My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Pembohong cerdas


__ADS_3

Mungkin saat itu keempat Pria tadi bisa saja menghabisi Eli dalam satu waktu, merasa yakin segala yang diucapkan Pria yang selama ini dianggap lurus-lurus saja jalan hidupnya itu tidak pernah melakukan kelicikan sekalipun untuk bertahan.


Eli, hanya mampu menahan diri dari kemungkinan kekerasan fisik untuknya sesaat setelah apa yang ia ucapkan tadi, tanpa perlu mendapat konfirmasi Susan mengenai sejauh mana hubungan mereka berdua tapi tetap saja perkataan Eli memicu perang level tinggi, ada sebab ada akibat.


BUKKK


Satu pukulan yang tidak disangka-sangka meluncur tepat di bagian rahang Eli.


“Sudah jadi Pria macam apa kau ini! apa kau lupa bagaimana seharusnya kita menghargai milik orang lain!”


Eli terhenyak, karena baru kali ini Kakaknya sendiri yang mengadilinya.


“Menghargai milik orang lain?? tanyakan pada dia, kau ajarkan dia baik-baik!! bukan padaku! seharusnya memang Susan tidak pernah jadi miliknya, bahkan hingga saat ini... hatinya tidak pernah jadi milikmu, ya kan Dicky?” sindir Eli.


“You Son of a B*tc* !!” Dicky geram melangkah cepat, mencoba melayangkan pukulan lagi namun tercegah langkahnya oleh Kak Zac.


“Ok mate! that’s enough! sebaiknya kalian segera kembali dan selesaikan masalah ini dirumah kalian, tidak baik jika kita tetap berada disini” Brian mencoba melerai, menarik bahu Eli untuk mundur ke belakang untuk menghindari kembali serangan dadakan dari salah satu Pria itu, Lagi.


“Then what do you think you’re doing here?” tanya Eli cepat, menoleh ke arah Brian, bertanya kembali untuk apa Brian berada disitu, sedangkan ia bukan orang yang terlibat langsung dengan masalah ini.


Pria bertubuh tinggi itu canggung dan seketika merasa konyol akan keberadaannya, betapa ia terlalu ingin ikut campur kedalam konflik yang rumit dalam suatu hubungan.


Apa yang membuatnya bertahan di awal hanya karena Susan, Si Nona maaf.


“Saya hanya mencoba membantu kalian, ini hanya sebuah kebetulan berada dalam situasi genting, saya tidak mungkin mengabaikan hal yang terjadi di depan mata saya sendiri!” jelas Brian


“Pak, Haha... anda mau mencoba menipu saya?? bukankah bapak jugaaa... diam-diam tertarik dengan istri saya, Oh! bukan, katakan anda hanya bermaksud melindunginya... dari apa?? kalau saya boleh tau Bapak... Brian Adney William... !” sindir Dicky seraya menyeringai dan menatap tajam ke arah Brian.


Brian hanya tersenyum dengan ekspresi paling tenang yang muncul kala itu, disaat sebelumnya kecanggungan muncul dari beberapa tindakannya.


“Kita lihat saja nanti” balas Brian singkat.


‘Rasanya ini cukup untuk beberapa bukti, satu paket pria-pria menyedihkan’ ucap Brian dalam hati.


Kemudian ia berbalik berjalan meninggalkan mereka yang masih dalam perdebatan sengit, bibirnya sekilas tersenyum dan menyeringai.


Menekan tombol pada alat kecil seukuran baterai di genggamannya.

__ADS_1


‘STOP’ (recording)


****


Kebimbangan terus berkecamuk dalam pikiran Dicky, bagaimana bisa ia bertahan dengan perasaan cintanya yang ditolak mentah-mentah sejak awal.


Hingga akhirnya merasa di khianati secara total berikut musibah tentang kegagalan calon bayinya yang tidak dapat dipertahankan akibat hasil pengkhianatan, menurutnya kala itu.


Kak Edo tidak sanggup mengadili keduanya kali ini, ia hanya mampu menghakimi dirinya sendiri, mengambil keputusan dengan sikap otoriter sejak awal malah semakin menjerumuskan masalah ini lebih dalam lagi.


Situasi yang masih tegang kala itu dapat teratasi sementara karena kedatangan pihak security kedua kalinya, dengan terpaksa mereka dipersilahkan keluar dari area Rumah Sakit tersebut.


Kak Edo memaksa untuk bertahan di tempat, hingga akhirnya Dicky pun dipaksa untuk pulang sambil menunggu kabar selanjutnya mengenai Susan yang harus dirawat sementara.


“Kak Edo... yang lain dimana... “ tanya Susan yang masih terbaring di ruang rawat inap kini.


“Sudah pulang, tidak perlu khawatirkan mereka... semua baik-baik saja” jelas Kak Edo, sedang berusaha menahan diri memberikan penjelasan lebib lanjut tentang kejadian semalam.


“Ada keributan apa semalam? Kak Edo belum cerita, kita kan sama-sama dengar waktu kakak keluar ruangan mencari tau” tanya Susan masih diliputi rasa penasaran.


