
POV Susan
Hari ini nampaknya aku tidak ingin berencana kemanapun, ke kampus atau berada di manapun, rasanya Dicky pun tidak ada kabar sama sekali, aku merindukannya ... ingin melihatnya lagi ...
Aku melangkahkan kaki keluar ruangan terduduk sepi pada rumput halaman depan rumah, mengabaikan sedikit lalu lalang orang yang lewat melakukan aktifitas pagi, tidak peduli dengan yang mereka lihat dariku saat terduduk dengan piyama yang masih melekat ditubuh, dengan tertunduk sambil sesekali melihat ke seberang jalan rumah, Dicky ... dimana kamu ...
Tiba-tiba kulihat sepasang sepatu muncul menutupi pandangan ku yang kala itu masih tertunduk memandangi hamparan rumput, menutupi matahari hangat yang menyentuh tubuhku sedari tadi, tersentak penuh harap kupikir Ia adalah pria yang sedang kuharapkan kehadirannya, tapi yang kuhadapi bukan sosok sang tercinta.
Ternyata Eli, yang baru saja selesai dari aktifitas lari pagi di kawasan sekitar, aku pun mencoba memaksakan pandangan padanya.
“Sedang apa disini ... sudah sarapan?”
Eli menunduk memandangiku kembali dengan ekspresi dingin nya seperti awal kami baru saling mengenal.
Eli mengikutiku duduk dihamparan rumput itu sambil menghela napas lelah setelah berlari tadi, mengusap peluh di dahinya.
“Iya, nanti El ... tidak usah khawatir, aku hanya ingin sendiri.” lirihku sambil masih memeluk lutut, berat hati menoleh ke arah Eli.
Eli terdiam sesaat mendengar perkataanku, ia tidak berani membantah apapun atas sikapku yang masih datar sedari tadi.
Aku rasa kami berdua masih dalam pikiran yang sama, berusaha menghindar dari perdebatan yang sengit seperti sebelumnya.
“Hmm ... Sue, aku telah mendengar semuanya tentang dia ... maaf kalau aku tidak bisa ikut membelanya”
“Bagaimana kau bisa tau? aku belum memberitahu siapa-siapa, Kak Edo pun belum tau soal ini!”
“Dicky kan? dia ... dituntut kan? Aku sempat bertemu orang-orang itu, kukatakan bahwa aku saudara sepupunya, salah satu dari mereka menjelaskan padaku perihal masalahnya”
Aku mendengus kesal melirik Eli.
“Huh, Sial memang asisten itu, sembarangan saja mengumbar masalah orang, jangan kau bahas El! aku sakit mendengarnya, cukuplah kita memojokannya terus-menerus dan membuatnya tersiksa” ucapku sinis
“Mudah sekali berubah haluan ... apa yang aku lakukan kemarin hanya untuk memperjuangkanmu dan hubungan kita yang tertunda, tapi kau tidak mengerti ... malah berbalik berburuk sangka tentangku saat itu”
“Sudahlah, lagipula ... kita sudah tidak ada hubungan apa-apa ... dan jangan khawatir ... aku dan Dicky juga tidak mungkin bisa bersama”
Eli terdiam sejenak melihatku, kemudian melanjutkan kembali kata-katanya.
“Kau mencintainya?”
“Bukan hak mu mengetahui jawabanku El, kini aku lebih mengutamakan bagaimana menebus kesalahanku yang pernah menyia-nyiakan seluruh sikapnya padaku, bagaimanapun juga ... diluar segala kejadian ini, dia sudah jadi bagian dari hidupku sebelumnya meski tanpa cinta”
__ADS_1
“Apabila ini sebatas perjuangan yang ia tunjukan padamu, apa ... aku masih bisa memperjuangkanmu juga?” Eli memajukan badannya ikut memeluk lututnya sambil menoleh kepadaku yang tetap membuang muka.
Aku menghela napas kecil, enggan menjawab pertanyaan yang seharusnya tidak pantas dibahas saat ini.
