
Malam itu menjadi malam pertamaku mencicipi dunia malam bersama Eli mantan kekasihku, nampaknya perasaan itu tidak berubah saat keadaan sedang memaksa kami untuk saling menjaga jarak, sudah mirip wabah kekinian. kami tetap saling mencintai dengan apa adanya sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku seperti promo-promo berhadiah.
Eli terpaksa menuruti kemauan keras Susan saat itu, meski pada awalnya ia tidak ingin mantan kekasihnya yang terkadang polosnya tidak lihat kondisi itu ikut melihat situasi yang sangat asing bagi Susan yang jelas bukan gaya hidupnya.
“Kuingatkan, jangan jauh dari pandanganku saat aku sedang bekerja okay!”
Ucap Eli, dengan nada datar dan pandangan fokus ke jalan, sorot dan kerdipan matanya yang bergerak-gerak sedikit, menunjukkan bahwa ia sedang berpikir keras tentang syarat-syarat selanjutnya untuk Susan.
“SIP!” ucap Susan, meng iya-kan saja.
“Jangan dekat dengan orang asing!”
“Lalu kau apa?” ucap Susan nyleneh.
“Asing yang tidak kau kenal !! aduh ... kucium juga kau nanti!” ucap Eli semakin gemas.
“Ok, SIP!! next!” ucap Susan mantap.(macam reader-reader di kolom komen hehe)
“Hmm ... Jangan terima minuman dari siapapun!” ucap Eli
“Kalau aku haus bagaimana?”
“Aku belikan kau air mineral nanti! Oh ya, jangan berada di kerumunan!”
“Lanjut Gan!” ucap Susan nyleneh lagi.
‘Yaaaa yaaa bicaralah sesukamu Eli’ kata hati Susan mulai membantah
“Kau duduk saja di Bar counter, nanti kukenalkan dia biar kutitip kau disitu!” tegas Eli.
‘Memangnya aku barang belanjaan apa dititip segala’ bantah Susan dalam hati.
“Pertamax Gan!” ucap Susan malas, memangku wajahnya dengan tangan melirik kearah luar jendela.
“Kalau kau mau ikut, harus seperti ini syaratnya, tidak boleh menentang” tegur Eli
“Jadi yang boleh-boleh saja apa?” tanya Susan
“Yang boleh? hmm... Hahaha... tidak... tidak apa-apa” ucap Eli sambil menggigit bibirnya sesaat dengan ekspresi wajah jahil.
“Mikir apa kamu, Huh!” ucap Susan, memukul lengan Eli dengan tas kecilnya.
“Kamu hari ini berdandan ya?” ucap Eli sambil melirik sepintas.
”Yaaa iya, bagus tidak?” tanya Susan
“Lebih bagus tidak memakai apa-apa! ehmm ... ee—maksudku make up!” ucap Eli kelepasan bicara.
“Ya ... biar aku tidak dibilang laki-laki!”
Tegas Susan.
“Bukannya tidak cantik, tapi lebih bagus seperti biasa saja, kan memang itu yang aku suka darimu” jelas Eli.
“Ahh ... tidak semua orang sepertimu El, aku bukan sedang pergi kekampus, bahkan baju ini pun bela-bela aku pinjam dari sahabatku” lirih Susan.
“Iya lah, mana punya kau baju begitu” tambah Eli.
‘Fokus Eli .... tidak perlu dilihat ... memikirkannya saja sudah membuat pikiranku kacau selama perjalanan’ Eli mengingatkan dirinya sendiri dalam hati.
“Apa ini terlalu terbuka?” Tanya Susan
‘Sebenarnya tidak terlalu, perasaanku saja yang jadi tambah penasaran dengan sisanya yang tertutup’ Gumam Eli dalam hati.
“Kau akan lihat, disana lebih banyak yang kurang bahan daripada kamu, kalau segitu masih jauh dari kata terbuka” Jelas Eli.
“Masa aku harus gulung-gulung bagian pinggang ini biar kelihatan agak terbuka!” ucap Susan sambil mempraktekan langsung caranya menggulung bagian ujung bawah kaus itu sampai sedikit terangkat diatas panggul.
