My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Happy Birthday Bri ...


__ADS_3

Sepertinya percakapan kami di awal tadi berjalan lancar, Mama Anne yang terlihat tenang dan ramah belum nampak karakternya di mataku.


Aku mencoba mengikuti cara main ini, jangan mencoba bicara saat makan hidangan utama.


Senyap tanpa kata, bahkan Brian nampak fokus menyantap hidangan di atas piringnya, hanya sedikit kode saat kucoba menuangkan beberapa sendok makanan ke piringnya, ia melebarkan telapak tangannya agar aku berhenti. Tanpa melihat ke arahku.


'Apa makan saja harus tegang seperti ini?' batinku


Alasannya jelas, agar tidak tersedak dan bukan kebiasaan baik jika bicara saat makan, cukup disiplin.


Sedangkan durasi yang dibutuhkan saat makan itu cukup lama, kami hanya harus diam menahan satu kata saja keluar dari mulut kami.


"Anne ... ak—", ucap Uncle berusaha mengajak Mama Anne bicara.


Mama Anne lagi-lagi memberi kode yang sama seperti Brian dengan telapak tangannya, seketika Uncle pun terdiam kembali. Menunduk dan melanjutkan makannya.


Sebagai seorang kakak ipar bagi Uncle, memang Mama Anne adalah prioritas utama kami dalam hal ini, ini adalah rumah anaknya dan kami hanyalah tamu yang sebenarnya.


Hidangan utama pun selesai disantap satu persatu dari kami, Mama Anne tetap terdiam menunggu semuanya selesai bersamaan, mereka semua para Pria, kecuali aku dan Mama Anne. Akhirnya aku dengan cepat menyudahi makanku karena kulihat semua sudah selesai dan siap memulai pembicaraan kembali saat makan hidangan penutup.


"Selesaikan saja dulu, kami menunggu, gak usah khawatir, Dear ..." bisik Brian sambil menoleh ke arahku.


"No, no, ... aku udah selesai kok, Bri." ucapku pelan.


Brian mengusap punggungku dan tersenyum.


"I'm sorry ..." bisiknya halus. Berusaha menenangkanku dari formalnya aura makan malam ini.


Aku mengernyitkan dahi sambil tersenyum dan menggeleng pelan tanda aku baik-baik saja. Sepintas lalu Brian seakan menjunjungku sebagai tuan putri yang perlu dilindungi perasaannya.


Mama Anne memperhatikan kami berdua sambil mengusap-usap kedua punggung tangannya bergantian. Seperti menunggu, menilai dan berpikir sesuatu.


Adam dan Leo memandang ke arahku sedangkan Uncle terlihat acuh dan memandangi gelas di hadapannya, kaku ... sangat kaku.


"Maaf, membuat menunggu ..." ucapku pelan dan merasa malu.


"Sangat tidak apa, Susan. Kami biasa seperti ini ... tidak perlu terburu-buru saat makan, selesaikan jika masih ingin, jangan khawatirkan kami" ucap Mama Anne.


"Dia sudah selesai 'Ma ..." tambah Brian.


Kemudian Brian melihat ke arah salah satu pelayan dan mengangguk pelan. Hidangan pencuci mulut pun dihidangkan di hadapan kami satu persatu. Oh, yeah ... apa Ratu Elizabeth juga hidupnya begini, kurasa tidak. Atau aku yang tidak tau, entahlah, aku hanya orang lokal dengan hidup yang biasa.


Kembali dengan percakapan bahasa asing, ya, dari awal kami semua tidak bercakap dalam bahasa indonesia, untuk itu memang lebih baik aku tidak banyak bicara, meski paham, ketimbang salah berkata.


Semua menghela napas pelan seakan baru saja dapat oksigen, kembali bisa saling bicara.


"Apa yang ingin kau sampaikan tadi, David?" tanya Mama Anne.


"Lupakan saja, aku sudah lupa."

__ADS_1


"Bukankah kamu tau aku tidak bisa makan jika ada orang yang bicara dihadapanku?"


"Ya aku tau kamu, maaf, kebiasaan disini buatku lupa tentang hal itu"


Mama Anne kembali menatap ke arahku dan Brian yang sedang asik senyum-senyum berdua, hingga sendok yang melayang diarahkan Brian untuk menyuapiku es krim terhenti sesaat tepat didepan bibirku. Kemudian ku suap cepat es krim dari sendok ditangannya itu.


"Aku jadi ingat saat pacaran dulu, Papa mu juga sering menyuapi Mama seperti itu, hingga kami menikah dia masih melakukan hal yang sama, hm ... memang kamu mirip dengannya, Ian"


"Ya, Mama. Aku juga masih ingat. Akan kuperlakukan sama pasanganku seperti apa yang dilakukan Papa ke Mama" Brian kembali tersenyum sesaat menyelesaikan kata-katanya, sinar mata yang terpancar dari bola mata abu-abunya membuatku semakin hangat, buatku tak sabar ingin memeluknya.


Mama Anne mengembangkan senyum bangga, sebagaimana ia pernah diperlakukan ratu bagi mendiang suaminya, yang kini diturunkan kepada anaknya yang juga menghargai wanita. Sejauh ini belum ada sesuatu yang kuanggap mengkhawatirkan dari sikap Mama Anne terhadapku, ia hanya lebih banyak tersenyum dibanding bicara.


Hal seputar pekerjaan menjadi topik sekilas antara kami, begitu pun aku yang menjelaskan bidang pekerjaanku. Mama Anne sepertinya sedang menelisik halus dengan caranya sendiri, tentangku dan tentang hubungan kami. Brian sangat tanggap mengenai ini, memberi sikap yakin atas pilihannya yang jatuh padaku.


