My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Sosok Pelindung


__ADS_3

Brian melepaskan genggamannya berbalik khawatir, memegang kedua lengan Susan yang seperti masih terlarut akan histerisnya.


“Hei dengar!! saudari Susan ... ! buka matamu ... lihat saya!!” dengan tegas seraya mengguncangkan sesekali tubuh susan yang seperti tidak tersadar masih terus meraung tidak mau membuka mata.


“Tidaaak ... aku tidak mau ... kalian jahaaat ... kalian jahaaat ... “ menangis meronta.


“Hhhh ... “ Brian sigap memeluk Susan yang jadi semakin berontak, meletakan kepala perempuan itu dalam rangkulannya, merasa terpaksa hanya bermaksud untuk menenangkan bukan untuk memanfaatkan situasi.


Padahal jika dalam konteks profesional ia sama sekali tidak pernah berani melakukan hal itu terhadap klien-kliennya yang terdahulu.


“Jangan!! Jangan sentuh!! Jangan begini ... aku mohoon ... “ kali ini ia mampu untuk memukul-mukul tubuh Brian semampunya dalam keadaan dirinya terpeluk erat.


“Pukul! pukul saja sepuasmu ... ! keluarkan perasaanmu ... lepaskan pikiranmu ... ” Brian mengusap halus rambut Susan yang berada dalam pelukannya.


“Maaf ... maafkan sikapku tadi ... aku tidak pernah berniat macam-macam padamu ... aku tidak tau kau akan seperti ini ... aku hanya ingin melihatmu berusaha lebih kuat ... “


Suara halusnya semakin lama perlahan menenangkan tangan Susan yang berontak memukul tanpa arah ke tubuh Brian ... hingga akhirnya yang tersisa hanya tangisan lemah tanpa tenaga.


Sesaat kemudian setelah kembali tenang, Susan seperti tersadar dalam pelukan seseorang, yang ternyata orang yang belum lama ia kenal yaitu konselornya sendiri.


“Hhh ... , Kak... ?!” mendorong melepaskan pelukan Brian. Tertunduk malu.


‘Aku merasa seperti mimpi, yang kurasakan ... seperti dalam pelukan Kak Edo yang berusaha menenangkanku saat aku sedang terpuruk, senyaman itu, ya ... nyaris senyaman itu’ Susan


Brian memberikan air mineral yang tadi Susan bawa dan ia duduk kembali di kursi kecil didepan Susan menggenggam kedua tangannya sendiri, melepaskan kekhawatiran dirinya untuk perempuan itu.


“Ada yang ingin kau ceritakan padaku ... ??” Berkata halus.


Ponsel Brian bergetar diatas meja, Brian bangun dan meraih ponselnya.


“Please Stay! Okay ... “ berkata halus sambil memberi kode tangan ke arah Susan untuk tetap duduk. ia menjawab panggilan sambil berjalan ke arah ruangan lain dan meraih remote lainnya, seketika muncul alunan musik saxophone.


(Aaaa... Thor suka sama alunan saxophoneeee)


****


“Bagaimana? apa anda tau adik saya bertemu dimana dengan konselornya?”


Kak Edo bertanya sedikit panik kepada salah satu admin kampus.


“Sebentar ya mas, ini sedang dihubungi pihak konselornya ... “


“Seharusnya kan dia ada disini, kenapa konselingnya dilakukan diluar area??”


“Pak Brian tidak ada ditempat pak kalau weekend biasanya beliau memang diluar ... “

__ADS_1


“Iya, tapi kan seharusnya ada informasi jelas mbak, ini tidak profesional namanya, kalau sampai terjadi apa-apa dengan adik saya, saya tidak segan menuntut pihak kampus yang lalai begini!!” tegas Kak Edo mengancam.


Kedua admin wanita yang masih tergolong muda itu saling bertatapan mendengar ancaman Kak Edo.


“Berikan nomor Konselor itu pada saya!”


“Kami tidak tau mas, kami sedang mengubungi Dosen pendamping beliau”


“Yaa ... yaa ... siapapun itu coba biar saya yang bicara!”


“Maaf mas, tanpa seijin beliau nomor tidak boleh diberikan kepada pihak luar”


“Tapi kan saya pihak keluarga dari mahasiswa kalian, saya juga berhak tau kemana Adik saya melakukan pertemuan dengan Dosen disini”


“Itu sifatnya personal mas, maaf... mohon bersabar (ini ujian... oh gak ya), apa sudah mencoba hubungi adik mas, siapa tau ... sudah selesai konselingnya dan ... dia pergi kemana mungkin”


“Maksud anda adik saya keluyuran begitu? ... jangan sembarangan ya! “


“Ya sudah mas, makanya mohon bersabar (ini ujian... oh nggak sorry sorry... ), silahkan menunggu dulu sekitar 15 menit ya mas”


“Hhhh ... payah!” Kak Edo memukul meja depan admin dan berlalu ke arah tangga dan duduk di anak tangga memeriksa ponselnya.


****


Brian kembali berjalan ke arah Susan. kembali duduk berhadapan, ia membungkukkan tubuhnya yang tinggi untuk melihat ke arah wajah Susan yang masih menunduk malu.


Susan masih tertunduk kaku.


