My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Meeting 1


__ADS_3

Pagi ini sesuai jadwal yang diterima setiap awal bulan, kelas dibuka untuk memenuhi kebutuhan perusahaan akan jumlah pegawai Call Center yang ditargetkan.


Ruang Tim HRD


Segelintir info tentang layanan Call* Center* khusus Internasional pada perusahaan kami akan segera dibuka. diawali negara terdekat, Australia.


Beberapa Tim kami wajib hadir untuk pengarahan penanganan psikologis bagi Agent kami yang akan menghadapi customer Asing. Ku alihkan itu semua demi peserta Trainingku pada project yang biasanya, meskipun seharusnya aku hadir sebagai seorang PIC disana.


Pagi itu ruang meeting yang sudah kusiapkan sebelumnya, kini kutitipkan pada partner ku agar aku bisa leluasa sibuk dengan kelas peserta Training ku sendiri.


“Bener nih, kamu gak mau dicover aja sama aku ngajar hari ini, San?” Haya sedikit membujuk karena ia tau sepenting apa seharusnya aku menjadi PIC layanan baru dan menghadiri meeting pengarahan untuk Tim HRD pagi ini.


“Ah, bukan gak penting sih Hay ... tapi aku rasa sama aja kok untuk ngasih motivasi mereka menghadapi pelanggan luar, pelajari aja kultur-kultur mereka ... dan kuatkan mengetahui karakter pelanggan, usia, memahami aksen biar gak salah paham, yaaah beda-beda sedikit sama materi harian kita”. Ucapku dengan sepele


“Eh, tapi kan kalau urusan dengan orang Asing kamu udah biasa San, makanya Ibu Tatik percaya sama kamu untuk jadi PIC layanan baru ini, background kamu kan lingkungannya bule ... paham karakter kan, ini juga Mentor nya dari luar, siapa tau kamu bisa lebih ngikutin daripada aku”


*“Aku lebih gak tega ninggalin kelas dan di cover orang lain untuk kasih materi peserta baru Speed, *justru aku PIC utama yang gak boleh lepas dari mereka, kamu gantikan aja dulu, selesai Training aku bantu rapikan ruang meeting”


“Yakin? gak mau say hi dulu gitu ke ruang meeting?”


“Besok-besok ajalah, setelah tiga hari softskill utama, sekarang yang penting liat dulu nih, touch up nya udah oke belum aku?” tanyaku seraya memamerkan hasil riasan yang kupelajari perlahan dari Haya yang ahli menggunakan kosmetik.


“Cantik ... , udah sana ... kasih tau kalau ada peserta yang ganteng, nanti aku mampir-mampir ke kelas kamu alih-alih memantau situasi biar tetap kondusif, hehehe.”


“Biasa deh ... dasar! hahaha ... nanti aku WA ya.” aku berjalan sambil melewati beberapa teman satu tim lain. menenteng tas laptop dan box berisi alat-alat pendukung games yang akan aku sisipkan sebagai break ditengah materi.


“San, eh san ... “ panggil Ocha salah satu tim HR Recruit kami.


“Yo!” terhenti menoleh dengan dua bagian tangan yang sibuk membawa benda-benda tadi.


“Kamu bukannya PIC buat GICC, udah siap belum ruangan meeting buat nanti?”


“Beres cha, kan aku udah siapkan dari kemarin sore sebelum pulang, makanya ruangan langsung dikunci sama OB, handle dulu ya cha ... kasian kalo anak Speed materi awalnya di skip.”


“Kenapa gak kamu kasih si Anto aja buat materi Hardskill dulu di hari pertama, ini penting lho, kan kamu PIC 107, GICC juga kan sama-sama 107.”


“Tapi kandidat Speed lagi banyak Cha, 40 orang hari ini. Gak bisa dilepas langsung ke materi Hardskill**, takut situasi gak kondusif bikin mereka gak termotivasi untuk ngikutin tahap seleksi, kasih aku waktu tiga hari setelah masuk materi Hardskill* baru aku join sama kalian.”


