My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Just the two of us


__ADS_3

Mereka baru saja kembali lagi dari ruang khusus dan berusaha terlihat baik-baik saja.


Dicky sudah tidak berada di lokasi pesta.


Satu jam lamanya sepasang pengantin itu tidak menampakan diri hingga sebagian para tamu yang hendak berpamitan pulang sempat mempertanyakan keberadaan mereka.


Gosip instan ditutupi dengan mengatakan sang pengantin sedang berganti pakaian, tentu saja karena tidak semua tamu buta saat melihat kejadian canggung di antara Dicky dan Brian yang sempat terlihat gesture hendak saling menyerang.


Mereka pun sudah berganti kostum lebih casual formal untuk sesi selanjutnya. Brian menggunakan kemeja putih dengan celana selutut berwarna putih. Susan menggunakan dress selutut berwarna putih tanpa lengan dan flat shoes biru muda.


Dijadwalkan kini sang pengantin hendak diantar ke dock pantai untuk menaiki boat menuju private island yang tidak jauh dari lokasi, yaitu dimana kamar pengantin mereka berada. Kedua asisten Brian berikut pihak keluarga inti akan menyusul setelah acara usai.


Langkah kaki sepasang pengantin itu diiringi riuh para tamu yang berjajar di kiri dan kanan sepanjang jalur dari Ballroom menuju Dock. Mereka melemparkan taburan kelopak bunga mawar putih, ada pula yang melepaskan lampion, dibarengi suara ledakan kembang api yang tidak jauh dari lokasi oleh para tim WO.


Sangat indah, sesaat mereka lupa apa yang terjadi tadi.


Pasangan itu melambaikan tangan kepada para tamu dan kerabat, sesaat boat mulai dijalankan. Terjad perubahan rencana yang seharusnya Brian sendiri yang menjalankan boat digantikan oleh pengemudi speed boat lain.


Brian masih terdiam sambil menggenggam tangan sang istri, sesekali menatapnya dan tersenyum kecil, ada perasaan mengganjal pada dirinya meski kejadian tadi sudah tergantikan suasana pantai yang indah di malam hari ini.


'Brian sedang berusaha keras menahan diri dan ego yang biasanya dia tidak mampu lawan selama ini, be strong, Dear,' batin Susan, dia menatap seraya membalas senyum Brian. Kemudian Brian membuang pandangan sembari menghela napasnya dalam-dalam.


Sesampainya di sana, suasana redup nan indah berbalut romantis sudah tersaji. Brian menyambut tangan sang istri untuk menuruni boat. Mereka disambut pemain biola yang melantunkan instrumen romantis untuk mereka berdua.


"Mereka gak masuk angin?" canda Susan seraya mendekatkan dirinya ke Brian.


"Hm? Hahaha ... mungkin, habis ini, hahaha." Senyum Brian kembali terkembang setelah beberapa waktu tadi.


Disekitaran dock boat berjajar lampion mini yang diletakkan menuju area villa, beberapa puluhan lainnya terpasang menyebar di antara pasir berwarna putih. Taburan kelopak bunga mawar merah dan putih tersebar di jalan setapak kedua pengantin itu hingga menuju villa.


"Ouch!" pekik Susan pelan. Sebuah flash menyinari pandangan kedua pengantin itu, macam pasangan selebriti di red carpet.


"Sudah kubilang kemarin, gak usah ada sesi foto lagi di sini, apa mau ikut ke kamar juga mereka, ah!" gerutu Brian.


"Itu mengabadikan namanya, biarin aja namanya WO, Bri ...," bujuk Susan.


Brian tampak cemberut merasa risih dengan situasi. Dia buru-buru menarik tangan Susan, mengajak berlari kecil mengerjai tim fotografer yang mengejar mendapatkan pose terbaik sang pengantin. Brian berhasil mengerjai mereka dengan buru-buru mengunci Villa, tidak membiarkan siapapun masuk, tapi mereka tidak berani melarang karena itu hak si pengantin.


Mereka tertawa bersama di dalam ruangan utama villa.

__ADS_1


"Astaga. Ih, kamu tuh! Nanti gaji mereka dipotong, loh!" ucap Susan sambil tertawa.


"Bodo amat!" jawab Brian tertawa sambil membuka kancing di lengan kemejanya.


"Bri? Putih?" ucap Susan sambil mengembangkan senyum takjub, melihat di sekelilingnya kini.


"Your favourite," jawab Brian singkat membalas senyum.


Villa mewah berwarna putih itu tampak semakin indah dengan dekorasi rangkaian bunga berwarna putih dan biru. Brian tanpa basa-basi menggendong sang istri menuju kamar kini ala bridal. Sesampainya di dalam kamar Brian mendudukkan sang istri di sisi tempat tidur dan melepaskan sepatu sang istri. Kemudian mengecup lutut sang istri sekilas.


