
Satu minggu setelah kejadian di parkiran itu, Susan sama sekali tidak ingin mengganggu Dicky meski kadang berpapasan. Hanya sesekali tatapan sinis yang dilemparkan dari kejauhan oleh Dicky. Susan bahkan tidak berani membalas sorot mata cokelat itu yang menyiratkan ancaman bagi dirinya.
...'Gerak-geriknya selalu terlihat santai, tapi bisa saja sekejap membuat tindakan' batin Susan....
Brian yang sulit ditemui selama sepekan pun menjadi beban pikiran teramat dalam, Adam hanya memberikan satu dukungan pada Susan untuk tetap bertahan dan menjernihkan pikiran.
...'Pertanda apa ini ... '...
***
Minggu pagi, embun kecil di hamparan rumput halus pada halaman depan menarik perhatian Susan untuk menjejakan kaki tanpa alas. Berjalan pelan memutari sekitar halaman cukup menenangkan pikiran. Masih dengan piyama dan ikatan rambut yang acak-acakan ia menunduk menatap setiap jejakan kakinya di rumput yang dingin dan basah. Tak memperhatikan sekitar, atau lebih tepatnya tidak peduli.
"Terakhir aku lihat orang seperti ini di Rumah sakit jiwa, lho 'San"
Susan tersentak oleh suara yang baru saja menegurnya. Susan sigap menoleh ke arah suara tadi.
"El, haiiii ... " Susan cepat menyambut Eli yang berjalan mendekat, senyumnya merekah sekejap melihat sahabat atau mantan pacarnya yang sudah lama tidak ia temui.
'Si mata biru itu memang selalu menenangkan, senyum itu ... ah, Eli memang selalu terlihat menyenangkan'
"Pagi-pagi sudah bengong, gak takut kesurupan?"
"hummm ... katanya melihat rumput itu bisa menenangkan 'El"
"Hai" Eli mengulurkan tangan mengajak toss saat sudah berada di depan Susan.
"Yea hai, kamu abis lari pagi?" tanya Susan sambil menyambut Toss dari Eli.
"As you see," Eli tersenyum sambil mencopot earphone nya "nanti mau main basket, mau ikut?"
"Aduh, basket ya. Tau dari dulu aku cuma ngacak-ngacak permainan kalian, ajak kak Edo aja El, daripada dia bangun siang"
"Biarkan aja, kasian kakakmu. Kami memang sedang banyak kerjaan"
Eli menaruh sweater abu-abunya dan meletakannya di rumput.
"Duduk,"
"Eh, loh. Sweater mu kotor nanti"
"Ya kotor, biarlah. Memang sudah kotor"
'Bukan itu masalahnya, bikin salah fokus aja nih orang. Mana badannya jadi tambah bagus, haduh ... mantan'
Susan paling sulit menolak tawaran meski hatinya sungkan menerima ajakan Eli. Susan dan Eli duduk diatas rumput beralaskan kaus itu dan duduk bersebelahan.
"Hhuuhh ... segarnya udara pagi, kalau kamu tadi ngabarin aku pengen juga bisa lari pagi"
"Sudah telat, aku dari habis subuh mengitari komplek, kamu jam tujuh baru ada disini" ucap Eli sambil meneguk air mineral di botol kecil yang digenggamnya.
"Yah, aku juga baru bangun. Dari jam enam-an disini. Hehehe ... eh, gimana kerjaanmu, El?"
"Baik, yaah ... begitulah"
'Dari dulu bahasanya selalu saja ambigu, sedikit. Dasar pelit kata'
"Kenapa Saaaan ... " Eli menoleh sambil mengacak rambut dipucuk kepala Susan.
"Apanya yang kenapa?"
"Ada masalah lagi?"
"Nggak, gak juga. Kenapa bisa berpikir begitu kamu?"
