
Kami saling berpandangan, Brian meraih tanganku yang mulai berkeringat dan menggenggamnya erat.
"Nervous?"
"He—eh, sedikit" jawabku pelan.
"Tenanglah ... gak seperti yang kamu pikirkan, ayolah ... miss mindset positif ..." candanya.
"Ih, ini kan lain urusannya, Bri ..."
"It's okay, i'm with you" bujuk Brian sambil tersenyum dan mengusap-usap lenganku.
Aku mengangguk seraya menggigit bibirku, berusaha menguatkan diri dan sepenuhnya yakin bahwa hal ini tidak seharusnya kukhawatirkan. Semakin panik ... semakin bodoh penampilanku nanti ... anggap saja ini presentasiku di depan para bos yang menginginkan performa baik ...
'Tapi ini beda, kaaan ...'
Aku membalas senyum sambil menarik napas dalam dan melepaskannya perlahan.
Begitu singkatnya waktu, terasa cepat saat pintu gerbang terbuka dan kendaraan melaju masuk ke area halaman. Brian menuntunku ke arah ruang utama, dan beberapa saat kemudian masuklah Uncle dan seorang wanita berusia kisaran 50-an akhir yang masih nampak cantik, dengan busana gaun yang nampak semi formal berwarna hijau tosca berlengan pendek dan panjang selutut. Dengan tingginya yang kurang lebih hampir 170-an ditambah kitten heels cokelat muda yang ia kenakan, dia nampak lebih muda dari usianya. Elegan sekali ...
'Aku yang muda begini diberi warna hitam ... ya ampun Bri ...' batinku.
Memang benar saja pilihan kekasihku ini, aku lebih menyukai warna-warna yang tidak jauh dari hitam, putih dan cokelat saja. Jarang menggunakan warna lain selain itu. Mungkin lebih cocok dengan aura ku yang tidak feminin.
Wanita itu berjalan menghampiri sambil tersenyum ke arah anak tunggalnya yang berulang tahun hari ini. Hazel eyes nya melirik sesekali ke arahku.
Tentu saja mereka berkomunikasi dengan bahasa lokal dan logat kental British mereka. Oooh ... apakah aku berada di Notting Hill ...
"Sayang," seraya memeluk Brian dan mencium kedua pipinya. "ah, cuaca malam ini tidak dingin sama sekali, syukurlah mama tidak perlu menggunakan coat"
"Mama sudah terlalu lama tidak mengunjungi Indonesia, Selamat datang di rumahku 'Ma ..." sambil melepaskan pelukan "Ini Susan ..." ucapnya tanpa basa-basi langsung melingkarkan sebelah tangannya ke pinggangku. Seakan memberi kekuatan bahwa ia ada disini untuk menuntunku menghadapi Mama nya.
"Oh, Susan? hai sayang ..." mengulurkan tangan
"Hai, Nyonya William .., Susan, senang bertemu dengan anda" menyambut tangannya untuk bersalaman.
"Annette ... panggil saja Anne" menyalami dan memelukku sesaat.
Matanya mengerling ke arah Brian kemudian tersenyum dan memandangku lagi.
'Ah, aku sedikit lebih lega, tapi deteksi kepekaan ku sesaat hilang tidak tau arti senyuman dan pandangan sesaatnya tadi pada anaknya'
'Kenapa aku lebih berpikir seakan ia berkata ... ini makanan kita ... daripada ... ini calon menantuku, buyar pikiran positifku'
Rupanya benar perkiraanku, Brian mungkin lebih mirip Ayahnya, dari bola mata dan rambutnya yang berwarna cokelat, sudah pasti Brian yang berambut sedikit pirang kecoklatan dan bermata abu-abu, jelas tidak ada dari wanita ini.
__ADS_1
Uncle kemudian menyusul menyalamiku, si orang angkuh itu.
"Susan, kita bertemu lagi" ucapnya sambil bersalaman "kamu berbeda malam ini ..." tambahnya sambil tetap tersenyum angkuh.
"Hai, Uncle ... senang bertemu lagi" ucapku sambil membalas senyum.
'Ini pura-pura untukmu ..., Uncle' batinku.
Selanjutnya Adam, dan Leo yang turut menyambut kedua tamu besar kami.
Kemudian kami semua berjalan menuju ruang makan, Brian merangkul punggung Ibunya dan tangan satunya menggandeng erat tanganku.
Brian menarik kursi untuk Ibunya kemudian untukku, Uncle? dengan para pelayan saja, dia bisa sendiri.
Brian duduk tepat di sebelahku, berseberangan dengan Ibunya dan Uncle. kemudian Leo dan Adam yang juga duduk berseberangan di sebelah kami. Karena mereka sudah jadi bagian keluarga bagi kami.
Aku tidak akan memulai pembicaraan jika tidak ditanya apapun, seperti pesan Brian ...
'Jawab hanya jika ditanya, Mama tidak biasa bicara saat makan hidangan utama'
"Sudah berapa persen sejak terakhir paman cek rumah ini, Bri?" tanya Uncle sebelum menyuap sesendok salad ditangannya.
