My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Terlambat Pacaran


__ADS_3

Lalu aku mendongakan kepalaku yang sedang dipeluk erat di dadanya.


“Bri, antarkan aku pulang ... “ ucapku datar.


Brian terdiam sejenak memandangi wajahku lagi. Kemudian ia berbisik halus.


“Oke, ... mmm ... Sebentar lagi ... “


**Daaan .... **


...🌹...


****


Rumah


Pagi ini, aku dibangunkan oleh ketukan pintu yang terdengar berulang di kamarku. yah ... kakakku sudah mulai menjaga kesopanannya menganggapku kini sudah mulai dewasa, tidak lagi sembarang buka pintu tanpa permisi seperti sediakala.


“San, dipanggil Papa!”


Suara kak Edo dari balik pintu kamarku.


“Yaaa ... lima belas menit lagi aku turun!” ucapku meninggikan suara parau karena terkejut bangun kala masih terlelap tadi.


Tanganku merayap mencari ponsel yang sengaja diselipkan dibalik bantal semalam. Meraihnya dan menatap samar pada bagian layar yang terkunci.


‘09:12! ahhh ... ya ampun, kenapa bisa sesiang ini aku bangun. Pantas saja kak Edo memanggilku ke kamar tadi, rupanya aku melewatkan sarapan pagi bersama keluarga ku’


Kudekap ponsel di dada, mencoba membuang rasa kantuk sambil menatap langit-langit kamar. Sesaat aku mengingat apa yang terjadi semalam, akhirnya kami ... Melanjutkan kemesraan lagi dengan segala batasan penuh hati-hati. Tenang saja ... tidak terjadi apa-apa diantara kami. Selepas ciuman yang nyaris menjerat kami dalam hasrat yang lebih, ternyata mulai bisa terlatih mengendalikan diri. Kurang dari itu? boleh. lebih? jangan. Atau tidak sama sekali!.


‘Aduh! perutku ngiiiiluuu’ saat mengingat adegan malam tadi.


Aku segera bangkit dari tempat tidurku dan membasuh wajah sejenak ke kamar mandi. Bergegas turun mengambil segelas air putih ke dapur dan berjalan menemui Papa yang sedang duduk santai dikursi teras rumah kami.


Ternyata kak Edo berada di sebelahnya juga sedang bercakap-cakap dengan Papa yang sedang menggenggam korannya.


“Pa ... Papa panggil Susan?” tanyaku sambil meneguk air digelas yang kugenggam.


Seketika obrolan mereka berdua terhenti saat kuhampiri.


“Hm? iya, semalam ... pulang jam berapa kamu?”


“Gak malam kok ‘Pa ... mungkin jam sepuluh kurang aku sudah sampai. Ada apa memangnya?”


Kak Edo melirik ke arahku tanpa mengucap satu kata pun


“Kamu sama Brian, ‘kan?”


“Iya ‘Pa ... kan aku sudah pamit kemarin siang, tapi saat pulang ... Brian tidak bisa pamit karena Papa sudah tidur.”


Papa terdiam dan menggulung korannya.


“San. Brian itu ... seusia Edo, ‘kan?”


“Yaa ... kurang lebih, memangnya ... ada yang salah dengan usianya?”


“Apa dia serius?”


“Ehh ... sejauh ini sih yaa aku yakin dia serius ‘Pa, tapi ini kan baru beberapa minggu, ya aku coba jalani saja dulu.”


Kak Edo menyahut cepat tanpa diminta.


“Cincin, bagus tuh! dikasih ya?”


Papa menoleh cepat ke arah kak Edo dan sigap kembali memandang ke arah jariku yang sedang menggenggam gelas.


‘Duh, aku lupa menaruh kembali ke kotaknya! terlalu asik memandanginya sampai terbawa tidur’


Segera kupindahkan gelas ke tangan satunya dan sedikit menurunkan tangan yang tersemat cincin tadi.


“Eh ... eh, ini cuma hadiah kok.” jawabku canggung


“Coba liat? sini!” ucap Papa dengan ketus.


Aku terpaksa mengulurkan tanganku yang terdapat cincin tadi ke Papa.


