My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Interogasi Papa


__ADS_3

"Aku ... Bukan belum siap. Ya, maksudku ... "


"Ya, sudahlah ... Jangan dibahas lagi, aku tau kamu belum siap bersatu hidup denganku"


"Tapi ... "


"Kubilang sudah"


'Bri ... Bukan aku meragukan bagaimana harus menerima dirimu. Ini tentang cara hidup kita yang berbeda'


Aku terdiam saat Brian nampak tidak tertarik dengan penjelasanku, bahkan nada bicaranya barusan seperti menandakan rasa kecewa. Caranya berbicara sangat singkat dan nampak dingin.


Sesaat kemudian Ia mengajakku berjalan kembali, menuju restoran terdekat yang berada ditengah area laut dekat dengan pantai. Makan malam berjalan seperti biasa tanpa pembicaraan lanjut tentang hubungan kami atau siapapun yang terlibat dalam masalah kami. Hanya itu yang terungkap ... Aku tidak berani bertanya lagi.


Sudah menginjak pukul sepuluh malam, baru saja kami sampai rumah dari perjalanan yang hambar. Papa terlihat duduk diteras menunggu kedatangan kami.


"Bri! ... Papa!"


Aku menepuk lengannya saat kami sampai dan memarkir kendaraan tepat di pinggir jalan depan rumahku. Nampaknya, Papa sudah lama menunggu kami yang selama ini main kucing-kucingan menghindar dari pertemuan Brian dengannya.


"Iya, lalu kenapa. Ayo kita keluar"


Brian memasang ekspresi datar, tidak terkejut sama sekali, ia bahkan memilih keluar dan menyapa Papa, bagaimanapun kondisinya nanti.


Kami berjalan menuju rumah, semakin dekat dengan Papa yang terlihat acuh tak acuh dengan kedatangan kami.


"Assallamualaikum, Papa belum tidur?"


"Selamat malam, Om." Brian turut menyapa.


"Waalaikumsalam. Emangnya kalau Papa mau tidur malam kenapa?" jawabnya kepadaku, dan memalingkan wajah melihat ke arah Brian, "ya, malam. Kalian dari kantor jam berapa? tiap hari kalian pulang se-malam ini"


"Eh ... Kita ... " aku berusaha menjelaskan, tapi dengan cepat Brian memotong bicaraku.


"Kami makan malam dulu, Om. Maaf membuat Susan pulang terlambat" jelas Brian.


"Ya, tapi sesekali ... Jangan selalu pulang se malam ini, tidak baik untuk kesehatan. Kalian juga kan tidak baik dilihat orang begini. Berdua, pulang malam, kan ada etika nya membawa anak perempuan"


Jantungku rasanya mau copot. Papa yang sedikit bicara seperti ini tiba-tiba bicara ketus dengan orang yang jarang ditemuinya. Mungkin kali ini lain, memang bukan salah Papa. Ia hanya berusaha menjaga anak perempuannya dari Pria asing yang menjadi kekasih anaknya.


"Iya maaf, Om. Lain kali kami akan kabari kalau mau pergi kemana-mana" jawab Brian.


"Iya 'Pa. Eeeeh ... Brian juga mau langsung pulang kok"


"Nanti dulu. Brian, punya waktu sebentar?"


"Ya. Eh ... Tentu, 'Om"


"Susan, buatkan Brian teh. Dan kopi buat Papa"


"Tidak usah repot-repot, 'Om. Air putih saja" tambah Brian.


"Hmmm. Ya sudah sana, Susan"


"Iya, 'Pa ... "


Brian melihat ke arahku dan mengangguk kecil. Tatapannya seakan memberi tanda bahwa ia mampu menghadapi Papa, dan aku tidak perlu khawatir dengannya. Aku tau ia pandai berbicara. Tapi, dalam hal ini entahlah ... Kurasa ini tentang hubungan kami.


Aku berjalan masuk dan sedikit mencuri dengar dari balik jendela.


"Kalian jam berapa dari kantor?"


"Kurang lebih jam lima, 'Om. Saya jemput tepat waktu ke kantor Susan"


"Segitu lama ya perjalanan dan makan malam? Kamu ... Kerja apa sekarang, Brian?"


"Saya ... Masih aktif menjadi konselor 'Om"


'Brian tidak mau banyak mengungkapkan apa saja yang ia lakukan selama ini, padahal banyak sekali pekerjaannya' batinku saat mendengar jawaban Brian.