Susan memerhatikan sikap hangat sang suami hampir tidak percaya, dia bahkan bisa seromantis ini.


"Bri, bau kaki." Ibarat kaset kusut terkadang ucapan Susan sering merusak momen manis. Brian sempat ternganga mendengar itu, kemudian tertawa kembali.


"Ini kan sudah punyaku, suka-sukaku, dong."


Brian bangkit dari berlututnya kemudian meraih belakang kepala Susan, mengusapnya pelan, dan mencium pucuk kepala wanita itu.


"Nyonya Williamku, are you ready?"


“Istirahat, Bri.” Susan mendongak lalu memeluk pinggang Brian.


Susan dengan segera mengusap punggung sang suami perlahan, "jangan tersinggung," ucapnya mengiba.


Brian menoleh sedikit tidak percaya, “kamu tau yang aku pikirkan sekarang?“ Susan hanya terdiam menatap bersalah sembari menunggu sang suami melanjutkan bicaranya, “sampai kapan hidup kita akan terganggu seperti ini.” ucapnya serius.


Susan menghela napas pelan, mencoba menenangkan sang suami, “aku gak bisa menjanjikan apa-apa, tapi aku cuma yakin … aku lebih kuat karena kamu yang menguatkan, aku butuh kamu” bujuk Susan lalu menangkup wajah Brian, “aku gak bisa melakukan ini sendiri. Kamu harus percaya, kita semakin terbiasa, dan gak perlu memedulikan pengganggu. Tuhan memberikan kesempatan ini supaya kita lebih menyatu, bukan menyerah.”


“Tapi sampai kapan?”


“Akan ada titiknya, aku tahu betul siapa yang kuhadapi, setelah ini dia gak akan lagi mengganggu kita.”


“Are you sure?” Bola mata abu-abu Pria itu melirik di sudut matanya, dia masih enggan menoleh, karena tidak yakin dengan pikirannya sendiri.


“Trust me.” Susan melemparkan senyum dan memeluk erat suaminya.


“So?” ucap Brian sesaat kemudiab melepaskan pelukan.


“Istirahat. Kita sudah cukup lelah dengan kejadian ini, dan kamu masih sakit.”

__ADS_1


“Aku gak lelah!” Brian menegaskan tanpa meninggikan suara.


“Bri … dengarkan aku.”


“This is our wedding night, Dear ...,” ucapnya memelas, mengernyitkan dahinya. Mirip sekali anak kecil yang tidak dibolehkan makan es krim.


“Istirahat," tegas Susan, "masih ada hari esok, kamu hidup selamanya sama aku, kan? bukan cuma hari ini.”


“But ….“


Susan bangkit dari duduk, meninggalkan Brian dan melangkah menuju kamar mandi. Brian membanting tubuhnya rebah di atas tempat tidur, Matanya memandang langit-langit, tidak percaya kali ini dirinya ditolak lagi dengan alasan kesehatan.


Selama hampir setengah jam Susan membersihkan dirinya setelah setengah harian berada di resepsi. Wanita itu berdiri di depan cermin wastafel, merasa bimbang mengingat bagaimana perasaan Brian saat ini, dia menolak suaminya kedua kali. Dengan menggunakan bathrobe dan hendak melilit rambutnya dengan handuk kecil. Terdengar ketukan pintu dari luar kamar mandi itu.


"Dear, can i come in?" panggil Brian dari luar.


"Aduh, apa?"


"Cepet, deh. Kebelet, nih."


Susan tertawa kecil lalu menggerutu, "aduh, sebentar ... aku belum keringkan rambut, loh."


"Please ...,"


Susan membukakan pintu itu, kemudian membiarkan berbalik sejenak mengambil handuk kecil itu, dan Brian masuk kemudian berdiri di belakang Susan, sebelah tangannya menutup pintu di belakangnya. Susan terkejut saat berbalik, kemudian mendongak.


"Katanya kebelet?"


"Kebelet, sama kamu. Hahaha."


"Ih, Bri, gak ngerti-ngerti, nih—," ucapan Susan terputus.


Brian membungkuk cepat dan membungkam bibir istrinya dengan ciuman pelan, lalu berbisik, "kubilang kan sudah punyaku, suka-sukaku ...." Pria itu menatap istrinya lebih dalam, tatapan yang dibalas oleh mata istrinya yang kini meredup. Brian yakin dengan dirinya yang tidak mampu membedung rasa kedua kalinya. Tangannya mengambil ujung tali bathrobe yang dikenakan Susan, menariknya perlahan, dan membisikkan ...


"I know you ready ...."


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2