My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Band Kera Putih


__ADS_3

Brian berada dalam ruangannya berdiri dekat jendela yang menyorot keluar dengan pemandangan ramainya mahasiswa yang sedang menunggu penampilan Band idola mereka.


‘Anak itu, cepat sekali progressnya, tapi ... seandainya dia memang merasa jauh lebih baik itu suatu keberhasilan bagiku, dia hanya butuh wadah untuk bercerita ... heh... wadah ... kemana memangnya pacarnya itu’


‘Hari ini memang sangat padat waktu, hingga yang seharusnya aku pulang lebih awal terhambat karena harus berkoordinasi dengan Ibu Ike seharian penuh dalam membuat laporan hasil penelitian, ruang parkir mulai dipenuhi orang-orang dari luar yang menunggu penampilan Band itu, bagaimana bisa keluar lokasi ini! ah, merepotkan! lagipula Band macam apa yang punya nama aneh semacam itu ‘KERA PUTIH’ hah! seperti kurang nama saja.’


****


Terkendala hujan deras sore itu hingga pukul 8 malam penampilan Band tersebut terpaksa diundur, hingga Susan harus bertahan dengan tenaga maksimalnya hingga malam itu.


Susan berjalan mondar-mandir di area tunggu artis, sesekali mencari kaca besar untuk melihat apakah wajahnya masih terlihat aman, karena softlens ini mulai kering, beberapa teman tim LO kami pun ikut masuk dalam ruangan. dan dari sebanyak tim LO yang berlalu lalang, wanita bertubuh kecil itu lagi-lagi menang banyak.


“Mbak, kalau ke kamar kecil di sebelah mana ya mbak!” tanya seorang bassis personil band, aku lupa namanya, mari kita sebut saja mawar.


Ia menghampiri Susan yang tengah terduduk sendiri di kursi lipat, di antara hiruk pikuk tim dalam ruangan sekali lagi, kenapa harus Susan.


“Oh, sebentar ya mas ... saya tanya security dulu” jelas Susan


Susan bangun dari duduknya dan bergegas keluar area ruangan mencari security yang berjaga dilokasi terdekat, cukup melelahkan juga mencari security atau penjaga di keramaian orang disini.


Akhirnya aku dapat juga penjaga yang mengarahkan untuk menggunakan toilet Dosen yang selalu terkunci samping lift kampus A saat itu.


Kupikir hanya si Mas Mawar ini yang sudah tidak tahan, tapi nampaknya satu grup ini juga ikut bersama kami, beserta beberapa wanita yang tiba-tiba datang entah darimana asalnya, dari pot kembang kampus atau dari pohon rindang sebelah sana pun aku tidak perduli, aku hanya risih saja melihat mereka tertawa sambil bercanda gendong-gendongan seperti itu, mungkin itu pacar mereka.


“LO Susan masuk! sedang antar Band ke toilet gedung A, sudah ketemu penjaga, clear ya!” Susan menghubungi wakil BEM sekedar memberi info keberadaan bintang tamu tersebut seraya berjalan cepat ke lokasi toilet didampingi penjaga kampus yang membawa kunci toilet.


Ruang loby kampus bergema tawa-tawa wanita-wanita kurus dan sexy pendamping mereka yang beberapa main gendong-gendongan tadi itu, karena area tersebut steril dari massa yang memenuhi bagian luar gedung.


‘Huh, dasar artis’ pikir Susan, mencoba mengabaikan tingkah mereka.’ begini ternyata ya artis itu!’ sedikit menghakimi dalam hati, setengah melirik risih.


Sampai di lokasi toilet, penjaga kampus membuka pintu kamar mandi. Susan bersandar pada dinding marmer di dekat toilet itu.


“Silahkan ... “ ucap Susan mencoba sopan.


“Yah siapa duluan tuh ... “ kata si mas bassis bernama Mawar itu, dia memang kelihatan paling eksis dengan kacamata dan gaya rambut spike nya.


Sonny sang vokalis masuk lebih dulu, tiba-tiba sang gitaris Band, sebut saja bambang, ia mencoba menggoda sang keyboardist sekaligus pencipta lagu pada band itu, guntur namanya.


“Tadi katanya mau ajak kenalan ... kenalan dong ... ” godanya si mas Bambang mengarahkan gerakan kepalanya ke arah Susan, kepada Guntur yang sedang dililit-lilit wanitanya saat itu. Macam ular saja dia melingkar-lingkar dari tadi.


“Apaan sih” ucap Guntur, melihat ke arah Susan yang setengah tak perduli dengan godaan receh seperti itu.


Si guntur terlihat canggung sesaat melirik ke arah Susan, karena lilitan tangan wanita berkulit eksotis dan kurus itu berada dibahunya, sambil ikut memandang ke arah Susan melihat dari kepala hingga ujung kaki.


