My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Tak terkendali


__ADS_3

...**** Maaf, pembaca bijak, meski Thor mencoba menulis seperti, ini diharapkan bisa diambil inti ceritanya, bukan yang lain-lain, 18+ diwajibkan, sisanya terserah anda😁****...


...🌹...


Brian menggenggam tanganku sambil tersenyum penuh arti dan menuntunku menuju lantai atas meski ia sesekali mengutak-utik ponselnya sambil berjalan menaiki tangga itu. Aku harus mempersiapkan diri atas apa yang akan terjadi selanjutnya.


Sayangnya pikiranku sudah buntu untuk berpikir lebih lanjut, hanya dua kata yang pantas mendefinisikan saat-saat seperti ini, Cinta dan Hawa nafsu.


Saat menjejak persis di lantai atas Brian menunjukan ponselnya padaku.


"Hm, Beres." dia tersenyum menyeringai dengan wajah merona.


Antara lelah dan seakan bermimpi aku tidak mampu mengucap apa-apa lagi, cara nya saat tadi memang membuatku tenggelam dalam fantasi. Lupa diri, dia hebat ... lebih berani dari biasanya.


Aku masih menatap kekasihku saat ini, bergeming. Ia memasukan kembali ponselnya dalam saku celana, dan menarik tubuhku lebih dekat hingga tanpa jarak membentur tubuh kekasihku yang bertubuh tinggi jauh daripadaku ini.


"Nyamuk-nyamuk ini sudah kubereskan, sampai mana kita tadi ..."


Ia sigap mengangkat tubuhku, membopongku di diatas kedua tangannya, otomatis membuatku menggelayutkan tangan melingkar pada tengkuk lehernya.


Hipnotis ... aku terhipnotis ...


Ia kembali mendaratkan ciuman lembut pada bibirku, mengecup berulang-ulang pada dahi dan pipiku sembari berjalan mendekati salah satu kamar.


Aku mengucapkan kata dengan suara sedikit parau, dan tercekat karena napasku yang tidak beraturan saat ini.


"Ki—kita ..."


"Kamu mengerti 'kan? ..." ucapnya halus


Ia menatapku penuh harap tanda mengiyakan sambil menggigit bawah bibirnya. Aku hanya menatap kosong, tidak memberikan tanda apapun.


Brian membuka pintu kamar dengan sebelah tangannya, aku memang tahu tujuannya kali ini mengarah pada hal yang selama ini tertahan oleh kami berdua, sebuah tanda menghormati keputusan yang kami pertahankan atas segala norma. Yang kami pelajari dan yakini diluar sisi hasrat manusiawi.


Ia mendorong pintu kamar hingga terbuka lebar dengan ujung kakinya, membawaku kedalam perlahan dan merebahkanku pada tempat tidur beralaskan selimut lembut berwarna biru muda dan mengungkung tubuhku diantara kedua tangannya.


"Aku hargai jika kamu mau kita hentikan saat ini juga, tapi kalau aku harus memohon ... akan kulakukan. jangan berpikir bahwa aku ingin memanfaatkanmu di situasi ini ..., jujur ... aku tidak sanggup membendung hal ini lagi ..."


Aku masih terdiam, bukan membeku. Hanya tidak mampu menjawab hal yang bertolak belakang dengan batas kesadaran norma ku. Harus apa aku ini ... apa aku siap menatap wajah kecewa kekasihku lagi ...


"Aku mengerti maksudmu ... tapi ..."


Dia menunggu jawabanku yang selalu dalam keraguan. Ia terdiam saat kami saling bertatapan dalam kesunyian. Sorot matanya seakan menunggu jawaban dariku dan seakan nyaris hilang kesabaran.


"Kenapa kamu selalu begini? aku hanya butuh jawaban." tanyanya dengan nada dingin.


"Bukankah kita ... sudah janji, menghindari situasi ini ..."


Brian menghela napas dalam.


"Ah, hal itu lagi ... mohon sekali saja kita lupakan, aku hanya ingin kamu bisa memahami aku selama ini .., ada hal yang bisa kupendam demi menghargai keinginanmu, tapi apa kamu menghargaiku juga? aku tunanganmu ... apa lagi? takut? atau memang sebaliknya kamu tidak tulus selama ini."

__ADS_1


"Aku tulus, Bri ..."


"Aku hanya ingin tahu, kamu ... mau atau tidak!" bisiknya tegas.


"A—aku ..."


"Mohon ... jawab dengan jelas, aku tidak bicara etika, janji atau apapun ..."


Aku terdiam lagi karena merasa dicecar dengan pertanyaan yang sebenarnya kita sama-sama tahu jawaban dari itu semua.


"ANSWER ME!" bentaknya.


DEG


Aku terhenyak mendapati sikapnya kali ini.


'Apa?! Brian berani membentakku dalam situasi seperti ini!!'


"Aku hanya butuh kejelasan, bukan jawaban ambigu, buktikan ketidakraguanmu atas hubungan kita sekarang, aku tidak suka melihat sikap ragu-ragumu seperti saat aku melamarmu tadi!" jelasnya dengan tegas.


Brian ternyata menyimpan kekesalan atas sikapku tadi.


"Maafkan aku sikapku ... aku hanya terkejut dengan kejutan lamaran tadi ..." ucapku pelan dengan rasa ketakutan.


Mataku terasa panas dan mulai mengeluarkan airmata yang tertahan. Brian seketika membuang napas kesal, wajahnya seakan menunjukan penyesalan, tapi tidak terima atas jawabanku.


