
“YA!! AKU!! kakak terkejut aku mengetahui apa yang telah kakak lakukan?” pekik Susan, mendorong Brian kembali dengan satu tangan, tapi kali ini tubuhnya tidak bergeming.
“Ok, calm down... duduklah” ucap Brian dengan nada pelan, menengadahkan kedua tangannya seperti tanda menyerah.
“Aku tidak punya waktu banyak ber basa-basi, katakan kak... apa yang kau inginkan dari ini semua!” tegas Susan
‘Aku hanya ingin melindungimu’ batin Brian seraya menatap Susan dengan matanya yang berwarna abu-abu.
“Saya coba membantumu keluar dari masalah ini, saya ingin kamu bisa memilih jalan mu sendiri” ucap Brian dengan nada halus.
‘Jangan mengiba kepadaku, aku sudah cukup kau kasihani terus menerus!’ batin Susan
“Tapi kenapa kak... semua itu sangatlah sudah tidak perlu, kau tau... Hhh... “ lirih Susan, terduduk berlutut di depan Brian.
“Hei, bangunlah... “ bujuk Brian.
“TIDAK!! Selama kakak tidak mencabut tuntutan itu!” jelas Susan kembali meninggi.
Brian membungkukkan tubuhnya hendak meraih kedua lengan Susan, dan segera ditepis olehnya. Akhirnya Brian merelakan dirinya untuk terduduk sejajar dengan Susan yang berhadapan dengannya.
‘Kenapa kali ini kau membelanya, sudah tidak cukupkah penderitaanmu selama ini karena Pria itu, hingga kali ini kau luapkan emosi dengan menentangku’ batin Brian, memperhatikan Susan yang tertunduk menangis.
“Tenanglah, ini hanya sekedar memberikan jera padanya, suatu waktu saya akan menariknya kembali, tapi tidak mungkin dapat kulakukan sekarang”
“Apanya yang tidak mungkin, kak? aku tidak tau siapa dirimu, aku tidak tau latar belakang kehidupanmu, tapi kenapa kau selalu bersikap seperti berkuasa! kau mengatur segalanya sesuai keinginanmu, dan kini kau mengatur kehidupanku hanya karena iba” lirih Susan.
‘Tujuanku tidak se sederhana itu Missorry, kau hanya perlu mengikuti arahanku dari belakang’ batin Brian
“Saya... saya hanya tidak bisa menghentikan sesuatu yang belum terselesaikan, bagi saya itu adalah sebuah prinsip, Susan”
“Prinsip? apakah kakak juga memiliki prinsip untuk mengatur hidup seseorang?? aku menyesal telah mengenal anda, PAK BRIAN!” tegas Susan seraya bangkit dan hendak beranjak pergi.
Dengan segera menangkap lengan Susan untuk mencegahnya.
“Jangan!!” ‘Jangan membenciku’ batin Brian, “saya harap kamu mau menunggu... ini tidak akan menyakitkan untuknya, saya janji... ini untuk pembelajaran kedepan, agar ia jera berperilaku semaunya, hanya itu!”
“Aku tidak percaya dengan janji, maka buktikan padaku!“ tegas Susan.
“Ya, saya akan buktikan pada kamu... “
“Ok, sekarang bisa lepaskan lenganku??”
“Tunggu, satu hal lagi... “ tetap enggan melepaskan pegangannya
“Apa lagi?!” tanya Susan dengan tatapan sinis.
“A... Apaa... sekarang... kamu mulai mencintai Pria itu?” tanya Brian dengan ragu dengan kata-katanya sendiri
Susan mengernyitkan dahi dan berbalik kembali menghadap Brian, memaksa melepaskan lengannya dari genggaman itu.
“Sejak kapan masalah perasaan juga jadi urusan kakak?? KAKAK CINTA... SAMA SAYA?! HA?” ucap Susan mendadak dengan nada tinggi, hanya asal bicara.
‘Hah! Pertanyaan macam apa itu, mana bisa aku mencintai wanita, selama ini aku hanya mencintai diriku sendiri’ Brian bermonolog
“Hahaha... Tidak... tentu saja bukan seperti itu Nona Susan, tidak semua Pria bisa jatuh hati padamu... kenapa tiba-tiba percaya dirimu begitu tinggi begini, Hahaha... “ ejek Brian, yang bahkan tidak bisa membaca sikap berlebihannya untuk alasan apa.
