My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Kepatuhan


__ADS_3

Setelah selesai dengan pembicaraan dengan Ibu Ike dengan skill manis bicara dari Kak Edo, nampaknya Ibu Ike yang usianya masih sekitar 40an itu luluh juga.


Nyaris tak kukenali sifat Kak Edo kali ini, kupikir ini salah bawa kakak, semacam kakak yang tertukar mungkin, ternyata inilah sisi lain mengejutkan bagiku kenapa Kak Edo banyak digandrungi teman wanita selain kebelasteran wajahnya yang buatnya menang banyak, sikap konyolnya yang terkadang membuat mereka merasa uwuu uwuu tapi tidak untuk adiknya ... dia tetap saja monster dua alam ...


Saat Ia mengantar ke kelas pun jadinya geger karena aku dianggap seperti anak pungut, siang malam, langit bumi, dua alam ... dan apalah lainnya aku tidak perduli ... kuanggap mama salah ngidam saja ... dan ... secara Auto teman-teman perempuan kelasku banyak yang bersedia menjadi iparku ... katanya ... Hih! tidak tau saja ...


Siang itu Susan tetap memberanikan diri menghampiri Brian, nampaknya Bu Ike sudah banyak menyampaikan hal-hal baik tentangnya sehingga Brian sedikit mengendurkan urat emosinya kali ini ... tapi dendam itu masih berlaku nampaknya ...


Memberanikan diri mencari tau ruangan khususnya, dekat ruang sekjur.


Tokk Tokkk


“Yes?!” sautan dari dalam ruangan


“Saya Kak ... Susan Adriana dari kelas PA 02, boleh masuk Kak?”


Susan menempelkan wajahnya di pintu agar suaranya terdengar.


“Sudah buat janji dengan saya?”


“Belum sih Kak ... tapi ... “


“Buat janji dulu, saya sedang sibuk!”


Nampaknya gedung ini tidak perlu speaker untuk pengumuman, bicara begini saja gema nya kemana-mana.


“Oohh ... begitu ya Kak, Maaf ya Kak ... mengganggu ... “


‘MAAF!’ nampaknya kata maaf menjadi kata kunci yang membuat Brian akhirnya bergeming.


Baru saja Susan akan melangkah pergi.


“Hei! Siapa suruh kamu pergi, negosiasi dulu dengan saya!” membuka pintu melongokan kepalanya.


‘Hhhh ... palu mana palu ... dari tadi kek minta dirayu dulu, begitu?’ gumam Susan dalam hati.


“Ya Kak ... permisi ... “


Saat memasuki ruangannya entah kenapa Aura nya begitu berbeda seperti sikapnya kemarin-kemarin, walau sepertinya ekspresi jaga image masih ditanamkan kuat dalam hatinya.


“Duduk!”


‘Ya iya Kak, masa lesehan ada kursi begini’ dalam hati Susan.


“Maaf ya Kak mengganggu ... “


‘Ayoo berbaik hatilah wahai patung pancoran’ Susan bergumam dalam hati.


Brian terlihat meremas pena ditangannya.

__ADS_1


”Bagaimana ... sudah bicara dengan Ibu Ike?” Brian pura-pura tidak tau


“Sudah Kak, saya sudah kasih bukti saya memang sakit ... “


“Lalu? untuk apa kamu datang ke saya?”


“Saya mungkin bisa bantu Kakak menyelesaikan hasil akhir dari konseling kemarin kalau belum lengkap mungkin saya bisa diwawancara Kak ... kalau kakak bersedia“


“Kenapa jadi saya yang butuh kamu? apa alasannya yang membuat diri kamu begitu penting untuk penelitian saya!” Gengsi berat padahal dia frustasi selama tiga minggu karena Susan tidak hadir.


“Iya Kakak, saya yang butuh supaya nilai saya tidak dikurangi” menunduk tidak berani melihat.


‘Ditekan makin menunduk, benar-payah dia tak tertolong, gemas aku’ Brian


“Lalu, punya solusi itu saja? saya tidak bisa membantu kamu, ini sudah selesai saya kerjakan dan dalam proses feedback, bagaimana kalau begini?”


“Maaf merepotkan ... “


BRAKK!


“Jangan Maaf-maaf terus!” Brian memukul meja.


“Eh maaf eh maaf!” Susan malah semakin latah karena kaget.”Eh Sorry” menunduk lagi pias.


‘Sama saja! mohon hentikan kata itu’ Brian mendelik kesal frustasi, dalam hati ia makin gemas.


Kaki Brian bergerak-gerak tidak sabar dibawah mejanya. Meremas pulpen dengan kedua tangannya kali ini.


