
POV Dicky
‘Aku bisa mengerti jika kau tidak ingin mencintaiku, dan aku sangat memahami kebencianmu atas apa yang pernah kulakukan demi memilikimu, tapi aku tidak akan memaafkan seorang wanita yang mengorbankan darah dagingnya sendiri hanya karena ego, sangatlah ia tidak pantas untukku’
Aku harus membuang rasa kesedihanku yang teramat dalam untuk menyakitinya kali ini, entah hanya perasaan yang diliputi emosi atau aku merasa tidak akan lagi menjejakkan langkahku di rumah ini.
Kulihat Kak Edo sedang duduk termenung menyeruput secangkir kopi di meja makan, saat aku berjalan cepat menuruni tangga.
Ia nampak tenang dan tidak bergeming mendengar pertengkaran kami di atas tadi, tidak mungkin ia berpura-pura tuli dengan jarak sedekat ini, ia duduk di kursi meja makan yang berada persis dekat tangga rumah ini.
Sepertinya ia tidak ingin ikut campur dalam masalah kami, atau hanya mencoba membiarkan kami menyelesaikan masalah ini sendiri, entah ia sadar atau tidak kemungkinan buruk apa yang baru saja aku katakan tadi kepada Susan, sangat janggal jika dibandingkan responnya yang selalu cepat seperti biasanya.
****
“Dicky!” tegur Kak Edo, sambil menaruh kembali cangkir kopi yang baru diseruputnya.
Kak Edo memanggil tanpa menoleh sedikitpun, ekspresinya sangat tenang meski melihat Dicky yang turun tergesa-gesa dengan wajahnya yang merah berurai airmata.
Dicky menghentikan langkahnya saat berdiri beberapa meter dari Kak Edo, saat ia mengulang kembali panggilannya.
“Dicky!” tegur Kak Edo, sambil bangkit dari duduknya dan menghampiri Dicky yang berdiri mematung saat kedua kalinya ia memanggil namanya.
“Aku harap kau benar-benar melakukan hal yang bijaksana kali ini” ucap Kak Edo, seraya menepuk punggung Dicky yang berdiri tanpa menoleh sedikitpun ke arah Kak Edo.
Tidak satu kata pun yang keluar dari mulutnya kali ini, ia hanya mengikuti Kak Edo yang mengarahkan dirinya untuk berjalan keluar rumah mengajaknya bicara lebih serius.
****
Mereka duduk di pinggir trotoar yang bertanamkan sejajaran pohon-pohon palm tinggi dikawasan depan jalan perumahan itu,
“Dik, rokok?” ucap Kak Edo dengan santai menyodorkan sebungkus rokok kepada Dicky, dengan ragu Dicky mengambilnya sebatang dari dalam kotak rokok itu dan membakarnya dengan korek yang ikut disodorkan juga.
Mereka berdua kini seperti sedang berbicara antar Pria bukan lagi Adik dan mantan Kakak Ipar.
“Shhh... Apa yang terjadi di dalam? kenapa kalian bertengkar?” Kak Edo seraya menghembuskan asap dari dalam mulutnya dan menoleh memperhatikan Dicky yang masih belum juga menghisap rokoknya sedari tadi.
Dicky terdiam tidak tau harus memulai darimana. seketika mendengar suara bantingan benda padat dari arah kamar Susan.
Keduanya sempat tersentak melihat ke arah kamar itu, namun melanjutkan percakapan kembali yang belum sempat dimulai sedari tadi.
“Maafkan aku Kak” lirih Dicky yang masih menunduk termenung.
“Tenanglah Adik Ipar, tidak ada yang perlu kau takutkan, ceritakan... aku mendukungmu sekarang” ucap Kak Edo dengan tenang sambil menepuk punggung Dicky sekali lagi.
“Aku—telah mengucapkan— talak kepada Susan” ucap Dicky dengan nada bergetar.
“Apa?!” Kak Edo terhenyak dengan perkataan Dicky, tangannya terlihat bergetar menahan amarahnya kala itu “Tapi kenapa?? “ tanya nya lagi.
