
Dicky nyaris tersungkur, namun kembali menyeimbangkan tubuhnya untuk dapat berdiri. Sedikit darah terlihat pada sudut bibirnya akibat pukulan keras tadi, namun Dicky tidak berusaha membalas apapun.
Brian memandang Susan dengan kecewa dan marah, karena telah membiarkan Dicky berlama-lama, bahkan setelah perjalanan yang dihabiskan keduanya. "Kamu! ... masih senang berlama-lama disini, menunggu apa?" tegas Brian pada Dicky.
"Bri, aku yang menahannya tadi, untuk bilang terima kasih!" jelas Susan
"Terima kasih? atau menunggu dia melakukan hal lain lagi?" ucap Brian dengan sigap kembali memandang Dicky yang berusaha berdiri tegap kembali.
"Bri! dia gak nyentuh aku!" ucap Susan dengan sedikit histeris.
"Atau belum? ... " tanya Brian yang segera kembali menoleh ke arah Dicky memastikan pernyataannya "benar begitu kan?"
"Bro! eh, Pak!— " ucap Dicky berusaha menjelaskan, namun kembali ucapannya terputus oleh Brian.
"Berhenti memanggil saya Bapak! ... lebih baik anda segera pergi dari sini, perjanjian satu hari sudah cukup 'kan?" ucap Brian merendahkan suara dengan dingin.
"Kalau saya nggak menepati janji saya, anda tau kan bagaimana saya mampu berbuat nekat?" ucap Dicky tanpa rasa takut atas penjelasannya.
Brian tampak menegakkan tubuhnya dan hendak mendekat seakan ingin menyerang kembali. Susan dengan panik, menarik lengan Brian berusaha menghentikan langkah Pria yang tengah emosi saat ini.
"B-Bri— udah! Mohon jangan pakai kekerasan, sayang. Sudahlah ... ini udah malam, nanti keluargaku tau!" ucap Susan, mencoba membujuk Brian agar tidak melakukan kekerasan lagi.
"Aku gak akan tenang sampai kamu benar-benar masuk ke dalam rumah, dia bisa akal-akalan cari waktu yang tepat mengganggu kamu lagi. Sue, masuk ke dalam, sekarang!" tegas Brian dengan dingin.
"Saya menghargai anda karena anda calon suami Susan, jangan merasa paling kuat ya, Bro!" tantang Dicky. Ia mulai tidak sabar dan maju mendekat ke arah Brian.
"Dicky, udah!" cegah Susan seraya cepat mengambil posisi membentangkan tangannya diantara kedua pria itu.
"Oh, anda ini ... mau berlagak preman ya? saya mengurungkan diri memberi anda pelajaran selama ini, sudah cukup saya menahan diri!" ucap Brian yang mulai menaikkan nada bicara kembali.
"Tapi kan saya emang gak nyentuh Susan, Pak! salah saya dimana??" balas Dicky dengan ringan dan menantang.
"Jangan bohong, saya lihat gerak-gerik anda mau berbuat apa!" tukas Brian seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah Dicky.
"Pacar anda nangis Paa—k, ya ampun. Ini perempuan lho. Saya mau coba tenangin aja." jelas Dicky dengan kesal.
"Punya hak apa anda mau menyentuh calon istri saya? lancang sekali!"
"Dia juga baru calon kan? belum sah dengan anda, kok ngatur-ngatur sih, Pak!" ucap Dicky dengan nada nyeleneh.
"Berhenti beralasan! ... anda sebaiknya pergi dari sini." Brian meredam suaranya, "Sue, masuk!" pinta Brian
"Oke! tapi ini hanya karena saya gak mau memancing keributan ya, anda dengar itu!" ucap Dicky dengan sinis. "San, aku balik!" ucap Dicky dengan malas. Ia berjalan menahan amarah, dan berjalan cepat menuju rumahnya.
Susan panik, dan tercekat memerhatikan kedua pria dihadapannya yang nyaris saja melancarkan perkelahian. Di sisi lain ia tidak percaya jika Brian mampu bertindak lebih, namun bukan hal yang tidak mungkin, sangat manusiawi jika ia khilaf karena emosi.
"Kamu masuk sekarang! Jangan buat aku kecewa! Aku gak butuh penjelasan apa-apa atas pembelaan kamu ke dia. Kita bicara nanti!" tegas Brian dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
"B-Bri~ ...." Belum sepatah kata pun ia sempat jelaskan, Brian berjalan cepat ke arah sisi jalan, meninggalkan Susan secara mentah-mentah. Brian menuju tempat dimana ia sengaja memarkirkan kendaraannya beberapa rumah dari lokasi, agar tidak terlihat kedatangannya dari awal.
Susan belum juga beranjak, masih terhenyak dengan sikap Brian. Ia memandang miris saat kendaraan kekasihnya lewat dan melaju cepat di depan jalan rumahnya.
