
Apa yang kupikirkan saat ini adalah tentang hubungan kami yang meningkat sangat tajam dalam hitungan bulan. Terlepas dari prinsip awalku, ataupun kami berdua, komitmen yang dibuat seharusnya tidak menjeratkan kami untuk bersikap bebas diatas norma yang ada, sangat memahami ini sebuah kekhilafan belaka.
Sulit sekali mengendalikan diri, untuk kami yang tidak mengenal cinta yang begitu dalam di masa sebelumnya, ini adalah cinta dua orang dewasa, tapi sedikit kekanak-kanakan.
Apakah aku harus mengambil keputusan ...
Bri, bersabarlah ... aku hanya ingin menyelesaikan segalanya sebelum jenjang pernikahan. Masalahmu ... Masalahku ... dan Dicky yang menjadi bayang-bayang hitam masa laluku.
Belum siap rasanya melepas karirku hanya karena keberadaan orang ketiga, kami harus menjalin hubungan baik hingga Brian tidak akan menghalangiku untuk tetap berada di tempat kerja yang sama dengan Dicky.
****
Aku meminta Brian untuk tidak perlu membawaku ke dokter, tapi kami berpikir positif yang sama, ini hanya faktor kelelahan dan stres yang menumpuk sekian lama.
Beberapa jam ia bertamu ke rumahku, dan sempat ada kepanikan dari Mama dan Papa melihat kondisi lemasku, hingga akhirnya Brian harus kembali menghadapi Papa dengan segala pertanyaannya tentang hari kemarin. Tidak mudah, tapi Brian pandai bicara dan mengalihkan sehingga tertutup semua kejadian kemarin di Villa.
Brian pun pulang untuk memberikan waktu agar aku leluasa beristirahat. Kukirim pesan lanjutan selang beberapa jam dari kepulangan Brian.
Susan [ Aku rasa ... gak ada masalah 'Bri, menurutmu bagaimana? ]
Jantungku berdegup cepat menunggu balasan pesan darinya yang baru dibalas sekian menit kemudian.
Brian [ Terima kasih sudah berkata jujur ]
Susan [ Jujur ... gimana maksudnya? ]
Brian [ Siapa tau kamu jadi drama hahaha ]
Susan [ Yang benar aja, buat apa berlebihan ... kalau ya bilang iya, enggak ya enggak! aku gak paham maksud kamu ]
Brian [ Hanya memastikan kamu tidak menganggapku pria brengs*k yang melihat satu kesempatan besar ]
Susan [ Kapan aku menganggapmu brengs*k? ]
Brian [ Sudah, jangan tanya lagi. Aku tau yang aku lakukan, lagipula ... apa seru nya memanfaatkan wanita setengah sadar hahaha ]
Susan [ Jadi kamu sadar? ]
Brian [ Hanya sedikit terpacu adrenalin, tapi ... aku sepenuhnya sadar ]
Susan [ Kenapa gak bilang, bikin panik ]
Brian [ Aku masih mau menjagamu, jadi jaga dirimu juga ]
Susan [ hmm ... aku gak tau harus bilang apa ]
Brian [ Jangan sebut aku bule ]
Susan [ Hahaha ... itu aja? aku tambah, terima kasih sayang ]
Brian [ You're welcome, istirahatlah dear ... ]
__ADS_1
Susan [ Ok Boss ]
Brian [ Itu juga dear, tolonglah ... ]
Susan [ Hahaha ... Love you ]
Brian [ Love you too ]
Darimana lagi aku bisa mendapatkan pria sesabar ini, pembuktian ini seharusnya cukup bagiku. Hasrat adalah hal yang sulit dikendalikan dalam sebuah hubungan, untuk pasangan seperti kami.
Aku harus menentukan sikap, dan membuat keputusan. Selama ini kucegah Brian dengan berbagai alasan untuk maju melamarku, bagaimana jika kesabarannya habis ...
****
Aku kembali terduduk disisi tempat tidurku, kulihat lampu kamar di rumah seberang sana terlihat menyala.
'Sedang apa mahluk itu ... ' batinku memikirkan waktu yang tepat untuk bicara dengan Dicky secara baik-baik.
Aku memang selalu tidak sabaran dalam mengambil tindakan, tapi ini sudah berlarut semenjak kehadiran Dicky kembali dan mengacaukan segalanya.
Jam kerja kami memang terkadang tidak sesuai untuk bisa bicara lebih pribadi, karena kesiapannya yang harus tiba-tiba berada di kantor saat jam-jam yang tidak terduga. Lembur adalah makanannya.
'Aku rasa dia sedang ada waktu, tapi tepatkah untukku, gimana kalau dia tiba-tiba bertindak macam-macam, ini seperti memberi makan singa lapar!' batinku goyah mengingat Dicky yang seringkali bertindak spontan tanpa basa-basi.
'Sweater! Sepatu kets!' pikiranku bermacam-macam untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Dicky. Seakan-akan hendak menemui pria hidung belang, tetapi ketakutan ini berasal dari segala trauma tentangnya.
Sweater dan sepatu kets adalah pilihan terbaik saat ini untuk menutup piyama yang sudah kugunakan sedari tadi. Ini masih pukul 7, dan kurasa masih aman karena masih banyak lalu lalang orang. Setidaknya masih bisa teriak atau melarikan diri jika terjadi apa-apa. Sejauh itu pikiranku.
