My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Skenario Brian


__ADS_3

Waktu menunjukan setengah tujuh malam, salah seorang asisten datang menghampiriku membawakan pakaian yang akan kukenakan nanti malam, ini bukan gala dinner ... tapi kenapa begitu spesial dengan menghadirkan seorang penata rias khusus untukku?Jelas Brian tau aku tidak punya persiapan apa-apa, terutama alat rias yang paling jarang kugunakan kecuali saat jadwal Training di kantor.


Selepas magrib aku diminta bersiap-siap membersihkan diri di salah satu kamar yang akan kami tempati setelah kami menikah nanti, sedangkan Brian bersiap disalah satu kamar lainnya dengan Adam dan Leo. Pria mungkin tidak rumit dengan persiapannya seperti wanita, tapi aku melihat ini terlalu berlebihan mengingat hanya sebuah makan malam tapi bersikap seakan menghadiri acara keluarga kerajaan.


...Siapa orang ini ... kenapa begitu penting dan terlihat harus sempurna ......


...Dan kenapa ia ingin menemuiku secara mendadak begini ......


Aku pun turun ke lantai bawah dengan gaun berwarna hitam yang cukup elegan, pakaian seperti ini belum pernah kupakai sebelumnya, tapi benar-benar berlebihan untukku yang hanya seorang biasa.


'Makan malam saja sudah macam pergi ke acara Award, harus begini kah mengikuti gaya hidup orang lain ... padahal Brian bukan orang yang bergaya kelas tinggi, penampilan umum seperti layaknya praktisi profesional biasa'


Tidak mengerti kenapa Brian jadi terbawa suasana berlebihan, akupun tidak mencoba ingin tau agar tidak terlalu panik saat bertemu nanti.


Kami duduk kembali di ruang keluarga, menunggu Sang tamu besar datang, Brian pun menjelaskan beberapa hal tanpa melepaskan pandangan kekagumannya kepadaku.


'Maklum saja, tunangannya yang lebih suka dengan kaus dan jaket kemana-mana, kali ini menggunakan gaun elegan yang sedikit terbuka, yuhuuu ...'


Setelah berbicara panjang lebar mengenai hal seputar rumah, pakaian yang dikenakan, dan kata-kata pujian dari mulutnya tentang penampilanku malam ini, kami mulai membahas hal yang paling utama.


"Dear ... aku akan jelaskan kenapa kita semua bersikap seperti ini ..." Brian menatap mataku sambil memainkan ujung rambutku "Ini memang makan malam untuk ulang tahunku, sekaligus mengenalkanmu ... pada Mommy ku"


DEG


'Astaga! pantas saja dia berlebihan, mama nya ada disini!'


"Ja—jadi mama mu ... sudah ada disini dari kemarin? kenapa gak cerita, Bri ..." ucapku dengan wajah panik.


"Aku baru tau pas kemarin pulang, dia memberi kejutan datang saat hari ulang tahunku, dan itulah ... aku memikirkan ini semalaman ... dia ingin bertemu denganmu ..." Brian menghentikan kata-kata nya sejenak, sedikit menghela napas sebelum aku mulai menjawab lagi "Jangan katakan kita sudah bertunangan ..."


Aku terhenyak mendengar permintaannya, bukankah selama ini kami berdua memang bertunangan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.


"Secara resmi memang belum 'kan ... anggap saja aku pacar barumu, begitu mau kamu 'kan?" aku merendahkan suara, semakin turun rasa percaya diriku saat ini, aku hanya akan dianggap pacar didepan ibu kandungnya.


"Bu—bukan begitu maksudku ... kamu nanti ..."


"Sudah, aku paham skenario yang kamu inginkan Bri, aku mau rehat sejenak ... biar bisa beradaptasi dengan situasi serba mewah ini" ucapku cepat dan bangkit dari duduk hendak meninggalkannya di ruangan itu.


Brian cepat menangkap pergelangan tanganku


"Jangan salah paham!" bujuknya


Aku menghentikan langkahku dan kembali menoleh padanya.


"Apa yang salah paham, aku ikuti semua keinginanmu, kamu tau yang terbaik ... selalu kamu yang paling bijak dalam mengambil keputusan, bukankah begitu?"

__ADS_1


"Bukan aku tidak ingin mengungkapkan status kita, tapi belum saat ini!" lirihnya berusaha menenangkanku.


"Bagaimana baiknya saja menurutmu, aku ikut!" dengan kuat aku melepaskan genggaman tangannya, dan berjalan cepat menuju teras depan.


Aku keluar mencoba menenangkan diri, Brian mungkin saja sedang merasa bersalah akibat ucapannya, perasaanku hancur seketika, aku hanya akan menjadi seorang pacar biasa dihadapan ibunya, lalu untuk apa ia ingin bertemu denganku, interogasi apa lagi yang akan kuterima ...


'Apakah aku telah salah masuk ke dalam dunia nya yang berbeda seperti ini ... aku tidak habis pikir karena selama ini ia adalah sosok Pria yang biasa-biasa saja diatas segala yang dimilikinya, entah bagaimana sosok wanita yang telah melahirkannya ini, apakah seorang wanita berkelas yang berbeda dengan karakter anaknya sendiri?'


Aku termenung bersandar pada pagar pembatas taman di halaman depan rumahnya, jika Brian tidak berani menghampiri juga tidak apa, aku memang mau sendiri saat ini.


