My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Kejutan pahit


__ADS_3

Eli pulang pukul 4 pagi hari itu, tubuhny sedikit terhuyung karena lelah dan merasa sakit pada memar dibagian wajahnya, ia masuk ke dalam kamar melempar tubuhnya ke tempat tidur.


Pagi hari itu Susan tampak sedang duduk di depan meja rias kamarnya, tanganny menyentuh bibir mengingat apa yang terjadi kemarin adalah Perdana baginya. sayang pengambilan hadiah melalui cara mencuri!


Sesekali kesal mengingatnya tapi tiba-tiba tersenyum-senyum sendiri.


Dia yang pertama untukku ... semoga untuk segalanya pun sama pada waktunya, Susan berimajinasi jauh. Pelan-pelan merasa sisi kewanitaannya muncul tanpa sengaja.


BRAkkkk.


Pintu kamar terbuka lebar


“San, Dheta nyariin kamu tuh di depan?” kak Edo muncul sambil merapikan lengan kemejanya sedang bersiap menuju tempat kerja.


‘Dan si Kakak yg lupa Usia ini memang kadang tidak tau kadar kepantasan kalau dengan adik satu-satunya, yg sudah usia 20 tahunan perlakuannya masih sama seperti anak SD, buka pintu juga tidak permisi! Benar-benar Edo ini!!’ Susan


“Ya sebentar ... “


Susan mencuci wajahnya dan segera turun kebawah menemui kak Dheta di teras bawah.


“San ... “ kak Dheta terlihat khawatir.


duduk pada kursi teras.


“Ya kak ... “ Susan mencoba menenangkan diri padahal dia instingnya mengatakan, ini perihal Dicky.


“Kamuuu ... tau kabar Dicky dimana gak San ... kakak khawatir dia bukan kabur” Nada bicara putus asa


“Hmmm... aku sendiri belum mendapat kabar apa-apa darinya, sudah hampir tiga minggu ... aku tidak pernah melihatnya di kampus, mungkin karenaaa kami berbeda fakultas tapii ... “


“Kakak minta tolong tanyakan ke teman-temannya yang kamu kenal ya San,” memotong perkataan Susan.


Susan memperhatikan ekspresi kak Dheta yang nyaris ingin menangis, Susan pun meng iba. “ Baik kak ... “


“Kalau begitu ... Kakak tunggu kabarnya ya ... ” kak Dheta bangkit dari duduknya dan berjalan, masih seperti berbicara dalam pikirannya hingga lupa untuk berpamitan. tiba-tiba ia berhenti, menoleh dan membalikan badan .


“San ... apa kalian berdua ada masalah?”masih nampak kesedihan diparas wajahnya yang cantik.


“Aku rasa tidak ... terakhir Dicky memang mengantar pulang tapi kami tidak ada perdebatan apapun, malah sebaliknya ...” Susan menghentikan kata-katanya yang ditangkap baik oleh kak Dheta.


“Oh, terima kasih ya ... “ kak Dheta tersenyum dengan mata yg mulai berkaca-kaca.


“Tante apa kabar, kak?” bertanya cepat karena kak Dheta seperti agak terburu-buru juga untuk berangkat bekerja.

__ADS_1


Kak Dheta menggelengkan kepala seraya menggigit bibirnya yang bergetar dan mulai meneteskan cairan bening di sudut matanya tanpa sengaja, ia berlalu pergi tanpa memberikan jawaban apa-apa setengah berlari kembali ke dalam rumahnya.


Sejenak kak Dheta pergi Susan merasakan perasaan itu lagi, kehilangan dan rasa bersalah begitu dalam, ingin segera rasanya berjuang mencari tau keberadaan Dicky yang bahkan mengabaikan keluarganya sendiri.


Susan berbalik ke arah depan pintu menghentikan langkah dan menoleh ke arah mobil Eli yg terparkir disitu.


‘Apakah aku bisa meminta tolong Eli untuk membantuku mencari Dicky’ Susan


Tapi sekejap ia mengurungkan niatnya, karena ia tau hal itu sangatlah tidak mungkin karena akan memperkeruh keadaan.


Susan segera masuk ke dalam dan segera mengambil ponselnya.


‘Hari ini aku akan mencarinya.’ Susan


Berpikir sejenak mencari alasan agar ia tidak perlu bertemu dengan Eli yang sebenarnya juga sama-sama tidak ingin bertemu karena Eli pun tidak ingin sampai kekasihnya melihat kondisi yg agak sedikit lebam dibeberapa bagian wajahnya.


****


Siang itu Susan memutuskan untuk tidak berangkat ke kampus untuk mengikuti kelas, ia coba mencari tau dimana jadwal kelas Dicky hari ini, kesulitannya adalah karena mereka berbeda jurusan dan Kampus besar itu memiliki 4 titik gedung yg berbeda-beda lokasi.


Tepat sebelum Susan keluar dari kampus pertama yang ia coba telusuri untuk mencari jadwal. pesan masuk dan cukup mengejutkannya di siang hari yg terik dan panas yang tidak bersahabat.


