
Rasa haru itu muncul bagi sang calon pengantin wanita serta keluarga saat semua mendoakan demi kelancaran pernikahan. Suasana yang tentram, damai dan menyejukkan dibalut oleh aura religius yang kuat kala itu. Derai tangis sesekali menetes disudut mata Susan, menyadari kemantapan langkahnya pada pria pilihannya yang tidak berapa lama lagi. Teringatkan segala kesalahan yang telah diperbuat atas tanggung jawabnya sebagai seorang anak perempuan satu-satunya.
Sore itu acara berjalan lancar. Beberapa saat setelah semua tamu undangan pengajian beranjak dari lokasi, Mama Inka mendatangi sang calon mempelai wanita.
"San, kita ngobrol sebentar yuk," ajak Mama Inka. "Agak jauh dari keluargamu, bisa 'kan?" bisiknya lagi. Nampaknya ada yang ingin ia sampaikan dan terdengar pribadi.
"Kita ke kamarku aja yuk. Ada yang mau dibicarakan penting kah?" tanya Susan. Agak terheran, apakah ini mengarah pada dirinya atau anak laki-lakinya.
"Em ... bukan apa-apa sih ... nanti juga kamu ngerti."
"Ah, iya. Di kamarku aja kalo gitu," bisik Susan seraya mengawasi sekitar. "Ayo 'Mam."
Mereka berdua berjalan menuju kamar, meninggalkan situasi ramai atas kehadiran beberapa kerabat dekat dan keluarga. Keduanya kini duduk di sisi tempat tidur, selayaknya seorang Ibu dan anak wanitanya. Untuk bicara empat mata.
"Ada apa ya, Mama Inka. Maaf tadi merepotkan ya," ucap Susan dengan hangat. Sebagai rasa hormat dan sayangnya pada seorang wanita single parent yang berjuang membesarkan Dicky dan Kakaknya, Dheta.
"San, Tante minta maaf ya atas sikap Dicky selama ini, Tante harap kamu nggak benci sama dia. Kamu paham, Dicky sudah lama nggak merasakan kasih sayang Papa-nya, makanya dia seperti itu. Mungkin Tante terlalu memanjakan dia selama ini," lirih Mama Inka.
"Masa lalu itu ... udah lama kumaafkan 'Mam. Saat ini aku juga gak memikirkan apa-apa. Karena— aku 'pun banyak salah ke Dicky kok. Aku juga minta maaf," ucap Susan dengan lembut. Ia langsung menggenggam tangan Mama Inka demi menenangkannya.
"Ya— Tante juga turut bahagia kamu akhirnya punya pilihan, calon suami-mu orangnya baik kok, tampan. Dan lebih dewasa ya ternyata. Meski nggak sama Dicky tapi kita tetap seperti keluarga, kan?" Mama Inka sedikit menghela napas sebelum melanjutkan bicara. "Planning Tante sama Mama-mu dulu emang gak bisa terwujud. Ah, tapi secara tidak langsung ... kamu pernah menjadi menantu Tante. Sekilas, hahaha," ungkap Mama Inka. Tertawa kecil dan senyum paksa mengingat kesalahan masa lalu anaknya.
"Dari dulu aku nggak bisa sepenuhnya benci terhadap Dicky, aku tau betul dia siapa. Hanya aja— kesalahan terdahulu memang sulit aku lupakan. Tapi ya udahlah, aku juga merasa nggak enak sampai Mama Inka jadi minta maaf begini. Karena aku 'pun salah ... nggak bisa memahami perasaan Dicky sesungguhnya saat itu."
"Baru kali ini 'kan kita bahas masa lalu kalian? Tante hanya ingin lega, San. Dicky anak laki satu-satunya yang melindungi Tante dan Kak Dheta. Jika dia berbuat salah, Tante nggak mau dia dibenci siapapun, maka lebih baik Tante— yang minta maaf. Tante nggak ingin dia sakit hati, terutama dengan orang yang pernah dia cintai."
