My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Kartu Undangan


__ADS_3

Susan berharap, segalanya akan berubah seiring pernikahannya kelak dengan Brian, akan menjadi sebuah awal yang baik bagi hubungan mereka semua. Karena mau tidak mau, Dicky harus siap menerima bahwa Susan akan segera menjadi istri sah seorang pria.


Seling beberapa pekan menuju pernikahan segalanya berjalan dengan lancar. Brian dan Susan, saling bungkam merahasiakan rencana, proses, atau segalanya yang berkaitan dengan persiapan pernikahan nanti. Tidak satu pun yang mengetahui, hanya kedua pasangan, keluarga, dan kerabat terdekat mereka berdua.


Brian dan Susan menyiapkan segalanya dengan baik, atas dukungan kedua belah pihak keluarga, juga berkat bantuan kedua Asisten Brian tentunya, Adam dan Leo.


Tiada satu pun persyaratan yang diajukan pihak keluarga Susan terlewatkan atau ditunda lagi oleh Brian. Bahkan, proses lamaran dilakukan di luar area rumah pribadi, semua proses dilakukan dengan sangat cepat, tanpa kendala dan terahasia. Tentu saja, tanpa sepengetahuan Dicky, hingga detik datangnya hari bahagia itu pun tiba.


'Inilah saatnya, aku harus siap membiarkan semua orang yang kukenal mengetahui rencana kami, termasuk Dicky,' Susan bergumam dalam hati.


Tangannya mengapit beberapa kartu undangan dari dalam tasnya, hendak dibagikan untuk seluruh pihak kantor.


'Hufff ... Bismillah, ekspresi apa yang akan kudapat hari ini, semoga segalanya berjalan lancar,' batin Susan gundah.


Susan bangkit dari meja kerjanya. Berjalan mendekati beberapa meja rekan-rekan satu ruangannya. Menyodorkan kartu undangan kepada satu-persatu dari mereka.


"Eh, apa nih??" ucap Mbak Wulan, sigap memutar kursinya ke arah Susan yang berdiri di belakangnya.


"Kalian hadir ya!" Susan tersenyum, wajahnya merona akibat timbul rasa haru.


"Wey! Susan mau kawin!" teriak Mba Wulan ke arah rekan lainnya, yang seketika saling menyambut dan menoleh ke arah Susan. Susan membulatkan mata, terhenyak dengan kata-kata dan teriakkan barusan.


"Kawin! emangnya aku kucing apa! hahaha ...," canda Susan. Sambil berjalan kembali menuju meja-meja selanjutnya dan menyodorkan undangan kepada rekan-rekannya.


"Ka~win, ka~win ... si Susan jadi kawin, hahaha," sorak Kang Ridwan, "Neng, jangan lupa banyak minum jamu neng ...," canda Kang Ridwan.


"Kok, jamu sih Kang? ... Hahaha," tanya Susan canggung.


"Biar sehat aja gitu, kan nikah tuh capek, berdiri seharian," jawab Kang Ridwan beralasan.


"Halah, aku tau otakmu Kang! Hahaha," canda Susan.


"Eh, ya 'Cong. Kudu kuat-kuat ya emm ... lakinya bule, omaygat ya gaes ..., kalo gak sanggup bilang 'eike ya 'mak, biar eike gantiin ...," ucap Jeje.


"Astaga Jeje! laki gue normal yaa 'Je, Hahaha. Macem-macem gue sikat lo!" canda Susan.


"Akika normal 'mak! dikalangan gue pastinya ...," tambah Jeje.


"Kok dadakan amat sih 'cong, udah berapa bulan?" tanya Mbak Ocha berpura-pura serius.


"Apaan yang berapa bulan? Asem! Hahaha. Emang gak boleh nikah buru-buru apa, kan kita juga dah—," ucap Susan yang segera dilanjutkan oleh Mbak Ocha.


"Udah ngebet! tau lakinya apa si Susannya tuh yang ngebet 'cong, ya kan .... Secara kalo di kelas Training banyak brondong-brondong menawan, menggoda iman," canda Mbak Ocha.

__ADS_1


"Wey, aku udah punya yang 'Pas'. Gak cari-cari lagi! Udah ah, abis lah waktuku kalo kelamaan gak keliling nih bagi-bagiin undangan, sama kalian gak akan kelar, weeek!" ucap Susan, lalu menjulurkan ujung lidah.


Susan kembali berjalan keluar ruangan, menuju beberapa ruangan lain, termasuk Tim operasional di lantai lain dan juga beberapa petinggi di perusahaannya yang berada di lantai yang sama.


Setelah usai membagikan hingga tersisa dua buah undangan yang dikhususkan per-satu Divisi. Susan mengendap-endap, mengintip kecil dari dinding kaca ruangan yang berada di sebelahnya.


'Langkah terakhir, ruang IT. Semoga Dicky tidak sedang berada di ruangan,' batin Susan.


Terlihat beberapa orang dari balik layar monitornya, sedang serius melakukan pekerjaan. Beberapa lainnya sedang duduk santai di kursi kerja masing-masing, sedang berbincang kecil. Setelah mengetahui bahwa, tidak nampak sosok Dicky berada di ruangan itu. Susan menyempatkan waktu membagikan kartu undangan setelah pergantian shift Tim IT, menghindari segala kemungkinan atas keberadaan Dicky.


'Biasanya tanggal-tanggal akhir bulan, Dicky selalu dapat shift malam, otomatis pukul satu siang begini, dia sudah tidak berada di tempat!' batin Susan.