__ADS_1


"Lalu?"


"Tidak banyak, Om. Sambil mengurus LSM"


"LSM? Bergerak untuk??"


"Misi LSM kami ... Lebih mengutamakan pada perlindungan anak dan wanita korban kekerasan, 'Om. Sebagiannya kami mencoba menjadi wadah aspirasi masyarakat kelas menengah ke bawah, itupun tanpa ada sarat politik didalamnya, kami menghindari itu"


"Bagus. Tapi apa itu cukup menjanjikan bagi masa depan 'Dek Brian sendiri?"


"Untuk hal itu, sayaaa ... Coba secara bertahap menggeluti bidang lain. Saya tidak akan mengesampingkan kebutuhan finansial bagi masa depan saya, Om. Tentunya" Brian tersenyum kecil.


"Baiklah. Rencanakan segalanya matang-matang. Secara jujur saya tidak mau menutup mata jika ini berkaitan dengan Susan. 'Dek Brian pasti mengerti kenapa saya menanyakan tentang hal ini."


"Sangat memahami, Om. Saya tidak keberatan."


"Saya sedikit mengkhawatirkan tentang kalian berdua. Maaf, dalam keluarga kami, komitmen dan tujuan itu penting, apalagi mengingat usia kamu yang sudah cukup dewasa dibanding Susan. Karirnya saja 'kan belum seberapa."


"Saya selalu mendukung Susan, 'Om. Meskipun usia kami terpaut cukup jauh, selama ini saya mencoba mengimbangi antara kebutuhan karirnya dan sebagai pasangan"


"Tapi yang saya belum lihat keseriusan 'Dek Brian sendiri, saya menunggu lho dari kemarin untuk bicara begini, sayang ... sudah terlalu malam."


"Saya bersedia kapan 'Om kembali mengajak saya berbincang-bincang seperti ini, saya akan coba selalu sempatkan waktu."


"Okey, kita bisa lanjutkan lagi nanti. Tapi ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan ke kamu"


"Ya, bagaimana 'Om?"


"Se-serius apa kamu dengan anak saya"


"Ehhhh ... Saya pastikan keseriusan saya dan Susan kepada 'Om dan keluarga. Apabila nanti saya berbuat kesalahan atau bahkan bertindak berlebihan, mohon tegur saya. Acuan saya adalah ketentuan dari orangtua pasangan saya, saya tidak ingin mengecewakan sama sekali"


"Orangtua kamu sendiri bagaimana?"


"Sayaaa ... Tinggal bersama Uncle saya disini. Kebetulan ... orangtua saya tidak tinggal di Indonesia, dan itu hanya Ibu saya sendiri. Ayah saya sudah tiada sejak saya kecil"


"Saudara kandung kamu?"


"Anak tunggal? Tapi jauh dari keluarga inti itu tidak mudah lho"


"Saya sudah terbiasa sejak kecil terpisah jauh, karena hanya itu amanat mendiang Ayah saya, Om."


"Ya sudah. Tadinyaa ... saya tidak mengira membahas jauh tentang hal ini. Saya hanya meresahkan sesuatu ... Saya tau, 'Dek Brian memberikan cincin kepada anak saya. Apa itu berarti pengikat? "


"Eeeh iya betul, Om. Tapi itu hanyaaa ... Sekedar pemberian biasa, bukan apa-apa "


"Pemberian biasa 'kan menurut kamu. untuk benda semahal itu apa benar kamu hanya menganggapnya biasa?"


"Ituuu ... Saya memaaang ... Eeeh ..."


Brian nampak bingung sudah terjebak sendiri dengan kata-katanya, aku muncul kembali memotong pembicaraan mereka agar membantu Brian berpikir sejenak.


" 'Pa, gula nya sedikit atau banyak?"


Papa menoleh cepat ke arahku.


"Dari tadi kamu belum buat apa-apa?"


"Eh, iya. Abis dari kamar mandi dulu, 'Pa"


Brian terlihat menghela napas pelan kemudian ikut memandangku.


"Kenapa gak dibuat?" Papa memandang ke arahku memberi isyarat untuk tidak mengganggu.


"Eh, iya iya biasa ya ... Gulanya sedikit"


Aku berjalan masuk dengan ketegangan level tinggi, Papa terlihat serius dan tegas kali ini.


