
Usai makan sore, dan keduanya menyempatkan diri mencari tempat beribadah sejenak. Dicky yang selama ini dianggap begitu konyol perilakunya, sudah jauh memiliki perubahan menurut Susan. Entah hanya saat seperti ini agar dipandang baik, atau memang sebelum-sebelumnya ia pun tidak lengah dalam beribadah. Karena siang tadi, tampak keduanya juga terlupa sama sekali. Itu adalah sebuah kemajuan, ketimbang terlupa sama sekali bagi keduanya yang sering terlarut oleh duniawi.
Setelahnya, mereka kembali berjalan berkeliling mencari spot foto yang bagus, sekadar ber swafoto mengambil momen menyenangkan dalam sebuah lokasi wisata. Meski Susan berulang kali menolak ber swa foto bersama, tapi Dicky yang sering mendadak mencuri detik kelengahan Susan, selalu berhasil mendapatkan swafoto berdua. Dan Susan nampak kesal setelah Dicky berhasil mencuri foto bersamanya.
"Udah sore nih, capek juga." ucap Susan yang mulai lelah berjalan.
"Gak mau main lagi? Bianglala yuk. Terakhir deh~ " bujuk Dicky.
"Waktuku kan gak banyak Dic. Janjinya jam delapan udah sampai rumah kan?" ucap Susan memberi peringatan. Menghindari masalah baru muncul kembali.
"Iya, tenang aja. Habis magrib kita sudah keluar dari sini." ucap Dicky mencoba meyakinkan.
"Ya udah, oke. Bener juga, aku mau liat view nya pasti bagus kalau dari atas, kita bisa liat pantai Jakarta," ucap Susan kembali bersemangat.
"Wah," Dicky memandang ke arah pintu masuk wahana dari kejauhan, "antrian lumayan panjang. Masih mau? capek gak?" tanya Dicky yang khawatir karena Susan mulai terlihat sedikit kelelahan berjalan.
"Hfff ... gak apa-apa deh, nanti kan duduk." gumam Susan pasrah.
"Kalo capek, bilang ya. Nanti kugendong," cetus Dicky asal bicara.
"Kepalamu!" gumam Susan sambil meninggalkan Dicky, berjalan menuju antrian permainan.
Antrian cukup panjang hingga mereka harus menunggu satu jam untuk mendapatkan bagian. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, namun wahana itu semakin terlihat ramai, karena pengunjung ingin mendapatkan momen tenggelamnya matahari dari ketinggian. Saat menaiki gondola dari kincir raksasa berketinggian 30 meter itu, Dicky dan Susan memilih duduk terpisah berhadapan. Karena Susan tidak ingin lagi kejadian kedua kalinya ia tidak sengaja menyentuh Dicky.
"Yakin, duduk disitu sendiri? gak takut?" tanya Dicky iseng. Mereka mendapat kesempatan satu gondola berdua, dikarenakan pengunjung selanjutnya yang menolak masuk karena tidak ingin berpisah dari anggota keluarga lainnya.
Namun waktu permainan harus cepat beroperasi, dengan terpaksa pihak operator membiarkan satu gondola itu hanya ditempati Susan dan Dicky. Menghindari berdebat dengan satu keluarga yang protes dan akan sangat membuang waktu. Sungguh suatu kebetulan.
"Kan harus imbang," jawab Susan.
"Oh, kirain. Kalau berubah pikiran bilang ya, nanti aku pangku, rugi-rugi deh." canda Dicky asal bicara.
"Hih, siapa yang mau! nih!" Susan menunjukkan kepalan tangannya di depan wajah Dicky.
Kincir berputar perlahan saat mengisi pengunjung di setiap gondola. Saat posisi gondola berputar bergiliran dan berada tepat di puncak tertinggi kincir, Susan mulai merasa tidak nyaman.
"Hufff ... dingin juga anginnya besar dari atas sini, ini kapan muternya sih," ucap Susan yang mulai gusar karena bercampur rasa takut.
"Masih mengisi orang. Gak salah kan pakai sweater," Dicky menjawab singkat.
"Ya tapi ini kan kita di tengah-tengah loh. Jangan gerak-gerak ya!" titah Susan, mengingatkan Dicky yang bisa saja tiba-tiba bertingkah.
Dicky menyeringai, seperti mendapat sebuah ide konyol muncul dikepalanya. "Apa?? aku gak denger, apa??" teriak Dicky yang berpura-pura tidak mendengar. Sangat salah Susan mengingatkan, nyatanya itu benar saja terjadi. Dicky sedikit mengayunkan dirinya agar gondola itu mulai bergerak berayun diatas ketinggian itu, Susan semakin panik dibuatnya.
"Dicky!! bahaya!!" teriak Susan seraya mendelik ketakutan.
"Apa?? gak kedengeran! hahaha." Semakin kuat Dicky menggerakkan diri di posisi duduknya. Susan terpaksa memejamkan mata menahan rasa takutnya akibat candaan Dicky yang berbahaya, menurutnya.