*“*Bu Tati udah tau? sama Pak Anton?”


“Beres Cha, mereka bilang atur aja yang penting saat nanti seleksi kandidat GICC aku sudah paham materi, modul dari Mentor nanti sisakan satu ya!”

__ADS_1


“Iyaa ... udah sana, eh San, Mentor nya udah dateng tadi ke ruang GM (general manager) bilang OB sediain minum kesana titip sekalian sambil lewat ya! Hehe.”


“Ya ampun si Ocha, bisa-bisanya gak liat ini kiri kanan tangan aku penuh begini, nanti dulu deh ... setting laptop dulu dikelas kasih musik dulu biar pada gak tegang tuh Peserta aku.”


“Iya iyaaa ... sorry tadi kelupaan aku habis dari toilet mau ke pantry kasih tau mas yusuf hehehe ... makasih ya Ibu Ucan ... hehehe.”


“Yaaa yaaaa ... “


Aku berjalan kembali menuju ruangan Training, melihat sepintas saat melewati ruangan GM yang tertutup rapat, nampak dari jauh pada ruangan yang nyaris seluruhnya berdinding kaca itu Ibu General Manager kami sedang berbincang-bincang dengan seseorang yang kemungkinan adalah Mentor tadi. Ada sekitar empat orang yang berada disitu, mungkin mereka ber-Tim tapi tidak terlalu jelas karena samar pada kaca es itu.


Abaikan ... dan kembali fokus pada peserta-peserta dalam kelas yang sigap kembali rapi pada kursi yang sudah disediakan sesaat aku masuk ke dalam ruangan.


Senangnya melihat mereka respek seperti ini, sejenak muncul rasa bangga berada di posisi ini, mengingat di masa kuliah lalu kala masuk kelas satu lontaran masuk ke telinga dari para sahabat “woy, anak gila!” canda mereka. Kini cukup menikmati satu perubahan drastis saat menjadi sosok berwibawa di depan calon karyawan baru untuk perusahaan, mungkin mereka tidak akan tau masa lalu ku seperti apa.


Mana berani mereka ikut teriak begitu, bahkan kalau mungkin mereka menampakan senyum seharian agar bisa membujuk ku meloloskan mereka dalam tahap seleksi kali ini.


*Oh ya, Mas Yusuf di pantry ... harus segera ku susul sebelum tamu Mentor kami memasuki ruang meeting, *namun saat berjalan cepat menuju ruang pantry nampaknya sebagian dari mereka di dalam ruang GM tadi satu persatu keluar dan masih ada satu orang lagi di dalam ruangan sedang bersalaman, kalah cepat ... mereka sudah akan bersiap-siap, mungkin tadi lupa terlalu lama melakukan setting pada laptop di kelas, hingga sebentar lagi tim Mentor itu akan mulai untuk Meeting.


Ah, itu dia mas Yusuf! tanpa sengaja bertemu sebelum menghampiri ruang pantry.


“Mas Yusuf ... Ssttt ... sini mas.”


“Eh Ya ... kenapa Bu Susan?”


“Sudah Bu, tapi gak jadi soalnya mereka minta air mineral saja buat di ruang Meeting.”


“Lah, tadi Bu Ocha minta tolong saya kasih tau Mas nya, ya sudah gak apa-apa kalau begitu beres ya.”


“Iya tadi Bu GM sendiri yang suruh saya.”


“Aduh, jadi gak enak saya ... soalnya saya gak bisa ikut pengarahan hari ini, kalau ada apa-apa bilang saya ke kelas Training ya mas, atau kasih tau Bu Haya biar nanti saya handle pelan-pelan sambil ngajar.”


“Iya Bu!”


“Oke, makasih ya Mas Yusuf, mohon dibantu.”


Aku berjalan terburu-buru kembali ke dalam kelas tadi memulai kelas, sesaat sebelum masuk salah satu tim kami memanggil dari seberang ruangan Meeting. Rio, teman sebelah meja ku yang sering menjadi lawan tanding debat candaan di dalam ruangan kami.