‘Bodohnya kelewatan mantanku ini’
“Si Brian kasih kamu apa sih jadi bodoh begini! jangan diteruskan eksperimen dengan pakaianmu itu! kamu mau aku ganti arah dan membawamu ke hotel sekalian! “ ucap Eli semakin gemas melihat kepolosan yang beda tipis dengan kebodohan itu.
__ADS_1
“Ke Hotel Kak Brian? ada perlu apa memangnya kita?”Tanya Susan
‘Astaga ... sudahlah aku diam saja’
Senyap Eli enggan menjawab apa-apa setelah panjang bicaranya sedari tadi.
’Tadi cerewet sekarang diam ... apa sih maunya’ protes Susan dalam hati.
****
Sesampainya di Club XX, Eli memperlihatkan kartu ID nya kepada security berbadan besar diikuti Susan yang diperbolehkan masuk karena ikut bersamanya secara cuma-cuma.
Eli mempersiapkan segala barang bawaanya untuk menuju stage setengah jam kemudian.
Sementara menunggu Eli mengajak Susan untuk duduk di kursi putar depan Bar Counter dengan segala ketentuan yang disebutkannya selama perjalanan tadi.
Suasana yang redup dengan banyak permainan lampu-lampu sorot yang berkedip sesuai irama musik cukup membuat Susan tidak nyaman karena belum terbiasa.
Bau menyengat dari wewangian, alkohol dengan jenis dan level yang berbeda serta musik yang memekakkan telinga cukup membuat Susan gusar dengan keberadaannya.
‘Ini memang bukan tempatku, kenapa aku memaksa begini, tapi sudah terlanjur aku menjejakkan langkahku disini ... aku harus berbaur dengan situasi’ ( seketika jadi bunglon... oh gak gak..maap)
Saat waktunya Eli berdiri di stage mempertunjukan kebolehannya dalam meracik lagu santai berbau era 80’an.
Susan dibuatnya takjub dengan gaya Eli yang super cool seperti itu.
‘Eli memang selalu keren, cara membawakan musiknya semakin membuat aura Cool nya meningkat 100% dimataku, Ahh yaa itulah mantanku kini’
Pandangan susan seketika tertutup sebagian karena terhalangi seorang pria yang mendadak duduk di sebelahnya juga menghadap ke arah bartender, ia memesan salah satu minuman berwarna kuning pucat dalam ukuran gelas besar.
Pria itu menoleh sepintas ke arah Susan. mencoba menyapa,
“Hai, aku baru melihatmu disini ... “
Susan masih tidak tersadar akan sapaan pria itu karena matanya sibuk mencari sela untuk melihat Eli dari jarak kejauhan.
“Hello” ucap Pria itu melambaikan tangannya didepan wajah Susan.
“Oh, Sorry, ya ... ada apa?” ucap Susan menyadari sapaan itu.
“Hm? Ya ... eh ... Iya baru pertama” ucap Susan polos.
Pria itu mengulurkan jabat tangan.
“Evan, kamu?” ucap Pria itu
“Susan ... “ jawab Susan, membalas jabat tangan.
“Aku traktir ya!” ucap Pria itu.
Belum sempat Susan menjawab Pria itu menepuk tangannya sekali, memanggil bartender dan membisikkan pesanannya.
“Eh ... Aaa ... “
‘Ah sudahlah ... asalkan bukan minuman berbusa-busa atasnya tidak apa’
ucap Susan dalam hati.
“Kamu bisa masuk sini bagaimana caranya?” ucap Pria itu.
“Tuuh ... sama DJ Eli(I-lay)” ucap Susan bangga, tersenyum kembali memandang ke arah Eli.
“Pacarmu?” tanya Pria itu.
“Mantan” jawab Susan, terlalu jujur tidak lihat situasi.
“Oh ... boleh juga, keren lah!”
Pesanan datang, Pria itu menyodorkan minuman jeruk dengan gelas tangkai berbentuk segitiga dengan taburan garam dibibir gelasnya, terdapat potongan jeruk berdiri di sisi bibir gelas semakin meyakinkan Susan kalau itu es jeruk.
‘Wah es jeruk ada juga disini, segar juga kelihatannya daripada air mineral, tapi sedikit sekali ya, ini sih sekali teguk juga habis’
__ADS_1
“Silahkan” Ucap Pria itu.