“Susan tidak pernah mencintaiku, untuk apa aku bertahan dengan ini semua, perjanjian awal kita sepertinya sudah sampai pada puncaknya” ucap Dicky dengan nada datar.
“Oo... tidak, tidak! bukan itu alasanmu menceraikannya bukan? aku tau persis bagaimana kau, kau harus tau... kenapa aku semudah itu membiarkan kalian berdua menikah, bukan hanya karena alasan kau telah memperkosa adikku! tapi aku yakin kau bisa jadi yang terbaik untuknya sejak awal!! kau harusnya berpikir matang, kalian bisa tetap melanjutkan pernikahan kalian hingga saatnya kita mengakui semuanya didepan kedua belah pihak orangtua!”
“Untuk apa??” jawab Dicky cepat “untuk semakin menjatuhkan dan menginjak harga diriku?? tidak kah Kak Edo dengar pengakuan Eli kemarin? mereka berdua bercinta dibelakangku!! berkhianat! hingga membunuh calon bayiku!”
__ADS_1
tegas Dicky mulai terpancing emosi.
Kak Edo terdiam sesaat melihat kemarahan Dicky.
“Maaf, bukan aku mencoba menyangkal tuduhan itu, aku tau betul Adikku wanita semacam apa, kau harusnya bisa bertanya lebih dulu apakah benar yang dikatakan Eli!”
“Tidak perlu Kak, untuk orang yang dalam keadaan mabuk berdua dalam satu kamar, apa tidak mungkin terjadi hal-hal seperti itu, dan mereka berdua saling mencintai, aku jijik harus membayangkannya! cih!!”
“Kau sepertinya sudah termakan emosi sejak awal, bagaimana kau bisa berpikir jernih jika kau bersikap gegabah seperti ini!”
“Meskipun Susan bersujud-sujud memohon untuk tetap bersama ku, pendirianku sudah mantap, aku bukan mengharapkan rasa iba dari kalian semua, aku sudah lelah memperjuangkan perasaanku sendiri sejak awal, kemana kalian?? hah!! kalian tetap memperlakukanku sebagai seorang kriminil, pemerkosa keji yang telah merusak masa depan sahabatnya sendiri, sekarang kalian hanya mengiba, karena janin yang gagal dipertahankan Ibunya sendiri, aku tidak mau hidup dengan wanita yang suka berselingkuh dengan Pria lain!!”
Kak Edo nyaris hilang kesabaran, ia bangkit dari duduknya dan meraih mencekal kerah kaus Dicky.
“Jaga mulutmu!! kau pikir Adikku apa?? wanita murahan!! kau yang telah menghancurkan hidupnya, merenggut kehormatannya, brengsek! sekarang kau berbalik mengatakan ia dengan mudah melakukan hubungan dengan siapa saja!!” tegas Kak Edo dengan emosi memuncak.
“Haha... silahkan kau pukul aku Kak, adikmu sudah aku ceraikan, sekarang dia bebas memilih, itu kan yang sebenarnya kalian inginkan?”
“Ternyata aku salah menilaimu, aku tidak habis pikir kau tidak bisa menjaga ucapanmu! persetan dengan urusan perceraian kalian, jika ini yang kau inginkan, jauhi Adikku mulai dari sekarang! enyahlah kau dari hidupnya!” tegas Kak Edo sambil menghempaskan tubuh Dicky yang tanpa perlawanan.
Dicky terhuyung mundur beberapa langkah.
“Asal kau tau Kak, aku tidak pernah membencimu atas segala yang kau lakukan terhadapku, selama ini kau kuanggap seperti Kakak ku sendiri, tapi jika kau memang tidak lagi menginginkanku keberadaanku, aku akan pergi dari kehidupan kalian!”
Kak Edo sempat tersentak dengan pernyataan Dicky saat itu, namun ia tetap berpikir positif bahwa Dicky hanya sedang terpancing emosi kala itu.
