
POV Susan
Hingga keesokan hari nya aku pun tetap mencoba menghubungi satu-persatu diantara mereka. Kak Dheta, Mama Inka, dan Dicky sendiri pun tidak ada yang menjawab semua pesan yang kukirimkan, bahkan setelahnya pesan-pesan itu gagal terkirim, nampaknya mereka semua mengganti nomor ponsel hingga tidak dapat terdeteksi keberadaan nya kini.
Aku kehilangan jejak ... aku kehilangan mereka ... aku kehilangan cintaku ... Dicky ...
...Entah apa yang sudah merasuki ...
...pikiranku saat ini...
...Tapi penyesalan ini semakin nyata ...
...untuk ku sendiri...
...Semakin kurasakan kenangan masa lalu dan melupakan semua ...
...kesalahanmu...
...Maka semakin dalam menorehkan luka tak terobati oleh siapapun yang masuk ke dalam kehidupanku...
****
Beberapa hari kemudian orang itu datang kembali, tapi anehnya kali ini ia mendatangi rumahku secara langsung tanpa basa-basi atau memang mereka sudah menaruh curiga bahwa seisi rumah Dicky memang tidak berpenghuni lagi.
Betapa terkejutnya aku saat ternyata kali ini Papa yang membuka pintu dan menyambutnya dengan penuh kecurigaan.
“Permisi, mohon maaf apa benar ini rumah Nona Susan?” Adam bertanya dengan sopan
“Ya, betul ... ada apa ini ya? anda dari mana kalau boleh tau?”
Sigap berjalan cepat menyusul Papa ke teras sesaat kulihat dari dalam bahwa pria asisten kak Brian yang datang kala itu. Aku sampai harus menyalip posisi ke tengah diantara Papa dan dia berusaha agar ia tidak terlanjur mengutarakan maksud kedatangannya.
“Oooh ... bapak” aku tersenyum memaksa memandang ke arah pria bernama Adam itu sambil mengangkat alis berkali-kali memberi kode padanya “Oh iya pak, sudah saya tunggu ... hehehe ... , sudah Pa ... aku memang menunggu bapak ini kok, ya sudah deh, mari pak ... kita bicara ke depan!”
Adam belum sempat berkata-kata tapi kutarik lengannya paksa menuju taman depan.
“Loh Susan, tamu nya gak disuruh masuk saja, kan panas diluar!” tegur Papa seperti aneh melihat tingkahku yang terlihat kurang sopan pada tamu.
“Gak apa-apa Pa, aku janji mau sekalian beli minuman keluar kok” menjawab Papa sambil berjalan menjauh dan menggiring punggung Adam untuk terus berjalan ke depan.
Sesaat Papa kembali masuk ke dalam aku coba menegaskan kembali sikap pada orang dihadapanku.
“Anda mau apa lagi datang kesini? bisa tunggu saja kan pihak tersangka datang memenuhi panggilan dari kepolisian!” tegasku kembali sinis
“Hmm ... banyak hal yang ingin saya sampaikan pada anda Nona, jangan terburu-buru menyerang saya dengan kata-kata”
“Apa lagi ini? masih berurusan dengan saya? kan bos anda itu yang mengatur segala-galanya, buat apa anda minta persetujuan saya!” sindir ku
“Hahaha ... memang benar ya anda galak sekali Nona, fiiiuuhh ... untung saja anda terlindungi, kalau tidak sudah saya kasih sambal sekalian mulut Nona”
“Hiiih, laki-laki macam apa berani menyakiti perempuan, kalian sama perilakunya ya, tidak bos ... tidak asisten sama-sama tidak peka dengan perempuan”
“Ah, ternyata tugas menyampaikan lebih berat dari yang kubayangkan! tidak usah mengejek Nona, anda mau dengar atau tidak berita baik yang saya bawa!” Adam mulai risih menekankan tujuan kedatangannya.
“Berita baik apa?” Tanya ku dengan sikap angkuh dan gengsi 100% merasa kali ini dapat lawan main setara.
“Oke, kita bicara di dalam mobil saja ayo ikut saya!”
“Iiihh, bisa jamin apa anda tidak macam-macam dengan saya!”
