My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Wedding Party 1


__ADS_3

Dini hari itu menjadi saksi dedikasi Susan pada suaminya pertama kali, ruangan yang senyap kala itu benar-benar hanya milik mereka berdua.


Pagi ini keduanya masih terlelap di tempat tidur, lengan Brian masih melingkar pada tubuh Susan. Pria itu enggan untuk bangkit meski ia tahu beberapa kali alarm berbunyi, tapi sengaja tak ia matikan. Sempat beberapa kali sebelum keduanya berpindah dari ruang baca menuju kamar, Brian tidak henti menggoda Susan dengan memancing pada area-area sensitifnya, belum sempat terjadi, bahkan tangannya berulang kali ditepis agar tidak mencoba lagi.


Susan tidak ingin Brian menyentuhnya, kecepatan tangannya selalu saja menangkap gerak-gerik jemari Brian yang mencoba menjamah. Ada perasaan menyesal bercampur bahagia, sulit sekali dia ungkapkan karena merasa gagal menjadi suami yang memberikan kebahagiaan istri di malam pengantin mereka.


"Wife ..., huumm ... sudah jam sepuluh pagi," bisik Brian halus ke telinga Susan.


"Hah! Astagfirullah. Bri, subuh lewat kan tuh!" Teriak Susan yang panik dan bangun terduduk.


"Hey, jangan cepat-cepat. Nanti kepalamu sakit bangkit terburu-buru begitu, hahaha." Brian menyungging senyum, tapi nampak ada yang mengganjal dalam hati dari sorot matanya kini.


"Fiuuuhhh ... ya ampun," Susan menghela napas kesal karena terlupa jadwal pagi itu.


Brian memeluk erat punggung Susan dari belakang, menciumi rambut wanita itu. "Hmm ... diam aja dulu, aku masih mau malas-malasan disini," ucap Brian semakin memeluknya erat.


"Ya, tapi kan, perjalanan gak sesingkat itu, Bri. Belum lagi penata rias menunggu di sana. Wedding planner kita pasti panik kalau siang kita belum sampai," ucap Susan panik.


"Bingung banget, kita yang punya acara, suka-suka dong." Brian menyahut tak peduli.


"Kamu tuh, biasanya paling ribet masalah janji. Kenapa tau-tau begini?" Susan mengangkat alisnya keheranan, sedikit memutar badan, menghadap, dan menatap balik mata suaminya.


"Berapa lama sih pakai baju, dandan, mau apa cantik-cantik di sana? Biar Dicky liat? Hahaha," Goda Brian sambil mencubit pipi Susan.


"Apaan sih ...," gumam Susan dengan nada merajuk. "Dia gak akan datang Bri, tenang aja. Lagipula aku buat apa coba keliatan bagus kalau bukan buat kamu bangga, itu juga kalau kamu bangga. Semua relasimu hadir, juga orang-orang penting di sekitar kita. Jadi gimanapun juga aku ini Nona William, aku harus menjaga nama baikmu ...," Susan kembali memunggungi Brian, dan mengeratkan tangan Brian yang memeluk pinggangnya.


"Ya ... gak perlu dandan macam artis mau konser. Aneh sih perempuan, repot," protesnya.


"Dah deh, laki-laki cukup liat hasil. Gak perlu tau prosesnya." Susan memutar matanya.


"Emang kenapa sih kalau polos aja?" Bisik Brian.


"Polos apaan?"


"Polos, kan aku sukanya polos. Jangan pura-pura gak paham deh, semalam aja kamu pinter. Hahaha," goda Brian.


"Ngaco!" Balas Susan ketus.

__ADS_1


"Hahaha, ya ... kamu gak usah kemana-mana tunggu aja aku di sini. Tapi syaratnya ...."


"Sebentar ..., apa nih?" Ucap Susan menaruh curiga maksud perkataan Brian yang baru saja terputus.


