My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
360 Derajat


__ADS_3

‘Apa maksud—nya itu!!’ Batin Dicky, menoleh cepat membelalakan mata memandangi Brian.


“Suami ... ??” petugas medis itu seakan memastikan ulang dengan perlahan, menghindari menyinggung perasaan salah satunya.


“Saya!!” jawab Dicky lantang.


Brian sempat terlihat canggung namun kembali duduk, menunduk dan membuang muka, tertegun akan tindakannya tadi.



“Gimana kondisinya, Dok?? di-dia kenapa?!“ tanya Dicky yang dipenuhi rasa penasaran.


“Hmm ..., dari hasil analisisnya jelas. Nyonya Susan memang dalam keadaan mengandung trimester awal. Apa ada aktivitas berat akhir-akhir ini?"


"Hamil?!"


"Mas-nya, suaminya kan? gak tau istrinya sedang hamil?" Dicky terdiam tanpa mampu menjawab apa pun. "Ya ... dengan kondisi berisiko seperti ini, seharusnya calon janin dalam kandungan memang harus dijaga betul-betul, Mas. Ini rentan sekali," jelas Sang Dokter.


"Ja-jadi gimana kondisi Ibunya, dan ... kandungannya ...," ucapan Dicky terputus, karena muncul  ragu, dan takut  mengetahui jawaban selanjutnya dari dokter.


"Ya itulah, mohon bersabar ..., calon janinnya sudah ... tidak bisa diselamatkan." Wajah Dicky semakin pias menyadari kebenaran terkaannya, lututnya nyaris tidak bisa menopang tubuhnya sendiri. "Maaf, tapi melihat kondisi serta hasil analisis, sepertinya sudah dari beberapa jam sebelumnya janin itu sudah hancur, dan tapi baru keluar sekarang karena ada aktivitas tinggi. Memang yang keluar hanya berupa gumpalan darah, tapi ini sudah hitungan beberapa minggu,” jelas Dokter itu perlahan demi menjaga perasaan Dicky.


Pria muda itu terhuyung saking lemasnya mendengar penjelasan itu, hingga punggungnya membentur dinding, lalu terduduk menekuk lutut di lantai ruang IGD, seakan tidak percaya. Dia meratapi kesalahannya tidak mengetahui kondisi Susan sejak awal. Luapan air mata tidak lagi terbendung, hingga telinganya seakan tuli mendengar perkataan Sang Dokter.


Di usianya yang labil saat ini, membuatnya tidak mampu tegar selayaknya lelaki sejati. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali menutup wajahnya yang berurai air mata.


‘Kenapa aku tidak diberi tau ..., kenapa mereka merahasiakan hal itu! apa hanya aku yang tidak tau kalau dia memang hamil.’ batin Dicky.


Dicky termenung sesaat, hatinya bergemuruh dalam situasi itu. Mulutnya terasa membeku untuk kembali mengucapkan kata-kata.


“Mas??” Dokter itu menepuk pelan bahu Dicky yang masih terdiam. “Ikhlaskan ya ..., untuk selanjutnya, jika Ibu-nya sedang merencanakan kehamilan, harus benar-benar dijaga. Terutama di trimester awal. Saat ini mungkin Ibunya terlalu lelah atau faktor lain,” jelas Dokter mencoba memberi semangat Dicky belum mampu menjawab apa-apa.


‘Gila apa! menyuruhku mencoba lagi, anakku bukan undian!! Dokter kan tidak tau apa-apa tentang kami!’ batin Dicky merasa semakin geram dengan nasihat Dokter tadi.


“Ya sudah, Mas. Nanti ... kalau mau menemui Istri ... Masnya jangan panik, ya. Nyonya Susan masih dalam kondisi perawatan, saat ini sudah kami berikan infus untuk memulihkan kondisinya lagi, beliau sudah siuman, kok. Tapi ... tidak boleh stress, ya, Mas?” ucap Dokter itu halus karena tidak mendapati jawaban dari Dicky yang masih terlihat shock.


Dicky hanya mengangguk pelan sambil memaksakan dirinya berjalan ke arah ranjang rawat IGD. Sesaat berada di dekat Susan, dia memandangi wanita itu yang tengah tak berdaya, dan pucat dengan jarum yang mengalirkan cairan infus menancap di bagian tangannya.


‘Dia tidak pernah dalam kondisi begini, bahkan nyaris tidak pernah sakit parah hingga harus merasakan ini, kamu kuat sayang ... kamu pasti kuat ....‘ ratap Dicky terus berbicara dalam hatinya, Dia meraih tangan Susan kemudian menggenggamnya dengan lembut.


