My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Suasana hati


__ADS_3

Hari ini sangat penuh dalam pikiranku bagaimana akan kuhadapi situasi saat nanti bertemu dengan Dicky setiap hari. Apakah kami bisa tetap berpura-pura dihadapan teman-teman dan pasangan kami masing-masing.


Entah kenapa Dicky tidak terlalu banyak berubah bagiku, hanya nampak dendam dalam setiap sorot matanya kala memandangku, disamping sikap kontrasnya yang selalu memperhatikanku.


Sore ini Brian menyempatkan diri menjemputku ke kantor. Mood nya terlihat berbeda meski ia mencoba tetap hangat. Dalam perjalanan pulang aku mencoba menyemangati dirinya.


"Bri. Sesekali aku ikut kamu kerja, boleh?"


"Haha. Memangnya aku sering menetap diruangan yang sama"


"Tiiidaaak, aku belum pernah berkunjung ke kantor LSM kamu atau manapun ruang kerja mu"


"Ya nanti. kamu juga kan sibuk Dear"


"Sesekali, ehmmm ... Bisa menemani kamu kerja, nanti aku pijitin deh kalau kamu lelah"


"Hahaha. Kamu disana cuma mau pijitin aku begitu?"


"Ya enggak. Apa 'kek yang bisa bantu kamu, personally ... " goda ku sambil menoleh ke arah Brian yang masih fokus mengemudi.


Brian melirik dan tertawa kecil.


"Eh, rencanamu apa sih. Jadi Asisten penggoda? Hahaha"


"Enak aja, tapi gak apa-apa. Kalau kamu butuh minum atau apa, biar aku yang ambilkan. Kalau kamu pusing, nanti aku pijitin kepalamu"


"Kalau aku ... Butuh yang lain?"


"Tergantung, apa?"


"Hahaha, kamu gak akan sanggup" Brian menggelengkan kepala.


'Duh ini orang, suka bikin mikir macam-macam'


"Ehh ... Iya sih, tergantung itu juga apa" ucapku canggung.


"Gaaak, gak apa-apa" Brian tersenyum dan melanjutkan bicara, "weekend ... Ikut aku ya"


"Kemana?"


"Adaaa ... Nanti juga kamu tau"


"Yah ... Begini nih curangnya, cuma ngajak tapi gak bilang mau kemana, aku harus percaya gimana"


"Memang masih belum percaya sama aku?"


"Yaaaa belum dong, kamu kan masih tunangan" Seketika Brian diam tidak menjawab apa-apa. Yang nampak dari sorot matanya seperti sedang melamunkan sesuatu. Akupun melanjutkan pertanyaanku, "kenapa diam?"


"Hm"


"Briii ... " aku meninggikan suara


Brian sontak kaget


"Eh, ya. Apa?"


"Aku manggil kamu loh"


"Ah, ya."


"Kenapa? Saaaay ... Udah deh kalau kamu begini terus aku yang bingung, apa susahnya cerita sama aku"


Brian melirik jam tangannya. Saat ini masih pukul setengah enam sore.


"Temani aku ya"


"Iya kan, dari tadi aku disini"


Brian menepikan kendaraannya di sisi jalan. Dan mengambil ponsel dalam sakunya. Ia membuka map dan mencari petunjuk suatu lokasi.


Entah dia akan membawaku kemana, aku hanya mencoba yakin ia sangat membutuhkan ini.


Perjalanan terasa panjang melewati jalur tol disaat jam pulang kantor, kemacetan kota jakarta cukup membuatku jenuh dalam perjalanan. Tapi Brian nampak tidak terganggu dengan hal itu, terus saja kupandangi ia yang terkurung dalam lamunan.

__ADS_1


Hingga sampai lah kami dilokasi yang dituju, waktu menunjukan pukul setengah delapan malam, aku harap kami tidak berlama-lama disini, karena akan membuatku bertambah masalah lagi.


"Kesini?" tanyaku saat kendaraan kami memasuki pos tiket masuk ke lokasi.


Brian tetap terdiam tanpa jawaban, ia seperti tidak tau yang ia lakukan. Bahkan aku yakin dia tidak pernah mengetahui lokasi ini.


Kendaraan kami melaju pada dua buah jalur besar di dalam lokasi, jauh dari tempat tiket masuk tadi, aku tau aku berada dimana kini, Pantai X yang terdekat di daerah Jakarta.


"Pantai? Bri?" akhirnya resah ku akan sikapnya ku keluarkan juga, "Bri! Hey!"


"Eh, ya"


"Kamu gak jawab aku lho dari tadi"


"Oh ya, maaf"


"Ini kita ... Ke pantai? Kamu pernah kesini?"


"Entah, belum kurasa. Yaaa pastinya, kamu tau aku tidak pernah wisata-wisataan 'kan?"


"Mana aku tau kamu dulu gimana, mungkin Uncle ..."


"Egghh" Brian mendesah kesal memotong kata-kata ku. Sepertinya ia tidak suka aku menyebut nama itu.


Aku terdiam kembali menatap jalan. Dan kendaraan berhenti pada suatu lahan parkir.


Sejenak ia menghela napas, dan menoleh kepadaku, kembali tersenyum.


"Sudah sampai, kita keluar dear" Ia meraih tanganku dan menciumnya.


Sedikit terhenyak keheranan dengan sikapnya yang berubah tiba-tiba. Akupun mengangguk mengiyakan. Kami keluar dari mobil dan ia menyambut kembali tanganku dan digenggamnya sambil berjalan. Menuju lokasi pantai.


"Haha, kamu serius kesini untuk menghirup udara segar?" canda ku.


"Ah, iya. Sedikit bau tak sedap ya, hahaha. Maaf aku tidak tau, ada apa ya ... "


"Itu dari lokasi depan tadi, ada aliran air yang keruh dan tercemari sampah, tapi tidak terlalu sih. Ini sudah jauh berbeda dibanding dulu"


"Tau begitu aku tanya kamu dulu ya, hahaha"


"Iya, maaf. Aku tidak bermaksud mengabaikan kamu, hanya ... Ya sudahlah"


Kami berjalan ke arah hamparan pasir beberapa meter dari lokasi air pantai. Tiba-tiba Brian menghentikan langkah. Menoleh padaku dan merangkul punggungku.


"Bri, ada apa" tanyaku pelan sambil merubah posisiku menghadap tubuhnya. Aku mendongak melihat matanya. Tidak biasa. Ada kesedihan yang ia berusaha tahan didepanku.


"Dear, cukuplah selalu ada untukku. Yakin kan aku selalu bahwa semua pasti bisa kita lewati bersama"


"Tapi apa?? Ada apa?? Kamu tidak mau cerita apa-apa sama aku, setidaknya aku tau alasan sikap kamu sedari tadi. Komunikasi Bri ... Untuk apa kamu pendam sendiri"


Brian menurunkan tangannya dari bahuku. Ia pun tanpa segan langsung duduk diatas hamparan pasir yang kami pijak. Akupun mengikutinya duduk disebelahnya. Ia menggenggam pasir di tangannya dan ia melemparnya hingga bertaburan.


"Ugghh!" Seketika ia tertunduk menekuk kedua lututnya dan menyembunyikan wajah dibalik kedua lengannya.


"Briii ... " aku mengusap-usap punggungnya. Terasa sekali gerak napasnya yang tidak stabil dan berat.


"It's not your fault dear, it's not you ... " bisiknya.


'Ya Tuhan, aku yakin ini sangat berat sekali untukmu, bahkan kau tidak mampu mengungkapkannya padaku'


"Sayang. Kemarilah ... "


Aku berusaha memeluk punggungnya dalam keadaan terduduk disitu. Ia tetap tertunduk menyembunyikan wajahnya.


Untuk seorang Brian yang selalu sabar dan mencoba menahan emosi dalam segala situasi, sepertinya kali ini ia gagal menampungnya.


Ia mengangkat wajahnya dan menatap ke depan.


"Aku nggak ngerti kenapa harus bergantung dengan orang yang salah dalam hidupku, hingga kini. Tapi bukan kamu ... bukan kamu"


"Siapa?" aku mengusap rambutnya sambil mencoba memandang wajahnya disampingku.


Brian terdiam lama tanpa jawaban.

__ADS_1


"Tidak saat ini, kamu cukup ada untukku"


"Aku memaksa!" tegasku


Brian menoleh dan tersenyum kecil padaku.


Ia menggeleng pelan sambil menatapku.


"Sebaiknya aku sudah cukup dewasa mengamati ini semua dari awal, untuk itu aku tidak akan membebanimu"


"Kamu gak pernah jadi bebanku, justru aku yang selalu jadi beban buatmu, dan kalau kita gak pernah berbagi, gimana berumah tangga nanti ..., Eh"


"Hmm? kamu sudah siap untuk itu?"


"Eh, bukan. Maksudku ... Kalau kita memang berjodoh hingga sampai menikah apa kamu akan terus menutupi masalahmu sendiri"


"Hahaha, kenapa bukan?" Ia menatapku dalam, "aku sudah siap sejak awal"


Seketika mataku yang kering karena angin malam itu, terasa hangat dan dialiri airmata.


"Bri ... "


"Kenapa? Kok nangis? Terharu? Hahaha"


"Gak ... Bukan itu" jawabku dengan suara sumbang, "aku gak tau kalau kamu yakin denganku"


"Aku pikir ... Selama ini kamu yang ragu, aku sadar betul bagaimana aku, untuk apa aku kembali kesini dan mencari kamu"


"Maksudnya?"


"Hahaha, jangan marah. Sebenarnya ... Aku memang tau kamu bekerja disana, dan semua terancang sempurna hingga kita bisa bertemu lagi"


"Dasar, bohong kamu" aku tertawa kecil dan mendorong lengannya pelan.


"Betul. Adam itu stalker sejati. Info apa yang kurang dia dapat, mmm ... Tapi, kali ini aku yang akan mencari tau, siapa yang telah mengganggumu itu"


DEG


'Aduh, Bri ... Kumohon itu tidak perlu, aku akan menangani pria ini sendiri'


Aku terdiam canggung


"Ada apa sih? Memangnya kamu nyaman terganggu dengan orang itu, Leo bilang ... Dia bersikap kasar padamu"


"Apa Leo menceritakan lebih? Semoga tidak ya, itu ... Itu bukan apa-apa, aku yang buat salah ke orang itu. Itu saja"


"Salah apa? Tetap tidak pantas kalau menyentuhmu dengan sikap seperti itu"


"Eh ... Ya nanti, aku belum mau cerita macam-macam, itu hanya salah paham"


"Bukannya dia juga bilang 'mantan'?"


'Leo benar-benar menceritakan detail!!' batinku resah.


"Eh, iya. Mantan ... Eh, bukan mantan apa-apa. Jaman sekolah dulu"


Brian tidak mau bertanya lagi, meski sepertinya ia ragu akan jawabanku yang ambigu.


Ia terdiam lagi, sesaat kemudian ia menggenggam tanganku.


"Sue ... Apakah kamu benar-benar siap menikah denganku?"


Aku terhenyak.


'Bri ... '


.


.


Bersambung


Maap yaaa kita kasih yang adem2 dulu, Thor lg kasih jeda menuju konflik, next Up datang lagi yaaaa

__ADS_1


Brian mau ngajak Susan weekend kemana ya? 🤔🤭


__ADS_2