
Dicky keluar dari kamar mandi dan nampak hanya Agus yang ditemuinya. Agus yang masih terlihat kebingungan malah bertanya macam-macam,
“Ada kejadian apa ini?! aaduhhh berantakan sekali kamarku Diiiiic”
“Kemana perempuan itu? kemana Susan, Gus?”
“Loh! dia berlari keluar tadi, untuk apa kucegah, Hei, kutanya habis apa kalian disini, gila! kacau sekali kamarku ini?!”
“Sudah jangan banyak bicara! kau tidak lihat kondisinya bagaimana memang?harusnya tidak kau lepaskan ... itu akan membahayakan dirinya!” Dicky semakin merasa khawatir
“Bisa dikira apa aku mencegah-cegah perempuan! kau pikir saja sendiri!”
“Ah! sudahlah kau tidak mengerti!”
Dicky bergegas keluar kamar itu dan mencoba mengejar Susan yg sudah jauh menghilang karena ia sengaja lari melalui gang sempit kawasan kos-kosan agar ia bisa menjauhi lokasi.
Berjalan terhuyung memeluk kausnya yang sekarang di genggam karena terburu-buru pergi hingga ia memilih menggunakan sweater dan celana jeans dibalik tubuhnya yang polos.
Ia memeluk kuat tasnya di bagian depan seakan masih ingin melindunginya sendiri. Wajahnya yang pucat pasi sepintas menjadi perhatian beberapa orang yang melintas dan berpapasan denganya, tapi ia segera menutupinya kembali dengan hoodie.
Susan terduduk di sebuah halte yang nyaris rusak dan terbengkalai, hari pun mulai gelap dan udara semakin dingin, gerimis kecil turun kini susan semakin tertunduk buntu dengan kondisi mirip tunawisma dadakan yang berpakaian layak namun terlihat sangat berantakan.
Kini gerimis semakin terbentuk menjadi butiran lebih besar, seakan mendukung kehancuran dirinya saat itu.
Dari arah area kampus terlihat mobil sedan hitam meluncur keluar dan perlahan lampu sen nya berkedip tanda menepi, kemudian berhenti tepat di depan Susan yang masih terduduk di halte itu sendirian. Lalu kaca mobil itu terbuka lebar.
“Hei kamu mahasiswi! sedang apa kamu disitu? Pulang kamu! ini sudah menjelang malam!” nampaknya orang itu mengenali Susan dari Hoodie yang pernah ia pakai diwaktu yang berbeda.
Susan melihat pelan ke sosok yang berada dalam mobil yang sedang menegurnya itu
‘Kak BRIAN!!’ Susan terhenyak mengenali seseorang yang ia hafal dari postur tubuh serta wajahnya yang terkena cahaya redup lampu kekuningan di dalam mobil itu.
Susan segera bangkit dari duduknya dan berlari cepat memasuki sebuah gang kecil yang tidak jauh dari situ, merasa dirinya tidak layak dilihat oleh siapapun saat itu.
“Hei, kamu mau kemana??” Brian menekan klakson mobil beberapa kali sedang berusaha memanggil Susan yg berlari menghindar dan menghilang dari kejauhan.
Sesaat gagal memanggil, Brian melanjutkan laju mobilnya lagi tanpa berpikir terlalu jauh tentang apa yg terjadi.
‘Anak itu! tidak jauh pasti habis bertengkar dengan kekasihnya, Hhh ... kenapa anak sekarang selalu saja bertingkah aneh perkara cinta, Cih! payah!’ batin Brian yang selalu menyepelekan masalah cinta. berpikir sekilas sambil mengemudikan mobil menuju pulang ke kediamannya.
Sementara itu tanpa terasa Susan berjalan begitu jauh sambil meratapi diri dan menangis tanpa tujuan dalam dera gerimis berat menjelang malam kala itu.
‘Aku harus kemana? Ini dimana??.’
Susan terasa linglung atas segala pikirannya hingga mulai merasakan pusing yang hebat dan akhirnya terjatuh tersungkur tidak sadarkan diri dikawasan rumah warga setempat tidak jauh dari lokasi kampus utama.
Seseorang menemukannya dalam kondisi pingsan di lokasi tersebut, saat siuman yang pertama kali dilihatnya adalah sekumpulan warga yg sedang mengitari dan memandanginya dengan wajah iba, terutama Ibu-ibu, dengan cepat Susan bangun dan terduduk.