‘Melawan.... Ayo melawan ... ‘ Brian menunggu perlawanan.


“Baik Kak ... Permisi ... “. tersenyum paksa sambil memohon diri.


Brian menghentakkan kepalanya di sandaran bangku, merasa gagal memancing emosi Susan yang mudah merasa bersalah dan menyerah.


Susan keluar dengan tertunduk, juga merasa gagal atas usahanya.


Brian menaruh dagunya diatas genggaman tangannya.


‘Harus diapakan anak ini ... memperjuangkan nilai saja sudah menyerah bagaimana mempertahankan harga dirinya ... ‘


Tersungging senyum kecil.


‘Tapi kenapa aku suka sekali setiap ia mengucapkan kata maaf ... cukup menyenangkan juga, ya ... menggemaskan sekali’.


Tiba-tiba Brian melamun membayangkan hal-hal yang ia rencanakan


selanjutnya, bukan lagi masalah penelitian ... bahkan jauh ... menjadi jauh lagi dengan pikirannya ...


****

__ADS_1


Susan pulang dengan perasaan tidak semangat kali ini, perasaan tertekan dari sana dan sini,


Kepercayaan dirinya semakin lemah karena sebagian orang disekelilingnya yang tidak membuatnya bangkit, hanya Eli yang selama ini menghargai posisinya dan tidak berbuat macam-macam dengan situasi yang ada, namun apa yang harus ia perbuat jika Eli tidak diperbolehkan berada di sisinya lagi.


‘Bagaimana kalau aku sampai mengulang kelas, bagaimana karirku nanti ... seandainya mereka tau apa yang terjadi pada diriku mungkin tidak akan begini hasilnya’. Susan merenung lama diatas tempat tidurnya, tidak ingin terulang kedua kali ia memilih mengunci semua akses masuk tanpa kecuali.


‘Aku tidak mau diganggu ... benar ... aku tidak mau dikuasai lagi’.


Merasa tak berdaya dia hanya seorang Susan yang terlihat kuat namun seringkali rentan oleh pikiran sendiri, kala dia sadar bahwa ia hanya tegar tapi tidak mampu bertindak.


Sesaat kemudian pesan masuk


“Selamat malam, saudari Susan Adriana kelas PA 02, kami dari pihak jurusan ingin mengkonfirmasikan kehadiran anda untuk pembahasan mengenai pertimbangan nilai beberapa mata kuliah, diwajibkan hadir dan mohon konfirmasi kepada dosen terkait apabila berhalangan hadir dengan alasan mendesak, terima kasih”.


‘Ada peluang’. mood nya berubah drastis, dan satu-satunya orang yang ingin ia hubungi adalah Eli.


Eli hari ini tidak berani menjemput Susan dikampus, karena sebenarnya yang akan mengantar pergi dan pulang adalah Kak Edo, yang lain minggir semua kalau berurusan dengan kakak posesif dan diktator itu.


Video call


“Hai, dimana kamu?”


“Aku sudah dirumah ... kau sudah pulang? maaf aku tidak menjemput, aku takut kau kena marah ... “


“Gak apa-apa, kampus tidak jauh kan ... sesekali aku naik angkot tak apalah, mengulang masa SMA”. Susan tersenyum ceria.


“Ada apa hari ini, senang sekali kelihatannya ... “


“Aku ada peluang El, besok aku akan menemui pihak jurusan, Doakan ya biar berhasil wawancara!”


“Ada wawancara apa? kau belum cerita”.


“Konseling, panjang ceritanya nanti kuceritakan, kau tau yang kemarin menegur kalian di kampus?”


“Iya, Buleeee’ itu kan?”


‘Ya sejenismu itulah El’ gumam Susan dalam hati.


“Dia konselor aku!”. Susan mengucapkan dengan senang dan itu semakin membuat Eli terganggu.


“Hmm ... ya lalu” mulai datar dan dingin.


“Semoga berhasil menyelamatkan nilaiku El, jadi aku tidak perlu mengulang angkatan ... Yeyyyy!”


“Ya sudah, selamat ya ... jaga dirimu baik-baik ... jangan sampai kamu terjebak dengan masalah yang sama.” Sepertinya Eli takut akan terjadi cinta lokasi .


Susan tidak memahami apa oerkataan Eli yang ia tau adalah merasa bahagia karena merasa sukses membujuk Brian hari ini.


Padahal yang ia tidak tau, memang dari awal ada sisi spesial yang membuat Brian begitu ingin tau tentangnya lebih dalam ... hanya Brian yang tau tentang rahasia hati dan segala rencananya ... entah kapan, tapi waktu itu pasti akan datang ...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2