
..."Kamu yakin dia tidak berbuat lebih dari itu?"...
Pertanyaan terakhir yang mampu aku jawab dengan sekadar anggukan, tak sanggup mengungkap lebih.
Antara kami berdua sangat paham soal bahasa tubuh dalam menghadapi lawan bicara, seperti interogasi subyektif yang tersembunyi. Kesulitan dan kesalahan besar untuk melakukan kepalsuan ucapan yang berbanding terbalik dengan apa yang dilihat. Kepekaan mendeteksi rinci setiap pergerakan visual, dan ketajaman analisa auditorinya.
Hingga aku harus membuat ekspresiku lebih nyata dibalik sorot mata, mimik, jika perlu ... syaraf wajah yang dibuat-buat menandakan segala penjelasanku adalah sesuai fakta, dengan probabilitas yang minim keberhasilannya.
Sulit menipu diri ketika dihadapanku adalah kekasih dengan satu bidang Ilmu, praktisi kejiwaan yang tentunya jauh lebih terlatih daripada aku.
Kunyatakan tidak mungkin. Yang kuharapkan adalah Brian memaklumi pengakuanku yang tidak totalitas, atau kelengahannya dalam hitungan detik, karena dia hanya manusia ... bahkan bukan cenayang.
Brian menunduk, terlihat menggigit-gigit bawah bibirnya sendiri. Bulat abu-abu matanya terlihat bergerak-gerak dalam fokus yang tidak menentu. Mengisyaratkan kerja otak yang berpikir cepat dalam segala sudut pandangnya dari ceritaku.
Hingga ia kembali menatap dengan kosong dan dingin, bukan karena kegagalan penilaiannya kali ini, tapi antara sikap yang pasrah atau tak perduli. Sekian detik tersirat kekecewaan di pias wajah tampannya, yang mendorong tubuhnya untuk bangkit dari duduk dan segera menjauh dari posisiku.
POV Author
"Bri ... "
Brian tetap berjalan berlalu mengabaikan panggilan Susan, keluar menuju garasi.
Susan yang mencurigai gerak-gerik Brian segera mengikutinya dari belakang. Brian yang kini berada di dalam mobilnya seperti mengambil sesuatu dari dalam dashboard mobil. Yaitu sebuah tabung kecil berisi tablet-tablet berwarna putih, membukanya kemudian cepat menelannya satu butir.
Susan berjalan pelan memperhatikan Brian dari arah depan mobil, sigap menghampiri dan mengetuk kaca mobil bagian samping.
"Bri ... ! jangan!" cegah Susan melihat Brian yang kembali meminum obat yang sekian lama sudah tidak dikonsumsinya lagi.
'Ternyata dia masih mengkonsumsi obat penenang'
Batin Susan, sudut bibirnya turun menahan kesedihan lagi melihat apa yang dilakukan Brian.
Brian acuh mendengar panggilan Susan, karena ia sibuk meremas-remas tangannya sendiri yang mulai berkeringat serta wajahnya yang terlihat panik dengan napas yang cepat. Saat Susan berusaha membuka pintu mobil, Brian sigap menahan dan membuka jendelanya sedikit diseluruh bagian mobil. Susan melepaskan tangannya dari pintu mobil itu.
Saat terpikir Brian akan membuka jendela untuk bicara, Susan mencoba maju kembali, namun tiba-tiba ...
KLIK
Semua pintu ditutup otomatis, Brian menurunkan sandaran kursi dan memejamkan matanya.
Susan mencoba berbicara dari sela-sela jendela yang terbuka sedikit.
"Bri ... kamu gak perlu obat itu lagi ... " bujuk Susan dengan suara bergetar "kamu gak perlu ... aku janji akan membantu kamu ... aku pelajari kembali bagaimana melakukan proses terapi untuk kecemasan mu ... aku ... "
"Cukup jauhi aku saat ini, hhh ... hhh ... " Brian memotong kata-kata Susan dalam napas yang terdengar cepat "jangan membuatku bertindak jauh lebih kasar! menjauh! ... tinggalkan aku sendiri"
__ADS_1
Susan terdiam berjalan mundur dua langkah menjauhi mobil, memperhatikan kondisi Brian di dalam mobil tadi. Menghentakan tubuh pada dinding garasi lalu merosot terduduk dilantai memperhatikan mobil dihadapannya itu sambil menahan suara tangisnya.
Tidak berapa lama kemudian, kendaraan masuk dan terparkir disebelah mobil. Sigap Leo berlari keluar dari dalam mobil itu menghampiri Susan dan menoleh ke arah dalam mobil Brian.
"Nona, ada apa?! ayo bangun ..., ini kotor" ucap Leo berusaha menarik tangan Susan untuk bangun, namun ditepis kembali.
"Biarkan saya disini Leo, saya mau menemani Brian ... " menepis tangan Leo.
Adam yang segera datang menghampiri, mendekat ke mobil Brian dan mengintip kecil pada sela-sela jendela.
Kemudian mendekat kearah Leo yang sedang berdiri dihadapan Susan.
"Biarkan dulu Tuan beristirahat, untuk apa anda disini? bangunlah ... saya perlu bicara dengan Nona!" tegas Adam pelan.
'Berbuat apalagi si Susan ini!' batin Adam
"Gak! kalian saja yang kedalam, saya mau disini!" tolak Susan yang masih bersikap tantrum.
"Jangan seperti anak kecil!" bentak Adam pelan.
Adam melirik ke arah Leo, memberi kode untuk memaksa Susan bangun dari duduknya.
