My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Dalam Pengawasan


__ADS_3

Sampailah kami di ruangan kerjaku. Brian mengantarku sampai di ambang pintu. Ia melambaikan tangan menyapa teman-teman tim ku yang sebagian sudah datang tepat waktu.


"Hai, Pagi" Brian tersenyum ramah menyapa lima orang temanku yang sigap menoleh akan kedatangan kami.


"Eh, hai. Pak Brian ... Ya ampun Bu Susan senangnya diantar sampe ruangan, takut lepas yaaaaa Hahaha" ujar Ocha.


"Eh, jangan panggil dia 'Pak. Nanti marah dia" jelasku dengan bercanda.


"Hahaha. Panggil Brian saja. Tapi terserah lah ... Ini kan kantor"


"Ho' oh deh yaaa, panggil Brian. Udah deh Brian pake' dianter segala si Susan udah kayak kurir paket online eeeem. Lagian si Susan bisa-bisaan deh. Masih pagi udah ngasih akika sarapan mata 'cong" ujar Jeje yang ikut menggoda.


"Yang mana maksudnya, 'Je?" balasku sambil menaruh tas di meja dan kembali menghampiri Brian yang masih berdiri di ambang pintu. "ngomong 'Je kalo berani depan orangnya. Jangan ambigu Hahaha"


"Aku gak ngerti apa pembahasan kalian" Brian tersenyum lebar "tapi sebaiknya aku nggak tau, ya 'kan? Hahaha."


Brian bersikap seakan tidak tau pembahasan kami, karena sudah nampak perilaku Jeje yang jelas menunjukan identitas Homoseksual. Tapi memang kami selalu menganggapnya netral kecuali itu menyentuh secara personal.


Ocha dan mbak wulan ikut tertawa.


"Beneerr ... Jangan deh. Nanti kebawa rusak. Hahaha" tambah kang ridwan.


"Jangan 'Bri, anggap aja gak pernah dengar omongan Jeje Hahaha. Eh, ya kamu mau tunggu dimana?"


"Sudah jangan pikirkan aku, nanti aku beritahu. Aku pergi dulu ya, bye dear. Selamat bekerja" mengusap-usap kepalaku dan mencium tanganku.


Sontak teman satu ruangan ramai bersorak.


"Eaaaaaaa ... Bikin mupeng deh ah" ujar Ocha.


"Waduuuhhhh udah kayak pengantin baru aja. Gimana nanti kalau udah nikah ya" mba Wulan ikut menggoda kami.


"Iiih aku juga mau gitu dong, gak ada yang cium tangan pagi-pagi udah kayak anak SD masuk kelas ya 'mak" Jeje menambahkan.


"Hahaha. Ngiri pada yaaaa hahaha" ucapku.


"Hahaha. Ya sudah. Yuk semuanya, aku pergi dulu"


"Ya Brian, hati-hati ya jangan nyopet" canda mba Yuni.


Kepergian Brian disambut baik oleh semua temanku.


Hubungan kami pada akhirnya memang sudah diketahui mereka. Brian yang notabene adalah salah satu klien Mentoring tim HRD saat awal pertemuan kami. Sudah kujelaskan bagaimana kami memang sebelumnya saling kenal satu sama lain. Diluar inti permasalahan hingga membuat aku dan Brian bisa menjalin kedekatan seperti saat ini.


"Seneng ya 'Cong, kalau akika yang dapat macam begitu, udah aku bilas tiap hari. Uuuhh greget bikin salfok aja" ucap Jeje selepas Brian pergi.


"Enak aja. Rugi aku nanti Hahaha. Nanti ya, aku kasih ceritanya aja."


"Bisa' aja cari yang 'gedong-gedong' kamu ya 'mak"


"Weeeeekkk. Iya dong Hahaha"


Sesekali ku lirik ruang seberang dan untungnya si usil Dicky belum nampak batang hidungnya pagi ini. Mungkin masih di ruang istirahat belakang tim IT. Karena pastinya ia dan tim nya menginap semalaman menjaga kestabilan layanan Internet perusahaan kami.


***

__ADS_1


Pov Author


Brian menghubungi dua orang asisten setianya, Adam dan Leo. Untuk melakukan meeting di lokasi food court kantor yang berada di lantai tujuh.


Sekitar pukul sepuluh pagi, Dicky keluar dari ruangan IT. Melongok sedikit dari balik kaca ruang HR dan melihat Susan yang sedang sibuk dibalik komputernya.


Entah apalagi rencananya hari ini, tapi tidak bisa dipungkiri kebencian Dicky tidak menutupi rasa penasarannya terhadap Susan yang sekian lama pernah jadi bagian dalam kehidupan percintaannya.


Memang tanpa sengaja untuk mencari sarapan. Dicky pun bergegas menuju lokasi yang sama, ke tempat Brian berada.


Brian saat ini sudah bersama kedua Asistennya, meminta laporan perkembangan dan permasalahan tentang bisnis, jadwal konseling klien nya, serta kondisi LSM yang juga turut dipantau segala informasinya.


Saat Dicky memasuki kawasan yang sama, ia memandang sekeliling memilih jenis makanan yang terpampang di beberapa gerai. Tiba-tiba matanya terhenti pada sosok yang pernah ia kenal. Adam.


