
Sore itu aku terpaksa lembur beserta beberapa teman lainnya, karena target laporan mereka yang harus masuk dengan segera. Maka terpaksa kukerjakan laporanku hari ini juga karena Brian akan menjemputku pukul delapan nanti.
Pukul setengah delapan malam kini kami semua beranjak dari depan komputer masing-masing, kelelahan mulai mendera tubuh kami semua. Dan aku harus menunggu Brian yang akan datang menjemputku nanti.
Tapi nyatanya kudapati Leo sudah berada di ruang tunggu dekat loby, aku terheran menghampirinya yang sedang asik memainkan ponselnya.
“Leo? Brian mana?”
“Oh, sorry miss, mr.Brian tidak bisa datang jemput” ucap Leo yang masih kaku berbahasa.
“Kenapa tidak bilang saya, saya bisa pulang sendiri kalau tau begitu”
“Tuan coba hubungi miss, tidak dijawab”
“Ah ya ok, saya memang sibuk tadi, saya pikir kita janji akan bertemu pukul delapan malam, dia bilang mau menjemputku, kalau begini saya juga bisa pulang sendiri, saya bukan putri yang apa-apa harus dijemput.”
“Mr. Brian pastikan miss aman dengan saya”
“Sudahlah Leo, kamu tidak tau saya!”
Aku meraih ponsel dalam tas dan mencoba menghubungi Brian. Tersambung.
“Bri, halo. Kamu dimana?”
“Oh maaf dear, Leo sudah sampai disana atau belum? aku coba menghubungimu dari tadi, sinyal pun tidak baik disini.”
“Sinyal? heh, kamu bisa kirimi aku pesan jadi aku tidak perlu ikutan lembur disini”
“Ya, maaf. Aku tidak tau akan ada masalah disini, makanya aku kirim Leo untuk menjemputmu.”
“Aku bukan butuh jemputan Bri, aku mau kamu!” kumatikan ponsel dan menaruhnya dalam tas.
‘Begini rasanya punya tunangan apa-apa mengandalkan asisten, aku merasa tidak jadi diriku sendiri’
Beberapa kali ponselku bergetar karena panggilan. Akhirnya Leo memberikan ponselnya padaku, karena Brian menghubungi Leo untuk dapat bicara denganku.
“Miss, tuan telepon.”
“Hhh ... apa lagi!” kuraih ponsel ditangan Leo “Ya, apa lagi?”jawabku ketus.
“Dear, listen to me! kalau kamu nekat untuk kabur dan pulang sendiri, aku juga akan nekat berangkat saat ini juga menjemputmu!”
“Kenapa tidak lakukan dari tadi? berarti kamu bisa kan jemput aku meskipun telat, sudahlah!” kuserahkan ponsel itu kembali pada Leo. Dan aku berjalan kembali ke ruangan untuk memeriksa kemungkinan barang yang tertinggal.
“Miss, mau kemana?”
“Saya mau keruangan! cek barang tertinggal! kamu tunggu saja disitu” ucapku ketus pada Leo.
Aku kembali ke ruangan dan benar saja kutemui flashdisk ku masih menempel pada CPU. Saat aku berbalik kulihat Dicky bersandar di ambang pintu ruanganku.
“Sudah malam, kenapa masih belum pulang?”
“Apa pedulimu? kerja sana, mengejar karir kan? sesuai perjanjian tidak perlu saling mengganggu! minggir”
Aku mendorong tubuhnya yang menghalangiku keluar ruangan.
“Hahaha. Iya betul, tapi ... ternyata ... kangen juga mengganggu mu kalau tidak ada yang lihat begini.” ejek Dicky.
“Senang ya kamu, apa kamu mau aku beberkan siapa kamu juga nantinya pada mereka, buronan!”
Wajahnya berubah kesal memandangku, kemudian Dicky mencengkram kedua lenganku,
__ADS_1
“Hei dengar ya, sekali saja kamu menghancurkan namaku lagi, aku juga tidak akan segan membuatmu Trauma kedua kalinya.”
Tiba-tiba Leo datang menarik tubuh Dicky ke belakang.
“Hei, Don’t touch her!!” Leo menghempaskan Dicky “miss, saya diminta ajak miss pulang sekarang.”
“Leo sudaahh ... “
“Miss??? eh, siapa ini? punya bodyguard kamu sekarang ... woaahh hebat ... hebatt.” ejek Dicky sambil bertepuk tangan pelan.
“Sekali lagi sentuh nona Susan, you’re so dead, mate!”
“Eh, kamu! katakan siapa Bos mu itu!”
“Bukan kapasitas anda tau siapa Bos saya”
‘Ahhh untunglah Leo professional’ bisik hatiku lega.
Tiba-tiba Mas Pras muncul dari balik pintu ruang IT melongok keluar.
“Rick! eh, ada apa nih?? hoy, Internet trouble lagi, kemari sebentar!”
“Ya, aku kesana!” menjawab Mas Pras, kemudian melanjutkan pembicaraan ke arah kami berdua “hmm ... sampai bertemu lagi ya, mantan ku ... “
Dicky mengerdipkan sebelah matanya seakan mengejek dengan senyuman smirk nya, kemudian melengos memandang Leo dan berlalu kembali ke dalam ruangannya.
Leo hanya menatap dingin, pandangan matanya mengikuti kemana arah Dicky berlalu.
