
Sampailah kami di tempat selama ini Ia menyembunyikan dirinya dari semua orang, Dicky memang tidak akan pergi jauh kemana-mana tapi Ia selalu punya tempat khusus untuk melarikan diri dari segala masalahnya.
"Masuklah ... ." Dicky membukakan pintu kamar kos milik sahabatnya Agus, yang saat itu masih berada dikampus sedang mengikuti perkuliahan dan juga praktikum hingga sore hari.
Aku melongok ke arah dalam ruangan kos yang berukuran 4x6 meter itu, cukup layak huni dan terlihat dalam kondisi baik, bersih juga untuk sebuah kamar kos laki-laki, hanya saja ... bau menyengat tembakau yang menempel ditembok tidak bisa memungkiri aktifitas penghuninya yang bebas merokok dalam ruangan.
"Oh maaf, kamu pasti tidak suka ya!." Dicky mengambil sebuah botol pengharum ruangan dan menyemprotkannya berkali-kali agar membuatku merasa lebih nyaman.
"Jadi ... selama ini kamu disini, Dic? kenapa kau tidak pernah mengabari kami? Kak Dheta ... " belum sempat aku menyelesaikan kata-kata, Dicky menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya untuk menghentikanku melanjutkan kata-kata.
"Sudah bicarakan saja nanti, lihat apa yang aku punya di laptop!." Dicky tetap terlihat fokus dengan menggerakan kursor pada laptop nya, membuka beberapa jenis file yang tersimpan khusus pada sebuah folder.
Aku dan Dicky duduk bersimpuh bersebelahan menghadap ke arah laptop, dan apa yang terpampang dihadapanku sangatlah mengecewakan, terlihat jelas aku melihat beberapa foto Eli berada di klab-klab bersama banyak wanita yang ikut menikmati musik di sebelah kiri dan kanannya, nampak Eli yang tengah berdiri di antara wanita-wanita itu di depan turntable nya.
'Tapi memang resiko DJ seperti itu, kan tidak mungkin kalau sekitarnya memakai daster' Hatiku membela.
Pikiran positif berusaha masuk terlintas tapi tidak menguatkan hatiku yang beradu dengan rasa cemburu, hingga dalam keadaan seperti itu tidak menyadari ada orang yang sedang memperhatikan dan menatap secara mendalam tepat disebelah ku kini.
"Sudah aku tidak mau lihat lagi, kamu memaksa sekali, singkirkan itu jauh-jauh!" Aku melirik ke arah laptop seraya mendorongnya halus dengan ujung jari.
"Baiklah, kurasa ini cukup menjelaskan bagaimana kekasih baru mu itu kan?.”
Dicky menutup laptop nya dan kembali memandang ku tajam seperti menyiratkan maksud tersembunyi dalam pikirannya.
"Aku tidak ... tidak ... , “ Aku menoleh terhenyak melihat tatapannya padaku hingga sulit mengucap dan mengulang kata-kata ku sendiri. "apa yang kau lihat?! ... kau senang ya melihatku kecewa begini?" Aku nyaris menelan ludah dalam debaran jantungku saat ini.
"Tidak, justru aku tidak suka melihatmu kecewa, apalagi dengan orang yang tidak kau kenal sebelumnya, jadi kau percaya kan ... ia memiliki banyak rahasia?" ucap Dicky dengan sedikit menyeringai penuh arti.
"Tapi tidak bisa begini, Dic! aku harus minta penjelasan padanya tentang semua ini, jika bukan hal buruk maka sepantasnya ini aku ketahui, ’kan?" Mataku sibuk melihat ke arah lain menghindari tatapan Dicky yang intens dengan segala gerak-gerik ku.
"Jadi jangan sampai kau tersentuh dengan nya ya! jangan merugi dengan orang yang salah lagi ... terlalu banyak kau membuang waktu dengan mereka yang tidak tulus kepadamu" ucap Dicky dengan nada halus membujuk.
"Tau apa kau tentang ketulusan, kau pun selalu gonta-ganti pacar kan? jangan mengguruiku kali ini, Dic! aku tetap yakin Eli berbeda dari yang lain." ucapku meyakinkan Dicky.
"Sayangilah dirimu, mereka itu hanya modal tampan tidak pantas untuk cintamu, coba perhatikan mana orang yang lebih tulus padamu." ucap Dicky merayu halus.
Dicky mulai menggerakan jarinya ke arah rambut di sisi telingaku menyisipkan helaian rambut pendek itu dibelakang telinga. Dicky bergeser maju lebih dekat lagi dan mencondongkan tubuhnya sedikit kearahku, matanya kini menatap turun ke arah bibirku.
"Dic, A—apa ini ... " ucapku dengan gugup.