Tidak enak menolak seperti biasa, Susan menuruti pria itu.
“Oh ya ... ya ... “
Glek... glek...
Pria itu memandang aneh saat Susan dengan cepat menghabiskan minuman itu.
“Rasanya aneh ya es jeruk disini”
“Es jeruk? Hahahaha ... “ tawa Pria itu. Susan tidak mengetahui bahwa minuman itu adalah martini (cocktail) sejenis minuman beralkohol yang dicampur perasan lemon.
“Kenapa? hehe ... “
“Itu Martini, babe ... Hahaha”
Susan mendelik kaget mendengar nama yang ia pernah dengar itu sejenis nama minuman beralkohol, sayangnyaSusan tidak mengetahui wujudnya seperti apa sebelumnya.
‘Ya ampun, bagaimana ini ... pantas rasanya tajam’ Susan mulai agak panik melirik ke arah Eli yang masih sibuk dengan turn table nya.
“Kau baru tau ya? Hahaha ... tidak apalah, paling hanya pusing sedikit kalau belum biasa ... “ ucap Pria itu memandangi Susan yang terlihat agak panik dan wajahnya mulai memerah.
Pria itu memandangi Susan dari ujung kepala hingga kaki dengan sorot mata tajam, dan itu tidak disadari Susan yang mencoba melihat ke arah Eli untuk dapat perhatian Eli agar ia melihat ke arahnya.
“Hei, boleh kita bertukar nomor?”
“Hm? nomor? ponsel?” tanya Susan, ia mengingat itu bukan salah satu syarat tadi, akhirnya mereka bertukar nomor.
Susan dan Pria itu ( Evan )berbincang beberapa lama saat akhirnya Susan merasa mulai tidak terkendali dengan wajah yang memerah. Susan menyandarkan kepalanya di atas tangannya di meja dan perlahan seperti lemas tertidur.
Saat pandangan orang disekitar sedang sibuk dengan aktifitasnya, termasuk para bartender disitu, Pria itu memapah Susan untuk mengajaknya duduk di sekitar Bar Lounge kosong disitu.
Pria itu mendudukan Susan yang lunglai disebelahnya, menaruh posisi kepala dibahunya.
Eli baru tersadar kalau hari ini ia bersama Susan, dan melirik ke arah bar untuk mengecek keberadaan Susan disana, Eli tersentak melihat Susan tidak lagi berada ditempat seharusnya.
Eli memanggil teman satu timnya untuk menggantikan posisinya sementara, bergegas meninggalkan stage untuk mencari Susan ke arah bar counter.
“Where is she??!” Tanya Eli panik kepada teman bartendernya.
“Tadi masih disini! kemana dia ya”
Bartender itu mencoba bertanya kepada temannya yang lain.
“Tidak ada yang lihat, El”
“Kenapa kau tidak lihat, kan kutitipkan dia tadi ... “
“Aku sedang sibuk El, kupikir tadi dia bersamamu!”
“Kau tidak lihat aku masih di stage!” Tegas Eli meninggikan suara
Salah satu teman bartendernya membisikkan sesuatu.
“Tadi dia berbincang dengan seseorang disini”
“Apa dia memesan minuman??!”
“Sepertinya orang itu memesan Cocktail (martini)”
“Whatttt?! setahuku dia tidak mengenal minuman semacam itu!! Seperti apa orang yang berbicara dengannya?” Tanya Eli dengan tegas.
Setelah mengetahui ciri-ciri orang yang bersama Susan tadi, Eli bergegas berkeliling mencari keberadaan Susan dengan Pria bertubuh tinggi tegap dan sedikit plontos itu.
Eli menghampiri dengan geram saat akhirnya menemukan posisi Susan berada dengan Pria yang sedang berusaha melecehkan wanita yang sedang lunglai tidak sadarkan diri itu, pria itu sudah menaruh posisi tangan lemas Susan berada di tengkuknya, sedangkan wajahnya sedang dalam posisi berhadapan dengan wajah Susan yang terlihat lemas dengan mata terpejam.
“BA*TARD!! “
Eli menghampiri Pria itu dan menarik kerah bajunya dari belakang hingga tersungkur.
__ADS_1
BUUUGGGG
Bersambung