My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Keputusan


__ADS_3

Malam itu Brian berada di depan laptopnya dengan wajah masam, sekalipun ia fokus untuk mengetik detail hasil penelitiannya dari satu persatu peserta konseling itu, rasa tidak puasnya menjalar menjadi mood yang tidak bisa ia kendalikan sendiri, sebagai Psikolog ternyata sangat manusiawi ia pun terkadang gagal melawan emosinya.


PRAKKK


Brian memukul keyboard laptopnya dan menutup layarnya dengan agak kasar.


'Ah!! subjek cadangan ini tidak menunjukan faktor submisif yg kuat!bagaimana hasilnya bisa dianggap signifikan dengan subjek yg agresif, ini terlalu mudah, apanya yang penelitian kalau begini ... orang-orang seperti ini mudah diarahkan!’ Brian menggerutu dalam hati.


Ia mengingat subjek incarannya menghilang tanpa kabar bahkan sudah dicoba pihak kampus yg menghubungi ke nomor ponselnya namun tidak ada tanggapan.


‘Hari ini harusnya dia hadir, tinggal 2 sesi lagi terlalu mendesak! kemana anak itu ... ‘


Brian berjalan ke arah meja dan sofa yang terdapat tumpukan kertas di dalam kamar Executive Suite itu, ia memandangi kertas-kertas itu tanpa ada hasrat untuk mengulik isinya sama sekali.


‘Kalau sampai ini tidak memuaskan aku harus memulai lagi dari awal dengan area ... ‘


Pikiran Brian terputus saat ada seseorang yg mengetuk pintu kamar.


Tokk Tokk


Brian berjalan tanpa memberi sautan hingga saat ia membuka pintu.


“Yea? “ Brian terkaget dengan kedatangan salah satu subjek penelitiannya.


”Malam Kak”


”Kamu?? hmmm ... Youuu ... ehh ... “ mencoba mengingat nama.


”Tere Kak, saya ada perlu dengan Kakak, boleh saya maaa ... “


”Darimana kamu tau kamar hotel saya?” Brian memotong cepat dan ketus. wajahnya tidak terlihat bersahabat, sangat berbeda pada saat ia membawakan materi dalam kelas konseling.


”Ahh dari Ibu Ike, Kak ... “


‘Benar-benar Ibu Ike ini ... besok-besok sekalian saja kasih tau mereka warna pakaian dalamku.’ Brian mengumpat dalam hati.


“Hmmm ... ada keperluan mendesak apa kira-kira ... “ Brian masih berdiri di balik pintu menggantungkan tangannya sebelah menahan pintu agar tidak terbuka.


“Aaa ... “ mata Tere berkeliaran mencari celah melihat situasi dalam kamar hotel itu.


“Yeeess ... “ Brian menunggu jawaban dengan tidak sabar.


“Aa ... Saya mau mengadu dengan Kakak tentang yang saya alami hari ini kak, mungkin ini bisa untuuuukk sekedar menambahkan data kakak.” ber basa-basi dan mencari alasan untuk bisa masuk ke dalam bersama Brian.


“Ow, terima kasih, tapi nampaknya data mu sudah cukup lengkap bagi saya untuk mengobservasi lebih lanjut!”


“Oh begitu ... tapi saya benar-benar ingin cerita kak! siapa tau ... hitung-hitung saya sambil berkonsultasi kan ... “ membujuk paksa.


“Saya tidak menerima tamu di kamar hotel saya, dan ini sudah malam sebaiknya kamu pulang”


“Saya sudah jauh-jauh kesini lho kak”


“I have my girl in my room, trust me you don’t wanna know what’s happen inside, is it clear?” Brian bicara cepat dengan nada pelan.

__ADS_1


(pacarnya sedang di dalam, percayalah kamu tidak akan mau tau apa yang terjadi di dalam, apa sudah jelas)


Tere terhenyak dan akhirnya mengurungkan niat untuk masuk ke dalam.


“Baik kak kalau begitu ... sayaa lain kali saja cerita ke Kakak”


“Lebih baik begitu” tegas Brian dengan nada ketus.


“Terima kasih kak, maaf sudah mengganggu malam kakak, saya ... permisi”


“Oke, take care” Brian menutup pintu dengan acuh, namun saat Tere baru saja berjalan beberapa langkah Brian keluar lagi menyampaikan sesuatu.


“Oh ya Tere!”


“Ya kak?!” Tere berbalik dan menghampiri lagi.


“Pastikan lain kali anda tidak perlu datang ke kamar saya, saya hanya menerima konsultasi di kampus pada jam kelas! jika anda lakukan lagi saya tidak bisa menolong untuk kegagalan lulus nanti!” tegas Brian.


“Ba ... Baik kak!” Tere terhenyak dengan ancaman yang dilontarkan Brian.


Brian menutup pintu lagi tanpa berbasa-basi.


Brian sengaja mengatakan itu agar Tere menyerah mencari alasan hanya untuk berdua dengan Brian, padahal tidak satupun wanita dibiarkan masuk dalam kamar hotel itu, dia pun bahkan belum mempunyai pacar saat ini.


*‘Dasar gadis nekat!’ *Brian berjalan lagi ke arah tumpukan kertas tadi.


Brian mengambil ponselnya dan mengetik pesan.