"Apa yang kau khawatirkan, kita selalu bersama selama tujuh tahun, Susan sadarlah ... bukankah kau selama ini percaya padaku?" bujuk Dicky halus.
"Dicky ... jangan bicara aneh, serius ... aku takut melihatmu begini" aku mulai panik mendengar ucapannya kali ini karena kini wajahnya lebih terlihat jelas pada pandanganku.
"Tidak ada siapa-siapa ... kita jaga rahasia ... " Dicky berbisik halus.
DEG
__ADS_1
Jantungku berdegup kencang dan tubuhku serasa membeku mendengar kata-kata serta gerak-geriknya yang selaras dengan tanda bahaya pada pikiran negatifku saat itu.
"Dic, jangan konyol ... bercandamu ini sama sekali tidak lucu!" aku berusaha tegas dengan nada gemetar.
"Aku sedang tidak bercanda ... "
Sepintas kulihat Dicky menggigit kecil bawah bibirnya, pandangannya kini seperti mengawasi seluruh ekspresi panik ku, tapi ia malah terlihat tenang dengan senyum yang menyeringai.
“Apa maksud semua ini! apa kau memang sengaja memancingku kemari untuk alasan lain!!”
“Sudah diam! kau memang selalu tidak bisa diajak bicara !” Dicky membanting pintu kamar dengan sebelah tangannya hingga tertutup keras.
Aku menemui firasat tidak baik dan segera berlari ke arah pintu, namun dengan sigap Dicky menangkap tubuhku dari belakang.
“Kamu tidak tau seberapa besar aku merindukanmu sejak kemarin?” Dicky membisikan halus ke telinga ku, memeluk erat dengan sebelah tangan nya dan menutup mulut ku agar berhenti bicara.
Tubuhku gemetar menangis ketakutan akan hal yang terjadi selanjutnya, tidak sanggup melepaskan diri dengan ukuran badan yang tidak sebanding dengan orang yang memeluk tubuhku saat ini.
“Seandainya kau sedikit saja menyisakan perhatianmu padaku mungkin tidak akan terjadi sampai sejauh ini, bukan?” ia memberi mengecup secara perlahan rambutku dan suaraku tertahan dalam dekapan yang terdengar melengking membutuhkan pertolongan.
“Dengar! semakin kau mencoba berontak maka tenagamu akan cepat habis, tidak perlu histeris! kau semakin membuatku terdesak kalau begini!”
“Aku mohon ... kita bisa bicara baik-baik” suara ku yg tertutup tangan berusaha bernegosiasi
“Jangan beralasan hanya agar kau bisa kulepaskan, apanya yang baik-baik?? Hah?? tidak cukup baik kah aku selama ini untukmu? apa kau pernah mempertimbangkan aku menjadi orang spesial bagimu? tidak pernah!.” Dicky melepaskan pelukannya membiarkan ku melepaskan diri berlindung dari situasi yang mengancam.
“Menurutmu ... aku harus bagaimana sekarang? aku jadi terpaksa kan ... ??” Dicky menyeringai licik.
“Terpaksa apa! menjauh dariku pria sialan! atau kau akan menanggung akibatnya nanti”
“Hahaha ... silahkan saja, lagipula aku sudah merasakan kehancuran perasaanku semenjak kau perlahan mengacuhkan ku demi pria bernama Eli itu!” tegas Dicky seraya memandangku dengan penuh kemarahan.
Aku berusaha sekuat tenaga menahan tubuhku yang lemas menghadapi situasi genting kala itu, berusaha mencoba memasang posisi siaga seperti yang kupelajari dalam dunia karate.
“Wah, kau berusaha membela diri dengan gerakan itu, sekali saja kau kuhempaskan kau bisa tidak sadarkan diri tau hahaha ... sudahlah anggap saja kita suka sama suka, aku berjanji akan mempertanggung jawabkan semuanya, percayalah ... aku hanya tidak ingin kehilanganmu!.” Dicky semakin bergerak maju membuat ku terpojok ke sudut ruangan.
‘Bagaimana ia bisa bertindak sejauh ini, Dicky yang kukenal bukanlah pria yang bejad’
Dengan keberanian maksimal, aku hanya mampu melakukan satu aksi bela diri paling mainstream yaitu menendang daerah vital.
Aku meraih kepalanya kemudian beralih ke belakang berusaha menjatuhkan dari balik punggungnya, namun rupanya gerakanku kurang efektif dengan tubuh yang tidak sebanding dengan diriku. Mungkin saja jika dalam kondisi tidak panik dan gemetar seperti yang biasa ku lakukan saat latihan itu semua akan berhasil.
Dicky menyeringis kecil sesaat tapi masih mampu tersenyum licik melihat kegagalan usaha ku untuk menyakitinya.