"Oke, oke, udah jalan tuh. Jangan panik, hahaha," Dicky tersenyum memandang lucu, memerhatikan Susan yang duduk sambil membentang tangan berpegangan kuat pada teralis di kiri kanannya.
Saat itu menginjak pukul enam sore, suasana mulai redup dan menampakkan indahnya sebagian kota Jakarta yang terjangkau pandangan dari atas ketinggian saat wahana kincir mulai berotasi.
"Jakarta bagus ya, kalau malam." Susan berkata pelan dengan takjub, menikmati suasana yang seharusnya sangat romantis jika didampingi oleh pasangannya sendiri. Apalah daya, hanya sebuah kemungkinan kecil Brian ingin berkunjung ke lokasi wisata seperti ini.
__ADS_1
Saat Susan melihat ke arah Dicky, tanpa sengaja ia menangkap mata pria itu menatapnya dirinya dengan seksama. Tatapannya kosong, ia terdiam seperti terlarut dalam pikirannya sendiri. " ... "
"Dic??" Susan memanggil kembali Dicky yang seperti tidak mendengar panggilannya sedari tadi.
"Ah? he? iya!" Dicky terhenyak mendapati dirinya tertangkap basah memandang Susan sedari tadi.
"Jangan bengong, kesambet kamu!" sindir Susan.
"Haha, gak. Gak mungkin, kata kamu aku kan raja setannya." Dicky kembali menjawab dengan kesadarannya kembali.
"Ih, iya, salah deh." gumam Susan.
"Ada juga kamu kesurupan aku. Nanti pulang jangan kebawa mimpi ya," goda Dicky.
"Ogah amat." Susan menjawab ketus. Seakan menolak godaan Dicky agar tidak membuatnya berbangga diri lagi.
"Hahaha ... hahaha ...," Dicky tertawa puas. Karena apapun yang dikatakan Susan sama sekali tidak di indahkannya, ia tahu betul Susan seperti apa.
Keduanya kini terdiam, memandang keluar melihat keindahan suasana gemerlap lampu-lampu kota kala langit mulai terlihat gelap menuju malam tiba. Mereka termenung dalam pikirannya masing-masing, Dicky sesekali mencuri pandang memerhatikan Susan. Tampak dari sudut mata Susan, ia melihat mata pria itu sedikit berkaca-kaca.
'Sial, sudut mataku merasa dia mencuri-curi memandangiku. Ya Tuhan ... tolong jangan ganggu aku dengan sikapmu ini, Dicky.' batin Susan.
'Seberapa besar pun penolakanmu terhadapku, aku tetap tidak bisa menghindari diriku yang terus saja mengagumimu, Susan' batin Dicky.
Usai menikmati wahana terakhir, Susan kembali mengingatkan Dicky untuk segera keluar dari area taman hiburan, karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Kali ini, Susan tidak lagi memasang nada bicara yang ketus seperti di awal tadi.
"U-udah yuk, Dic. Kita pulang ... nanti kamu disalahkan bawa aku pulang malam." ucap Susan pelan.
"Apa kita nggak makan malam dulu, San? aku ngebut deh nanti pas pulang, biar jam delapan kita sampai tepat waktu," bujuk Dicky.
Dicky berjalan malas mendahului Susan menuju pintu keluar area. Ada perasaan kesal karena waktu yang sangat dibatasi seperti ini.
Keduanya berjalan menuju lahan parkir kemudian masuk kedalam mobil. Sekali lagi Dicky menawarkan sesuatu untuk mengisi perut lapar mereka atas aktifitas seharian.
"Kita beli pizza ya, sambil jalan. Aku gak mau kamu pulang dalam keadaan lapar, San. Persetan-lah pacarmu mau bilang apa!" tegas Dicky.
"Ee ... " Susan terdiam dan gugup, karena tidak mampu menolak permintaan Dicky yang mulai terlihat marah kala itu. Mengingat, bisa saja Dicky lupa diri dan mengambil tindakan lain yang berbahaya untuk dirinya.
"A-aku juga lapar, kita beli ya?" lanjut Dicky beralasan. Karena melihat Susan yang mulai terlihat takut. Susan hanya mengangguk pelan tanpa berani menoleh dan menjawab apa-apa.
Kendaraan kini melaju di jalur cepat dan beberapa waktu kemudian memasuki rest area. Dicky berhenti pada sebuah restoran pizza, lalu memesan pizza berukuran besar untuk dibawanya ke dalam mobil kembali, agar Susan mau memakannya.
Bergerak cepat Dicky kembali menyalakan kendaraannya, dan membiarkan Susan memegang sekotak besar pizza di kedua tangannya. Perlahan Susan menggigit satu potong pizza dalam genggamannya.
Dalam perjalanan pulang, seketika itu Susan pun teringat bahwa Dicky juga pasti merasa lapar, karena aktifitas tadi. Terlebih ia adalah seorang pria yang pastinya butuh asupan lebih daripada Susan, karena aktifitas dan sesuai dengan fisiknya yang lebih besar daripadanya.
Susan menghela napas dalam, menyudahi makannya. Kemudian ia mengambil sepotong pizza dari dalam kotak, menyodorkannya ke hadapan Dicky.