“Maaf membuatmu takut ... “


‘Tadi aku yang tidak boleh bilang maaf, curang’ Susan bermonolog


“Gak apa-apa Kak, saya yang salah ... “


“Jangan mulai lagi menyalahkan apapun pada dirimu ... kamu harus bisa berpikir jernih dan objektif ... kamu seorang calon praktisi kejiwaan ... pasti bisa memahami letak masalah yang sedang dihadapi, sebab akibat dan ... “


“Tapi kalau saja saya tidak gegabah untuk berjalan sendiri pasti hal seperti ini tidak akan terjadi Kak ... “ Susan memotong perkataan Brian.


“Baik, izinkan aku membantumu ... aku akan berusaha selalu mendampingi hingga masalahmu selesai, mau percaya ... ?” Brian mengulurkan tangan meminta kesediaan Susan menjabat tangannya.


Susan melihat ke arah telapak tangan Brian dan ragu perlahan menaruh telapak tangannya di atas tangan besar itu.


“My Hands are clean ... dont worry ... hahaha” tertawa kecil mencandai Susan.


Susan tersenyum dan menaruh tangannya yang kemudian digenggam halus dengan tangan Brian satunya. sigap Susan menariknya kembali.

__ADS_1


“Hahaha ... it’s okay”


Dengan sangat sabar dan perlahan Brian membujuk Susan untuk lebih terbuka atas peristiwa yang telah menimpanya beberapa waktu lalu, perasaan Brian campur aduk ketika menemui beberapa fakta yang menurutnya tidak adil dan manusiawi bagi perempuan bertubuh kecil yang berada di hadapannya kini.


Brian seperti turut merasa bersalah telah salah menilai perilaku Susan yang terlihat selalu merasa rendah dihadapan siapapun, terutama dihadapannya kemarin-kemarin, bukan hanya faktor latar belakang di masa lampau tapi juga apa yang terjadi dengannya belum lama ini turut menjadi faktor utama semakin terpuruknya Susan selama ini.


‘Ternyata dia tidak selemah yang kukira, untuk kondisi yang ia alami ia mampu bertahan dan kembali berjuang dalam waktu yang sangat singkat, paling tidak jika ini terjadi pada orang lain, persentasi besar yang akan muncul adalah bunuh diri atau depresi selama berbulan-bulan atau bahkan menahun.’


Brian percaya Susan mampu bangkit dan ia akan turut mendampingi perjuangan Susan untuk lepas dari belenggu yang menghalangi kebebasannya, meski dengan resiko melibatkan praktisi hukum di dalamnya.


‘Aku akan menyiapkan pengacara untukmu, aku siap mempertanggungjawabkan ini semua ke jalur hukum.’ Brian mantap berbicara pada dirinya.


‘Aku akan tulus melakukan segalanya untukmu ... MisSorry ku’ Batin Brian


****


Waktu tidak terasa sudah berjalan hingga pukul 5 sore, Kak Edo yang panik selama menunggu akhirnya pulang dengan mendapatkan informasi bahwa Susan berada dirumah Ibu Ike yang daerahnya tidak ingin disebutkan oleh pihak admin.


Ibu Ike berusaha menutupi situasi tersebut karena ia tau pasti akan bermasalah dengan kedua belah pihak, yaitu dari Kak Edo dan Brian sendiri.


Ibu Ike percaya bahwa Brian adalah orang yang profesional pada bidangnya. sehingga tidak perlu khawatir untuk menutupi keberadaan Susan sebenarnya.


“Sudah sore, Kak ... aku mau pulang ... mereka pasti sedang panik menungguku dirumah ...”


“Saya sudah menyampaikan pesan kepada Ibu Ike agar keluargamu tidak perlu khawatir, proses konseling ini akan memakan banyak waktu, mereka seharusnya bisa memahami itu”


“Bukan keluarga Kak ... Ya .... Kakak saya ... yang tadi saya ceritakan”


“Hmmm yaaa ya ... nanti biar saya yang antarkan kamu ...”


“Jangan Kak, kakak mau bilang bahwa Kakak tau semuanya, ya?” Susan mulai khawatir


“Saya tidak akan bicara apapun, saya hanya ingin memastikan kamu pulang dengan selamat dan tidak ada yang menegurmu keras, hari ini kamu adalah tanggung jawab saya ... percayalah ... “


Susan terdiam tetap dengan perasaan bimbang, tapi entah kenapa kata-kata Brian begitu meyakinkan hatinya yang selalu merasa tidak aman oleh siapapun, bahkan dengan seorang Eli pun ia tidak selalu bisa percaya.


“Bagaimana kalau kita makan dulu, kita ke resto atau apa ... silahkan kamu yang pilih bebas sesukamu ... aku traktir” senyumnya terkembang kembali dan Susan seakan baru tersadar Brian memang tampan dan baik seperti yang dibicarakan orang-orang.


Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya, saat ini ia seperti sosok pelindung yang muncul tiba-tiba dan melakukan sesuatu untuknya tanpa pamrih, bukan juga cinta seperti seorang kekasih.


Setidaknya ... untuk saat ini ...


Bersambung


Hmmm... Brian kenapa sih kalo Susan bilang ‘Maaf’ suka aneh sendiri?

__ADS_1


Padahal kalau orang lain yang sebut maaf dia biasa-biasa aja... hehehe


cuma Author yang tau... HAHAHAHA


__ADS_2