‘Apa-apaan sih mereka ini!’ pikir Susan.


(Sekali lagi wanita cuek dan manis memang suka menang banyak, trust me it works : Thor :p)


Selesai dari toilet aksi lilit-melilit dan gendong-gendongan terhenti sesaat memasuki ruang tunggu Band tadi, si mas Mawar mengucapkan terima kasih padaku, dan aku kembali duduk di salah satu kursi lipat tadi.


‘Aaahhh ini terasa sakit sekali ya’ Susan merasakan perutnya begitu sakit namun karena terbiasa dengan tanda datang bulan yang selalu dialaminya itu, Ia berusaha tetap kuat dan terlihat biasa.


Saatnya Band tampil, aku harus berdiri lagi menggiring mereka menuju stage, kali ini lebih banyak tim yang mengawal keluar, dan ini memang sudah menjelang pukul 9 malam.


****

__ADS_1


Dari posisi ruangan khususnya di samping gedung A, Brian berdiri dekat jendela memandang dari lantai 4 ruangan khususnya itu, melihat keramaian diluar yang semakin membludak dengan massa yang datang dari kampus lain yang bersebelahan dengan kampus ini juga, serta penduduk sekitar , ingin sekedar mencari hiburan yang disorot televisi swasta kala itu.


“Uh, banyak sekali orang-orang itu, bagaimana aku bisa keluar ini!!” gumam Brian sedikit frustasi melihat keadaan.


Tapi rasa penasarannya dan gusarnya seketika berubah saat salah satu Dosen pria masuk ke dalam ruangannya.


“Pak Brian belum pulang?”


“Ramai sekali diluar, mobil saya parkirkan dekat panggung, bagaimana saya bisa keluar, Pak!” tegas Brian dengan nada kesal.


“Kalau begitu, Pak Brian ikut saya saja, biar mobil bapak diparkirkan dikampus sampai besok Pak, tidak akan bisa bergerak sampai jam 12 nanti ini” Jelas Dosen itu.


“Hhhh... menyusahkan saja, kenapa dadakan begini acaranya?!” protes Brian.


“Ya sudah makanya Pak, ikut saya saja!”


“Baiklah, sebentar!”


Brian mengambil tas laptopnya yang sudah siap dibawanya sedari tadi. mereka bergegas turun keluar gedung


****


“San, tim LO merangkap ... ayo ikut, urgent nih, barisan pengamanan tidak sanggup dengan kapasitas jumlah pengunjung, butuh dua baris, ayok!”


Ajak salah seorang teman Susan memaksa karena kondisi dadakan.


“Tapi kan aku kecil begini!”


“Ahhh kuatlah kamu! kamu kan tenaganya kaya laki!”


Susan dan beberapa tim berjalan cepat ke arah depan panggung, menyalip diantara pengunjung kemudian berjajar membentuk dua barisan yang totalnya berjumlah 30 orang kurang lebih mengitari bagian depan panggung.


Pengunjung yang berdesakan sedikit mendorong tim pengamanan yang berjajar termasuk Susan yang menguatkan posisi membelakangi penonton dengan membuat rantai tangan satu sama lain.


****


Brian keluar dari Area gedung dan melihat ke Arah panggung, penasaran akan Band macam apa yang sedang digandrungi ini, dia berhenti sesaat tidak jauh dari bagian samping panggung,


Dengan tinggi tubuhnya itu Brian mampu melihat jelas pemandangan di depannya, aksi dorong mendorong pun tidak terelakkan, pasukan pengamanan itu terlihat sesekali maju terdorong namun kokoh oleh rantai tangan satu sama lain.


‘Ya ampun, kuat sekali mereka berdesakan begitu’, mata Brian masih terfokus pada aksi kerumunan massa itu, hingga ia melihat sosok yang tidak asing untuknya berada di bagian pengamanan.


‘Missorry, untuk apa kau disitu!!!!’ Brian seketika tersentak dan kekhawatirannya muncul.


Brian masih fokus memperhatikan gelombang manusia yang bergerak-gerak sangat ricuh terus mendorong ke arah depan. khawatir dan panik meliputi perasaannya, mengingat Susan yang masih dalam masa pemulihan psikis ikut jadi bagian orang yang terdorong-dorong sekuat itu.


‘Tidak bisa dibiarkan ini!!!’


Brian menitipkan tas laptopnya kepada teman Dosennya tadi, dengan keterpaksaan Brian memasuki kerumunan itu, membelah lautan manusia dengan tubuh tingginya dan berdiri tepat di belakang Susan.


Seketika Susan bingung, kemana dorong-dorongan dibelakangnya tadi, padahal kiri kanannya terasa terdorong, kenapa ia tidak. Susan menoleh sesaat ke belakangnya dan melihat sosok tinggi Brian berusaha menahan diri menjadi bagian yang terdorong untuk menjaga Susan.