Susan tertunduk saat mendengar hal itu langsung dari Mama Inka. Karena sejak awal pertemanan keduanya sangat didukung oleh orangtua masing-masing yang bahkan sempat ingin mengikat pertemanan menjadi hubungan keluarga.
"Aku 'pun ingin Dicky bahagia, 'Mam. Ikatan batin kami kuat ..., aku nggak bisa membenci dia," lirih Susan.
"Makasih ya, San. Tante harap kamu bisa bahagia, cepat dapat momongan ... dan doa-kan Dicky juga segera dapat calon istri, ya. Abis pacarnya itu nggak jelas 'kan? Hahaha. Temanmu? Satu Divisi katanya, ya?" Ucap Mama Inka kembali menyungging senyuman.
"Iya, 'Mam," ucap Susan pelan sambil membalas senyuman.
"Ya ... cantik sih, tapi Tante juga belum nge-klik karena belum banyak ngobrol. Itu juga bukan tipe-nya Dicky kok, Tante tauk. ... Manja! hahaha." Candaan kali ini dilontarkan Mama Inka untuk lebih menenangkan perasaan Susan agar tidak terlarut rasa iba. Akan tetapi nyatanya memang benar, Dicky bukan tipe pria yang suka wanita cantik dan manja.
"Hahaha, tapi dia baik kok, 'Mam~. Mungkin butuh waktu."
"Udah-lah biarin aja, Tante denger sih udah putus, hihihi," bisik Mama Inka. Mengisyaratkan sesuatu yang sebenarnya tidak boleh diketahui Susan.
"Ha??" ucap Susan terkesiap.
"Iya. Eh, Tante lupa, siapa tau nanti suami-mu mudik bawa kamu, mampir ke tempat Tante ya. Ada berita menggembirakan, Tante mau rujuk loh sama Papanya Dicky, hihihi."
"Oh iya, kah? Wah ... congrats Mama Inka—." peluk "Kapan itu? Dicky nggak bilang," ucap Susan bersemangat.
"Iya, tiga bulan lagi. Dan dia senang banget, makanya— Dicky juga akan bekerja kembali di perusahaan Papa-nya, nggak lama lagi. Ya biarlah, mungkin ... jodohnya nanti juga orang sana. Kita ketemu jalan-jalan ngopi disana ya ... "
"Oh." Kembali terhenyak, ternyata yang diucapkan Dicky kemarin bukanlah main-main. Rencana kepindahannya kembali ke UK punya alasan khusus, entah jika diluar masalah percintaan.
__ADS_1
"Kenapa?" Mama Inka mengernyitkan dahi melihat reaksi Susan.
"E-enggak ...! Oh, ya ampun, senangnya ...," ucap Susan kembali tersenyum menutupi rasa terkejutnya.
****
Selepas acara sore itu, yang berlangsung hingga pukul lima sore. Semuanya mulai membenahi seluruh ruangan yang digunakan untuk kelangsungan acara tadi. Beberapa Tim pembantu yang dikerahkan dari pihak Brian juga masih sibuk membereskan, membantu pihak keluarga agar tidak perlu turun tangan. Sekitar pukul 7 malam, Brian menyambangi rumah kekasihnya. Berpakaian rapi seperti biasanya, untuk menjemput Susan yang juga telah diberikan gaun khusus untuk pertemuan keduanya malam ini.
Belum diketahui jenis makan malam apa kali ini, sangat mendadak karena Susan bahkan mendapatkan infonya melalui Leo tadi siang.
"Hai," sapa Susan. Yang telah berdiri menunggu langkah kekasihnya mendekat ke teras rumah.
"Hello, Dear. Sorry for waiting. ... Agak macet tadi di jalan. Makanya Mama-ku marah-marah waktu itu. Disuruh pindah katanya, hahaha." Tidak menunggu lama, kecupan kecil mendarat di dahi Susan.