Papa memandangi dengan seksama cincin yang tersemat dijariku. Kak Edo turut berjingkat dari duduknya menghampiri ikut melihat cincin itu.


“Ini cincin tunangan kan?! gak mungkin cincin bagus begini cuma untuk dikasih. Diamond loh ini, mahal pasti!”

__ADS_1


Papa melihat ke arahku lagi dengan tajam kali ini. Kak Edo menyambut cepat sebelum aku menjawab pertanyaan itu.


“Oh ... diam-diam dia ngelamar kamu? jangan macam-macam ya. Komunikasi sama orangtua saja tidak, berani-beraninya kalian main belakang begini.”


‘Mati aku, harus jawab apa ini’


“Eh ... aku gak tau cuma dikasih mungkin seharusnya disimpan, ti—tidak tau juga mau dipakai kapan. Aku lupa melepasnya semalam karena aku suka liatnya” jawabku gugup.


Papa melepas pandangan lagi ke arah lain. Wajahnya terlihat masam.


“Suruh Brian temui Papa nanti!”


DEG


Aku seketika melirik kak Edo yang kembali duduk dan melihat ke arahku sambil menjulurkan lidahnya.


‘Uuuggh si konyol itu cari masalah saja pagi-pagi’


“Baik ‘Pa, iya nanti” aku berjalan masuk kembali sambil memicingkan mata memasang wajah sinis ke kak Edo.


‘Sial, kalau tadi dia tidak menyebut cincin ini Papa pasti tidak akan ngeh. Benar-benar kak Edo ini’


****


Bagaimana ya kabar sahabat mantan eh, Eli ... mantan yang jadi sahabatku ini sekarang. Akhir-akhir ini dia jarang bisa ditemui bahkan sudah tidak pernah lagi hang out bersama sekedar minum kopi di kedai favorit kami. Apa karena aku lebih sering meluangkan waktu untuk Brian sehingga ia perlahan mundur teratur untuk berteman.


Pernah sekali aku bertanya pendapat tentang hubunganku dengan Brian, tapi tidak kudapat respon yang memuaskan. Ia hanya bilang ...


(“Apa dia tidak terlalu dewasa?”) tanya Eli kala itu.


Apa semua orang tidak setuju dengan keberadaan Brian di sisiku kini hanya karena usia, atau faktor lain?


Pastinya yang kujalani saat ini sudahlah jalan yang kupilih dan kutanggung resikonya apapun nanti.


Hari ini aku mengurungkan niat untuk menghubungi Brian lebih dulu, biarlah sesekali dia merasakan rindu, pikirku.


Saat kemarin cukup puas rasanya meluangkan waktu berdua. Tapi belum saja selesai kejutan mengesalkan pagi-pagi, kejutan lainnya pun datang.


Panggilan kali ini datang dari Mama, suaranya menyiratkan sesuatu yang menyenangkan baru saja terjadi.


“Saaan ... sini sayaang. Liat deeh ada kiriman buat kamu”


‘Dia lagi ini’ pikiranku tertuju ke arah Brian.


Aku bangkit dari kursi meja makan meninggalkan potongan rotiku yang baru saja kugigit beberapa suapan. Benar saja, kala kuhampiri wajah Mama sumringah memandangi kiriman pagi ini. Si kakak sirik ikut mendatangi hingga hampir bertabrakan denganku kala berpapasan terburu-buru.


“Eh, apa ini?”


Aku melihat satu buket bunga berukuran besar di hadapanku yang Mama taruh dikursi ruang tamu.



“Dari Brian” Mama menyerahkan padaku kartu ucapan bertuliskan ...


...**Good morning White Princess **❤️...


...Brian...


‘Udah? itu saja?’ Gumamku dalam hati mengingat ini masih jam 10 pagi, bagaimana kalau ditambah siang, sore, malam, apa dia mau buat rumahku jadi perkebunan sekalian.


Satu kotak terselip diatasnya.


‘Ini apa? parfum? ini bukan merk parfumku kan’ dan aku terkejut dengan isinya yang kecil tidak sebanding dengan ukuran kotaknya.


‘Lipstick?’ Lipstik berwarna peach beserta lipbalmnya. Lalu kubaca kartu kecil di dalamnya.