“Kalau begitu, tidak usah banyak tanya!” Susan berjalan kembali, kemudian berhenti dan membalikan badannya lagi, “dan untuk memuaskan rasa penasaranmu kak! ...Kami sudah bercerai!” tegas Susan sambil berlalu pergi dan membanting pintu kamar itu.
Brian tertegun dengan sikap Susan barusan, perasaan kesal yang tertahan membuat bibirnya beku seakan tidak mampu mengeluarkan kata-kata, seketika mengingat kata ‘cerai’ yang di ucapkan Susan membuatnya merasa puas, tapi sekaligus khawatir rencana yang sudah dirancang matang tidak berjalan seharusnya.
****
Brian meraih ponselnya di sofa dengan tangan gemetar, ia segera menghubungi Adam.
* “Adam! dimana kamu Adam!” tanya Brian dengan nada kesal
* “Saya sedang di Dealer Tuan, saya kan kesana pukul 11 nanti”
__ADS_1
* “Sekarang! untuk apa kau disana berlama-lama, sedang menggoda sales ya? cepat kesini!”
* “Tidak bisa tuan, bahkan saya belum memulai transaksi, kan tidak semudah itu membeli kendaraan”
‘Si gila berulah lagi, kau yang suruh aku ke Dealer, sekarang suruh aku kembali, mau nya apa sih!’ ejek Adam dalam hati.
* “Setengah Jam!” perintah Brian
* “Waduh tuan, lalu ini bagaimana... lagipula ini masih dikawasan xxxx tidak bisa terkejar dalam waktu setengah jam, mobil sayaa... “
* “Pakai ojek atau apalah, terserah! kau atur saja sendiri! 29 menit... waktu berjalan Adam... “ tegas Brian memotong perkataan Adam
* “Duh tuaan... ini... ,ah!“ ucap Adam mendesah panik
* “28 menit... “
* “Ya ya ya ya!!”
Adam segera memberi kartu nama pada pihak sales dan meninggalkan Dealer dengan tergesa-gesa.
Entah bagaimana Adam sampai tapi nampaknya jas yang dipakainya sudah terlihat sedikit berdebu serta tidak rapi dengan dasi yang posisinya mulai longgar, dan rambut sedikit berantakan.
TOK..,TOKK
Brian membuka pintu, memandangi Adam yang terlihat kacau.
“Telat 10 menit!” ucap Brian dengan nada datar sambil melirik jam tangannya.
“Fiiuuuuuhhh... “ ‘Ampun Tuhaaan... bagaimana bisa ada orang semacam ini’ Adam menghela napas dan mengibas-ngibaskan bagian depan jasnya karena tubuhnya berkeringat.
Saat memasuki kamar, Brian membalikkan badan dan menunjuk ke arah Adam.
“Berhenti!! taruh jas mu diluar sana... !!kau membawa debu ke kamarku, ya!” tunjuk Brian ke arah luar pintu.
“Tadi kan saya naik ojek tuan, tidak ada alternatif lain lagi, kan saya harus cepat daripadaa... “
“Yaa... daripada kamu kembali ke tempat asalmu, paham kan?” jelas Brian.
Adam segera melemparkan jas nya keluar kamar dan membiarkannya tergeletak sembarang tanpa memperdulikan berapa harga jas yang dibelikan oleh Brian itu dan kembali lagi kedalam, menutup pintu.
“Baik, duduklah... banyak yang ingin saya pertanyakan padamu, Adam!” ucap Brian dengan ekspresi serius memandang ke arah Adam.
“Ya tuan, minum boleh?”
Brian mengulurkan tangan tanda mempersilahkan pada gelas berisi air mineral yang sudah disediakan.
“Kau ini bagaimana!!” menggebrak meja hingga Adam terkejut dan hampir menyemburkan air yang diminumnya, “Jorok!”
“Maaf tuan, saya kaget” ucap Adam seraya mengusap bibirnya sendiri.
“Tissue, jangan tangan!!”
Adam mengambil tissue dan mengusapkan ke tangannya.
“Bagaimana apanya tuan? hari ini saya sudah membereskan masalah laporan itu ke rumahnya!”
“Kamu tau tidak Missorry nekat datang kesini dan memaki-maki saya?!” nada bicara Brian meninggi.
“Saya benar-benar tidak tau, tuan!”
“Lalu kerja mu apa sedari pagi?!” tanya Brian kesal.