‘Mohon diperhatikan kembali Ibu Ike, saya tidak mengizinkan kehidupan pribadi saya terganggu, salah satu subjek sudah bersikap lancang malam ini. Tidak ada toleransi apapun, jika ini terulang ... maka saya akan minta pihak Dekan mempertimbangkan status Ibu sebagai Dosen senior tetap’


Pukul 19.00 ketegangan situasi masih memenuhi ruangan tengah rumah Susan terlebih saat kak Edo memergoki Adiknya sedang saling bermesraan.


Dicky tertawa melihat kondisi itu, seakan-akan mengejek Eli yang hanya bisa melakukan hal sekecil itu dihadapannya.


“Hahaha kuat juga usahamu ya Eli, sayangnya ... kau hanya dapat sepuluh persen dari apa yang aku dapatkan!”


“Apa kau mau aku membantumu melihatnya juga??” menantang balik. Susan melirik malas ke arah Eli.


Dicky langsung terdiam dengan wajah geram.


“Eli, i've told you!! remember that!” kak Edo memperingatkan sambil menepis pundak Eli. “Adikku bukan bahan taruhan!!”


Kak Edo berjalan dan Duduk di salah satu sofa ruang itu yang tidak di duduki Dicky.


Eli dan Susan tetap berdiri menyandar tembok. kak Zac menyusul masuk kembali, berdiri di samping kak Edo.


“Baiklah ... sebaiknya kita selesaikan ini dengan kepala dingin ... dan ... aku rasa ini jalan paling baik yang bisa kita lakukan, tapi dengar! aku tidak meminta pendapat siapapun dalam keputusan ini! untukku ini mutlak!”


Semuanya tertunduk menyimak perkataan kak Edo tanpa kata. Suasana pun seketika menjadi terasa lebih menegangkan.


Kak Edo berbisik pelan membaca sepenggal Doa.


”Dicky!!”

__ADS_1


Dicky melihat sigap ke arah kak Edo dari tunduknya.


“Aku ingin kau untuk menikahi Susan”


“What the ... “kak Zack


“Apaa?!” Susan nyaris memekik karena terkejut.


“Keputusan macam apa itu!!” Eli memprotes keras.


Serentak segala pertanyaan dan umptan terlontar dari mulut mereka masing-masing, untunglah tidak ada yang sedang minum saat itu, bisa saja turut muntah mendengarnya.


Susan yang mendengar keputusan itu sontak menangis sejadi-jadinya, kembali memeluk dan membenamkan kepalanya dalam pelukan Eli.


“Apa aku bilang minta pendapat? memang ada yang lebih baik? apa dia mau dibiarkan saja kalau tiba-tiba hamil baru tanggung jawab, begitu? enak saja ... mau ditaruh kemana muka kami semua, kalian pun yang menjadi saksi turut terlibat disini!”


Semua terhenyak dengan alasan kak Edo kali ini, sayangnya ia telah melangkahi jalan kekeluargaan yang seharusnya melibatkan kedua orang tua, sangatlah mereka jauh dari ilmu hukum Agama.


“Tapi kau tega membiarkan Susan menikah dengan pria semacam ini?? Ahh.. ****!” Eli memijat dahinya dengan penuh kesal.


Dicky yang sebenarnya merasa di untungkan pun sempat merasa aneh karena ia tidak menyangka kenapa kak Edo memilih untuk menyatukan dalam sebuah pernikahan, meski dengan senang hati itulah yang ia harapkan.


“Kak Edo! apa kau masih merasa kurang melihatku tersiksa seperti ini, kau mau aku semakin hancur dengan keputusanmu??” Susan memaksa bicara dalam ledakan tangisnya saat itu.


Kak Edo seakan mengabaikan protes adiknya sendiri yang telah menjadi korban utama dalam kasus ini.


“Aku tidak meminta pendapatmu bersedia atau tidaknya, Susan ... percayalah ini untuk kebaikanmu juga ... ” melirik ke arah susan, ”dan kau Dicky!!” mengalihkan pandangannya lagi.


Wajah Dicky masih berada di antara shock dan terheran-heran, memperhatikan kak Edo yang tidak ada hentinya memangku kepalanya dengan tangan.


“Apa kau bersedia?”


“Tentu, Aa ... aku bersedia kak!”


“Memang itu tujuanmu kan Brengsek!” Eli memaki cepat ke arah Dicky.


“Edo, kau yakin ini bukan keputusan yang gegabah, ini benar-benar keputusan yang tidak masuk akal!” kak Zac menambahkan.


Eli menarik tangan Susan untuk mengajaknya berbicara di ruang tamu.


Tanpa basa basi Eli memeluk erat gadis bertubuh kecil itu.


“Susan, Ikutlah bersamaku ... biar aku yang mempertanggung jawabkan ini, kita pergi dari sini!” Eli meraih wajah Susan dengan kedua tangannya. Suaranya bergetar menahan emosi atas apa yang didengarnya tadi.


Susan bahkan tidak mampu lagi berucap kata, ia tetap menangis bahkan setelah Eli menawarkan hal itu. Jelas saja ini sesuatu yang tidak mudah, kami masih punya etika yang perlu dijaga.


“Ini tidak adil bagimu, aku mohon ... biarkan aku membawamu pergi dari sini! aku akan membuatmu bahagia, peganglah kata-kataku!”


Susan masih tidak menjawab Eli, dia masih setengah tidak percaya dengan keputusan itu.


Dalam pasrahnya batin susan menjawab ..,


AKU TIDAK BISA ... INI BUKAN SALAHMU ... MAAFKAN AKU ELI ...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2