****
Tatapannya kini terpaku pada langit-langit kamar, Susan merebahkan tubuhnya tanpa mampu memejamkan mata, seakan ia terlupa akan rasa lelah. Teringat beberapa kejadian tadi, yang bisa saja secara fatal menggagalkan pernikahannya, jika Brian tidak mampu mengendalikan dirinya lebih jauh lagi. Baru kali ini Susan melihat kekasihnya melakukan kekerasan pada seseorang, dan itu akibat kesalahannya membiarkan Dicky.
Waktu menunjukkan pukul setengah 12 malam kala Susan belum juga menggerakkan tubuhnya, untuk bangkit dari atas tempat tidur. Ia termenung dan kerap bertanya-tanya dalam kekhawatiran, bagaimana akan menghadapi Brian nanti. Dan, bagaimana perasaan Dicky kala waktu yang mereka habiskan hari ini, berakhir dengan sangat tidak mengenakkan.
Suara ketukan kaca pada pintu beranda kamar menghentikan lamunannya. Ia tersentak mendengar suara yang tidak asing itu kembali mendatanginya.
"San, bisa bicara sebentar ... kamu belum tidur kan?" tanya Dicky pelan.
Sekian tahun berlalu, ini pertama kalinya lagi Dicky menghampiri teras kamar Susan di lantai dua dengan memanjat seperti dulu. Bukan hal yang aneh jika tidak dengan status keduanya saat ini.
Susan mendekat ke arah pintu, merapatkan tubuhnya untuk meredam suara. "Mau apa?! Gak ba–ik kamu kayak gini! Ini udah malam ... masih ada besok!" bisik Susan seraya menempelkan pelipisnya pada daun pintu.
"Aku minta waktu sebentar, aku gak tenang! Sebentar aja kasih waktu bicara, dan aku gak akan ganggu kamu lagi ... tolonglah San~ ," lirih Dicky dari balik pintu.
"Apa urusanku buat kamu tenang?" jawab Susan memaksa dirinya membantah, "tolong mengerti posisi aku, Dic~." lirih Susan.
"San—, please ... " bujuk Dicky.
Susan semakin bimbang dengan situasi kini, ia tahu betul pria yang dihadapinya. Mungkin saja Dicky tidak akan beranjak satu senti pun jika keinginannya tidak terpenuhi.
"Aku cuma mau bicara, aku gak akan pergi sampai kamu buka pintu. Aku akan mundur, gak akan masuk kedalam," bujuk Dicky.
"Benar-benar kamu! Hhh ...," bisik Susan kesal.
Susan membuka pintu perlahan, dan Dicky melangkah mundur menjauhi pintu. Susan keluar dan segera menutup pintu itu rapat-rapat, agar tidak ada kemungkinan buruk terjadi. Susan mengambil jarak berdiri satu meter dari hadapan Dicky.
"Maaf ... udah buat kalian bertengkar," ucap Dicky dengan nada bersalah.
"E-eh, iya. Mmm ... dan ma-maafin Brian juga, dia hanya salah paham," ucap Susan merendahkan suara. "Apa yang mau kamu bicarakan lagi ...?" tanya Susan.
Dicky terdiam sejenak menatap Susan, dan mengangguk pelan. Dalam ragu ia menghela napas sesaat kemudian memberanikan diri berbicara. "Jujur ... memang benar saat itu— aku ingin memeluk kamu. Brian gak salah paham." Dicky tertunduk berat mengungkap niatnya tadi.
"Kamu kan janji! kamu janji gak akan macam-macam hari ini," ucap Susan dengan dingin.
"Kamu pikir aku tahan liat kamu nangis didepanku?!" ucap Dicky seketika menaikan nada bicara. "San! bilang jujur sama aku, kenapa nangis?!" tanya Dicky. "Apa airmata kamu benar-benar untuk aku ...." tambahnya menegaskan.
"I-itu ...," Susan berbicara dengan terbata-bata.
"Jawab San— !" tanya Dicky dengan tegas.
"Aku nangis karena aku gak tega sama kamu!" jelas Susan dengan cepat.
__ADS_1
Dicky terhenyak atas jawaban Susan, tidak mempercayai yang ia rasakan saat itu hanya sebuah belas kasihan. "Seandainya aku bisa mengubah kesalahanku dulu, aku bakal lakukan segalanya, San. Segalanya! ... Aku ingin bisa bahagiain kamu!" ucap Dicky dengan nada membujuk. Ia melangkah maju dan sigap memegang kedua lengan Susan. Sorot matanya menatap semakin dalam, berusaha meyakinkan wanita dihadapannya.
"Jangan konyol kamu!" hardik Susan seraya berusaha melepaskan diri. "Hah, aku akan menikah! ... aku te-tap akan menikah, Dic! kamu ingat itu, ingat!!" lirih Susan seraya memukuli dada pria itu dengan kedua sisi kepalan tangannya. Tanpa disadari airmatanya kini kembali mengalir, terlarut emosi atas ucapan yang semakin memojokkan posisinya.