****
Sementara itu di waktu yang sama, Brian yang sedang berada di kamar hotelnya menerima pesan masuk.
* Kak, maaf mengganggu kesibukan Kakak, apa aku bisa menghubungi Kak Brian sekarang? (Susan)
Brian meraih ponselnya hendak membalas pesan tersebut, tapi akhirnya ia mengurungkan niatnya tersebut dan kembali menaruh ponselnya. hingga beberapa menit kemudian pesan masuk kembali.
* Aku mau mengucapkan terima kasih telah menolongku kemarin, aku harap Kakak tidak membenciku karena kejadian ini, maaf telah mengganggu (Susan)
Brian menatap dalam ke arah ponselnya sambil berpikir ragu untuk membalas pesan terakhir tadi, akhirnya Brian memutuskan untuk menghubungi seseorang.
* “Hey, Adam, bagaimana perkembangannya yang ku minta kemarin?”
* “Surat itu sedang dalam proses, kemungkinan besok atau lusa tuan Brian”
* “Aku ingin besok, besok pagi! aku sudah menunggu selama dua hari, kenapa belum keluar juga laporannya!”
* “Aahh... maaf tuan, beginilah yang sering terjadi disini, segala proses ada tips untuk bisa lebih cepat”
* “Oh begitu, benar-benar parah, bagaimana tidak banyak kasus yang sulit terungkap jika hal seperti ini diberlakukan secara lumrah! berapa yang harus diberikan?? lakukan segera! aku tidak mau berlama-lama, waktu ku sangat sempit untuk menangani ini!”
* “Baik tuan, segera saya urus kembali”
* “Besok pagi! aku tunggu kabar selanjutnya”
‘Missorry ku tidak mungkin sanggup menunggu kalian yang lambat begini’ ucap Brian dalam hati.
__ADS_1
* “Baik tuan”
* “Oh ya, bagaimana mobil ku kemarin? sudah kau bawa yang lain? aku harus ke kampus beberapa hari ini, masa aku harus bawa mobil begitu kesana, bisa makin banyak dosen-dosen penjilat bahagia nantinya”
* “Yang kemarin sudah dibersihkan tuan, saya rasa tidak apa untuk digunakan kembali”
* “Itu bekas darah! bukan keringat! sudah lakukan saja, jangan terlalu mewah, aku ingin yang terlihat biasa seperti kemarin, apa rekomendasimu?”
* “Nanti saya kirimkan tuan fotonya”
* “Baik, jika aku setuju, kirimkan ke hotel ini sekaligus temui saya besok pukul 11”
* “Tidak terlalu pagi tuan?”
* “Itu siaaang Adam... aku harus berada di kampus pukul satu siang”
* “Baik tuan, saya usahakan”
* “Sejak kapan saya menerima kata usahakan?”
* “Baik, bisa tuan”
* “Hhhh... sudah kirimkan gambar mobil itu”
‘Dia tidak tau barang atau bagaimana si Adam ini, BM* mana ada sederhananya! nomor 1 sudah jelas sedehana masih menawarkan yang lain, pintar sekali’
Padahal keduanya juga bukan kategori sederhana dan tetap saja menonjol di kalangan mobil sedan.
Brian mengetik pesan
* Lain kali, kalau sudah pasti kau pilih jangan beri pilihan lain, Adam! nomor 1 saja! besok ya! (Brian)
* STNK menyusul tuan (Adam)
* Menawar lagi? (Brian)
* Tidak tuan (Adam)
‘Dasar bos penyakitan, dia yang sakit jiwa aku yang direpotkan, sial’ Adam bermonolog
* Apa? kau sedang mengumpat ya? (Brian)
* Tidak tuan (Adam)
Brian tertawa memandang pesan tadi di ponselnya, senang mengerjai Asistennya kali ini.
Bersambung
Visual Adam, new cast
__ADS_1
Thor br sadar, kenapa bos nya Brian Asistennya Adam🤦🏼♀️Brian-Adam