“Aku sedang tidak berminat membahas masalah cinta, kesampingkan ego mu dulu ... baru kita bicara, dan maaf ... aku tidak perlu mengulang dua kali kan ... kalau aku ingin sendiri?” tegasku dengan nada datar.
“Baiklah, aku akan menunggu hingga kau lebih tenang, aku harap kau segera berubah pikiran ... “ Eli bangkit dari duduknya sambil mengusap atas kepalaku pelan, refleks tubuhku bergeming sedikit menghindari sentuhannya, dan Eli menghela napas pelan, ia pun kembali berjalan menuju rumahnya.
****
Mataku intens memantau sesekali ke arah rumah Dicky, tapi aku tidak melihat pergerakan sama sekali, seperti tak berpenghuni, rasa penasaran bercampur dengan curiga, ku beranikan diri menghampiri rumahnya.
Kecurigaanku semakin menguat ketika menyadari mobilnya kini tidak terparkir di garasi rumahnya yang bisa ku intip melalui jendela kecil disampingnya, mobilnya tidak ada! motornya pun tidak ada! Ya ampun Dicky, kemana semua penghuni rumah ini!
Aku berjalan lalu lalang mengawasi sekitar rumahnya, kenapa aku baru sadar kalau mereka tidak berada di dalamnya, sekali lagi kucoba mengintip ke sela-sela gorden yang tersingkap kecil di bagian dalam rumahnya, tidak ada sama sekali pergerakan manusia, Ya Tuhan ... Dicky kemana dengan keluarganya!!
Dengan frustasi aku kembali kerumah, sedikit berlari masuk dan menuju kembali ke kamar, meraih ponsel diatas tempat tidurku dan mencoba menghubungi Kak Dheta, tidak ada jawaban, Mama Inka? diluar jangkauan, Dicky ... Non aktif!! bagaimana ini!
Kecurigaanku semakin matang bahwa mereka semua memutuskan melarikan diri, apa yang mereka lakukan! aku rela memperjuangkan dirinya jika harus bersujud di depan Kak Brian agar mencabut tuntutannya, tapi semua akan sia-sia, mereka berperilaku layaknya menyembunyikan dan melarikan seorang buronan.
Tanganku gemetar hebat seraya memandangi ponsel ku dan mengucurkan airmata yang tiada hentinya, aku panik bukan main mengira-ngira kemungkinan terburuk saat itu. Jika sampai ini diketahui pihak kepolisian maka semua akan terlibat masalah, dan aku tidak menginginkannya!
****
Sementara itu, disebuah rumah dikawasan BSD, Dicky duduk di sebuah taman tepat di depan rumah paman dan bibi nya, duduk termenung sambil menyimak dari jarak jauh suara kecil dari tangisan seseorang.
Mama Inka terlihat bersama adiknya yang sedang memeluknya erat, menceritakan semua masalah dengan tangisan yang sesekali muncul dengan histerisnya.
“Jadi bagaimana ini penyelesaiannya kak? kalian tidak boleh melarikan diri seperti ini, nanti kakak juga akan ikut terlibat dan di dakwa kak!”
“Aku tidak bisa lagi membiarkan siapapun meninggalkanku sendiri, Dicky anak kesayanganku, fira! jangan ada lagi pria kedua yang meninggalkan kakak! sudah cukup Harry, jangan Dicky!”
“Kak, coba berpikir jernih ... aku tau kakak panik, Tio juga sedang berusaha mencarikan pengacara yang bagus untuk menangani kasus ini, setidaknya akan bisa meringankan hukumannya nanti”
“Apa kau tega melihat keponakanmu bergabung dengan para kriminil di penjara! dia akan tersiksa! dia akan disakiti! tidak ada kata sementara untuk itu, satu hari baginya akan terasa di neraka, aku lebih baik mati daripada mengetahui anakku disiksa oleh orang lain!”