Susan menoleh pelan menatap wajah Dicky yang penuh penyesalan.‘Aku tidak tau bagaimana mengungkapkan perasaanku melihat wajah Dicky seperti itu. Seakan ini bukan dia. Bukan Dicky bisa menutupi kesedihan bahkan air mata setetes pun demi membuatku tertawa. Aku merasa sudah keterlaluan, dan lalai. Kini dia menangis karena aku ... ya Tuhan .....’ Susan kembali membuang muka menahan rasa sedih.


‘Meski dia yang membuat hidupku hancur saat itu, tapi kini aku yang nampak terlalu egois hingga aku lupa menjaga diriku sendiri ... Aku lengah untuk tau jika anak ini benar-benar ada ... ‘ batin Susan.


“San, kenapa kamu tidak pernah memberitahuku soal ini ... “ ucap Dicky dengan lirih. Bisik suaranya bergetar menahan tangis seraya menggigit bibirnya sendiri.


Susan membisu tidak sanggup berkata-kata, terlalu banyak hal yang tidak mudah di jelaskan. Terlebih dengan kondisi yang tidak memungkinkan.

__ADS_1


Sesaat kemudian salah satu perawat datang menghampiri membawa selembar kertas untuk menanyakan ulang beberapa data yang kurang jelas.


“Maaf, saya boleh cek datanya ulang, ya, Pak. Ehhh ... tulisannya agak kurang jelas hehe, sekalian ditanda tangani di bawahnya nanti. Dengan nama lengkap Ibu-nya siapa?“


“Susan Adriana Zeline” Dicky menyambut cepat.


“Usia?” tanya Perawat tadi sambil memastikan data.


“Dua puluh tahun, Suster,” jawab Dicky pelan.


“Ok, ya, Suami? Mas ... Suami---nya,  ya, ... ehh ....“ ucap Perawat itu dengan agak ragu memastikan status keduanya.


“Dicky Erickson Neville ... , Dobson.” Susan menjawab cepat dengan suara pelan. Dicky sigap menoleh, dan terhenyak dengan ucapan yang baru saja didengarnya.


‘A-apa?! Ya Tuhan ... apakah aku tidak salah dengar? Dia mau mengakui aku sebagai suaminya, bahkan, ia menambahkan nama keluarga kami. Ya ... ayahku yang bahkan aku sendiri lupa bagaimana rupa dirinya‘ Batin Dicky,


Seketika kini terpancar kebahagiaan dari raut wajah sedihnya, dia tidak bisa menyembunyikan perasaan meski musibah baru saja mereka alami, Digenggamnya erat tangan Susan, tapi wanita itu enggan untuk memandang wajahnya lagi, namun tetap membiarkan genggaman itu dalam waktu yang lama.


Terdengar sebuah langkah sepatu berjalan masuk ruangan dengan cepat, kemudian terdengar percakapan seseorang yang dicegah oleh para tim medis yang berjaga, Dicky dan Susan mencoba menyimak suara yang akhirnya mereka kenali, Kak Edo!


“Kak!” Dicky berjalan menghampiri Kak Edo yang sempat tercegah langkahnya tadi.


“Dicky!! mana Susan??”


“Sebelah sini!“ Dicky mengajak Kak Edo menghampiri ruang rawat Susan. Dicky dan Kak Edo cepat dicegah oleh petugas medis.


“Maaf, yang boleh berada dekat pasien hanya satu orang, ya, Pak. Salah satu harus menunggu diluar, silakan,” tegas petugas itu.


****


Dicky keluar ruangan dengan ekspresi jauh lebih baik dari sebelumnya. Belum usai kebahagiaan itu dirasakan Dicky. Dia tersentak dengan keberadaan Eli di ruang tunggu tersebut. Raut wajah bahagianya tertahan, dan kembali menegang.


Kini mereka duduk bertiga dalam kondisi diam, hanya Kak Zac sebagai penyambung untuk membuka informasi tentang keadaan Susan di dalam. Brian, dan Eli mempunyai posisi yang sama di mata Dicky saat ini, sama-sama sebagai status penghalang hubungannya dengan Susan.


Dicky tidak ingin moodnya hancur perkara melihat dua orang di hadapannya. Dia mengalihkan pikiran pada hal lain, yakni barang-barang yang tertinggal oleh Susan. Terlebih pasti banyak yang ingin tahu bagaimana Susan bisa dibawa oleh dua orang pria---sahabat, dan Sang Dosen. Informasi itu pasti sudah disebarkan oleh security yang sempat menolong tadi.


Walaupun posisi Brian adalah dosen sekaligus konselor, keduanya tetap dipandang dengan status murid, dan pendidik. Hingga aksi yang terjadi di depan keramaian tadi malah jadi suatu pertanyaan besar, kenapa Susan menghilang bersama Brian, ada apa di antara mereka berdua?