Susan tersenyum dengan perasaan tenang, melihat sikap kekasihnya jauh berubah malam ini.
"Hihi ... ada-ada aja. Bri ... you okay?" tanya Susan yang masih meragukan mood Brian saat ini.
"Hmm ... yea, why not." Brian menghela napasnya kemudian memandang Susan kembali dengan senyum. "Apa ... para kerabatmu masih di dalam?"
"Iya, kamu ... sapa mereka ya, mereka belum banyak yang kenal kamu, mau lihat calonku katanya." Susan menyungging senyum, memandangi penampilan kekasihnya yang tampil begitu tampan dan rapi. "Eh, ini ada apa sih, aku disuruh pake baju begini?" Sembari b erjalan menuntun tangan Brian menuju ruang utama dimana para kerabat berkumpul.
"Ke rumahku. Kita Dinner. Ada yang mau aku tunjukkan ke kamu."
"Terus, kenapa kamu yang kesini? Tunggu aja di rumah."
"Sekalian bilang Mama-Papamu, sekaligus berkenalan 'kan? Mungkin kita agak larut malam. Calon mempelai 'kan nggak boleh jalan-jalan."
"Makanya kuajak Dinner di rumahku. Karena mau tunjukkan sesuatu, itu aja."
"Ini malam jumat 'kan! Ya ampun ... malah keluar rumah," cetus Susan.
"Sekalian," ucap Brian sambil tersenyum menggoda. Tatapannya seketika terasa nakal di mata Susan.
"Sekalian apa!" Susan mencubit kecil pinggang Brian. "Jangan gila, apa sih! pantangan." Susan memutar bola matanya sambil menyungging senyum malu.
****
Brian dan Susan menghampiri beberapa kerabat yang masih ada di ruang keluarga, berkenalan dan meminta izin untuk pergi berdua tanpa mengatakan rencana lebih apa malam ini. Hanya makan malam bersama, alasannya.
Sejumlah pujian terdengar samar ke telinga keduanya, bagaimana mereka memuji sosok Brian dari segi penampilan, serta sikap ramah dan santunnya terhadap pihak keluarga. Itu belum seberapa dibandingkan jika nanti setelahnya mereka tahu bagaimana latar belakang Brian. Sungguhlah sosok calon suami idaman.
Setelah berbasa-basi dan menyambut lontaran canda tentang calon-calon pengantin dari kerabat Susan. Keduanya bergegas menuju kediaman Brian yang tidak berjarak jauh, hanya sekitar 30 menit dari kediaman Susan.
Diawali dengan sebuah makan malam bersama kedua Asistennya. Brian dan Susan yang tampil dengan pakaian formal malam ini nyatanya memang akan menemui dua orang penting yang sebelumnya dirahasiakan Brian.
Setelah makan malam itu berlangsung, kini Susan dihadapkan oleh kehadiran satu orang pengacara, serta salah satu anak pendiri Yayasan dari Universitas dimana Susan pernah mengemban Pendidikan. Hal yang sangat mengejutkan dan tanpa kompromi sebelumnya, dimana Brian telah merubah nama kepemilikannya menjadi nama Susan dan meminta kesediaan Susan untuk menandatangani surat serah terima itu sebagai persetujuan.
Dengan perasaan panik bercampur kesal, Susan memohon diri sejenak untuk menjauh dari kedua orang penting tadi, untuk berbicara serius dengan Brian tentang apa maksud semua ini. Brian mengajak Susan berbicara di ruang baca yang cukup jauh dari ruang utama.
__ADS_1
"Maksud kamu apa sih? Ada surat perjanjian kayak gini? Orang mau nikah kok kayak orang pembagian harta gono gini!" ucap Susan kesal. Mempertanyakan hal yang tidak seharusnya dipikirkan saat-saat ini.
"Aku mau kamu semangat lanjutkan studi, karena sebagian kepemilikannya sudah atas nama kamu. 'Kan cuma satu itu aja, yang lain masih aku," jawab Brian seakan tanpa beban.