****

__ADS_1


POV AUTHOR


Brian nampak ragu kali ini, apa yang ia berikan pada Susan memang bukan barang yang bernilai biasa. Bagaimana ia menjelaskan jika itu hanya sebuah pemberian tanpa arti dari seorang Pria yang bukan berasal dari golongan berkelas, sedangkan pengakuannya hanyalah seorang yang sederhana tidak jauh berbeda dengan kehidupan kekasihnya.


"Gimana, 'Dek Bri?"


"Eeeh, sebenarnya itu memang hasil tabungan saya selama ini, Om. Saya punya relasi yang bekerja ditoko yang menjual cincin itu dan ... Yaaa suatu keberuntungan saya dia mau memberikan harga yang bagus untuk saya. Saya hanya ingin Susan memilikinya saja, kapan lagi, ya 'kan 'Om? Hehe" Brian terdengar canggung.


"Hmmm klise sebenarnya buat saya. Yah, tapi apapun yang sedang kamu usahakan saya rasaaa ... Saya tidak perlu mengetahui sampai sejauh mana. Yang saya harus pastikan adalah bahwa anak saya tidak salah pilih. Sebaiknya bersama orang yang tidak sembarangan pacaran dan punya tujuan"


"Saya yakin untuk berusaha sesuai dengan 'Om dan keluarga harapkan." Brian tersenyum meyakinkan Papa.


"Ini ... Kita bicara antar sesama Pria lho ya, pahami maksud saya"


"Iya, saya mengerti 'Om"


'Ternyata begini rasanya di interogasi calon mertua, sedikit meleset jawaban bisa sangat berbahaya' batin Brian.


"Dipikirkan baik-baik jika ingin serius, ada banyak hal diluar kecocokan yang perlu kamu pahami. Kalau dari 'Om sendiri cukup memandang kamu baik, diluar itu semua saya belum tau kamu seperti apa"


"Iya, 'Om. Terima kasih. Mungkin dalam beberapa hal lain saya akan coba bicarakan dengan Susan"


Susan datang membawakan kopi dan segelas air putih untuk Brian dan Papa nya, beberapa hal lain lagi turut menjadi pembahasan antara mereka berdua tanpa melibatkan Susan sama sekali.


Nampaknya Papa mencoba yakin dengan keseriusan Brian, sikapnya yang tenang dan jawaban memuaskan sementara ini cukup mengurangi ke khawatiran Papa, diluar itu semua mereka berdua adalah manusia, yang bisa saja gagal menjalani hubungan yang biasa-biasa saja.


Susan mengantar Brian menuju mobilnya, Susan berdiri tepat disamping pintu bagian kemudi dimana Brian sudah berada di dalamnya dan membuka jendela untuk sejenak berbicara.


"Puas hari ini? Kena ya kamu? Hahaha"


"Puas, apanya? ... Aku belum dapat bonus dari jawabanku tadi"


"Kan kamu lagi badmood"


"Ya justru itu, gimana caranya biar aku gak badmood?"


"Apa ya, hmmm ... Sini"


Baru saja kepala Susan sedikit masuk ke bagian dalam mobil melalui jendela, hendak mendekati Brian yang meraih wajahnya. Panggilan kuat dari dalam rumah menghentakan mereka berdua.


"Saaann!" Teriak Papa yang ternyata masih berada di balik jendela.


"Ahhh shooot ke gap!" ucap Susan, "Ya 'Paaaa ... " teriak Susan ke arah Papa.


"Hahaha, haduuuhhh begini ya rasanya sembunyi-sembunyi"


"Orangtua maunya kita lurus-lurus aja 'Bri, mana mereka tau kamu masih puber begini"


"Loh, aku gak minta apa-apa"


"Muna' dasar, apa tadi bonus coba"


"Yaaaa ... Yaaaa bonus, apa ya"


"Udah sana, hus hus ... Pulang"


"Ya deh, kasian aku cuma dapat mimpi aja ini sih"


"Yeeee ... Gih sana, kabarin kalau udah sampai ya!"


"Yes Dear, tunggu aja. Aku gak akan kabari, biar kamu kangen terus"


Satu lagi panggilan dari dalam.


"Saaaan, udah malam!!"


"Aaaa ... Iyaaaa ... " saut Susan.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2