“Ya ampun Nona ini, memangnya saya si bos yang tidak punya selera bagus apa!” ia bergumam kecil
__ADS_1
“Eh, apa kau bilang barusan? bos mu tidak punya selera bagus?? apa urusannya dengan saya!”
“Hhh ... kalau masih berdebat sebaiknya saya kembali sajalah, buang waktu saja, kerjaan saya banyak Nona ... anda bisa bayar gaji saya berapa kalau saya sampai dipecat karena melalaikan pekerjaan lainnya”
“Dibayar berapa sih kamu itu? setia betul sama kak Brian, sampai tidak punya hati menuntut-nuntut orang”
“Sudah! Nona tidak akan mampu dengan uang jajan setahun setara mahasiswa! semakin banyak bicara saya bisa laporkan balik ya kalau anda tidak bisa diajak kerja sama!”
“Iiiishh ... lapor saja sana ke bos mu yang mirip raksasa, paling juga berita baik mengenai proses lanjutannya, iya kan??” ejek ku
“Oh ... menantang ya! jadi kalau surat penarikan tuntutan ini saya bakar anda masih berani bicara begitu?”
“E ... eh apa??? surat penarikan tuntutan?? ok ok maaf kalau begitu, ehh ... ehhh baiklah saya setuju kita bicara di mobil” jawabku gugup
“Dari tadi kek!” jawab Adam kesal
Kami berjalan menuju mobil sedan mewah yang dibawanya, aku nyaris melihat tanpa berkedip seorang asisten saja mampu membeli kendaraan sebagus itu, kami pun masuk ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari rumahku itu.
Aku masuk dan duduk dibangku depan, dan Adam duduk dibalik kemudinya, ia menyerahkan satu paper bag berisi bermacam-macam berkas berikut amplop besar yang belum kuketahui isinya.
“Ini, lihatlah satu persatu berkas yang saya bawa, atau mau Nona baca nanti dirumah silahkan saja”
“Okay, saya coba lihat sekilas saja tapi kalau ada apa-apa saya mau tanya jangan kemana-mana ya!”
“Huh, saya mau kemana Nona ... saya tidak akan kemana-mana karena harus ada yang saya jaga”
Aku melihat-lihat beberapa surat memastikan kebenaran ucapan dari asisten itu. Setelah cukup puas dengan sebagian surat yang kubaca, mataku beralih tertarik pada amplop besar berlambang kampus ku kini.
“Ini apa Pak Adam?”
“Panggil nama saja, Adam! usia saya tidak jauh dari anda Nona jadi jangan buat saya merasa tua!”
“Lihat saja isinya, baru tanya”
Baiklah pikirku daripada berdebat panjang lagi saat mood ku sudah jauh kebih baik sekarang dengan segala kejutan pagi ini, tapi aku sedikit bingung dengan apa yang tertera di dalamnya, ada namaku dan beberapa pernyataan di dalamnya, S2??
“Apa ini maksudnya Adam?”
“Itu hadiah untuk Nona, kalau anda berhasil mendapatkan nilai yang cukup baik pada kelulusan sarjana S1 nanti, itu adalah beasiswa untuk melanjutkan lagi ke jenjang pendidikan S2 hingga lulus tanpa biaya apapun, tinggal jalani saja perkuliahannya dengan baik, dan itu amanat!”
“Hadiah? S2?? tapi ... saya belum tentu ... “
“Kalau ada biaya apapun termasuk jika Nona kekurangan dana dalam penelitian hubungi saya kembali, tuan Brian yang akan menanggungnya semua secara total! kenapa? kaget bos saya bisa sebaik itu??”
“Justru saya tidak mau menerima hadiah ini, bukan ini yang saya maksud! tidak perlu ada hadiah-hadiah begini Adam!” aku mendengus kesal seperti terlalu berlebihan sikap yang kak Brian berikan.
