"Memangnya Mama ..."


"Iya Mama sudah tau, makanya cepat deh berangkat. Kalau Papamu sampai ketemu Brian kan panjang urusannya, nanti kamu terlambat"


"Sebentar, aku buatkan teh dulu."


"Sudah Mama kasih tadi. Hampiri saja dulu sana, nanti kalau mau pamit baru Mama kesana"


"Oh, iya. Makasih ya 'Ma, Heeeee ..."


Aku berjalan mengendap-endap menghampiri Brian. Kuintip sedikit melalui jendela, nampak si rambut pirang kecoklatan sedang duduk sambil memandangi grafik dan angka-angka bergerak pada tablet di genggamannya. Sepertinya ia sedang memantau pergerakan sahamnya pagi ini, benar saja ia memang sibuk tapi tidak ingin menampakannya di depan ku selama ini. Sesekali ia meraih ponsel mengetik pesan pada seseorang. Teringat tak bisa berlama-lama kuhampiri tunanganku yang tampan.


"Sayang, sibuk?" kutepuk pelan pundaknya hingga ia terkejut hampir menjatuhkan Ipad ditangannya.


"Eh!! kamu. Huuuff ... " Brian menoleh dan menyentuh tanganku dipundaknya.


"Hehehe Maaf. Fokus banget, sih. Lagi ngabarin pacar?"


Ia mematikan Ipad dan meletakannya diatas meja.


"Iya, pacar. Jam segini belum balas-balas. Habis tunanganku mandinya lama"


"Benaaaar pacaaaar?"


"Hahaha." tertawa kecil "pagi-pagi sudah cemburu, pacarku ini biasanya jam segini kan sudah jemput kamu, mentang-mentang aku yang kesini dia malah santai. Kupotong bonusnya nanti dia"


"Hahaha, Adam? Kalian jadian juga?"


Brian bangun dari duduknya.


"Please, jangan diteruskan. Aku illfeel dengarnya. Uuuh sini kamu!" Ia menarik lenganku dan mencium keningku. "Awas kamu ya." berbisik pelan, menatap mengancam sambil tersenyum.


"Pagi-pagi, hey. Ingat ini rumah siapa"


"Kangen boleh 'kan? Habis kamu marah-marah terus akhir-akhir ini. Bikin gemas saja, huu–uh!" sekarang ia mencubit pipiku. "masih marah?"


"Hmm ... Entah ya, menurut kamu?"


"Mmm ... menurutku kamu pantas ambil cuti. Kita refreshing keluar, bagaimana?"

__ADS_1


"Woaaahh maaf, ini akhir bulan, honey. Laporanku banyak."


"Oh, baiklah. Tapi kalau kamu mau, aku juga bisa membantumu menyelesaikan laporan, apa sih itu ahhh input data, kecil lah. Hahaha"


"Eyyy, sombongnya ... Jadi managerku saja sekalian"


"Hahaha, boleh kalau ada slot kosong, aku ajukan pasti diterima."


"Gak ah, nanti aku gak bisa tebar pesona"


"Oh, begitu. Hmm ... Yaaa tidak apa-apa sih"


"Hahaha, ada yang cemburuuu ... Rasakan!" aku mencubit pinggangnya.


"Kan aku sudah bilang terserah kamu, paliiiing ..."


"Paling apa?"


"Besok malam kamu sudah di lokasi lain, Hahaha"


"Ehhh. Apa itu, penculikan?"


"Penyekapan" Brian berbisik.


"Tega, Hahaha"


"Aku bercanda, Hahaha. Cuma pembalasan saja pada malam pernikahan, habis-habisan!" bisiknya lagi lebih dekat ke telingaku.


"Woooh, apa sih! Sudah ah, berangkat yuk!"


'Sial, pagi-pagi buat otak traveling saja orang puber ini' gumamku dalam hati.


"Iya, kita pamit ke Mama mu"


Kami berpamitan pada Mama di dalam, dan saat kami berjalan ke arah depan, terkejut lagi atas rencananya pagi ini.


"Aku tidak bawa mobil"


"Serius? Loh, nanti bagaimana kalau tiba-tiba ada keperluan? Rencana kamu hari ini apa?"


"Menemani tunanganku di kantor"


"E—eeh, aku sibuk lho hari ini, nanti—kamu tunggu dimana 'Bri." aku terhenyak, mengingat Dicky sedang ada dikantor, sebelah ruanganku saat ini.


'Mati aku. Bagaimana kalau mereka berdua sampai bertemu, bisa-bisa Brian memintaku resign nanti'


"Gampang, tidak usah dipikirkan. Tenang saja, aku tidak akan mengganggu mu kok."


"Bu—bukan, eeeh ... "


"Ada yang dikhawatirkan? Kok, tiba-tiba panik begini?"


"Gak, gak apa-apa. A—aku pesan ojek dulu ya."


Aku meraih ponsel dalam tas, Brian menghentikan tanganku saat hendak membuka aplikasi ojek online diponselku.


"Kita naik ojek?"


"Iya, aku biasa naik itu dulu-dulu, nanti kita naik commuter lho"


"Hmm ... Dear, percayalah ini baru pertama kali untukku. Aku ingin mencoba tau, tapi ... Apa kamu tidak memikirkan nasib abang ojeknya?"


"Maksudnya?" aku berpikir sejenak melihat matanya yang melirik kecil kearahku.


"You think?" Ia mengangkat kedua bahunya. Kemudian meraih ponselnya sambil bersikap acuh.

__ADS_1


Seketika tawaku meledak mengingat sesuatu.