"Tapi gak perlu atas namaku juga kulanjutkan," ucap Susan kesal.
"Disitu tanggung jawabmu, sambil fokus kuliah. Suatu saat nanti, bisa bantu aku di Yayasan. Nggak usah kerja lagi."
'Ternyata ini maksudnya ....' gumam Susan dalam hati.
Bukan saja bertujuan agar Susan melanjutkan kuliah, tapi Brian mengakali situasi agar Susan mengurungkan niat untuk kembali bekerja di perusahaan lain, yang bukan miliknya. Selain agar Susan tidak bertemu Dicky kembali, Brian menginginkan Istrinya nanti mendampingi dalam mengurus beberapa LSM yang didirikannya. Serta Universitas dibawah naungan Yayasan yang juga turun temurun dimiliki sebagian oleh keluarga Brian, dan kini ditangani sendiri olehnya sebagai anak tunggal.
"Aku gak ngerti hal-hal begini. Belum apa-apa kamu melibatkan aku dalam pembagian harta. Gak etis, Bri! Urus dulu pernikahan kita!" Tegur Susan dengan tegas.
"Itu masalah gampang, kamu hanya perlu tanda tangan, nanti kuajari perlahan. Bagaimanapun kamu harus siap menjadi istri dari pemilik Yayasan ini, karena kamu juga akan terlibat nanti di dalamnya."
"Ini! Hufff ... gila ah!" Susan mendes4h kesal, dihadapkan situasi yang serba mendadak seperti ini. Seharusnya dia bahagia mendapatkan sebagian kepemilikan bahkan sebelum dirinya dinyatakan sah sebagai istri. Namun hal ini sungguh sebuah beban baginya, terasa seperti rantai yang mengikatnya hingga tidak bisa bergerak mengejar karirnya.
"Sementara kamu lanjutkan studi aja. Jangan memikirkan yang jauh-jauh. Jalani kuliah, nanti kudampingi penelitianmu."
"Belajar aja dirumah, ngapain aku kuliah. Professornya depan mata kok," jawab Susan ketus.
"Lain rasanya, nanti aku jadi subjektif. Tetap kubantu, tapi jalani kesibukan dengan studi aja, ok. Kalau tiba saatnya kamu ... hamil," ucap Brian sambil menyungging senyum malu. "Kamu nggak perlu lelah berjam-jam melakukan Training di kantor. Duduk manis dan belajar, sambil dirumah juga bisa."
'Matilah, mana bisa aku gak sosialisasi. Huuuff.' gumam Susan dalam hati.
"Gimana dengan Mama-mu, apa dia tau soal ini?" tanya Susan khawatir.
"Dia sudah mempercayakan semua keputusan ditanganku, itu tanggung jawab aku."
"Lalu Uncle??" tanya Susan dengan cepat.
"Bukan urusan dia, itu gampang," jawab Brian ringan.
"Kenapa gak bicarakan itu sama keluargaku dulu sih?" Tanya Susan yang masih bimbang mendengar jawaban Brian.
"Sebentar lagi kamu jadi istriku, kenapa harus ditanya?!" Jawab Brian dengan nada kesal.
Susan terdiam mendongakkan kepalanya menatap Brian lebih dalam. Nampaknya hal ini terlalu dianggap sepele, hingga se-ringan itu setiap jawabannya.
"Lalu bagaimana ... jika satu hari sebelum pernikahan, aku memutuskan pergi dengan pria lain!" ucap Susan. Ia mendongakkan wajah, seraya memicingkan matanya. Menantang Brian dengan pertanyaan yang lebih ekstrim lagi.
Brian membalas tatapan Susan semakin dalam. Rahangnya nampak mengeras menahan amarah karena pertanyaan konyol yang kini didengarnya. Seketika Brian 'pun membalas dengan sikap acuh dan dingin.
"Bunuh aja aku sekalian."
.
.
__ADS_1
Bersambung
otewe next part