“Leo, sudah ... ayo kita pulang”
****
Menuju perjalanan pulang tidak ada percakapan antara aku dan Leo, sudah cukuplah segala kejutan gila yang kudapati seharian ini, konflik kerja begitupun pribadi, rasanya kepalaku berat sekali.
“Leo, hati-hati jangan mengetik pesan kalau masih mengemudi.”
“Baik miss.”
Cepat sekali Leo merespon ucapanku dan menaruh kembali ponselnya ke dalam saku celana, seakan akan aku benar Bos nya sendiri. Padahal aku hanya mencoba mengingatkan bukan berniat memerintah seperti seorang ratu.
“Leo, kamu tau Brian sedang apa saat ini?”
“This is not—aaah ... bukan kapasitas saya beritahu nona.”
“Aku bukan nona kamu, aku masih orang lain Leo.”
“Saya hanya ikut perintah, miss.”
‘Ahh ok, bodohnya aku bertanya. Ini sudah pasti perintah Brian, makin aneh rasanya selalu dijaga-jaga seperti ini.’
Aku menghentikan pertanyaan konyol ini sementara aku tau sudah pasti segalanya sesuai instruksi.
Mobil melesat cepat tanpa hambatan malam ini, kami memasuki kawasan perumahanku dan kulihat mobil Brian sudah berada di depan rumahku.
“Mau apa lagi dia kesini.”
Leo menoleh cepat karena gumamanku.
“Mr. Brian tidak jadi jemput ke kantor , saya sudah beritahu bahwa miss sudah menuju pulang dengan saya.”
“Terima kasih atas infonya, Le—o!!” ucapku ketus.
__ADS_1
Sesaat mobil menepi di sisi jalan depan rumahku dan Leo memarkirkannya tepat di belakang mobil Brian.
Sesaat aku keluar dari dalam mobil, Brian dan Adam juga ikut keluar dari dalam mobilnya.
Aku berjalan acuh melewati Brian, dan segera ia meraih lenganku untuk menahanku pergi.
“Sue, kenapa sih kamu ini?”
“Ada pria coba ganggu miss tadi dikantor, tuan.” Leo menjawab cepat.
Brian sigap menoleh ke arah Leo.
“Whaaat?? Ah ... baiklah, Adam-Leo kalian pulang saja duluan, tinggalkan mobilku disini.”
Adam dan Leo kembali masuk ke dalam mobil yang digunakan untuk menjemputku tadi. Brian kembali fokus melihat ke arahku.
“Ceritakan padaku apa yang terjadi. Kan seharusnya kamu tidak membantahku tadi, kalau harus pulang—ya pulang”
“Makin hari mereka seperti anak-anak mu ya, sesuai perintah.” sindirku.
“Katakan siapa yang mengganggumu!”
“Bri, aku sedang tidak ingin bicara.”
“Dear, aku paham atas kesibukanmu, tapi ini masalah lain, jawab saja siapa pria yang coba mengganggumu!” tegas Brian.
“Lihatlah tuan Brian ini, belum apa-apa bukannya membiarkanku istirahat dulu malah ikut-ikutan mencari tau.”
“Hhh ... ok, bagaimana jika aku mampir sebentar kerumahmu?”
“Ini sudah malam, kamu mau menambah masalahku? Papa sedang mengincar bertanya padamu tau, lagipula bukan apa-apa, dia hanya teman kantor yang ingin bercanda.”
“Apa aku harus percaya Leo daripada perkataanmu barusan?”
“Pacari saja si Leo, sekalian si Adam”
“Dear! gunakan bahasa yang baik menjawabku!.”
“Oh, maaf Pak Brian Adney William Ph. D ! sayangnya saya hanya seorang manusia dengan title dibawah ilmu psikologi anda, yang kenyataannya level kesabaran saya pun ada batasnya!”
“Kamu hanya sedang emosi karena lelah, kita bicara di mobil saja, okay? come here ... “ Brian menuntunku ke arah mobilnya. Dan aku menghentikan langkah.
“Tidak Bri, ini sudah malam. Cukup lah ... sumpah aku lelah.”
“Tapi aku mau bicara sebentar, sedikit saja ingin membuatmu tenang”
“Aku akan tenang jika kau mulai bersikap seperti lelaki biasa pada umumnya, dulu kamu tidak seperti ini. Aku hanya ingin diperjuangkan oleh pria-ku sendiri dengan tangannya, bukan melalui asistennya”
“Tolong Sue, tenangkan dirimu dulu”
“Bri, belajarlah menjadi pria yang melindungi wanita dengan tangannya sendiri, memberi kebahagiaan atas pikirannya sendiri, menghadapi rintangan dengan tubuhnya sendiri, bukan dengan orang-orang suruhan.” lirihku sambil menatap matanya.
Aku melepaskan genggaman tangannya perlahan dan berjalan selangkah menjauh menuju rumah, ia pun tidak mencoba menghalangiku lagi. Mungkin sedang menahan diri untuk lebih sabar menghadapiku yang sedang emosi.
“Sue, kita bicara lagi setelah kau tenang ya? kumohon ... ” ia terlihat khawatir kala menggigit bawah bibirnya namun tetap mencoba tenang sesekali menghela napas lepas sambil menyesapkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
“Satu hal lagi, Bri!” aku membalikan badan memandangnya dengan tatapan kecewa “aku bukan seorang Nona, kamu-lah yang Tuan. Dan aku hanya lah Susan ... hanya seorang Susan. seseorang yang biasa ... “
.
.
__ADS_1
Bersambung