"Ayo Nona, saya mencoba untuk tetap sopan ... ikutlah ke dalam ..., Tuan tidak apa-apa ... tidak perlu khawatir"
bujuk Leo dengan halus.
"Itulah sebabnya saya ingin bicara, baiknya menurut!" ucap Adam mulai terpancing emosi.
'Ingin kuseret rasanya perempuan ini, selalu saja membuat masalah dengan Tuanku' batin Adam.
Leo yang kali ini malah bersikap lebih tenang, kembali membujuk dan menuntun Susan kembali berdiri.
"Tolong, Nona, akan lebih cepat selesai jika anda sedikit tenang, ini hanya akan mengganggu Tuan" bujuk Leo.
Dengan bujukan Leo, akhirnya Susan mau berdiri dan melihat kembali Brian yang sedang merebahkan diri dalam mobil.
Adam mendorong pelan punggung Susan agar segera berjalan menjauh dari tempat itu. Berjalan pelan dan berat hati Susan menuruti permintaan Adam untuk kembali ke dalam Villa. Sedangkan Leo kembali ke mobilnya mengambil beberapa barang belanjaan. Saat Leo berjalan melewati mobil Brian, Brian sigap bangun dari rebahnya dan memanggil Leo.
"Leo!"
"Tuan? anda tidak tidur" mendekat ke sela-sela kaca melongok ke dalam.
"Jaga sikap kalian ..., saya disini dulu" tegas Brian pelan.
"Apa tidak sebaiknya di dalam kamar saja Tuan?"
Brian menggeleng pelan.
__ADS_1
"Itu saja!" pinta Brian.
Leo mengangguk kecil dan kembali berjalan dan masuk ke dalam Villa.
Susan duduk berhadapan dengan Adam di area ruang utama tadi. Leo yang baru saja masuk cukup terkejut melihat serpihan Vas yang berserak di lantai. Dan memahami bahwa Brian pasti telah meluapkan kemarahan besarnya disamping sikap Brian yang selama ini terbilang sangat sabar dan mampu mengendalikan diri dalam kondisi tertekannya selama ini.
"Perjanjian kita sudah jelas 'kan? kenapa dilanggar!" bentak Adam.
"Saya mencoba jujur Adam, tidak ada yang saya langgar!"
"Kenapa anda ungkapkan semua? saya sudah coba menutupi banyak hal tentang anda dan Pria itu!"
"Adam! kamu sedang menuduh saya selingkuh?! enak ya membuat pernyataan tentang saya, bahkan saya mencoba menangani itu semua untuk menjaga perasaan Brian"
"Pindah saja dari tempat itu, buat apa bertahan jika itu memberatkan hidup anda, atau memang ... Nona sendiri senang Pria itu ada disana?"
"Saya gak peduli tentang keberadaanya, saya cuma mau tetap bekerja disana, lagipula ... kamu pikir mudah ya menghadapi Brian? dan mudah menceritakan sesuatu yang dimanipulasi? gerak-gerik saya terbaca olehnya, kamu paham sekali Brian 'kan?"
"Saya tidak menyetujui tindakan Nona kali ini, seharusnya anda bisa menjaga Tuan, nyatanya tidak"
"Saya selalu menjaga dia, apa yang nggak!" jawab Susan dengan lantang.
"Menjaga dari sakitnya ..., saya dan Leo selalu berada disamping Tuan dalam keadaan genting sekalipun. Tuan sangat bermurah hati dengan kami, bukan perihal materi, tapi loyalitas yang kami jaga. Nona tau betul bagaimana Tuan berjuang melawan diagnosa yang menghakiminya sekian tahun lalu. Seharusnya anda hargai keberhasilannya saat ini, jangan berulah!"
"Adam, saya akan tetap mendampingi Brian bagaimanapun kondisinya, tolong abaikan Dicky"
"Membebaskannya lagi?" Adam menyeringai sinis "perilaku Nona saya curigai karena melindungi orang itu terus menerus, apa anda masih menyimpan hati?"
"Adam! bagaimanapun dia sahabat saya! saya ingin semuanya kembali seperti semula tanpa ada masalah lagi. Dia dengan hidupnya begitupun saya!"
"Selalu diganggu tapi tidak terganggu, bagaimana anda ini, haha " ejek Adam sambil tertawa kecil.
"Kita lihat saja nanti Adam!" Susan bangkit dari duduk meninggalkan Adam yang berada di ruang utama. Susan keluar ke arah serambi samping yang terdapat kursi lain.
Terus melamun dalam perasaan gelisah memikirkan kondisi Brian, tanpa bisa mendekati posisi kekasihnha saat ini. Benarlah ini hari libur yang tidak menyenangkan.
Tanpa terasa hari sudah menginjak pukul empat sore, dan cuaca mulai dingin antara kabut yang bercampur gerimis kecil. Susan tertidur lelap di kursi tadi sambil memeluk jas casual Brian yang ditanggalkannya dikursi depan.
Saat itu tiba-tiba Brian datang dan perlahan mengambil jasnya yang mulai terjatuh sebagian, tanpa disadari oleh Susan yang sedang terlelap.
Kemudian Brian menyelimuti Susan dengan jas yang dipegangnya, Brian mendekatkan wajahnya kini ke arah kening kekasihnya, dan menciumnya pelan agar tidak membangunkan.
'Kau memang tidak salah, tapi menutupi keberadaan Dicky dan perilakunya bukan sesuatu yang bisa kumaafkan. Suatu saat jika memang aku tidak bisa merubah kondisi ini, aku hanya punya satu pilihan ... meninggalkanmu selamanya ... ' batin Brian.
.
.
__ADS_1
Bersambung