"Aku tau kamu"
__ADS_1
"Eh, sudahlah. Kapan sih aku benar-benar lepas dari masalah, jangan bahas tentangku aja, kamu gimana ... sudah ada niat menikah?"
"Hahaha, ya belum. Karirku belum seberapa"
"Mau sampai kapan hey ..." Susan meninju pelan lengan Eli.
"Sampai ... sampai aku bisa benar-benar melupakan seseorang"
"Hmm ... yaa ... kamu kan laki-laki 'El, masa iya dengan banyaknya perempuan ..."
"Itulah kekuranganmu dari dulu 'San" Eli memotong kata-kata Susan. "dimatamu ... laki-laki bukan manusia"
"Ih, aku gak jahat gitu kok"
"Nyatanya? kamu gak pernah memahami perasaan mereka, mereka juga punya cinta"
"Ya iya, tapi kan bisa segera teralihkan, El. Hari gini gitu loh ... "
" .... " Eli terdiam menunduk.
"Jangan gak move on, ah. Mana tau kamu bisa lebih bahagia nanti"
"Aku move on. Makanya aku punya pacar, tapi menikah ... itu belum. Aku akan menunggunya menikah lebih dulu"
"Kamu ngomongin siapa sih? orangnya dimana memang, di Jakarta atau di LA?"
"Heh, susah." Eli tertawa kecil.
"Jauh ya?"
"Dekat, ... disampingku" Eli tersenyum.
Susan terhenyak dengan perkataan Eli.
"Dari dulu gombal aja bisamu El ... el ..."
'Kalau saja Eli tidak fatal menghasut Dicky tentang hubungan kami, mungkin saja Eli masih bersamaku kini'
"Hmm ... kita berdua sudah sangat baik menjalani persahabatan bertahun-tahun. Kau kan yang mulai duluan ... " Susan merendahkan suara.
"Aku kan sudah minta maaf"
"Aku maafkan, tapi sudah percuma El. Aku pun sudah punya hubungan baru, aku mencintai Brian ... " Susan menunduk dan termenung.
" ... aku mengerti, tapi jangan paksa aku untuk segera menikah ... aku tidak bisa, sorry"
"Aa—aku ... "
Sebuah Bola basket terlempar ke arah Eli, dan sigap Eli menangkap tepat bola itu sebelum mengenai tubuhnya.
TAP!
"Pagi-pagi selingkuh, kurang Pria ya!" ucap sinis seorang Pria yang berjalan ke arah mereka berdua.
Susan mengangkat kepala memfokuskan pandangan ke seseorang dari seberang jalan. Susan terkejut dan cepat bangkit dari duduknya.
"What the ... ! Dicky?!" Susan hendak berbalik dan segera masuk ke dalam. Tapi tangan Eli menangkap pergelangan kaki Susan menghentikan langkahnya hingga nyaris tersandung.
"Mau kemana 'San, sini aja"
"Males El" Susan menoleh sambil melirik dari sudut matanya memandang tajam ke arah Dicky.
"Apa males—males, biasa aja dong" Dicky menyeringai.
"Sue ... come on ... " bujuk Eli yang kemudian melepaskan tangannya dan bangun dari duduk. "you're with me ... it's okay" Eli merendahkan suara sambil menatap Susan, meyakinkan bahwa Eli akan mencoba melindunginya.
Susan balik menatap Eli, sesekali melirik tipis ke arah Dicky.
"CLBK ... CLBK ... ckck" ujar Dicky sambil berbalik ke arah halaman depan garasi Eli yang terdapat ring basket.
"Apa sih dia!" gumam Susan.
__ADS_1
"Jangan dengarkan"
Susan mengangguk pelan. Sejujurnya sangat memaksakan diri untuk tetap berada di antara kedua orang ini, mereka pernah jadi bagian dalam konflik besar serta percintaan dalam kehidupan Susan. Tapi untuk mencoba maju kembali memperbaiki hubungan yang pernah retak adalah tidak mudah jika tidak dimulai dari dirinya sendiri, menurut Susan.