“Sstt ... Bondol! kenapa gak masuk?”


Selalu saja nama-nama aneh yang disebut untuk mendeskripsikan penampilan ku, memang sedikit kurang ajar teman sebelah ku itu, hanya karena dari awal masuk rambutku memang pendek meski tidak seperti dulu, sekarang sudah lebih dibawah dagu.

__ADS_1


“Apa bawel! gak ikut dulu ya ... sana gih, belajar yang pintar biar gak marah-marah melulu hadapin Agent!”


“Dih, sok tau kamu ‘Ndol!”


Mengacuhkan sautan Rio tadi, kembali lagi ke dalam kelas tidak ingin peserta-peserta ku menunggu lama, karena pukul sembilan sudah waktunya memasuki materi hingga delapan jam kedepan dipotong satu jam makan siang.


Hari itu Training* lancar sempurna, dengan cepat lebih mirip terburu-buru kuletakan kembali barang-barang dari dalam kelas menuju ruangan kami, ternyata sudah selesai Meeting* itu, teman-teman tim HR sudah kembali ke dalam ruangan berbincang setengah menggosip seputar hasil pengarahan tadi.


“Wah, San ... sayang banget gak ikut tadi, si Rio kena sindir soal marah-marah sama Agent dari Mentor nya hahaha.”


“Ya gak aneh sih, Rio memang sesekali harus kena tuh dia, orang nanya gajian sok sok galak! rasakan!”


”Eh, itu ruangan mau dibiarkan aja atau gimana San, besok masih lanjut dan tambah personil lagi dari kantor pusat, cek saja dulu kalau ada yang kurang nanti tinggal bilang sama OB buat setting ruang.”


“Ya ... yaa ini mau kesana Mbak Yun, Haya mana?”


“Lagi ke toilet, gak kuat liat Mentor nya kali hahaha.”


“Ganteng mbak?”


“Langsuung deh langsung ... jomblo jomblo meradang kalau dengar yang ganteng-ganteng, liat aja sendiri sana, tau sudah pulang atau belum.”


“Haduh, bikin deg degan aja, Insting jomblo berbicara hahaha.” ucapku sambil berlalu.


Bergegas ke ruang Meeting bukan untuk mencari tau bagaimana yang disebut tampan tadi, tapi mengingat waktu menjelang setengah enam sore dengan kemacetan kota Jakarta rasanya lebih cepat lebih baik menyelesaikan semuanya sebelum pulang dan terkena macet.


Aku melesat masuk kedalam ruang Meeting melalui pintu yang setengah terbuka, hanya memastikan segalanya tetap terlihat rapi seperti semula. Ternyata tidak ada orang didalam ruangan itu, nampaknya Mentor itu masih berada disana karena masih ada Laptop dan peralatannya.


‘Kemana nih orangnya’


Sepintas kudengar suara jauh sepertinya dari arah ruang GM mungkin Mentor itu sedang berpamitan atau apa, aku memilih berpura-pura merapikan beberapa kursi dan meraih remote untuk menaikan layar infocus serta tirai, anggap saja jika kaget orang itu datang bisa sekaligus memperkenalkan diri sebagai PIC yang seharusnya disini, meminta maaf tidak ambil bagian dalam pengarahannya.


Kudengar langkah sepatu menuju kemari kupalingkan wajah membelakangi posisi pintu. Mendekat ke arah jendela kaca yang menyorot luar gedung mencari-cari alasan menutup tirai atau apa saking gugupnya, kenapa gugup ya? apa begitu lama nya aku ini menjomblo hingga gugup setelah dikatakan mereka Mentor ini tampan.


Langkah itu masuk terdengar semakin mendekat, eh , tapi kenapa dekatnya semakin berjalan ke arahku, aku harus pura-pura tidak dengar atau apa, aku membalikan badan saat seketika orang itu ternyata sudah ada dibelakangku.


Aku terkejut bukan main, degup jantungku terasa mau copot melihat orang ini.


“Kamu sudah banyak berubah ya”


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2