"Hahaha, ckk! You know ...," jawab Brian dengan malu mengungkap maksudnya.


Susan kembali menoleh memandang Brian, menatap aneh dengan maksud suaminya. Seketika muncul seringai dari bibir Brian. Tidak menyeramkan, bahkan terkesan menyerang.


"Ah ... kacau!" Susan memutar mata, mendapati pikiran bahwa Brian bermaksud menahan dirinya lebih lama di kamar itu.


'Bisa lama urusannya ini, duh' batin Susan


"Pengantin baru kan bebas ...," bisik Brian


Berjam-jam mereka menikmati kehangatan di dalam kamar. Tidak. Kenyataannya sepasang pengantin itu hanya asik bercanda menghabiskan waktu—yang seharusnya sudah terjadwal. Mereka tidak lelah bermain-main dan saling menggoda, meluangkan kebersamaan di waktu yang semakin mendesak.


Saat tersadar dan mengintip waktu semakin siang, mereka pun bergegas menyiapkan diri berangkat menuju lokasi pesta.


Adam dan Leo terpaksa menunggu sekian waktu, tidak berani mengganggu pasangan yang baru sah itu. Kedua asisten itu duduk malas di kursi ruang keluarga, di antara kesibukkan para tim Wedding Organizer yang berulang kali menghubungi klien mereka yang tak kunjung tiba di lokasi.


Beberapa tatapan mata tertuju pada keduanya kini. Adam yang tidak sabar langsung saja mengingatkan Brian bahkan sebelum langkah mereka sampai di ujung tangga.


"Bos, kita sudah di tunggu." Adam sigap berdiri merapikan kemejanya kembali dengan sedikit kasar. Menahan kesal menjadi penengah antara bos dan klien mereka.


"Udah lama, ya, Dam?" Tanya Susan dengan senyum paksa melihat ekspresi Adam yang tampak serius.


"Menurut Nona?" Balas Adam singkat.


"Ah, acara kan nanti malam. Aku rasa kita bisa sampai tepat waktu juga kok," timpal Brian.


"Pihak keluarga Tuan sudah saya alihkan dengan driver lain. Driver Tuan udah menunggu, saya mengawal dari belakang sama Leo." Adam ternyata masih trauma akibat berbuat kesalahan, dia memilih mengawal mobil pengantin ketimbang menjadi driver Brian atau pihak keluarga Brian.


"Ya udah, apa yang kalian tunggu?" Brian menjawab tenang sambil memandang kedua asistennya bereaksi.


Adam melengos berjalan mendahului Brian dan Susan yang sedari tadi masih saling mengalungkan pergelangan tangan. Dia bergumam sambil memerintahkan salah seorang asisten rumah tangga membawakan beberapa barang untuk di taruh ke mobil. "Ckk! Dari tadi ..., parah!" gumam Adam sambil berdecak kesal. Raut wajahnya sangat tidak bersahabat.


Brian menyeletuk dari belakang, kepada Adam yang terlihat buru-buru. "Makanya nikah, jadi kamu tau, Dam. Hahaha."

__ADS_1


Adam, disusul Leo, tidak menyahut apapun.


Perjalanan cukup menghabiskan waktu disertai kemacetan. Brian akhirnya sadar, dan resah saat sang mama mulai menghubungi berulang kali. Begitupula Susan, dia mulai gelisah saat melihat Brian yang terpaksa men-senyapkan ponselnya kini. Kebiasaan panik istrinya itu justru muncul, dan malah membuat moodnya menurun karena mengoceh selama perjalanan.


Jam empat sore, ketiga mobil itu pun sampai. Yaitu dua mobil yang beriringan menjaga mobil pasangan pengantin berada di tengah-tengah selama perjalanan. Adam di mobil depan, sedangkan Leo membawa mobil belakang. Semakin ketat penjagaan akibat musibah kemarin. Dan kini mereka akan menyeberangi laut dengan kapal cepat khusus VIP menuju pulau pribadi yang telah di sewa untuk acara pesta.