"Hampir selesai, hanya sedikit dibagian belakang, masih terkendala kedalaman galian untuk kolam renang, katanya. Bagaimana mereka bisa salah ukuran? aku juga tidak sabar dengan prosesnya, Dave"
"Salah ukuran? perhitungan Yudha tidak pernah salah, Bri, aku memastikan mereka orang-orang handal yang andil dalam proses pembangunan rumah ini, bahkan sudah harus lebih cepat dari perkiraan. Mereka biasa menangani Estate dan Apartemen, alasan apa yang membuat satu rumah saja begini lama prosesnya!"
"A—ah ya ..., benar, tapi dia tetap kuminta memantau progress rumahmu juga, Bri" jawab Uncle sedikit gugup.
"Hanya itu yang kutahu. Sekedar info, aku hanya ingin rumah ini selesai bulan depan, Dave"
Mama Anne menyela perbincangan kaku itu.
"Apa pembicaraan semacam ini yang kalian bahas saat makan malam dengan tamu? Aku merasa salad ini ber-saus semen ..." sindir Mama Anne
'Ternyata calon mertuaku bisa bercanda juga, eh, apa dia bercanda? atau serius, untung saja aku tidak menyemburkan salad dari mulutku jika tidak menahan diri'
Aku tersenyum simpul menahan tawa dalam hati.
"Aku ingin Bri segera mendapatkan rumahnya sudah layak dihuni, Anne ..." ucap Uncle pelan sambil melirik ke arah Mama Anne. Mama Anne memandang balik Uncle yang berada di sebelahnya.
'Kenapa Uncle meliriknya dengan cara seperti itu? atau pikiranku saja yang mulai kacau'
Brian memandang Mama nya kemudian mengerlingkan mata, menoleh ke arahku, matanya yang menatap dingin seakan berkata ...
'Jangan tertawa, teruskan makanmu'
__ADS_1
Tidak santai sekali anaknya ini ...
"Maaf Ma ... harusnya aku tau Mama rencana kedatangan mama, jadi kupastikan waktu agar mama melihat rumah ini sudah sempurna"
"Tidak perlu terburu-buru, Mama hanya ingin bertemi dengan anak mama, bukan bangunan. Lalu ... Susan," ia menggeser pandangannya ke arahku, DEG. "kamu sudah kenal lama dengan Ian?"
'Ian ... oh, itu panggilan kesayangan mama nya untuk Bri'
"A—aku, ya ... sudah, kami sudah kenal lama"
"Dia bekas mahasiswa Ian, Anne" tambah Uncle sambil kemudian meneguk air dalam gelasnya, menghentikan salad yang dimakannya.
'Mulai saja mulut si pria dua alam ini ikut-ikut bongkar identitasku'
"Mahasiswa? dari Universitas yang mana?"
"Itu saat kami kenal Ma, kami dulu bersahabat ... dia turut membantu penelitianku" Brian meletakan garpu saladnya dan meraih tanganku yang berada dimeja. Hingga otomatis kuletakkan juga garpu di tanganku diatas piring salad dan ia mencium punggung tanganku.
"Sebagai subjek 'kan?" tambah Uncle dengan nada dingin.
Brian dan aku terhenyak mendengar kata-kata paman, kenapa ikut campur dengan urusan pribadi kami.
"Subjek?" tanya Mama Anne.
"Eh, ya. Aku yang memintanya dan kami berdua menyelesaikan penelitian terakhirku bersama-sama" jawab Brian sedikit gugup. "tapi ... sebaliknya, ia menuntunku mengupas problem sebenarnya, aku terselamatkan olehnya ..., itu sebelum kepulanganku ke London, Mama tau 'kan? aku sudah pernah cerita, dan Susan orangnya ..." Brian tersenyum menoleh dan menatapku.
Mama Anne sejenak mengerutkan dahi, bola matanya bergerak-gerak seperti mencoba mengingat-ingat.
"Ini ... yang kamu pernah ceritakan? jadi, Susan?"
"E—eh aku ... tidak tau apa yang pernah Brian sampaikan sebelumnya" aku memandang Mama Anne seraya menjelaskan ketidaktahuanku, kemudian melirik Brian dan merendahkan suaraku "kamu bicara apa Bri?"
"Tidak, hanya bilang kamu orang spesial"
"Terima kasih, Susan. Ian banyak cerita tentangmu dulu, aku pikir tidak akan bertemu dengan orang yang bisa menyadarkan anakku agar punya kekasih, syukurlah. Nyaris takut Ian tidak bisa pacaran ... dengan wanita"
Seketika suasana senyap ...
Tak ada satu orangpun menyambut perkataan Mama Anne. bahkan rasanya napas halus saja yang terdengar dalam gema ruangan itu, sepertinya kami saling menyadari perkataan Mama Anne cukup mengena pada status Uncle yang punya pasangan sesama jenis.
Adam dan Leo yang sedari tadi berusaha diam tidak berani menyela pembicaraan, jadi ikut menahan diri bahkan hanya tersungging senyum diujung bibir mereka.
'Skor telak, 1 - 0, Paman!' batinku ingin sekali tertawa puas melihat Paman yang tiba-tiba acuh memainkan jari telunjuk di bibir gelas yang digenggamnya.
"Selamat ya, Susan" ucap Uncle sambil mengangkat gelasnya sebagai tanda mengajak kami semua. Ia menatapku tajam dengan senyum menyeringai.
__ADS_1
.
Bersambung