Selanjutnya Dessert terakhir adalah cake yang dipesan sesuai permintaan, Adam yang menyiapkan segalanya.



sebuah personal cake dengan inisial B diatasnya sebagai peringatan hari lahir Brian kemarin.


"Wow, kue yang cantik ... apa disini semua akan serba vanilla?"


"Karena kamu suka vanilla, ... aku juga suka"


"Spesial sekali ... ide siapa ini?"


"Suka ... sangat suka. Tapi ini ulang tahunmu ... bukan aku" jawabku merasa tidak enak dengan semua persiapan yang seharusnya bukan untukku.


"Sudah, makanlah ..." jawabnya singkat sambil mencubit kecil ujung daguku.


Ditengah menyantap hidangan penutup, Brian yang sedari tadi sepintas melirik ke arah Adam berkali-kali, akhirnya tersenyum ke arahku saat melihat gerak-gerikku yang terlihat sedikit bingung.


"Ada apa?" ucapnya dengan sorotan mata yang menyiratkan sesuatu yang tidak mengejutkan.


"Ini ..., gak ... eh ..." jawabku ragu.


Aku menekan-nekan benda keras yang terdapat dalam cake yang sedang kusantap, sejenak kupikir ini semacam sisa tancapan hiasan huruf inisial yang berada diatasnya. Aku kembali membersihkan benda itu dengan sendok kecilku,


hingga kusadari ... benda itu berbentuk sebuah lingkaran dan mulai menampakan bentuk aslinya yang indah ...


Ada setitik kilauan yang terpantul cahaya lampu kristal diatas meja kami.


Ternyata sebuah cincin terselip di dalam cake tersebut dan aku mengangkatnya perlahan dengan sentuhan jariku. Brian menyodorkan sehelai serbet di telapak tangannya agar aku menaruhnya disitu.


Kemudian ia membersihkan cincin itu dari sisa-sisa krim kue yang menempel disekitarnya. Dan nampaklah keindahan aslinya.


"Bri?? .... A—apa ..." ucapku dengan gugup menerima hal seperti ini kedua kalinya, kejutan indah seperti sebelumnya.


Brian menggeser kursi makannya kemudian berdiri di sebelah kursiku. Perlahan ia berlutut dan meraih sebelah tanganku kemudian mengusap halus jemariku.

__ADS_1


"Susan—Adriana Zeline, my dear ..., Will you marry me? ..."


"A—aaku ...", aku menoleh melihat sekelilingku, mencari-cari respon orang sekitar atas lamaran dadakan ini.


"A—aku tidak menyiapkan kata-kata, maaf. Aku bukan orang puitis yang mampu merangkai kata indah ..." Brian tersenyum malu, kemudian melanjutkan kata-katanya, "aku hanya bisa memintamu dari ketulusan hatiku yang tidak pernah kuberikan sebelumnya pada wanita lain kecuali ibuku, jadilah wanita terbaik kedua dalam hidupku ... aku ingin menikah denganmu ... terimalah lamaranku ..."


Aku kembali memandang ke arah Pria di hadapanku kini, yang sedang tersenyum lebar mengharapkan kepastian dariku.


"Pleease ..." ucap Brian halus nyaris tidak mengeluarkan suara. Hanya gerak bibirnya dari wajah memohon yang menggemaskan itu.


"O—okay, ye—yes ... Yes, Honey" jawabku antara bingung dan gugup.


"Thank you ..." ucapnya dengan senyum yang sumringah.


Ia memasangkan cincin itu di jariku kemudian ia bangkit sambil mencium tanganku, lalu menuntunku untuk ikut berdiri. Ia mengusap halus pipiku perlahan dengan tatapan hangat, kemudian memelukku dengan erat.


'Jadi ini rencananya, hingga aku sempat dibuatnya sedih tadi'


Apa yang sebenarnya dalam pikiranku ini, seharusnya aku tidak bersikap ragu seperti ini, atau kaget lebih tepatnya. Mama Anne tersenyum biasa sedangkan Uncle terlihat datar dan mengangguk pelan sambil meneguk air minumnya.


Adam dan Leo juga merespon dengan tersenyum. Adam berinisiatif mengajak kami semua mengangkat gelas sambil mengucapkan selamat.


"Cheers, for Brian ... and Susan, congratulation"


Sesaat kemudian cake yang berukuran lebih besar datang kembali di hidangkan pada meja dihadapan kami.



Kami menoleh melihat ke arah cake dengan inisial S dan B, yang juga berbasis vanilla. Bagaimana ide ini begitu berlebihan sehingga semua serba vanilla, dia yang punya acara tapi dessert ini hanya selera lidahku saja.


Mama Anne datang menghampiri anaknya dengan senyuman yang lebar menampakan gigi kali ini.


"Selamat sayangku ..."


Brian memeluk Mama nya dengan erat, dan suasana semakin haru saat Brian mengucap pelan.


"Aku harap Mama bisa menerima keberadaan Susan dalam kehidupanku nanti 'Ma ... restui kami berdua, aku yakin dia yang terbaik untukku dan keluarga kita"


"Tentu saja, jika baik untukmu maka itu baik untuk Mama juga ..." ucap Mama Anne sambil mencium kedua belah pipi anaknya yang mulai memerah menahan haru bahagia.


Kemudian Mama Anne melepaskan pelukannya dan menghampiriku, ia menggenggam kedua tanganku.


"Aku titip anak kesayanganku, jadilah pendamping yang terbaik untuknya ... aku mengandalkanmu, Susan sayang ... aku merestui kalian berdua"


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2