Terdengar bunyi langkah mendekat ke arahku, aku tidak ingin menoleh ke belakang, untuk apa dia menghampiriku saat ini, aku sudah sangat tidak minat dengar penjelasannya.


Aku memejamkan mata menahan airmataku, sayang sekali jika riasan mahal ini rusak akibat kehancuran perasaanku. Aku hargai usahanya membuatku terlihat berbeda dibandingkan biasanya. Mencoba berpositif pikiran bahwa Brian ingin mamanya melihat pacarnya adalah seorang yang cantik, benar-benar pemalsuan identitas.


"Ada apa lagi ..." tanyaku tanpa berusaha melihat ke arahnya.


"Saya cuma mau bilang, Nona terlihat cantik malam ini ..." ucapnya pelan.


Aku terhenyak mendengar suara itu, Leo!


"E—eh terima kasih, hanya malam ini, Leo. Besok-besok saya kembali menjadi Susan yang biasa ..." aku menoleh saat Leo ikut bersandar pada pagar di sebelahku.


"Memangnya cerita cinderella, haha ... siang dan malamnya berbeda? Anda tetap anda, Nona. Meski begitu anda tetap sosok orang yang menarik"


"Jangan terlalu memuji saya, Leo, sudah kenyang tadi. Gak perlu berusaha meninggikan perasaan saya, pasti sedang disuruh membujuk ya, sama Brian?"


"Dia gak salah sih, mungkin dia memang belum siap ... bisa jadi saya bukan pasangan yang satu level dengan keluarga mereka"


"Level? haha. Jangan berpikir terlalu jauh, Nona. Kenyamanan itu paling penting, mungkin Tuan merasa jadi orang yang berbeda setelah bertemu dengan anda, tapi bisa saja ... tidak semua orang sependapat, Tuan hanya ingin malam ini tidak terlalu memberatkan anda ..."


"Maksudnya?"


"Bisa saja, percakapan antara sosok pacar dan sosok tunangan akan berbeda fokusnya, kalau saja mama nya tau anda adalah tunangan, apa anda yakin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lebih pribadi?"


"I—iya sih, tapi itu kan sudut pandang kamu, mana saya tau kalau kami satu pikiran"


"Sebaiknya begitu, ada alasan lebih baik?"


"Terima kasih, Leo. Itu cukup menenangkan ..." aku tersenyum lebar menampakan keceriaan kembali.


"Bagus, jangan bersedih ... tidak semua Pria se-beruntung Tuan bisa mendapatkan anda, yang ceria ... sedikit cerewet dan apa adanya, tidak dibuat-buat"


"Eh ... belajar gombalin wanita, kamu ya! hahaha ..." candaku


"Itu benar! jangan salah paham. Mungkin saja, kalau dulu anda belum bertemu dengan Tuan, saya berani maju untuk anda lebih dahulu"

__ADS_1


Eh, apa nih, Leo merayu atau gimana, aku melihatnya sambil mengernyitkan dahi.


"Leo, please deh ... ngaco aja kalau ngomong, hahaa"


aku berusaha mencandainya memecahkan kecanggungan.


"Hahaha, sudahlah. Jangan ngadu sama Tuan, simpan baik-baik yang saya katakan tadi. Saya akan tetap menghargai dan menjaga Nona, jangan khawatir. Sampai ketemu Nona cantik!"


Leo berbalik dan kembali ke dalam rumah, sedikit lega tapi aneh dengan yang kudengar barusan. Apa Leo barusan menyatakan pendapatnya? atau apa? Aduh, aku tidak ingin memikirkan yang lain-lain kecuali tentang makan malam ini. Hal barusan diluar perkiraan, jika Brian atau Adam yang mendengar, ini sangat lancang. Ternyata Leo punya pendapat yang berbeda dengan Adam tentang diriku.


Sesaat kemudian, aku masuk kembali ke ruangan tadi, hendak mengambil ponselku yang berada di meja, saat kutemui terlihat Brian sedang berbicara pelan dengan Adam, tiba-tiba mereka terhenti saat aku datang.


"Dear, duduklah ... kamu dari mana?"


"Lihat-lihat bunga di depan, berapa lama lagi aku harus menunggu nih, makin lama nanti make upnya luntur, jelek ku kelihatan lagi, ya 'kan Bri?" sindirku.


"Kemari ... aku mohon jangan marah, maafkan permintaanku tadi ... tujuanku baik, kamu akan tau nanti ..." bujuk Brian sambil menuntunku kembali duduk.


"Hm ... aku bilang kan terserah, kenapa kamu gelisah?"


"Dengarkan aku ... apapun yang akan terjadi nanti, aku ... akan berada di pihakmu, dan aku akan tetap memilihmu ..."



"Kita lihat saja ..."


Saat kulihat Leo datang kembali sambil memainkan ponselnya dan duduk bergabung dengan kami. Ia nampak tersenyum entah dia dengar pembicaraan kami atau tidak. Tapi aku merasa sedikit canggung dibuatnya.


"Tuan ..." panggil Leo.


"Ya?"


"Driver memberi info bahwa posisi mereka sudah memasuki kawasan, kurang dari 10 menit dipastikan sampai ke lokasi, jadi bagaimana?"


Brian sigap bangkit dari duduknya. Dan aku otomatis berdiri mengikutinya, sedikit kegugupan mulai terasa dekat.


"Pastikan semua area clear, dan arahkan tamu kita ke Ruang utama ... kita menyambut Mommy dan Uncle disana ..."


'Sebentar lagi drama akan dimulai ...' Batinku



.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2