
Flash back on
Dengan posisi bangunan menjorok ke arah jurang dan pemandangan bukit dibagian belakang, Kabut yang turun semakin pekat kala itu mampu nyaris masuk kedalam Villa, kami terpaksa menutup semua pintu dan jendela. Saat Adam dan Leo sempat terlelap selama beberapa jam setelah kami makan bersama, menunggu saat pulang ... Aku dan Brian ... benar-benar menghabiskan waktu ... Berdua'
"Sejak kapan mereka tidur?"
"Kasian, harusnya ini libur mereka ... " Brian mengangkat empat botol berwarna hijau, melihat isinya, sambil memperhatikan dua asistennya terlelap setelah habis dengan minuman hangat yang mereka maksud.
"Lama gak ya Bri ... ini udah jam tujuh, gak mungkin sampai rumah dalam waktu dua jam, mereka masih tidur juga"
"Kita tinggal nanti mereka pulang sendiri, ... tapi ini ... tetap bahaya, gelap kabut di luar, kamu ngerti 'kan?"
"Ya gak mungkin, tapi ... "
"Hubungi orang rumah, kamu ... jelaskan kondisi ini, cuaca maksudku"
"Udah aku kabari sih ... antisipasi ya kalau terpaksa begini, lagian ... jauh juga dari bawah, memang kamu minat dengan Villa yang posisinya begini 'Bri?"
"Kalau gak suka, ya jual. Atau sewakan, anggap investasi, ini kan cuma tempat refreshing"
"Refreshing apa, gak lama sampai kita udah bertengkar gitu" gumam Susan sedikit cemberut.
"Ya sudah, kita have fun aja kalau gitu"
"Have fun? liat ... gak ada game, TV juga belum ada siaran .., main handphone? aaah ... dirumah aja deh tau gitu" gerutu Susan
"Jangan marah dulu, hm ... sedikit berbuat bodoh seru juga mungkin"
"Apa nih ... apa nih ... hayooo ...apaa ..." ucap Susan malas.
"Tunggu," Brian berjalan ke arah posisi Adam tertidur mengambil sesuatu yang disembunyikan kedua tangannya kemudian kembali menghampiri Susan ke ruang utama "sesekali gak apa-apa 'kan Dear?"
"Apa?" Susan mendongak memandang aneh ke arah Brian yang tersenyum-senyum seperti anak kecil.
"Taraaaaaa ... simpanan Adam, hihi. Coba yuk!" ajak Brian dengan wajah sumringah. Menunjukan dua buah minuman dengan botol berwarna hijau.
"E—eh ... kamu kan tau itu kandungannya apa, emangnya kamu juga sering ya?" Susan bertanya sedikit kesal.
"Gak, yang ini aku belum, pernah sekali coba yang ... diberikan kolega, itu sebelum aku pergi ke UK, ya kesal gara-gara mantan kamu itu.Tapi aku muntah akhirnya, kurasa kalau ini tidak ... cuma hangat aja"
"Aku juga pernah sih, terakhir kena jebakan batman. Sama orang asing, untungnya Eli membantuku ... tapi dia sendiri yang jadi ... ah, sudahlah"
"Apa? belum pernah cerita kamu."
"Tidak lama dari itu, kamu kan tau ... kejadian ... setelah konser musik kampus ..., kurasa itu sebabnya ..., dan kami putus saat dia bilang macam-macam, padahal aku tau betul tidak terjadi apa-apa"
"Okay, ceritakan nanti. Aku juga ingin tau. Jadi, gimana ...?"Brian tersenyum lebar menunjukan deretan giginya sambil memainkan alisnya naik turun. Keisengannya kambuh kali ini.
"Eeghh ... gimana ya, kalau aku gak suka ... berhenti ya"
"Deal" Brian menyodorkan salah satu botol digenggamannya.