“Tidak, bukan apa-apa... haha... biasa lah... Dicky kan memang selalu begitu kalau bertemu mantan pacarmu, kau sudah bisa pahami sifatnya... “


Kak Edo memandangi adiknya dengan sedikit terhenyak, begitu cepat reaksi Susan jika pembicaraan terkait dengan Eli.


‘Berarti bisa jadi benar yang dikatakan Eli, mereka memang bisa saja melakukan hal tersebut dengan melihat respon Susan hingga antusias seperti ini membicarakan tentang Eli, bagaimana Dicky bisa bertahan dengan ini semua, akupun belum tentu sanggup jika diperlakukan seperti itu’ batin Kak edo.


“Kak? kenapa diam? apa yang dilakukan Dicky terhadap Eli?” tanya Susan dengan suara pelan


“Tidak, tidak apa-apa... hanya perdebatan kecil, seperti biasa... Dicky hanya cemburu padanya, ah sudahlah!... itu kan sudah jadi pemandangan yang lumrah bagi kita, sudah... hentikan pikiranmu yang macam-macam... pulihkan tenagamu... biar kita bisa kembali besok” bujuk Kak Edo untuk menenangkan hati adiknya saat itu.


“Bagaimana kata Dokter Kak?”


“Hmm... kurang jelas, tapi sepertinya kondisimu aman, karena memang kehamilanmu usianya sangat dini, dokter bilang ini hanya butuh beberapa hari untuk pemulihan dengan antibiotik agar menghindari infeksi... masih hanya berbentuk darah, tidak ada yang tersisa, itulah selama ini kenapa tidak dapat terdeteksi tentang kehamilanmu” jelas Kak Edo.“Eh... aku hanya bingung bagaimana bisa kamu bisa hamil semudah itu”


Susan diam sejenak tidak ingin berkata banyak.


“Kenapa tidak” jawab Susan dengan nada datar. terlintas diingatannya tentang kejadian naas itu.

__ADS_1


“Tapi... apakah dia pernah menyentuhmu lagi setelah itu?” Tanya Kak Edo dengan pelan dan sangat hati-hati.


“Tidak” jawab Susan singkat.


“Hal itu kan jarang... “


“Kau tidak akan tau rasanya ditawan... itu bar-bar sekali... “ jawab Susan dengan ekspresi dingin tanpa menoleh sedikit pun ke arah Kak Edo.


Kak edo berusaha memahami perkataan Susan tanpa emosi, namun wajahnya tidak dapat membohongi rasa terkejutnya dengan fakta yang tidak pernah ia dengar langsung dari Susan sendiri.


Betapa hal tersebut bisa saja terjadi berulang dalam satu waktu, dan adiknya menanggungnya seorang diri, ia menangkap kesimpulan bahwa yang dilakukan Dicky adalah untuk tujuan ini.


Kak Edo mendekatkan dirinya ke arah Susan, mencium kening adiknya yang membisu dengan tatapan kesedihan, seperti sedang tersirat bayangan masa lalu yang menyakiti dirinya kala itu.


“Bersabarlah... aku yakin setelah ini semua segalanya akan jauh lebih baik, maafkan aku yang mengekangmu dengan segala keputusanku”


Susan menghela napas dalam, apa yang sudah berlalu kala itu sudah jauh ia lepaskan secara perlahan, yang ia pikirkan adakah saat ini, biar bagaimanapun itu sebuah kelalaian yang tidak dibenarkan, seperti membunuh tanpa sengaja atau dengan niat.


Sejenak Susan teringat banyaknya masa-masa yang telah ia lewati bersama Dicky selama beberapa tahun, perlahan perasaan benci itu memudar dengan sendirinya.


Begitu banyak pengorbanan yang Dicky lakukan namun ia abaikan semenjak kehadiran Eli dalam hidupnya kini.


‘Mereka berdua telah jadi bagian hidupku, aku bahkan tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, apakah aku harus belajar mencintai nya kini, mempertahankan hubungan kami dan segera meresmikan status kami atas nama negara, siapkah aku selamanya hidup bersama Dicky’ Batin Susan.


****


Dicky POV


‘Mereka sudah sangat keterlaluan menginjak-injak harga diriku, sejauh itu mereka berkhianat dibelakangku, padahal selama ini aku berusaha menjaga baik-baik hasrat yang muncul untuk melakukan hal lebih, karena inilah yang aku takutkan terjadi’


‘Seandainya janin itu bisa bertahan hingga lahir, aku pun sanggup untuk menjaganya dari tangan pengkhianat-pengkhianat kotor seperti mereka berdua, aku lebih baik hidup untuk membesarkannya dengan segala kemampuanku, aku sudah tidak butuh cinta itu, aku tidak lagi butuh keberadaanmu Susan... kalau saja aku tahu dari awal kau mampu melakukan tindakan sejahat ini, tidak akan aku berusaha berkorban mati-matian melindungimu, mencarimu bahkan ingin memilikimu seutuhnya’


‘Kalian berdua sudah tidak termaafkan’ batin Dicky.


Bersambung


Brian nekat lho ya, apa sih obsesinya...emang mo ngapain siii... emang bisaaaa pacaran??? haha berobat dulu gih Pak Brian🤣

__ADS_1


karena setiap orang pasti punya salah satu dari 10 penyakit kejiwaan utama, yang membedakan adalah levelnya.


ayooo cek masing2 hahahha


__ADS_2