“Ini aku, sempatkan waktu sebentar, aku ingin bicara penting” pesan dari Dicky begitu mengejutkan tapi entah kenapa seperti ada oase ditengah gurun tanpa basa-basi Susan membalas pesan itu.


“Kedai ‘JJ’ seberang kampus 4, setengah jam lagi aku disana, jangan sampai tidak datang”


“Oke” Susan menarik napas lega, tanpa tau apa yang ingin Dicky bicarakan dengannya saat itu.


Di seberang sana Dicky yang sedang menyusun banyak rencana terlihat menyeringai sesaat membaca pesan terakhir tadi. Harapan besarnya muncul kembali untuk memperjuangkan cinta nya kembali, dengan cara apapun.


Sepuluh menit sebelum waktu yang ditentukan Susan sudah berada di lokasi. wajahnya bersemangat untuk menemui seseorang yang ia rindukan sebagai sosok sahabat, lain halnya dengan perasaan Dicky.


Susan mendorong pintu kaca pada kedai yg dimaksudkan, agak terkejut dan berdebar jantungnya melihat sosok yang ia kenali sedang duduk membelakangi.


‘Dia sudah disini ... dari tadi kah?.’ Susan


“Hai, bagaimana kabarmu?” Dicky berbalik selangkah sebelum Susan yang menegurnya terlebih dahulu, seakan-akan ia tau kalau Susan yg datang dari arah pintu kala itu.


“Kamu ... instingmu kuat sekali! Hahaha” mencoba mencairkan gugupnya.


“Pasti, kenapa tidak ... cara jalanmu kan lain dari pada yg lain”


‘Kamu pun memang lain bagi perasaan ku.’ Dicky

__ADS_1


Susan duduk bersebelahan dengan Dicky duduk menghadap ke arah barista, entah apa yang berbeda sepertinya Aura Dicky menjadi sangat asing baginya.


Setelah memesankan minuman untuk Susan, Dicky melanjutkan maksud dari pertemuan mereka.


“Hmmm .., aku harus mulai darimana?”


“Eh ... yaa ... ya ?“ Susan masih agak terpaku melihat kondisi Dicky yang drastis berubah menjadi lebih tirus di bagian wajahnya, bahkan ia menemukan beberapa titik lebam yang samar dibagian pelipisnya, tapi Susan mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh.


“Aku ingin kau melihat sesuatu, dan aku minta pendapatmu soal ini” menyerahkan ponselnya yg terbuka pada bagian halaman berita.


“Apa ini??” Susan menggeser halaman berita itu kebawah dan sangat terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini.


Berita yang dibicarakan sedang trending dihalaman sosial media seseorang yang menyebarkannya. Susan membaca dengan seksama detail foto dan berita tersebut.


‘Eli!! dia di sebuah klub, berkelahi?? tapi ini ... siapa?? Dicky?!.’ Susan menoleh terkejut kearah Dicky yang langsung memberi kode dengan telunjuknya ke arah pelipisnya yang lebam.


“Itu yang kau sebut-sebut pria baik? Hahahaha ... mengajak berkelahi ditengah keramaian, dunia malam ... itu kah yang membuatmu tergila-gila dengannya?”


Wajah Susan pias melihat gambar dan berita yang belum sempat ia klarifikasi sumbernya. ia mendadak buntu untuk berpikir jernih.


Slide demi slide ia geser melihat foto-foto terkait mencoba untuk memastikan kalau itu adalah benar orang yang ia cintai saat ini berperilaku buruk diluar sepengetahuannya.


“Tapi kenapa kau juga ada disitu!!” Susan tidak bisa menahan amarahnya lagi. menegur keras Dicky atas maksudnya menunjukan hal itu.


“Apa salahnya aku mencoba cari tau, bukankah setiap pacarmu nyatanya seorang yang brengsek? kecuali aku tentunya, lain kali kenali dulu siapa pria yang mendekatimu ... jangan asal!” menyeringai puas.


Susan masih tertegun dengan ponsel yang ada ditangannya kini, sudah tidak ingin lagi membuka apapun yang memungkinkan potensi besar kehancuran hatinya saat itu.


“Bagaimana?? masih banyak lagi yang aku miliki selain ini, demi kau akan kuberitahu!” Dicky menyeruput minumannya hingga habis, menggenggam cepat pergelangan tangan Susan.


“Mau apa kamu?? aku tidak butuh apa-apa lagi, ini sudah menjelaskan semuanya!” Susan menahan kemarahan.


“Ikut aku! dan sebaiknya kau menurut!” Dicky menarik lengan Susan untuk keluar dari kedai kopi itu untuk membawanya ke suatu tempat.


****


POV Susan


Dengan tanpa menduga-duga apa yang direncanakan Dicky pada pertemuan kami kali ini, kuikuti keinginannya.


Tangan Dicky terus menggenggam pergelangan tanganku seakan-akan ia memaksakan demi kehendaknya saat itu.


Meski rasanya aku tidak setuju dengan perlakuan Dicky, hanya bermodalkan percaya ku sanggupi untuk mengikuti langkahnya yang ingin segera memperlihatkan segala info tentang Eli.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2