"Hahaha ... Hahaha ah, shooot. Maaf aku lupa, hahaha"


"Mungkin abangnya akan bersyukur kalau kamu yang naik, bagaimana kalau aku?"


"Serius. Hahaha ... Maaf aku tertawa, sayang. Hahaha ... "


"Tertawalah" ucap Brian acuh, tapi tersungging senyum kecil disudut bibirnya.


'Bagaimana aku bisa lupa, sekalipun si abang ojek bisa mengimbangi ukuran tubuh Brian pada motornya, pasti akan aneh dan kasihan melihatnya'


"Oh. okay, okay sayang. Hahaha ... Aku minta maaf hahaha"


"Sudah mulai hilang empati kamu, ya?" Brian tanpa basa basi menghubungi Call center taksi konvensional "Ya hallo, taksi Blue ... "


Selama perjalanan kucoba tidak menunjukan kekhawatiran. Brian pasti menangkap pikiranku nanti. Sejauh pemahaman dan cara analisa kami pada ucapan serta bahasa tubuh seseorang. Inilah bahaya bermain-main dengan Psikolog. Kami bukan dukun, hanya terlanjur peka. Rajin main tebak-tebakan jalan pikiran.


Saat kami berada di stasiun kereta, Brian memaksa memberi uang untuk mengisi saldo kartu Commuter ku dan membeli satu kartu sekali pakai untuknya. Dan ini jam pagi, nampaknya Brian shock melihat kepadatan manusia dalam satu gerbong saat kereta melaju masuk dijalur utama dan berhenti di depan kami. Meski ia berusaha tenang tapi tangannya yang seketika berkeringat sigap merangkul punggungku, mencoba melindungi.


"Gila, bisa-bisanya mereka naik kendaraan sepadat ini" gumamnya pelan sambil tercengang.


"Ini kan jam pagi, aku sudah biasa, honey. Apa harus aku yang melindungi mu kali ini?"


"Eh?!" Ia terkejut aku mendengar ucapan nya "ti—tidak, ayo naik. I'll cover you"


Brian berusaha masuk lebih dulu, kemudian menarikku masuk dan merengkuh tubuhku tanpa peduli sekitar. Terlihat ia mengernyitkan dahi nampak tidak nyaman terlalu rapat dengan orang satu sama lain. Aku mengajaknya bergeser perlahan ke lokasi bangku prioritas.


Seorang pria bangkit memberikan kursinya untukku, Brian melepaskan pelukannya membiarkan aku duduk, kini ia berdiri tepat didepan menghadapku berpegangan pada rak besi. Dan ini bukan kereta Shinkansen di Jepang yang tidak ada getaran, orang seisinya akan ikut gerakan bagaimana kereta melaju. Dan masalahnya ini kekasihku, bukan oranglain, jelas saja aku risih. Ah sudahlah ...


'Entah bagaimana bisa aku mengajaknya naik kendaraan umum, nyatanya aku salah membuatnya masuk dalam duniaku. Dan sekarang ... Aduh! ini memang serba akhir bulan, tapi otak ku bisa saja piknik setiap waktu kalau mendapati posisi macam begini.'


Aku tertunduk menutup wajahku. Terlihat Brian tertawa kecil diantara ketidak nyamanan nya berada disitu, saat memandangku yang tiba-tiba berubah canggung tidak bisa menatap kedepan. Hingga waktunya turun, selama itu kami hanya terdiam, sesekali bertemu pandangan dan senyum-senyum, tertawa kecil menggelengkan kepala.


Lega sudah kami turun pada stasiun yang dituju, tawa nya meledak tiba-tiba.


"Hahaha, seru ya. Kasian kamu, hahaha"


"Senang ya? Puas kamu?" aku tertawa kecil menahan malu, sialnya lagi ia mengerti pikiranku.


"Bagaimana tidak, wajahmu merah begitu." Ia merengkuh punggungku lagi dari samping. Sebelah tangannya mengusap-usap rambutku.


"Haa—aah, nyesel aku ngajak kamu!"


"Hahaha, jaga pikiranmu ya kalau bukan aku yang didepan mu tadi"


'Sial, Benar 'kan. Dia baca pikiran ku'.


Tertanam sudah, pikirannya tentangku hari ini.


Perjalanan belum usai. Brian tidak mengijinkanku membalas dendam pagi dengan menaiki ojek pangkalan dari stasiun agar bisa melalui jalan pintas menuju kantor. Sayangnya ia cukup pintar, ia membuka Google map dan mengetahui bahwa jalur pintas ini juga bisa dilalui dua mobil, ia sigap memesan taksi lagi. Skor 1:0, Curang.


Sampailah kami dikantorku, cukup menguras tenaga dan waktu. Sangat berbeda jika aku hanya berjalan sendiri, tidak banyak memilih dan komunikasi, bisa lebih fokus berlari atau mengejar akses termudah menuju kantor.


Kami memasuki Lift menuju lantai ruanganku, kekhawatiran muncul seketika mengingat perihal Dicky lagi.


Kami turun di lantai 21, berjalan pelan Brian menggenggam erat tangan kananku.


'Brian nekat mengantarku hingga ke ruangan, semoga Dicky tidak keluar atau nampak terlihat di ruang IT pagi ini'


.


.


Bersambung

__ADS_1


Mohon maaf Author baru bisa UP dan belum sempat menjejak ke tempat kalian, ada beberapa kendala yang sulit disampaikan, semoga segera akan saya kunjungi novel kalian🙏


__ADS_2