“Ah ya! memang, sebelumnya dia diminta untuk datang oleh Ibu dari Pria itu, dan dia sedikit memaksa bertanya tentang kedatangan kami, sedikit perdebatan... dan... dia pulang kerumahnya, kami pun pulang, tuan”
“Dia tadi kesini dan meminta saya mencabut tuntutan itu, bagaimana dia bisa tau kalau saya yang memerintahkan kamu, kamu mengatakannya atau bagaimana??”
“Tidak tidak..., saya hanyaaa... “
__ADS_1
“Hanya apa?”
“Mem...beeriiii... rekaman tuan!” ucap Adam terbata-bata.
“Pantas! dari mana kamu dapat ide sebodoh itu! Hhhh... “ ucap Brian seraya memijat-mijat dahinya sendiri.
“Maaf tuan, Lalu... bagaimana selanjutnya tuan?”
Brian menghela napas dan membungkukkan tubuhnya seraya menggenggam kedua tangannya sendiri.
“Lanjutkan!”
“Anda yakin?”
“Kapan saya merasa tidak yakin menurutmu?” tanya Brian seraya mengangkat kepalanya kembali.
“Yaaa yaaa anda memang selalu yakin sih... tapi... apa tuan tidak takut Nona itu membenci anda nantinya?”
“Itu urusan nanti, bukan urusanmu juga kan?”
“Ya tuan, maaf, saya... bukannya mau banyak bertanya, tapi... kenapa anda begitu mementingkan masalah Nona itu, sedangkan menurut saya... eh... hehe... dia tidak terlihat menarik juga kan tuan?” ucap Adam canggung
Brian menegak kan tubuhnya kembali dan memandang heran ke arah Adam.
“Maksudmu apa?”
“Yah... anggap saja kalau dia cantik pasti ini semua karena anda mungkin memang menyukainya ya kan tuan, tapi ini kan... aduh... biasa sekali, bahkan gerak-geriknya saja seperti laki-laki... galak”
“CUKUP!! sejak kapan kamu berhak menilai subjek-subjek saya?”
‘Hah! terkadang si bodoh ini ada benarnya juga, tapi aku sendiri juga tidak paham kenapa terlalu sibuk memikirkan masalahnya, bahkan memberi nama panggilan khusus padanya’
“Memang selama beberapa tahun kamu mengenal saya... apa pernah kamu melihat saya berhubungan dengan seorang wanita?” tanya Brian, lebih tenang dari sebelumnya sambil memangku wajahnya dengan sebelah tangan.
“Ehh... tidak sih tuan, selama ini saya hanya melihat anda sibuk dengan segala penelitian dan masalah orang lain, bukankah wajar seharusnya di usia anda mencari seorang pendamping?”
‘Kasihani diri anda tuan, anda tidak pernah memikirkan urusan pribadi anda sendiri’ batin Adam
“Belum... atau lebih tepatnya saya tidak tau... bagaimana cara mencintai wanita seutuhnya, semua teori... hanya teori... “ ucap Brian dengan wajah termenung.
“Belajar lah tuan, setidaknya anda tau bagaimana rasanya memiliki wanita seutuhnya, tidak secara diam-diam lagi”
“Saya hanya tidak yakin dapat membahagiakan wanita, saya harus memulihkan masalah psikologis sendiri dulu dan entah lah... mungkin saya harus ganti psikiater lain, bukan lagi orang-orang rekomendasi Uncle (paman)”
‘Aneh memang, ketika dia sudah banyak menyembuhkan orang lain, tapi tidak bisa menyembuhkan diri nya sendiri’ Adam bermonolog
“Tapi... Anda normal kan tuan?” Adam memalingkan muka, melirik dengan sudut matanya dan sedikit menciutkan tubuhnya di sofa.
“GILA KAMU YA! sembarangan bicara!” bentak Brian
“Oh oke oke... maaf tuan hehe saya cuma bercanda, eh atauu... jangan-jangan... ! tapi jujur ya... jujur ya... sini tuan” Adam menyuruh Brian maju mendekat mencondongkan tubuh ke arahnya.
“Apaa?!” tanya Brian percaya saja mengikuti perintah Adam kali ini.
Adam berbicara berbisik mencondongkan tubuhnya
“Apa anda Impoten, tuan?”
“KURANG AJAR!!” bentak Brian seraya menoyor dahi Adam.
Ditambah lemparan kotak tissue.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung