My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Siapa Dia?


__ADS_3

Segalanya berjalan baik. Tidak ada satu patah kata pun yang diucapkan Papa dalam satu hari itu. Mungkin saja Papa tidak lantas berpikir harus sesegera itu Brian menghadap untuk berbicara dengannya. Dan kubiarkan saja menghindari perlahan atau mengulur waktu agar tidak ada pertanyaan lagi tentang Brian, meski desakan kakakku sepertinya membuat Papa jadi terburu-buru mengambil keputusan untuk bertatap mata kembali dengan ‘tunangan’ rahasiaku.


‘Aku belum siap melihat situasi jika Brian akan diberondong pertanyaan oleh Papa, tapi aku yang paling tau Brian adalah orang yang pandai mengolah kata saat menjawab apapun dengan segala kharisma nya’


Sehari tidak bertemu hati ini mulai mencandu oleh keberadaannya. Ini bukan soal harta tapi cinta. Bagaimana tidak jika seorang wanita biasa selalu diperlakukan spesial di atas masa lalu buruknya. Sejauh ini dia masih nyaris sempurna diluar moodnya yang berubah-ubah. Tapi aku yakin akan terbiasa, bisa ditangani perlahan dan pasti pada akhirnya.


Kantor senin pagi, aku standby dalam ruangan untuk menyiapkan beberapa laporan bulanan, kiri kananku sibuk dengan urusan penggajian karyawan, jalur telepon pun sibuk dalam situasi kali ini. Sistem sedang down pada layanan jaringan internet perusahaan kami, para agent kami tiada hentinya menerima telepon complain para pelanggan akibat trouble pada fiber optic bawah laut. Bukan bagianku soal itu, hanya masalahnya yang berimbas pada tim HRD saat itu.


Sesekali kudatangi lokasi operasional memantau kondisi agent yang mulai lelah ataupun terpancing emosi dari pelanggan. Beberapa tim IT pun terlihat sibuk memantau kondisi pada layar komputer dihadapan mereka masing-masing saat kulewati ruangan yang terlihat pada dinding yang terbuat dari kaca keseluruhannya.


‘Hari yang melelahkan’


Bahkan tim rekrut sampai kewalahan mengatur jumlah calon pegawai untuk wawancara beberapa hari ini. Karena keluar masuknya karyawan turut menjadi tanggung jawab kami bersama.


”Bu Susan, bantu aku dong. Lima orang bantu wawancara ya, udah mulai gak konsen nih, break otak dulu gitu, bisa gak?” Pinta Ocha yang wajahnya mulai pias karena lelah.


“Jam satu ya ‘Cha, aku harus ke operasional dulu soalnya genting, ada agent yang mulai jawab asal-asalan sama pelanggan kata Pak Marwan tadi telepon aku ke ruangan, takutnya ini orang kena SP.” jawabku. Sambil berpikir untuk segera mengorek informasi sambil memotivasi para agent bermasalah ini.


“Ya udah Bu, bantu ya. Sumpah stres nih, aku mau ngopi sebentar lagi dibuatin sama OB”


“Yes, sip ‘Cha.”


‘Menunda sehari membuat laporan, baiklah, fiuuhh’


Itulah gunanya kerja sama tim, baiklah aku coba menggunakan keahlian ku melihat para pelamar kerja ini dari CV dan segala bahasa tubuh yang mereka tampilkan saat ku wawancara nanti. Biasanya mereka akan mengeluarkan respon yang beragam.


Break time!


Aku dan beberapa tim-ku menuju lantai tujuh untuk makan siang dilokasi kantin pada kantor kami. Sambil mengeluarkan unek-unek tentang kesibukan hari ini, sekedar melepaskan agar mengurangi stres dalam setengah hari ini, aku pun harus menjaga kestabilan emosi untuk bisa tetap sabar memotivasi para karyawan kami. Setelah puas bergosip kesana kemari kami pun kembali menuju ruangan kami.


“Eh ya, Cong” ujar Jeje salah satu teman kami yang notabene ‘semi-pria’ karena gemulai dan minatnya bukan pada wanita menyebut teman-teman ‘cong’ sebagai nama lain dari transgender “kamu tau gak, tuh anak-anak IT pusat pada dateng kesini.”


“Oh iya pantas, tadi ruangan IT banyak orang, tadinya aku mau numpang rebahan di ruang IT jadi gak enak banyak laki-lakinya.” ujar Ocha.


Bincang kami saat menunggu depan lift.


“Ya ampun ‘mak, iya itu loh gosipnya kan ada yang ‘cucok’ dari IT pusat, doi dateng dong yaa.” ujar Jeje yang bersiap berpose kala masuk ke dalam lift. memang tingkahnya ajaib Homo satu ini.


“Anak IT yang baru itu ya?” ujar Ocha yang banyak tau karena seringkali bolak-balik ke kantor pusat “duh, langsung jadi anak emas itu di IT pusat. Katanya sih lulusan luar gitu, tau luar dimananya. Memang ganteng ‘Cong, tapi aku belum liat juga.”


“Ya ampun ‘Je kenapa gak masuk aja tadi ke ruang IT, bisa langsung bubar itu semua laki-laki satu ruangan. hahaha.” ujarku.


Lift pun menandakan menuju ke lantai saat ini dan Jeje siap berpose untuk masuk ke dalam lift.


“Oke siap guys, POSE!” Jeje bersiap pose untuk memasuki lift yang mulai terbuka pintunya. “Eh ada orang ‘cong, kirain sepi!” bisik Jeje.


Kami pun tertawa serentak melihat kegagalan aksi Jeje saat ini. Karena ternyata ada dua orang lain yang ada di dalam lift tersebut.


****


POV Author


Saat masuk ke dalam lift nampak dua orang Pria sedang berbincang, namun saat seketika Susan dan teman-temannya masuk dua orang Pria itu menghentikan percakapannya. Dan salah satu pria yang menggunakan hoodie dan ransel, sigap memojokan diri dan menunduk menutupi kepalanya dengan Hoodie jaketnya.

__ADS_1


“Je! Ssstt.” bisik Haya melirik kode pada Jeje menunjukan sosok Pria yang berdiri dipojok ruangan lift. Jeje sigap melirik dan memperhatikan dari kepala hingga ujung kaki pria yang tidak mau menampakkan wajahnya.


“Ishh ‘Cong ... numpuk kayak cucian, Gedong” bisik Jeje mengartikan Gedong yang artinya ‘Besar’. Dan hanya sebagian mereka lah yang tau maksudnya mengarah kemana.


“Bodoh nih anak. Hahaha!” ujar Mba Wulan.


Susan dan teman-temannya tertawa kecil dalam lift yang menuju ke lantai 21. Saat keluar dari dalam lift tawa mereka terlepas menggema pada lantai tersebut. Kedua Pria itupun keluar dari lift di lantai yang sama.


‘Breng*ek, mimpi apa semalam bisa bertemu Homo dalam lift’ dalam hati pria berhoodie tadi.


“Eh, Rick. Duluan ke ruangan nanti aku nyusul, ke toilet dulu sebentar.” ujar teman pria berhoodie tadi.


“Ok.”


Susan dan teman-temannya berjalan mendahului pria itu menuju ruangan. Dan seketika terlupa sesuatu Susan berbalik arah kembali menjauhi ruangan dan berpapasan dengan pria yang masih menunduk dengan Hoodie nya itu yang hendak menuju Ruang IT.


“Eh, Bu. mau kemana, woy. jadi gak interview jam satu?” panggil Ocha melihat Susan yang berbalik kembali.


“Iyaaa Bu Ochaaa, sebentar mau ke pantry! mau minta kopi.”


”Ok sip, ‘Cong.”


Pria yang sempat berpapasan dengan Susan tadi berhenti mendadak di depan pintu ruang IT dan sigap menoleh ke arah Susan yang berlalu.


‘Suaranya itu ... ‘


Sejenak ia berpikir dan kemudian masuk ke dalam ruangan IT.


“Eh, Rick. Apa kabar ‘Bro. Sampai juga kesini” ujar Mas Dwi menyambut.


“Oh, iya depan jalan memang sering dialihkan karena jam makan siang sering macet.”


“Sudah begitu, apes juga siang-siang bertemu Homo dalam lift, bonus sial dua kali, sebelah itu ruangan apa sih?”


“Oh itu, ruangan HR. Memang ada satu yang amphibi itu si Jeje namanya, kenapa? digodain ya? Hahaha”


“Gak, pikir aja ‘Bro. Ngeri juga hiii.”


“Hahaha awas nanti ketemu lagi, suka caper dia. Eh, dari kemarin ini Web gak bisa dibuka.”


“Iya itu, disini juga infonya panggilan ke layanan masuk tapi dominan tertahan di Sistem, padahal complain lagi banyak sekali ‘kan? tapi beralih masuk melalui Email”


“Intruksi Pak Sugeng tadi email juga harus bisa dibuka karena admin Web nya gak bisa online chat.”


“Nah. Sedangkan Web email utama kondisi eror gara-gara ini tadi. Tim Account Manager juga jadi complain karena susah ‘dagang’. Panik semua tadi di pusat.”


“Thank you ‘Bro, untung kamu diperbantukan kesini. Beratnya, ini layanan utama perusahaan gak bisa lengah sedikit, sepele hancur kita.”


*“Iya nanti aku coba sambil koordinasi sama tim pusat. Kalau disana aman nanti disini mengikuti stabil, kalau lagi down begini makanya Web* gampang dijebol Hacker.”


“Siap, saling bantu aja ‘Bro” menepuk punggung pria itu yang sigap melepas ranselnya dan bersiap menangani permasalahan saat ini.


Mas Dwi seorang Senior IT disana segera menginstruksikan untuk duduk di depan komputer yang disediakan dan membantu mereka menangani kondisi Internet yang sedang Down kala itu. Beberapa orang tim lainnya mengerubungi Pria tadi sambil mempelajari penanganan Sistem yang sedang coba dibantu saat itu.

__ADS_1


Susan melongok dari balik pintu dan memanggil Mas Dwi untuk menanyakan kondisi.


“Mas Dwi, tadi pesan Pak Marwan langsung kabari ke operasional ya kalau koneksi sudah stabil, barusan setengah jam katanya offline total.”


Mereka masih sibuk memantau kondisi di balik layar monitor berukuran besar di hadapannya.


“Iya, nanti aku ke operasional kalau sudah aman, ini lagi di bantu”


“Ok, makasih Mas Dwi” Susan berlalu menutup pintu ruang IT dan berlalu.


“Siap Mba Susan”


‘Susan?’ Gumamnya dalam hati saat sedang konsentrasi menatap layar monitor. Kemudian sigap berdiri menoleh ke arah jendela memastikan nama yang didengarnya tadi.


“Eh kenapa, ‘Rick? jadi kaget ‘Bro.”


“Yang perempuan tadi kemana?”


“Yah, dasar! kukira apa coba, taunya nyariin perempuan”


“Seperti kenal, siapa tadi namanya?”


sambil kembali duduk dan menatap kembali pada layar.


“Oh, itu. Anak HR juga, Mba Susan. Kenapa Bro, naksir? hahaha”


“Susan??”


“Iya, kenapa? udah punya pacar hahaha”


“Eh gak, tanya aja kayak kenal”


Konsentrasinya mulai terpecah belah memikirkan nama dan suara yang pernah dikenalnya.


Meski matanya fokus pada monitor dan menangani permasalahan kala itu tapi hati ia bertanya-tanya tentang siapa wanita bernama Susan itu.


‘Susan, apa benar itu dia’


“Erick!” panggil Mas Dwi yang sedang memperhatikan cara kerja pria berhoodie itu.


“Yes.”


“Kalau kamu bisa tangani masalah gangguan disini, gimana kalau coba sambilan jadi tim IT Support kita disini?”


“Heh? berani gaji berapa mereka, hahaha”


Canda pria berhoodie tadi yang nama panggilan aslinya adalah Dicky.


.


.


Bersambung

__ADS_1


👋👋Hai readers


Author hanya menggambarkan situasi nyata permasalahan yang terjadi di layanan bidang telekomunikasi, namun untuk beberapa sebutan dalam bidang IT tidak diperkuat karena bukan lingkup Author hehehe, harap maklum. makasih🙏


__ADS_2