“Tidak akan seburuk itu kak, tenanglah ... Dicky kan anak laki-laki, dia tidak mungkin akan membiarkan dirinya disakiti oleh orang lain, biarkan saja dia menghadapinya sendiri ... toh ini konsekuensinya juga!”
“Seenaknya kamu bicara gampang begitu! kamu saja yang tidak tau rasanya memiliki anak!”
“Kak! jahat sekali ucapanmu! akupun tidak pernah memilih untuk tidak memiliki anak, kami sedang berusaha ... tapi jangan kau pikir kami tidak menyayangi Dicky, dia pun sudah seperti anak ku sendiri!”
__ADS_1
“Sudah! tidak usah berdebat! aku hanya ingin menumpang sementara dirumahmu, atau kami akan pergi tinggal di Hotel saja jika kamu menentang begini!”
“Aku tidak keberatan jika kakak mau disini berapa lama pun, kita tidak sedang membahas itu, kita mencari solusi ... bagaimana mengurangi masa tahanan nya jika itu memang terjadi, kan sulit jika bukti sudah kuat Kak!”
“Cukup, jangan bicara masalah tahanan lagi karena Dheta sedang mengurus Visa untuknya hari ini, Dicky akan kularikan keluar dari sini, orang yang dihadapinya cukup kuat, entah siapa orang itu ... tapi Susan pintar sekali bisa dekat dengan orang berpengaruh macam itu, jangan-jangan dia memang sengaja berpura-pura membela padahal ingin menjebloskan Dicky ke penjara”
“Kau akan bawa Dicky kemana kak, dia tidak mungkin berada di ... “
”Dia akan kutitipkan di Durham (Inggris), Mama Emillia sudah lama memintaku datang mengunjunginya dengan anak-anak ku, nampaknya Harry juga ingin bertemu dengan mereka ... terutama Dicky, tapi selama ini tidak kuijinkan karena aku takut Dicky akan diambil oleh mereka”
“Jadi Kakak selama ini masih sering saling menghubungi kak?! Nah, jika begitu kenapa kau lebih berani melepaskan Dicky bersama mereka!”
“Dicky sudah bukan anak kecil, dia anak yang pemberontak, tidak mungkin mereka bisa menahan anak ku begitu saja, mereka pun berjanji tidak akan macam-macam jika sekali saja ku wujudkan permintaan itu, anggaplah untuk sementara, Fira!”
“Apa Dicky setuju dengan keputusan kakak?”
“Aku akan menyusulnya segera, setelah mengurus kepindahan kami kesana!”
“Pindah?? Kak! apa kau sudah kehilangan akal sehat begini! apa-apaan menyusul Harry lagi!”
“Kami tidak akan menetap selamanya disana, hingga masalah ini hilang dengan sendirinya, baiknya kau bungkam jika ada yang menanyakan tentang kami, biar rumah itu kusewakan dengan orang lain saja nanti!”
“Kak, tolong ... pikirkan baik-baik keputusan gila ini! ini bukan main-main!”
“Tenanglah ... Kakak juga ... “
Tiba-tiba Dicky menerobos masuk setelah lama mendengarkan pembicaraan tadi, ternyata Dicky yang tadinya berniat masuk kedalam mencoba menyimak dahulu dari balik tembok sebelah ruangan itu.
“Mama apa-apaan sih! jangan bertindak terlalu jauh Ma’ ... ini pasti ada jalan keluarnya!”
Mama Inka dan Tante Fira tersentak dengan kedatangan Dicky yang mencecar dengan kata-kata.
“Dicky!! kamu ... mendengar pembicaraan Mama tadi?”
“Untuk apa Mama jauh-jauh membawaku!”
“Bukankah kamu pernah bilang ingin bertemu dengan Papamu nak ... “
‘Ya Tuhan, memang benar apa kata Mama ... sekian lama aku ingin melihat Papa ku kini, hingga seringkali mencoba mencari berita tentang kasusnya terdahulu ... hanya untuk melihat wajahnya lagi ... wajah Papa ku ... ‘ batin Dicky
Bersambung
__ADS_1
Mr. Harry Dobson