"Tau begitu pakai transportasi lain, lebih cepat jadinya. Hahaha." Brian tertawa canggung, mengusap-usap kepalanya sendiri mendapati dirinya akan menjadi bulan-bulanan pihak keluarga.


"Pakai apa! Pesawat? Jangan gila deh, aku udah bilang berulang kali kamu—." Kata-katanya terputus. Bibir Susan terbungkam singkat, saat Brian menyambar mengecup untuk membuatnya diam.


"Ssst! Udah cukup ngomelnya selama perjalanan. Atau aku gak turuti permintaan kamu untuk gak mengganggumu nanti malam," bisik Brian.


"Kalau memarmu udah hilang, baru bicara urusan kamar!" Susan menjawab ketus dan berjalan mendahului Brian yang tertawa kecil. Bagaimana dia hanya bisa menghabiskan waktu semalaman bersama istri, namun tidak di izinkan menyentuh sama sekali, malahan, dia yang dilayani. Malam pengantin yang aneh.


Padahal bisa saja mereka beralih menggunakan helikopter, milik seorang relasi yang sempat menawarkan bebas waktu selama bulan madu mereka di sana. Tapi ditolak oleh Brian karena dia tidak ingin di fasilitasi secara berlebihan.


Kini mereka menaiki kapal cepat itu menuju pulau. Angin laut sore hari ini untungnya masih bersahabat untuk perjalanan mereka. Dan di sana, tampak setting dari sebuah dermaga kecil terlihat indah saat kapal semakin mendekat ke lokasi.


Gaya minimalis moderen serba putih, dengan untaian tanaman rambat melingkari pagar dermaga bercat putih, yang disematkan helaian pita-pita putih yang menjuntai, dan melambai halus kala tertiup angin sore hari itu.


Jalan setapak jembatan dermaga menuju lokasi Villa sudah di dekorasi dengan hamparan karpet berwarna biru muda—warna favorit Brian. Paduan kedua warna favorit sang pengantin—putih dan biru muda, menghiasi segala titik tempat dengan cantik di sekitarnya.


Susan melangkah dari kapal dan memijak pada jembatan kayu di ujung dermaga, tangannya segera di sambut dan di tuntun oleh suaminya yang tampan serta berwibawa.


Rasa takjub dan bahagia merasuki pasangan pengantin baru itu, kala memandang keindahan suasana pantai berpasir putih, dan jernihnya biru air laut lepas yang masih jarang terjamah manusia, sangat terawat, dan asri. Angin laut yang berhembus seperti mengalunkan gerakan dedaunan pada pohon kelapa di sekitar pantai. Di tempat yang hanya di sewa oleh beberapa golongan tertentu, sebuah pulau kecil yang terdekat dari Jakarta.


Mereka mulai berjalan pelan di jembatan kayu itu, segala keindahan itu melarutkan perasaan yang dalam hingga membuat Susan terkagum-kagum pada sosok suaminya.


'Pernikahan yang kuimpikan benar-benar terpampang di depan mata,' batin Susan.


Matanya melirik ke arah genggaman tangan Brian yang sedikit pun tak lepas sedari tadi, dia lalu menaikan pandangan ke wajah suaminya hingga nyaris tak berkedip sambil mengembangkan senyuman.


'Terima kasih, sayang. Telah memilihku menjadi pendampingmu, semoga kamu yang terakhir dalam hidupku ... ya, hanya kamu, Brian Adney.' Batinnya terus mengucap harapan dan pujian.


Brian tersadar akan pandangan Susan yang tak lepas menatapnya sedari tadi, mata abu-abunya membalas tatapan itu lalu dia tersenyum hangat.


"I know what you're thinking, it's all for you, Dear. Gak perlu kamu minta, aku akan mendampingi kamu selamanya."

__ADS_1


__ADS_2