Mereka berdua duduk santai di teras samping, tidak mengindahkan kabut yang tebal hingga berangsur menipis. Percakapan dan cerita mengalir hingga terlupa minuman yang tadinya tidak disukai berangsur surut hingga habis terminum.
Candaan demi candaan menjadi tawa yang terlalu, mulai tidak sadarkan diri antara nyata dan setengah mimpi. Posisi duduk yang berjarak tadinya kini semakin tanpa jarak saat dingin mulai menusuk kulit meski hangat didalam tubuh efek minuman tersebut.
Tidak terelakan lagi kala situasi yang dirasakan mereka berdua yang semakin terlarut mesra. Terlalu nyaman hingga terlalu lupa.
__ADS_1
***
Waktu menginjak pukul setengah sepuluh malam, Adam berjalan mencari-cari Brian. Ditemukannya tiga botol minuman miliknya berada di Teras.
'Wah, kacau ... dimana si Tuan bodoh itu. Ini sih ... ini ... hhh ... sudahlah' batin Adam.
Adam kembali berjalan perlahan ke beberapa bagian ruangan, sedikit khawatir dengan apa yang akan ditemuinya.
'Tidak ada dimana-mana! bagaimana ini!!' Adam bermonolog
Adam kembali untuk membangunkan Leo, memintanya berkeliling rumah untuk mencari keberadaan Brian dan Susan.
'Apa mereka berdua bunuh diri ke jurang! gila kali!'
"Leo, kau cari diluar ... aku cari ke lantai atas, dibawah tidak ada!" ujar Adam panik.
"Cari pelan-pelan ... siapa tau kamu missed karena panik!"
"Oke, oke ... "
Leo berjalan keluar dilihatnya dua mobil mereka masih terparkir di garasi.
Leo segera menghubungi Adam melalui ponsel.
Leo [ Kondisi kosong, mobilnya ada! ]
Adam [ Apa mereka berdua diculik! kan gak mungkin! aku cek dengan penerangan ke arah bawah jurang, takut mereka terjatuh ]
Leo [ Aku coba cari ke jalan, ini konyol kalau mereka sampai keluar area Villa dalam keadaan begitu, kunci mobil mana? biar kucari mereka keluar! ]
Adam [Mungkin terjatuh di ruang kita tidur-tiduran tadi, coba cek kesana ]
Leo [ Oke, nanti aku langsung keluar. Kau jaga di Villa ]
Leo bergegas menuju ruangan tadi, tidak ditemukannya kunci mobil mereka, yang ada hanya kunci mobil Brian, tanpa berpikir lama Leo memutuskan untuk menggunakan mobil Brian.
Berjalan ke arah garasi Leo menekan alarm mobil hingga kemudian ...
DUG DUG
"Leo!! Leo! ambilkan kunci mobil kalian!"
Leo menoleh dan berjalan cepat ke arah mobilnya.
"Tuan sedang apa?! kunci pasti sama Tuan!" ucap Leo sambil melongok ke dalam mobil melalui kaca yang tertutup.
"Hei!! jangan ngintip!!"
Leo seketika tertawa terpingkal-pingkal tidak tertahan lagi, hingga Adam yang mendengar dari dalam rumah segera menghampiri.
Dilihatnya Leo terduduk lemas karena tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Brian sedang sibuk di dalam mobil mencari-cari kunci mobil di segala bagian hingga kolong jok mobil.
"Yaaa Tuhaaaan ... mobilkuuuu ... aduuhh Tuaaaan ..."
ucap Adam sambil tertawa diikuti Leo kembali.
"Jangan lihat kedalam!" tegur Brian keras.
__ADS_1
"Iyaa iyaa ... cari yang tenang ... lain kali jangan mobilku dong Tuan ... harus kusiram air kembang nanti itu ... aaahh ... Hahahaha"
Tiba-tiba pintu mobil terbuka, dan Brian nampak merapikan kemejanya. Adam dan Leo pun seketika membungkam mulut menahan tawa sambil menggelengkan kepala.