"Sudahlah ... aku mulai paham ... aku tidak ingin kamu terpaksa, aku ... hanya meragukan hatimu selama ini ..."


"Bri ..." aku mendongak menatapnya saat ia membalikan badan.


"Kita sudahi pembicaraan ini, dear. Mengertilah ..." Brian mengucap malas.


Aku menarik lengannya untuk kembali duduk. Brian menurutiku dan duduk di sisi tempat tidur.


"Jika ini hal yang bisa meyakinkanmu tentang perasaanku ... akan kulakukan ..."


"Aku egois, sudahlah ..." jawabnya pelan dengan nada kecewa.


"Dengar Bri ..." kedua tanganku meraih wajahnya yanh terlihat putus asa. "aku menginginkannya juga ..."


Ia meraih sebelah tanganku di wajahnya .dan mengusapnya halus.


"Tidak terpaksa ...?"


Aku menggeleng pelan, berusaha tersenyum. Ia mengembangkan senyum dan mencium dahiku.


"Tidak perlu takut, aku selalu berusaha setia sama kamu ... karena itulah aku cuma menginginkan kamu ..." bisiknya.


Ia perlahan mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciumannya secara perlahan di bibirku. Ia berusaha membuatku lebih nyaman ketimbang di awal tadi yang terkesan memburu dengan hawa nafsu.


Aku mencoba melegakan perasaan dan membiarkan ini berlangsung dengan tubuhnya yang mendominasiku saat ini, tanpa keraguan akupun mengikuti setiap alur yang dibuatnya sempurna menuju aktifitas yang tidak dihalalkan ini.

__ADS_1


Pikiranku bercampur antara ketakutan dan keinginan yang begitu dalam. Bagaimana tidak, trauma yang kurasakan lima tahun lalu masih saja menghantui, bedanya, aku harus menghilangkannya karena ini keinginan dan keputusan kami bersama.


Setiap jengkal dari wajah dan leherku tidak luput dari sentuhan halus bibirnya. Bukan karena ahli, Ia hanya ingin membawaku perlahan dalam kenyamanan.


Satu persatu helai yang melekat pada kami berhasil ia tanggalkan. Usai beberapa saat sebelumnya ia menunjukan kebolehannya menjelajahi keseluruhan raga ini.


"Nona ku ... aku akan menepati janjiku untuk melayanimu ..."


(Thor be like : OK, lanjut!)


Dan saat ini tepatnya pukul 2 lewat dini hari, penyatuan itupun terjadi. Tidak ada lagi gangguan atau apapun yang mempengaruhi kegagalan situasi ini. Kami berdua terlanjur lupa diri, karena pada akhirnya yang Brian lakukan diawal tidak sehangat dan selembut yang kukira.


Kecanggungannya masih terasa, meski terlalu bersemangat, aku anggap ini pertama untuknya. bahkan ketika rasa sakit yang terasa hebat bagiku dan tidak berani kutunjukan hampir tidak diindahkannya, kenapa kekasihku ini, apa dia lupa bagaimana aku? bukan tentang dirinya sendiri?


"Bri ... please ... slow down ..." sempat kuminta ia untuk sedikit menahan ritme geraknya yang berlebihan.


"... yes? what ...?" ucapnya halus tanpa menghentikan diri.


'Dia benar-benar lupa diri ...' batinku.


Percuma saja buatku mengingatkannya, dengan pasrah kutahan ini semua, salahku juga mengiyakan.


Aku sesekali berusaha menahan dan sedikit mendorong tubuhnya agar ia sadar ketidaksanggupanku. Hingga tanpa sadar aku menggigit tanganku sendiri untuk menutupi yang kurasakan ini, tidak nyaman, terlalu terburu-buru dan berlebihan.


Ini memang yang kedua bagiku, tapi cukup berbeda dari yang terdahulu meski kali ini tanpa paksaan. Tapi benar seperti yang ia katakan tadi, mungkin saja hal ini sudah lelah ia bendung begitu lama, tanpa tahu bagaimana rasanya di situasi ini.


Seakan waktu yang telah diatur, kami melepas lelah sesaat berada di titik pencapaian aktifitas itu. Selama hampir dua jam semua itu seakan berlangsung cepat, bagi kami yang begitu larut dalam suasana intim.


Ia merebah disampingku kini, meraih selimut tebal yang sempat terjatuh ke permadani di sisi tempat tidur, untuk menutupi keadaan kami berdua yang nampak seperti bayi yang baru lahir dengan tubuh polos, bedanya kami dua orang dewasa yang penuh dengan dosa.


Sejenak melepas lelah ia merengkuh tubuhku yang masih tidak berdaya, mencium dahiku seraya menyisirkan rambut ku yang tak beraturan dengan sela-sela jarinya.


"Are you okay? ..."


(Thor be like : Menurut lo?)


Aku hanya memejamkan mataku dengan kuat dalam benam pelukannya, masih menutupi rasa sakit yang tersisa.


'Bagaimana aku harus ke kantor hari ini, apa aku sanggup ..., eh, BAGAIMANA AKU PULANG NANTI?!'


.


.


Bersambung


(Nah kan, bingung kan ...)


Maap suka nyelip2, Thor berusaha membuat ini agar tidak terkesan vulgar bagi pembaca, yg ditujukan adalah menggambarkan situasi yang tiba-tiba tidak sesuai dengan ekspektasi. Ya entahlah kalau udah nikah nanti, banyak2 belajar ya Brian🤭.


Susan di Test Drive abesss ...

__ADS_1


__ADS_2