"Aku lagi nyetir, gak bisa. Udah kamu aja, habiskan ya!"
ucap Dicky yang masih terfokus pada perjalanan dibalik kemudinya.
"Makan, aku suapin," ucap Susan datar.
__ADS_1
"Gak usah, aku bisa makan nanti pas pulang. Kita harus cepat biar tepat waktu, belum lagi mace— " ucapan Dicky terputus karena sepotong pizza dipaksa masuk kedalam mulutnya.
"Makan. Kamu pikir cuma kamu yang bisa paksa aku!" ucap Susan ketus.
"Kalau pacarmu liat gimana ini ya!" Dicky menyungging senyum tipis sambil mengunyah potongan pizza dalam mulutnya.
"Udahlah, kalau gak ada CCTV di mobil kamu. Makan ya makan aja, aku cuma gak mungkin makan ini sendiri," jawab Susan.
Perjalanan terasa cepat, meski tidak terlalu banyak kemacetan di jalur cepat pada jam-jam pulang kantor. Dicky mengemudi dengan agak tergesa-gesa, berusaha menepati janjinya pada pihak keluarga juga kekasih Susan, Brian.
Menginjak pukul sembilan malam, Dicky gagal menepati waktu. Sebenarnya bagi Susan itu bukanlah masalah besar jika Brian memang tidak tampak menunggu kehadiran mereka pulang di rumahnya. Satu titik kelegaan saat mendapati kendaraan Brian tidak berada di sisi jalan rumahnya malam itu.
Dicky berhenti mengantarkan Susan sampai di teras depan, karena seisi rumah pun sudah tampak sepi, sepertinya mereka sudah lelap malam itu. Dicky tidak ingin mengganggu dengan bertamu malam-malam.
Susan berjalan menaruh tasnya di kursi depan, baru saja hendak duduk sesaat, Dicky segera meminta izin untuk kembali kerumahnya. Susan terpaksa bangkit dari duduknya, kembali berjalan seraya memanggil Dicky.
"Dic, tunggu!" panggil Susan yang berjalan cepat menghampiri.
Dicky berhenti dan memutar tubuhnya menghadap Susan. "Kenapa? gak usah basa-basi, mau bilang apa ayo ..., apa??" canda Dicky.
"Aku gak bercanda— . Dic, makasih untuk hari ini ya." Susan mendongakkan kepala memandang pria dihadapannya.
Dicky mengangguk cepat dengan senyum hangat. Sorot matanya memandangi Susan lebih dalam, dan seketika terlihat kilasan matanya nampak memerah dan mulai berkaca-kaca.
"A-aku ta—u kok kamu mau bilang begitu, hahaha." canda Dicky dengan suara yang sedikit bergetar.
"Aku harap kita jangan lagi berselisih ya, kita bisa jadi seperti saudara. Bisa seperti keluarga ... " lirih Susan. Ia mulai merasakan kecanggungan Dicky yang semakin tampak dari raut wajah sedihnya yang coba ia tutupi.
Dicky masih terdiam, lidahnya tercekat saat Susan mengucap kata keluarga. Karena bukanlah kedekatan seperti keluarga yang diharapkannya, tetapi keluarga dalam arti sesungguhnya, yaitu membangun sebuah rumah tangga bersama wanita dihadapannya.
Hati pria bertubuh tinggi itu terasa dihantam benda keras, sekeras-kerasnya. Ia bergeming saat menyadari bahwa saat itu adalah detik terakhir kebersamaan mereka. Susan yang dicintainya sekian lama, kini tidak dapat lagi ia raih untuk menjadi miliknya. Dan inilah detik-detik terakhir rasa kehilangan itu muncul semakin besar.
Susan tertegun menatap Dicky, dan mengernyitkan dahinya memandang wajah pria itu. Dilihatnya kini sudut bibirnya tidak lagi tersenyum, tapi seakan bergetar saat hendak mengucapkan kata.
"Terima kasih pernah jadi bagian dalam hidupku. Setelah ini ... ingatlah aku sebagai orang yang baik di matamu, meski aku bukan yang terbaik bagi dirimu."
sekedar visual
Susan tidak dapat lagi membendung perasaannya, sudut matanya mulai mengeluarkan tetesan cairan bening yang berangsur mengalir dengan cepat. Dicky pun tidak dapat menguasai dirinya memandang wanita itu menangis dihadapannya kini. Secara refleks perlahan ia mengangkat tangannya hendak merengkuh wanita itu dalam pelukannya.
Namun belum sampai hal itu dilakukannya, sebuah langkah yang terdengar cepat berjalan mendekat, berlanjut dengan kerah sweaternya yang terasa ditarik kuat oleh seseorang dari belakang. Belum sempat Dicky menoleh, suara seorang laki-laki muncul disertai pukulan yang cukup keras mengenai pipinya.
BUGG!
"Sudah saya bilang jangan sentuh dia, brengsek!!" ucap pria itu dengan geram.
Susan pun terkejut akan kedatangan orang yang tiba-tiba datang dan dihadapinya kini.
"Brian!!"
.
__ADS_1
.
Bersambung