"Liat apa! kami masih berpakaian, jangan mikir macam-macam!" Brian tiba-tiba menyandarkan dirinya ke sisi mobil karena masih terasa berat di kepalanya.
"Duduk, jangan langsung berdiri, santai saja ..., kenapa gak tanya saya dulu apa yang tadi anda minum, kenapa gak bilang kalau mau coba, saya beri kok"
"Gak, saya iseng ... cuma mau tau" jawab Brian singkat.
"Ya lihat lah efeknya ... itu bukan Beers, Tuan. Itu saya bawa sendiri dari rumah, siap-siap muntah ya, tapi jangan di mobil saya, hahaha ..."
"Cepat kita pulang, cek barang di dalam, makanan yang utuh tinggalkan saja untuk penjaga Villa, bawakan Tas Susan, saya mau merapikannya dulu"
Leo sudah tidak sanggup berkata-kata lagi, kemudian mengikuti Adam ke dalam rumah.
Beberapa meter langkah mereka dari mobil tadi, Adam dan Leo kembali tertawa bahkan ber high five
"Taruhan masih berlaku?" ucap Adam
"Daang!" balas Leo sedikit tawa menahan kesal.
****
Flash back off
Setelah meminta izin pada pihak manager karena tidak bisa melanjutkan Training. Dalam perjalanan pulang, Brian menceritakan kejadian yang malam tadi menurutnya cukup membingungkan, bagaimana harus jujur tentang segala hal itu sedangkan mereka berdua dalam posisi yang tidak benar-benar sadar. Bahkan rasanya saat itu ... semua seperti mimpi bagi mereka berdua.
Sayangnya satu sama lain tidak berani mengungkapkan apa yang ada dipikiran ataupun kilasan bayangan yang mungkin saja sama. Sesuatu yang malu diutarakan hal yang dilakukan tanpa sepenuhnya sadar.
"Jadi ... begitu ... " ucap Brian sambil menatap jalanan dibalik kemudinya, tersenyum-senyum karena malu atas kejadian semalam.
"Kondisi aku gimana?? itu bisa saja memalukan! aku baru sadar kita sudah dipertengahan jalan menuju rumah ... jangan bilang mereka lihat aku kayak apa!" ucap Susan kesal. Karena mungkin saja mempermalukan dirinya.
"Tenang, mereka mungkin gak lihat karena kamu dibelakang punggungku, tapi baiknya kamu cek, bagaimana kondisi fisikmu"
"Jangan ragu-ragu! kamu bilang dong aku gimana penampilanku kemarin!" protes Susan.
"Kamu cantik" Brian tersenyum sejenak tanpa menyadari ucapannya, seketika kembali gugup " E—eh, tapi maksudku yaa ... ya begitu. E—eh ... tenang saja, pakaianmu tidak apa-apa, sedikit kacau saja ..."
"Lain kali jangan ajak aku berbuat bodoh lagi, ya! nyatanya itu bukan minuman biasa!"
"Sudah .., ehmm ... begini, kuminta nanti dirumah, kamu cek ulang, apa saja yang kamu rasakan ..., fisik. Apakah ada yang tidak nyaman ... apapun itu beritahu aku, janji?"
Susan mengangguk pelan, matanya menatap kosong ke atas. Kemudian matanya bergerak-gerak seakan berpikir, apa saja yang mungkin nyata ataupun tidak.
"Semoga tidak ... meski ... ah, tidak" gumam Susan.
Selama perjalanan Brian dan Susan terdiam berpikir lebih mendalam, seharusnya tidak ada keraguan lagi, karena kali ini yang dipikirnya hanya mimpi benar saja telah terjadi.
.
.
Bersambung
pecahkan teka.teki. 🤣 jangan tanya Thor, Thor.juga gak liat🤣🤣🤣
__ADS_1