“Terima Nona, nanti saya kena marah lagi dikira salah menjelaskan, oh ya dan surat di dalam sebaiknya dibaca sendiri saja nanti ya, bukan urusan saya kalau soal itu”
“Hari begini pakai surat? email ada ponsel ada apa susahnya sih, konvensional sekali dia, nanti aku coba hubungi dia saja lah”
“Mau hubungi kemana? nomornya sudah tidak aktif”
“Kenapa begitu! ini sepihak namanya Adam”
“Dia sudah tidak disini Nona”
“Apa??! tidak ... tidak mungkin dia pergi juga kan? Adam bicara jujur!”
“Maksudnya?”
“Eh tidak tidak ... saya hanyaa ... salah bicara, maksudmu tidak disini, apa??” aku terlupa untuk tidak membahas kepergian Dicky yang sudah tidak ada kabarnya.
__ADS_1
“Dia sudah tidak disini, dia sudah pulang ke tempat asalnya!”
“Ya apa, jelaskan Adam!”
“Hhhh saya harusnya tidak bicara apa-apa Nona, saya hanya diminta menyampaikan ini semua”
“Adam, aku mohon ... jelaskan ini ada apa, kenapa kak Brian tidak disini!”
Adam terlihat berpikir dalam untuk menyampaikannya secara baik, karena takut akan tindakan selanjutnya.
“Baiklah ... tapi Nona harus janji tidak akan bicara dan bertindak aneh-aneh!”
“Janji!!!” aku menyilangkan jariku dibagian tangan yang tersembunyi.
“Tuan ... sudah tidak berada di Indonesia, dia sudah kembali ke London!”
“Ternyata dia masih bukan WNI?”
“Sudah, hanya saja ... ia harus kembali karena beberapa hal yang harus ia lakukan untuk dirinya”
“Ada apa dengannya Adam, ayo cerita! kalau kamu tidak cerita aku tidak mau terima ini ya!”
“Ya ampun Nona, saya tidak diperkenankan cerita apa-apa kepada siapapun tentang dirinya, saya bisa kena sangsi nanti!”
“Aku tanggung jawab, aku jaga rahasia ... janji Adam ... aku janji!”
“Nona jangan kepo dong ah! saya paling tidak bisa kalau didesak begini!”
“Ya ampun Adam, aku akan menyesali lagi segalanya sampai seumur hidup karena telah salah menilai lagi!” aku memasang wajah sedih mendramatisir.
“Ok ok baiklah saya akan cerita, hmm ... sebenarnya tuan itu sakit Nona”
“Sakit?? sakit apa??”
“Sakit jiwa! Oh maap maksud saya bukan itu, eh ... sebenarnya selama ini dia di diagnosa menderita OCD oleh beberapa Psikiater, tapi akhir-akhir ini dia merasa ragu kalau itu benar seperti kenyataannya”
“Tapi ... seorang OCD tidak bisa mudah bersentuhan dengan siapa-siapa terutama wanita, dia pernah memeluk ku Adam, bahkan pernah membopongku dari kerumunan massa!”
“Ah, benar kata saya juga, ini pasti hanya tipuan, bahkan ia juga kemarin sempat tidak mengkonsumsi obat penenang lagi dan terakhir ... ia bahkan bisa minum alkohol”
“Alkohol?”
“Iya, ya sudahlah itu saja yang bisa saya sampaikan Nona, saya tidak mau cerita apa-apa lagi, saya mohon! tadi apa anda bilang ... memeluk?”
Aku mengangguk pelan.
“Cukup lama Adam, ia memang sangat terlihat tulus ingin melindungiku saat itu, tapi kenapa cepat sekali ia pergi? memangnya bisa secepat itu?!”
“Eh ... ya bisa, untuk seorang tuan apa pun bisa saja kalau soal itu! yang dia tidak bisa hanya berhubungan dengan seorang wanita ... bahkan menyentuh pun belum sama sekali! okay, tapi kini saya paham kenapa ... ”
“Paham apa??”
“Tidak, tidak apa-apa ... ”
“Jadi benar dia sudah pergi? yakin??”
Aku memandang ekspresi Adam dan mencoba membaca keraguan bicaranya, apa gunanya aku belajar psikologi jika tidak peka dengan ekspresi orang seperti ini. aku memicingkan mataku mencari kepastian lagi.
Oh! tidak! dia pasti berbohong, kak Brian pasti masih disini!
Bersambung
__ADS_1