Lolos, karena Mama yang sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam, serta Papa yang masih asik di depan TV, aku melintas tanpa terdeteksi. Ya Tuhan ... di usiaku saat ini aku masih harus seperti main kucing-kucingan begini, ah, sudahlah, ini demi Brian.
***
Aku berlari kecil dengan sepatu running ku menuju rumah seberang, ya, rumah Dicky. Pagar itu tertutup tapi aku mendengar musik jelas dari kamar atas rumah itu.
'Dia sedang dikamar, bagaimana memanggilnya!' sejenak rasanya maju mundur melihat situasi ini, jadi sedikit kurang yakin berani mengganggu waktunya.
Kutekan tombol bel pada tembok pagar rumahnya, berulang-ulang kali hingga nyaris kesal dibuatnya.
'Tidur kali ini orang!' batinku, memang dari awal sudah ragu makin ingin aku kembali kerumah saja.
'Lima kali lagi tanpa jawaban, baiknya kuurungkan saja mungkin pertanda tidak baik' batinku
Kutekan kembali lima kali berturut-turut tiba-tiba terdengar langkah berat dan cepat terdengar dari kejauhan. Balkon atas. Aku menunduk dengan kepala tertutupi hoodie. Sampai suara teguran keras terdengar dari seseorang dari arah balkon.
"Woy! siapa disitu! jangan tekan bel berulang-ulang, bocah jail!" teriak Dicky dari atas balkon.
Aku mendongak memandang ke arahnya, seketika matanya membulat saat menatapku balik, kemudian ia berbalik masuk ke dalam kamarnya hingga tidak sampai satu menit kudengar langkah mendekat dari ruangan lantai bawah, setengah tergesa-gesa langkah itu mendekat hingga akhirnya berjalan lebih pelan.
Pagar pun terbuka, kutemui wajah itu lagi.
"Huufff ... ada apa bertamu malam-malam?" Dicky menghela napas sambil berdiri di tengah-tengah pagar yang terbuka dan hanya cukup untuk ukuran tubuhnya.
__ADS_1
"Ngapain lari, aku gak kemana-mana, aku memang mau kesini kok" jawabku tanpa ragu atau suara gemetar meski jantungku terus berdegup mengawasi gerak-geriknya.
"Lagi prank ya?! suruh keluar bodyguard-bodyguard pacarmu itu, gak usah bersembunyi!"
"Bodyguard apa? aku sendirian, lagipula mereka Asisten bukan bodyguard, kenapa? takut sama mereka? hih!" jawabku sinis
"Apa yang kamu sembunyikan dibalik sweater? aku harus periksa" ucap Dicky dengan dingin.
"Sedikit saja ujung jarimu menyentuh aku, sepatuku ini ... akan mendarat tepat didepan wajahmu! biar aku yang perlihatkan, kamu diam disitu!" ucapku sambil membuka sweater sedikit, menunjukan tidak ada benda apapun yang berbahaya kusembunyikan.
"Oke, piyama. Mau tidur disini? hahaha ... sayangnya aku sedang tidak minat menemani wanita kesepian, tapi gak apa-apa juga kalau kamu mau" ejek Dicky.
"Oh, thanks. Kedatangan aku kesini bukan berniat meminta belas kasihan, aku ingin bicara tentang berdamai" jawabku dengan sikap dingin.
"Lebih dari itupun gak masalah, kamu kan yang mengantarkan diri ke rumahku ..." jawab Dicky sambil menyeringai.
"Atau kuurungkan saja niat baik ku saat ini, kita perang yang sesungguhnya!"
"Wow wow woow ... sabar Nona, kita bernegosiasi sedikit ... tegang sekali, suka nonton sinetron ya, hahaha"
"Gak usah basa-basi, kita bicara diteras, semakin malam ... aku butuh istirahat!"
"Di dalam!" pintanya dengan tegas.
"Teras!" balasku.
"Ini rumahku, siapapun tamuku harus berada didalam, bukan diteras!" Dicky mulai meninggikan suara.
"Aku gak mau ambil resiko berdua didalam rumah dengan orang yang sulit dipercaya" ucapku datar
"Pilih, jika permintaan damai ini kita gagalkan saja, bagaimana? ya atau tidak?!"
"Sepertinya kamu siap kembali menerima surat panggilan dari pihak yang berwenang" tantangku.
"Apa aku pernah kelihatan takut??" ucapnya santai.
Aku memicingkan mataku dan menatapnya tajam, benar-benar aku tau siapa Dicky, dia tidak pernah takut ditantang. Seketika aku merasa kalah, jika ini semua tidak tentang aku dan Brian, mungkin lebih baik aku mengurungkan niat ketimbang mengambil resiko besar seperti ini.
"Oke! pintu dibuka, pagarpun jangan ditutup, deal?" tegasku sambil sedikit memberi sikap berani menantangnya.
"Ya ya ... terserah, biar siap kabur ya?"
"Jangan banyak tanya!" tegasku
"Masuk!" jawabnya cepat.
Dicky berjalan masuk lebih dahulu, ia seperti meraih ponsel disakunya dan seperti mengutak-atik sesuatu, tidak bisa kulihat apa yang sedang ia lakukan pada ponselnya, sebaiknya ini bukan hal lain yang sedang ia rencanakan.
.
.
__ADS_1
Bersambung