“Kau mau apa sih San ... mengerahkan segala kemampuan karate mu?! kau bahkan sudah lama tidak berlatih karena mengundurkan diri, bukan? “
Bagaimana dia bisa tau soal itu, aku berpikir cepat mendengar ucapannya.
__ADS_1
“Tercengang ya aku tau semuanya?” ucapnya dengan nada mengejek atas segala ketidak tahuanku tentang dirinya.
“Itu semua bukan urusanmu laki-laki Bi*dab!” ucapku dengan kasar.
“Cukup, aku lelah bermain-main” Ia berkacak pinggang sambil mengusap-usap kepalanya. Memperhatikan ku yang masih berdiri berupaya bertahan pada posisi siaga “Kau makin membuatku tidak punya pilihan” senyumnya kembali redup beralih memandang kesal.
Dicky melayangkan tamparan hingga tubuhku terpental jatuh ke hamparan karpet.
Dengan cepat ia memenjarakan kedua tanganku dan menyergapku yang terjatuh dalam posisi yang tidak menguntungkan.
“Seharusnya aku membiarkanmu memilih, nyatanya aku sendiri tersiksa melihat mu bahagia diatas kehancuran perasaanku, meskipun aku tidak tega melihatmu begini, aku tidak punya pilihan lain agar kau tidak meninggalkanku lagi!”
Dicky mencium dengan sangat tidak sabar, seperti mendapat kesempatan yang tidak akan di sia-siakannya.
Peluh dan airmata terus mengaliri wajah ku saat itu karena tidak mampu berontak kala tubuh terkuasai oleh orang yang jauh lebih besar dariku.
Perlahan eksplorasi nya semakin jauh ... hingga nekat membuat pakaian ku kini tergulung untuk mengikat kedua tanganku, entah darimana ia mempelajarinya tapi nampaknya insting sudah berbicara.
“Aku berjanji tidak akan menyakitimu ... aku akan membuatmu nyaman dengan apa yang akan kulakukan nanti” berbisik halus. “Haruskah aku memintamu juga memanggilku Dear agar kau berhenti memberontak?”
Aku terperanjat mendengar perkataan nya saat itu, betapa ia banyak tau dan memantau segala halnya bagai seorang psikopat.
Dicky memulai lagi aktifitas bejadnya, hingga akhirnya tidak ada benda yang mampu menutupi keadaan fisik kami berdua.
Ego dan emosi yang telah lama tertahan dalam hati tersalurkan sempurna bagi dirinya. Sama sekali terlupa akan rasa iba dan norma yang tertanam dalam pribadinya selama ini, hingga diriku kini tidak mampu mempertahankan kesucian lagi. Saat-saat itu semakin tidak terkendali hingga ia mampu bertahan mengulanginya berkali-kali.
“DONE” ucapnya sekejap ketika ia merasa sudah menyelesaikan tujuan buruknya. Membalaskan dendam akibat sikap angkuhku yang dirasa telah menyakitinya.
“Mulai sekarang ... apa yang ada pada dirimu saat ini adalah bagian daripadaku ... jaga baik-baik, ia adalah milik kita berdua.” menunjuk ke arah tubuhku, menyombongkan benih yang berhasil ia tanamkan ke sekian kalinya hingga detik terakhir yang dirasanya cukup dan membuatku tidak mampu menggerakan tubuh sama sekali.
Aku mendelik dengan pandangan rapuh dan setengah sadar. Ia pun berbalik menatap mataku dengan mata berkaca-kaca menahan rasa iba terlepas dari emosinya tadi.
Hingga saat itu terhenti seketika terdengar orang mengetuk pintu kamar, Dicky sigap meraih pakaiannya tadi cepat masuk ke dalam kamar mandi.
Dengan sekuat tenaga kuraih sweater, berpakaian cepat nyaris tidak sempurna dan meraih kunci yang sempat kukihat terpental dekat meja komputer, segera membuka kunci pintu dan terhanyak melihat Agus yang melongo terheran melihat ku berasa didalam kamar.
“Eh! kamu ... Susan kan ya? Dicky mana?”
Aku tidak ingin menjawab apa-apa,
dengan lemas aku berjalan tertatih berusaha kabur meninggalkan lokasi terkutuk tadi.
‘Jangan panggil namaku lagi! aku benci namaku sendiri!aku benci dengan diriku!!’
Bersambung
Ampuuun yaa reader...stres nih Thor nulisnya untuk masuk ke dalam cerita jd takut sendiri, dengan segera memposisikan hati dingin seorang psikopat lancar ngetik tanpa kendali, pas baca jd malu sendiri🤣🤣🤣🤦🏼♀️
__ADS_1