“Apa kamu lihat-lihat?!! kenapa kamu malah disini!! kamu pikir kamu kuat menahan orang sebanyak ini??!” tegas Brian dengan nada tinggi saat Susan melihat ke arahnya.


“Kak Brian?? Sudah ... sana ... saya gak apa-apa, ini tugas saya kok kak!!” Susan keheranan dan merasa tidak enak melihat Brian mampu bertindak seperti itu untuk melindunginya.

__ADS_1


‘Sial, orang-orang ini terus mendorongku, Aduuuhh keringat mereka ini, harus mandi berapa lama aku nanti’


“Ah, Sudahlah!!! sini kamu!!”


Brian memutus rantai tangan di kiri kanan Susan lalu mengangkat dan membopong tubuh kecil itu keluar dari kerumunan. Sontak pandangan banyak orang tertuju pada mereka berdua.


Sorak-sorak godaan terdengar disekeliling saat Brian melewati kerumunan itu sambil membopong tubuh Susan bersamanya.


“Wuuhuuu cye ... cyee”


“Pak Dosen ... gantian pak ... “


“Wiiihh sudah seperti film-film”


“Romantis banget siiih ... aaa ... jadi pengen”


“Itu bukannya Dosen ya?”


Dan banyak lagi kata-kata yang diucapkan penonton-penonton itu.


Sesampainya ditempat aman tidak jauh dari panggung, Brian menurunkan Susan dari gendongannya. ternyata sang vokalis yang menyadari kejadian tadi berbicara dengan microphone nya.


“Untuk pasangan disana, kita kasih tepuk tangan! keren Bro ... itu keren!”


Suara Riuh tepuk tangan mengelilingi Susan dan Brian, semua mata tertuju pada mereka berdua. Susan tersenyum salah tingkah sedangkan Brian setengah tidak perduli karena sibuk menyemprotkan sanitizer cair ke seluruh kemeja yang dipakainya.


‘Ngapain dia?? Lah, segitunya!’ Susan tercengang melihat tindakan Brian.


“Lain kali jangan berbuat sembarangan seperti tadi, belum tentu ada kesempatan seperti ini kalau tidak ada saya bagaimana kamu nanti!!” Ucap Brian kesal.


‘Ya aku gak akan kenapa-kenapa kok kak, kenapa kamu khawatir sekali denganku, padahal dia sendiri seperti orang yang sok steril begini’ Susan masih terkesima dengan Brian yang menggosokkan tangannya dengan cairan sanitizer.


“Hei, kenapa bengong??! Sudah malam begini, siapa yang jemput kamu!” ucap Brian, sambil mengendus kedua lengan kemejanya seakan memastikan bau yang menempel itu bukan bau penonton-penonton tadi.


“Eh, eeeeh ... ya nanti saya mungkin dijemput kakak saya Kak” Susan akhirnya menjawab pertanyaan Brian yang kedua kali.


“Sudah, kamu saya antarkan saja!!” padahal tadi dia sendiri tidak bisa membuat mobilnya keluar parkiran.


“Pak Brian, bagaimana jadi ikut saya tidak?” Dosen itu datang seraya menyambut perkataan Brian, tergopoh-gopoh membawa laptop milik Brian.


“Tidak usah, biar saya gunakan mobil saya, nanti mereka akan menyingkir sendiri, tenang saja Pak, terima kasih!”


Jelas saja sebenarnya Brian mampu membuat mobilnya keluar dari parkiran, jangankan security, polisi pengamanan saja bisa ia panggil untuk membuat lokasi mobilnya steril untuk keluar, hanya saja dia selalu mengurungkan niat untuk memperlihatkan kekuasaannya pada kampus ini. itu point terbesar yang Susan tidak tahu.


Dan tiba-tiba ada seseorang menghampiri dengan cepat menggenggam dan menarik lengan Susan.


‘DICKY!!’...


Bersambung


True story by Thor


kecuali tokoh Brian nya,


nama band ini disamarkan, berikut personilnya, Ini pengalaman yang tidak terlupakan untuk Thor, ternyata seperti itu ya kehidupan artis belakang panggung, dan sebenarnya sedikit menggelitik perasaan Thor saat itu melihat aksi gendong-gendongan dan melilit-lilit begitu, berhubung Thor cuek tapi sempat risih juga karena diliatin dari ujung kepala hingga kaki begitu, dikala softlens yang Thor pakai sudah mengering dan buat mata menjadi merah. tapi apa daya, kalau diminta langsung Thor emang ga berani nolak, kebiasaan hehehe

__ADS_1


rumayan kan buat alur novel ga perlu mikir lagi hehe


__ADS_2