"Pagi-pagi gini, sudah nyamperin rumah orang. Ngapain jauh-jauh kesini cuma mau main basket, pasti niatmu buruk ya" sindir Susan.
"Eeiiishhh ... bawel, suka-suka aku dong. Tetangga juga tetangga ku, teman juga temanku, ya gak 'El?"
Eli hanya tersenyum tidak menjawab perkataan Dicky sambil menDribble bola melakukan pemanasan.
"Emangnya kawasan rumahmu gak ada lapangan, kasian sekali ..." tambah Susan.
"Heh!" Dicky menyunggingkan tawa kecil, menoleh ke arah Eli mulai bergabung dalam permainan "ada yang gak sadar rupanya, 'El"
"What?" tanya Eli sambil mencoba merebut kembali bola dari Dicky.
"Yaaa itu, perempuan bucin satu itu. Dia gak tau kenapa aku ada disini" sindir Dicky tertuju kepada Susan.
"Kamu gak bilang? atau memang pura-pura nggak paham sih?" Eli mencoba memahami tujuan pembicaraan.
"Apaan nih? ada yang aku gak tau ya?" Susan semakin sadar ada yang tidak beres.
"Dicky ... dia kan tetangga kita juga sekarang"
"WHATTT??"
Dicky menghampiri Susan yang duduk di sisi halaman itu.
"Shoooow tiiime ... hehehe" Dicky mendekat dan menunduk di hadapan Susan. "Weeeeeekkk ... " menjulurkan lidahnya mengejek Susan yang masih terlihat shock.
"Benar-benar setan kamu ya ... uggghhhh awas ..." Susan bangkit dari duduknya dengan geram dan mencoba mengejar Dicky hendak memukulnya dengan botol kosong air mineral.
"Hahaha ... hahaha, ada yang lambat koneksi 'El!"
Dicky sengaja berlari memutari halaman hingga mereka mirip anak kecil yang berkejaran.
Eli terlihat malas menanggapi apa yang dilihatnya kini dan tetap fokus memainkan bola basket sendiri.
'Dasar anak kecil, kalian berdua sulit sekali dipisahkan. Bermusuhan dan dendam tidak bisa menyembunyikan perasaan kalian ternyata' gumam Eli yang termenung sesaat melihat tingkah Susan dan Dicky.
Dicky seketika menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Susan, hingga mereka bertabrakan.
BUGG
'Drama sekali, sial!.' pikir Eli, nyaris mendengus kasar.
"Ughh!" Susan mendorong tubuh Dicky.
"Apa?? mau apa, pukul aku? masih berani?" tanya Dicky menantang berbau ancaman.
" ... " Susan menatap geram dalam diam sambil memicingkan mata ke arah Dicky yang terlihat santai.
"Sudah ya, aku masih mau main sama MANTAN MU!" ejek Dicky.
"Uuughh, You! f**k off!" Susan menunjukan kepalan tangannya di depan wajah Dicky kemudian berjalan cepat dan kembali duduk di sisi halaman dengan wajah kesal.
Selama satu jam Susan lebih asik memainkan ponselnya, berusaha tidak memfokuskan diri dengan pemandangan kedua pria di depannya yang sedang seru dengan permainan basket mereka.
'Heran, Dicky dan Eli kenapa sekarang jadi akrab sekali. Bahkan dulu mereka seakan mampu berkelahi jika berpapasan. Ini benar-benar aneh untukku, apa memang sudah saatnya kami bersikap dewasa dan melupakan masa lalu buruk itu' batin Susan.
'Ataukah ... ini permainan baru lagi dibalik rencana mereka ... '
Hati Susan semakin bertanya-tanya, karena tidak satupun dari Dicky dan Eli yang menyukai hubungan Susan dengan Brian ... bahkan kakak kandungnya sendiri ...
.
.
Bersambung
__ADS_1