Kini Dicky pun mencoba melacak keberadaan ponsel Susan yang berada dalam tas. Sebuah aplikasi pendeteksi nomor yang biasa dia gunakan.


‘Aduh, kenapa tasnya tidak lagi ada di kampus! Hmmm ... coba aku lihat riwayat keberadaannya dulu’ gumam Dicky dalam hati.


Dicky terperanjat melihat riwayat keberadaan ponsel Susan yang sebelumnya tidak ia sadari, melihat beberapa lokasi yang membuatnya berubah jadi naik pitam.


‘Brengsek!!!’


Dicky beranjak bangun dari duduknya, segera menghampiri Eli yang sedang tertunduk dikursi tunggu, meraih cepat kerah baju Eli dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan dengan Susan semalam, brengsek!!” teriak Dicky dengan amarah yang meledak, dan spontan membenturkan tubuh Eli ke dinding.


Eli sontak tidak mampu berkata-kata lagi, dia menyerah untuk menyangkal segala kejadian kemarin malam hingga dini hari tadi.


Brian dan Kak Zac yang tersentak, bangkit mencegah tindakan Dicky yang berlangsung begitu cepat, orang-orang di ruang tunggu pun dibuat histeris.


Kak Zac menyeret Dicky keluar area rumah sakit, baru kali ini rasanya Kak Zac begitu geram dengan perlakuan Dicky terhadap adiknya, ia menghempaskan Dicky hingga nyaris tersungkur di area sepi lahan parkir, Brian dan Eli ikut berlari mengikuti Kak Zac.


“Dasar pembuat masalah!! berulang kali kubiarkan, tapi jangan sekali-kali kau menyentuh adikku!” tegas Kak Zac.


Beberapa security berlari cepat menghampiri, dan ditahan oleh Brian agar tidak segera bertindak jauh.


“Jangan buat keributan disini!” kata salah satu Security.


“Tenang, Pak. Sudah tidak ada masalah, kami akan tenang!” Brian mencoba menjelaskan secara perlahan dengan pihak security.


“Iyaa ... tapi ini kan Rumah Sakit, Sir. Mohon jangan membuat kerusuhan dong, di sini tempat orang sakit. Atau Anda-anda kami persilahkan untuk keluar dari Rumah Sakit ini!”


“Ok, ok saya akan tanggung jawab jika terjadi keributan lagi!” Brian kembali menenangkan.


Security berlalu pergi sambil mengumpat, namun kembali fokus ke permasalahan Dicky dan Eli.


Tiba-tiba dari kejauhan Kak Edo berlari menghampiri.


“Ada apa ini, hei! di mana otak kalian buat keributan di area Rumah Sakit!”


“Dia! dia, Kak!!” menunjuk ke arah Eli. “Dia yang telah membunuh calon bayiku!”


Semua menoleh ke arah Eli yang bergeming menahan emosi.


“El, apa maksudnya ini? jawab!” Kak Edo mendorong bahu Eli, yang dengan segera dicegah oleh Kak Zac.


Eli menghela napas dalam.“Kami tidak melakukan hal yang seperti kau pikirkan!“ Tegas Eli kepada Dicky.


“Jelaskan, El!!” tanya Kak Edo.


“Semalam Susan mengikutiku ke club. Aku gak mengajaknya! dia bersembunyi di belakang kursi mobilku. Di sana aku gak bisa menjaganya saat harus bekerja. Aku gak memberi minuman apa-apa selain air mineral, tapi pria asing itu yang memaksanya untuk meminum Alkoho. Dia nyaris melecehkan Susan jika aku tidak sampai mencegahnya!!”


Kak Edo, dan yang lainnya pun terhenyak mendengar kronologis yang dirahasiakan oleh Eli.


“El! bagaimana bisa ... “ Kak Zac kini angkat bicara, terheran-heran bagaimana sampai tidak mengetahui keberadaan Susan semalam di rumahnya.


“Tapi apa yang kalian lakukan berdua semalam, hah?! kalian bercinta kan!!” tanya Dicky dengan keras.


Eli sejenak terdiam memandang Dicky dalam-dalam, entah apa yang ia pikirkan nampaknya Eli sudah terlalu muak dengan banyaknya kejadian yang ia hadapi.


“Okey. if you wanna know the truth. Hhh ..., Yes, we did it!” Eli membuat semua yang berada disitu sontak terpancing amarah.

__ADS_1


‘Sudah waktunya buah kesabaranku terbayarkan, Piala Oscar hanya untuk seorang pemeran terbaik bukan?’ Batin Eli


Bersambung


__ADS_2