Sigap Dicky menangkap kedua pergelangan tangan Susan untuk menghentikkan pukulan yang sama sekali tidak menyakitkan bagi tubuhnya, melainkan hatinya sendiri. "Dengar! aku paham kamu ingin menikah, aku tau kamu mencintai dia, tapi kamu gak bisa ngelupain aku, ya kan ...," tanya Dicky sedikit memaksa dan menatap iba.
"Tentu aja bisa! kamu pikir kamu siapa, hah?!" ucap Susan dalam bisikan tangisnya, meronta agar meyakinkan pernyataan Dicky yang tidak benar, meski Susan tidak memahami perasaannya sendiri. "Aku cinta sama Brian— aku sayang sama Brian, kamu bukan lagi orang yang kupilih, harusnya kamu sadar, Dic! hentikan pertanyaan bodoh kamu."
"Kalau begitu lihat mataku! bilang sekali lagi!!" ucap Dicky seraya menangkup wajah Susan, menatapnya dengan sangat dalam. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa yang ia dengar barusan adalah suatu penyangkalan.
"A-aku ... sangat mencintai Brian!" bisik Susan tegas, sambil mengerlingkan matanya ke arah lain dengan kesal.
"Aku gak menerima kebohongan besar, San. Buktikan sama aku!" tegas Dicky. Kemudian menundukkan kepalanya mengarahkan wajahnya lebih dekat ke wajah Susan. Ia mengambil resiko besar kini dengan memaksa membenamkan ciuman pada bibir wanita dihadapannya. Susan pun berusaha berontak seketika, hendak menarik diri, melepaskan kekuatan tangan Dicky yang menahan wajahnya kini.
Namun, dengan gerakan sigap, pria itu menahan dengan merengkuh tubuh wanita itu dalam pelukannya. Sebelah tangannya kini tengah melingkar kuat dipunggung wanita itu, sedangkan satunya menahan bagian kepala. Sehingga dalam kondisi itu, berontak sangatlah tidak membantu bagi Susan.
Tangisannya semakin kuat, namun tiada daya dalam bungkaman bibir pria itu. Mulutnya hendak mengumpat dan ingin berteriak, namun hanya suara lengkingan kecil yang mampu keluar kala itu.
(Konseeeen ... konseeeen ... reader ... : Thor)
Cara yang diawali dengan kasar dan memaksa, kini perlahan semakin lembut dan halus mengendalikan emosi wanita yang mulai lelah dari perlawanannya. Susan hanya mampu terdiam tak membalas apa-apa dalam tangisnya dan melemah dalam rengkuhan Dicky saat ini yang tengah mengendalikannya.
Susan enggan membalas meski mulai terlarut perasaan. Tubuhnya berdiri gemetar dan lemas dalam pelukan dan kelembutan cara. Nyaris kosong dalam pikirannya kala itu, hingga sesaat kemudian terlintas sosok Brian dalam ingatannya, dan merasakan penghianatannya pada kekasihnya saat ini.
Susan menguatkan dirinya kembali, dan fokus mencari cara melakukan perlawanan. Tidak mudah, namun tidak ingin lengah mencoba.
Ia kemudian mengangkat lututnya dan menghentak kuat ke arah vital pria itu, satu-satunya cara yang terpikirkan saat itu dan mungkin saja efektif melemahkan.
BUG!
Dan benar saja, Dicky tersentak hingga sedikit melonggarkan tangannya.
"Ughh!"
Sesaat terlepas, Susan mendorong kuat tubuh Dicky hingga ia termundur beberapa langkah. Kemudian tergesa-gesa membuka pintu dan melangkah masuk kedalam kamar. Ia menutup dan mengunci pintu itu dengan cepat.
"Pergi dari sini, Dic!! pergi!!" Susan berteriak kecil dari dalam kamar, terduduk di sisi hamparan karpet sisi tempat tidur, meringkuk memeluk lututnya, menangis kuat atas kejadian barusan.
"Aku tau kamu berbohong ... aku tau! Aku merasakan bahasa tubuh kamu yang tidak menolakku! kamu pembohong!"
"Pergi!!" teriak Susan sekali lagi, seraya menutup kedua telinganya.
Dicky berjalan mundur perlahan menjauhi daun pintu yang tertutup dengan keras tepat dihadapannya tadi.
'Batalkanlah pernikahanmu ... kumohon ... hanya aku yang mampu membuatmu bahagia ...' batin Dicky dengan kesedihan yang mendalam. Ia melangkah lunglai tertunduk dan turun kembali dengan melompati pembatas beranda.
'Pergilah, Dic. Kumohon ... jangan ganggu aku lagi ... '
__ADS_1