“Nak, rumahmu dimana? apa kamu mahasiswa di Universitas Gema Karya?”
Susan mengangguk pelan tanpa berkata apa-apa. tatapan matanya kosong dengan wajah pucat tanpa daya.
“Wah pak, ini mbaknya kita bawa kerumah dulu saja kayanya ya ... kasian ini loh bajunya kotor dan basah begini!” ucap Ibu-ibu tadi seraya berusaha menyadarkannya.
Susan tidak menjawab sama sekali, masih terlihat bingung dengan kondisi merasakan sakit di sekujur tubuhnya terutama pada bagian kewanitaannya.
__ADS_1
“Mbak sakit ya? habis dari mana ... mau ikut Ibu dulu kerumah? nanti kalau sudah lebih baik, kami antar kerumahmu ya?” bujuk halus Ibu itu kepada Susan.
Susan menggeleng cepat berulang karena panik.
“Kamu kenapa mbak ... kamu habis kenapa? mari ... Ikut Ibu dulu saja ya”
Ibu itu mengangkat tubuh lunglai Susan dari pos keamanan membawanya menuju rumah sederhananya.
Sesampainya dilokasi rumah itu, Susan diantarkan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sedikit karena pakaian yang ia kenakan kotor ketika terjatuh tadi. Segera Ibu itu meminjamkan pakaian anaknya sebagai ganti sementara. membuatkan teh hangat agar kekuatannya pulih kembali.
“Apa yg terjadi dengan kamu nak?, apakah sesuatu yang buruk baru terjadi denganmu?”
Sekilas ingatannya kembali pada kejadian tadi, tangisnya meledak tidak berani mengungkap nasib naas yang menimpanya.
“Ya sudah bu, biar kita coba hubungi keluarganya, pasti dia sedang dicari pihak keluarganya sekarang”
Susan menoleh tapi tidak sanggup menjawab setiap pertanyaan.
“Coba nak, bisa kami minta nomor keluargamu, ini sudah malam ... mereka pasti khawatir sekali”
Ibu itu menyerahkan tas Susan agar ia mengambilnya sendiri. Susan meraih tasnya dan mengambil ponselnya perlahan, beberapa telepon gagal masuk memenuhi layar ponselnya termasuk Eli dan Kak Edo. Susan menangis lagi sejadi-jadinya, Ibu itu memeluk Susan dengan erat saat suaminya melihat kontak di ponselnya.
“Ini pasti keluargamu kan, Nak?”
Susan tidak menjawab hanya menganggukan kepalanya perlahan.
Sesaat bapak tersebut menekan ponselnya, langsung tersambung jawaban dari arah kontak yg dihubunginya.
“San ... Susan!!!” suara kak Edo menggema melalui loud speaker.
“Ehhh mas, maap mas ...”
‘Ya tuhaaaan kak Edo, sempat-sempatnya berpikir sembarang begitu.’ Batin Susan
“Ohh bukan mas, ini saya menemukan ...” belum selesai bicara kak Edo memotong lagi
“Menemukan ponsel kan, kembalikan sekarang!!!”
‘Kalau saja kondisiku tidak seperti ini aku rasanya ingin teriak keras-keras biar telinganya mau mendengar dulu daripada bicara macam-macam.’ Susan
“Bu ... ibu saja yang bicara lah” bapak itu menyerah.
‘Jangankan bapak, siapapun menyerah kalau sudah berhadapan dengan kakakku yg emosional itu.’ Susan
Ibu itu meraih ponsel Susan.
“Mas ... Bisa dengar sedikit tidak kalau orang mau bicara jangan dipotong terus, kamu mau mendengar apa cuma celoteh tidak jelas dan tuduh-tuduh saja, dengar dulu ini orang tua loh sopan sedikit !!!” Ibu itu melancarkan kata-kata kesal pada kak Edo
‘Hmmmmm.., kak Edo bertemu lawan setimpal biar rasa kamu.’ Susan
“Hmmm jadi apa ini maksudnya? adik saya mana?”
“Adikmu ada disini, dia tadi terjatuh dijalan, kami baru mau berusaha menghubungi keluarga, apa ada yg mau jemput dia disini?”