'Orang itu ... Hmmm ... Bukan kah itu anak buah si Dosen mesum itu' gumam Dicky yang selalu asal bicara tentang orang yang tidak disukai nya.


Dicky menutupi kepala dengan Hoodie nya, memperhatikan dari jarak jauh mengira-ngira pria berambut agak pirang yang duduk dalam posisi membelakanginya. Dilihatnya lagi Leo, yang bersebelahan dengan Adam.


'Jelas sudah. Orang satunya lagi yang semalam menarik ku di depan Susan. Ternyata ... 'Cih!! Brengs*k! memang mereka berdua pacaran. Brian ... Jadi ini rancanganmu dari dulu!'


Dicky semakin menahan geram, ingin sekali menghampiri ketiga orang yang sedang fokus pada pembicaraan. Tapi satu hal menahan nya untuk bertindak lebih.


'Tapi kalau sampai Brian tau aku ada disini, pasti Susan segera dilarang untuk berada di kantor ini lagi, dan itu akan menyulitkan ku membalas dendam untuk menyakiti hatinya'


Dicky sebisa mungkin menghindari posisi terlihat saat itu, ia bergegas kembali keluar dari area food court itu tepat saat Leo tersadar, memfokuskan pandangan ke arah Dicky dan mengenali jaket Hoodie nya.


"Sir, i'm sorry. But there's a man whose bothered mrs.Susan last night." Leo mengangkat telunjuknya menunjuk ke arah Dicky yang berlalu pergi membelakangi.


(pria yang semalam mengganggu susan ada disini)


"Do you want me to get him here?"


(kamu mau ku bawa dia kesini?)


Brian terdiam sesaat sambil mengepal tangannya.


"Ahh, No. Do not mess with anyone in public. If my lady knows that we made one, she'll lost the plot. Just keep an eye of him"


(jangan cari gara-gara dengan orang ditempat umum, kekasihku akan marah. Awasi saja orang itu)


"Noted, sir!" seperti biasa Leo menjawab dengan singkat.


"Make sure thaaat ... Aahh ... No. From now on, She's under my protection. But for another occasion, it's your responsibility!"


(mulai saat ini susan dalam perlindunganku, situasi lain tanggung jawabmu)


"FYI, Sir. His workspace is next to her room"


(sebagai informasi tuan, ruang kerja pria itu bersebelahan dengan ruangan susan)


"Why i did not notice. But yet, it's safe, she's been busy"


(kenapa aku gak ngeh. Tapi aman, dia juga sedang sibuk)


"Noted, sir!" Leo menjawab sigap.

__ADS_1


"Adam!" Brian menoleh, sedikit meninggikan nada.


"Check!" saut Adam.


"Shhh ... Indeed, It would be irritate her if i kept you get involved, 'lads" Brian bergumam kecil.


(Susan akan sangat kesal kalau kalian selalu ku libatkan)


"Accepted!" saut Adam.


"Ah, sorry. It's too personal Hhhh ..." Brian kelepasan bicara jauh tentang masalahnya dengan Susan.


"Laaaads" Adam tiba-tiba menyalip pembicaraan dengan santainya, Brian dan Leo sigap memandang Adam "Translaaate"


"You!" menghardik pelan, Brian yang sempat menahan emosinya jadi kesal mendengar Adam.


"Tuaaan. Saya ngerti bahasa inggris. Tapi dengan logat kental dan bicara cepat saya bisa kurang tanggap"


"Lalu apa yang kau pahami dari tadi!" Brian meluapkan kesal tapi tetap menjaga volume suaranya.


"Ya gitu, tuan" jawab Adam enggan menjelaskan.


"Gitu apa?!" bentak Brian semakin kesal.


"Skiiiiip"


"Potong bonus bulanan"


"Yaaahhh. Mainnya potong bonus siiih"


"Makanya kursus jangan bolos terus!satu minggu pastikan bahasa inggris mu lancar! utamakan Listening! catat cuti nya Adam, 'Leo. One week! intensive lesson"


"Carikan yang cantik ya gurunya, Leo. Private ini lhooo private"


Leo melirik kesal tapi tidak bisa berkutik karena Adam posisi Asisten senior.


"Kamu gaji Leo berapa berani suruh-suruh" sindir Brian pelan.


"Eh, hehehe. Saya cari sendiri ya maksudnya hehehe" jawab Adam canggung.


Brian diam, tidak berkomentar lagi. Masih membendung emosinya tentang pria tadi. Dicky.


***


Sementara itu, Dicky yang mengurungkan niat membeli sarapan. Beralih membeli minuman di coffee shop di lantai dasar.


'Baiklah, mereka sedang sibuk. Maaf ku ganggu sebentar kekasihmu itu ya Brian. Diam-diamlah disana dengan para orang-orangmu' gumam Dicky dalam hati. Tersenyum licik.


Kembali menuju lantai dua puluh satu sambil menggenggam dua cup besar kopi dingin.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Maap kalo inggrisnya amburadul, bolos kelas mulu author hahahha. Author cuma menggambarkan situasi karena Leo adalah asisten bawaan Brian dari UK dan lebih nyaman berbahasa inggris karena mereka sesama native. Nanti koreksi lagi dah. UP dulu aje. 🤣


__ADS_2