...Semoga ini warna kesukaanmu...


‘Bodoh’ pikirku. Candaan konyol apa ini. Mentang-mentang aku tanpa make up dan hanya menggunakan lipbalm kemarin, pagi-pagi sudah mengirimkan lipstik.


Aku meraih ponsel di saku piyama ku, dan mengirim pesan untuk pacar abege ku itu. Kutinggalkan Mama dan kak Edo yang sedang berada disitu tanpa peduli apa pendapat mereka.


Susan [ Maksudmu apa mengirimkan lipstik begini? Candaan konyol apa ini!]


Tidak berapa lama ia membalas pesanku, sepertinya dia tau aku akan mengatakan sesuatu karena saat ini posisinya online.


Brian [ Maaf ya, bukan maksudku menghina. Aku takut kamu kehabisan lipstik gara-gara semalam hahaha ]


Memberi emot cium😙

__ADS_1


Susan [ Aku tidak pakai lipstik kemarin! habis tidak, bengkak iya ]


Brian [ Oh, aku tidak tau. Aku kan bukan wanita, tapi lain kali kau pakai ya ]


Dia menambahkan emot tersenyum.😊


Susan [ Untung kamu tidak tulis macam-macam, bikin curiga orang saja kamu nanti ]


Kubalas emot kesal.🤨


Brian [ Tidak lah, mana mungkin aku berniat merendahkanmu dengan kata-kata, niat saja tidak dear, huh ]


Memberi emot sedih.😢


Susan [ Lain kali jangan bikin candaan begini lagi ]


Brian [ Ya, maaf kalau begitu. Tapi bagaimana dengan bunganya, kau suka? ]


Memberi emot cium😘


Susan [ Suka sih, bagus sekali dan aku suka mawar putih, tau dari mana? ]


Brian [ Apa coba yang aku tidak tau? ]


Susan [ Diam-diam stalker ya kamu ]


Brian [ Bukan aku yang stalker, tapi stalker yang memberi info hahaha ]


Susan [ Oh begitu ya selama ini, orang-orangmu tidak hanya bekerja professional tapi mengurusi hal pribadi juga ]


Brian [ Kok galak betul, kalau aku ingin tau banyak tentangmu kenapa? kamu kan tunanganku ]


Memberi emot berpikir🤔


Susan [ Hmm berarti tidak ada yang mengejutkan lagi ya untukmu ]


Brian [ Tidak semua, pasti banyak yang aku belum tau. Oh ya, mungkin aku tidak bisa kerumahmu hari ini, tapi aku akan coba menghubungimu beberapa waktu, kalau aku belum memberi kabar ... kau hirup saja bunga mawar itu agar kangennya hilang ]


Susan [ Apaan? memangnya kamu hantu, aku hirup lalu bisa terlintas bayangan kamu. Kamu memang mau kemana? ]


Brian [ Ada lokasi yang harus kudatangi bersama Adam. Kalau tidak percaya hubungi saja dia. Aku bukan mau macam-macam ]


Memberi emot janji ✌🏻


Susan [ Oh begitu, ya gak apa-apa. Tidak selalu kita harus bertemu juga kan ]


Brian [ Seharusnya kita selalu bertemu, anggap saja latihan ]


Susan [ Tapi nanti ... kalau ada waktu ... kamu temui Papaku ya Bri ]


Brian [ Ada apa? ]


Susan [ Dia melihat cincin yang semalam ]


Brian [ Oh ... bagaimana bisa tau, kamu kasih liat? ]


Susan [ Tidak, tidak sengaja. Tapi aku takut dia bertanya macam-macam tentang hubungan kita ]


Brian [ Lalu kenapa? cerita saja ]


Susan [ Kau gila apa? memangnya kamu bisa menjelaskan apa nanti dengannya! ]


Brian [ Hahaha. gampang! ]


Memberi emot tersenyum lebar😁😁


Susan [ Gampang apanya, kamu tidak tau Papa! ]


Brian [ Akan kukatakan bahwa Aku ingin menikahi putrinya ]


Memberi emot pernikahan👰🏻🤵🏼


'Whattttt the ... ‘


Aku berhenti membalas pesannya.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2