“Oh, Astagfirullah maaf bu ... yaa maaf saya panik dari tadi saya menghubungi nomornya tidak diangkat, saya jemput kemana ya bu?”
__ADS_1
Ibu itu memberikan alamat pasti dimana kak Edo akan menjemput Susan.
****
Kak Edo sampai ke lokasi bersama kak Zac dan Eli tentunya, yang dilihat oleh warga adalah mereka golongan orang mampu dan pastinya ada saja orang yang berusaha terlihat menjadi pahlawan disitu untuk embel-embel penghargaan.
Ketika berada dirumah tersebut mereka disambut oleh pemandangan mengejutkan dengan kondisi Susan yang terlihat kacau secara psikisnya.
“Susan?” Eli langsung menghampiri lebih dulu berniat memeluk Susan namun segera ditepis cepat dan memandang tajam, seketika Eli merasa bersalah dan menghentikan niatnya.
“San?? kenapa bisa pingsan?” kak Edo kini memperlihatkan sisi lembutnya terhadap adiknya saat itu. matanya berkaca-kaca melihat keadaan adiknya.
“Mas, jangan ditanya-tanya dulu, lebih baik kalian pulang bawa dia, biarkan dia istirahat dan lebih tenang” Mereka semua saling berpandang-pandangan.
“Baiklah Ibu, sebelumnya saya minta maaf atas kata-kata saya di telepon tadi, sayaaa panik bu”
Ibu itu menepuk pundak kak Edo mengangguk pelan memahami sikapnya tadi.
“Tadi saya yg menolong si mbak ini mas, jatuh tadi bajunya kotor tidak sadar”
“Siapa yang gotong??” kak Edo dan Eli serempak bertanya, membuat orang itu terlihat gugup dan takut.
“Ibuuuu tadi yang tuntun mas” Ibu itu melirik ke hansip itu untuk segera diam daripada kena imbasnya,
“Baiklah, saya mohon diri ya bu maaf sudah merepotkan hingga malam begini”
“Yah yah silahkan nak”
Eli meraih uang dari dalam dompetnya membelakangi orang-orang disekitarnya, beberapa lembar uang ratusan ribu ia kepalkan ke tangan hansip tadi.
“Terima kasih ya pak, sudah menolong”
“Loh loh mister wah jadi tidak enak ini saya lho” sambil memasukan uang ke saku celananya.
Eli mengangguk tersenyum sambil menepuk lengan hansip itu.
Kak Edo juga menyisipkan amplop ke tangan bapak itu dan mencoba menolak pemberian kak Edo.
“Tidak usah mas, ini kita ikhlas kok membantu mbak nya kasian ini dia korban ... “ berhenti melanjutkan saat Istrinya mencubit tangan suaminya
“Korban apa pak??” kak Edo, kak Zac dan Eli serempak kaget.
“Sudah ... sudahhh nanti saja mbaknya kalau sudah pulih dia pasti mau cerita”
Dengan perasaan campur aduk pertanyaan dipikiran mereka masing-masing tidak berani menerka apa yang baru saja terjadi dengan Susan.
****
Dalam perjalanan pulang Susan merebahkan dirinya dalam posisi meringkuk di kursi belakang mobil, kak Edo kini berada di belakang menemani Susan yang jauh lebih tenang ketika kak Edo mengelus rambutnya dengan rasa sayang.
‘Inilah sisi lain kakakku, dari segala sikap emosional yg sering muncul tiba-tiba, ia hanya ingin menunjukan tanggung jawab besarnya sebagai kakak yg sepenuhnya melindungi adiknya yg lengah menjaga diri.’ Susan
Selama perjalanan Eli tidak berhenti menghadap ke belakang memperhatikan Susan yang masih terdiam seribu kata. Hatinya terus bertanya-tanya memandang sosok kekasihnya terlihat shock berat dan takut bahwa Susan akan terlanjur membencinya juga.
‘Apakah ini ada kaitannya dengan Dicky!!’ Eli menangkap satu pikiran yg membuat hatinya sangat panas seketika dan siap melakukan pembalasan apabila inilah penyebab kondisi kekasihnya saat ini.
__ADS_1
‘Jika ini memang hasil perbuatanmu akan kubuat kau menyesal selamanya.’ Eli
Bersambung