Ia membuka pelan pintu ruangan IT, dan menyapa beberapa rekan IT dalam ruangan itu.


"Permisi Mas-Mas ..., maap ganggu ya— ," ucap Susan, sambil berjalan masuk perlahan.


"Waduh Mbak, kita gak ada yang beli parfum disini," canda Mas Dwi.


"Idih Mas Dwi, asem! Aku mau kasih ini loh, ... kalian datang ya!" ucap Susan, sambil menyodorkan kartu undangan kepada Mas Dwi.


"Apa nih?" Mas Dwi menatap tulisan pada bagian depan kartu undangan, "Brian dan Susan? Mbak mau nikah? loh, kok gak ada bau-baunya dari kemarin," ucap Mas Dwi asal.


"Eh, bau apa! hahaha," jawab Susan.


"Gak ada tanda-tandanya gitu, kok tau-tau nikah," ucap Mas Dwi sambil mengangkat kedua alisnya dan tersenyum.


"Wah, aku keduluan dong, Mbak ya. Gagal ngajakin Mbak Susan ta'aruf, hahaha," canda Mas Ivan.


"Ya ampun Mas, silahkan move on ya, anak HR banyak yang single kok. Tuh, ada Jeje, single juga," canda Susan.


"Astaghfirullah Mbak. Itu sih sama aja perang Star Wars aku Mbak, hahaha," jawab Mas Ivan.


"Hahaha, ya udah lah, pokoknya gitu aja, maap ganggu loh kesibukan kalian. Oh iya Mas Dwi, satu undangan lagi titip buat Mas Erick ya, ini buat keluarganya,"


"Keluargaku enggak Mbak? kok Mas Erick aja?" canda Mas Dwi.


"Iish, aku kan udah kenal lama sama Mas Erick dan keluarga nya, kami kayak saudara. Cuma ya itu, aku gak tau dimana mereka sekarang," jelas Susan, agar tidak kentara dengan tujuannya menghindari memberikan undangan langsung pada Dicky.


"Oh, gitu," Mas Dwi memundurkan kursinya dan melongok ke arah dinding kaca dibelakangnya. "Tadi Mas Erick masih tidur, apa udah berangkat ke pusat ya, tapi tas nya masih disini sih."


Susan sedikit terhenyak membulatkan mata, seketika jantungnya berdegup lebih cepat mengetahui Dicky ternyata masih berada di kantor. Susan berusaha menyembunyikan ekspresi terkejutnya, dan kembali terlihat biasa namun sedikit canggung.


"E-eh, ya udah, gak apa-apa Mas, biar nanti kejutan aja. Titip kasih aja buat dia ya," ucap Susan.

__ADS_1


"Iya, nanti aku selipkan aja di dalam tas nya, takut saya lupa Mbak. Soalnya bisa jadi saya pulang duluan nanti, Mas Erick belum kembali dan absen pulang 'kan."


"Oke, itu lebih bagus! Sip! Makasih ya, semuanya aku balik dulu," jawab Susan dengan mantap.


"Ya Mbak Susan," ucap Mas Dwi, "selamat ya!" ucap semua Tim secara bergantian.


Sedikit kelegaan muncul saat keluar dari dalam ruangan itu, Susan kembali ke dalam ruangannya dan segera mengeluarkan ponselnya. Mengirimkan pesan untuk Brian.


Susan [ Sayang, undangan sudah aku sebarkan di kantor, sepertinya aku harus lebih cepat pulang agar tidak bertemu Dicky ]


Beberapa saat kemudian Brian membalas pesan kembali.


Brian [ Kamu mulai besok sudah cuti 'kan? ]


Susan [ Aku sudah ajukan izin sama Anton soal itu, tapi belum ada jawaban. Kan gak mungkin sehari setelah nikah aku harus masuk kantor, Bri ... ]


Brian [ Nanti aku yang coba hubungi Anton ]


Susan [ Ikuti prosedur perusahaan, sayang. Jangan mengada-ngada ]


Brian [ Cuti dua minggu memang gak bisa? ]


Susan [ Aku bukan yang punya kantor loh, kamu itu! ]


Brian [ Lagipula kamu akan segera resign, biar saja ]


Susan [ Kapan aku bilang mau resign ke kamu?! ]


Brian [ Lalu apa yang kamu pikirkan saat memutuskan meminta aku segera menikahi kamu, itu artinya kita sepakat kan?! ]


Susan [ Bri! kayaknya kita harus bicara langsung deh ]


Susan mengernyitkan dahi, jantungnya terasa diremas kuat-kuat membaca pesan dari kekasihnya. Ia menganggap, segalanya bukan lagi menjadi mimpi buruk bagi hubungan mereka setelah menikah nanti, Brian tetap pada keinginannya untuk menjauhkan Susan dari Dicky dengan memintanya mundur dari perusahaan.


Beberapa menit Susan menunggu jawaban dari Brian, hingga akhirnya Brian membalas kembali.


Brian [ Terserah, aku sedang tidak ingin berdebat. Kamu pikirkan baik-baik satu minggu sebelum pernikahan. Apa sebaiknya di undur? atau kita batalkan saja ]


Susan terhenyak. Dengan kasar menghentakkan dahi di atas kedua tangannya yang terlipat di atas meja, merasakan ketidaksanggupan menghadapi situasi yang mendadak melemahkan batinnya. Segala tekanan itu muncul kembali, saat segala yang ia harapkan diluar ekspektasi, bahwa keputusan Brian telah mutlak, dan sulit untuk di negosiasi lagi.


.


.

__ADS_1


Bersambung


otw next part


__ADS_2