My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Tiga Bule


__ADS_3

“Terus gimana San sekarang??” Cicha. Delta, Adrian dan Urip berdiri mengerubungi Susan yang masih terisak-isak di dalam kelas,


“Gak tau gimana lagi ... memangnya itu konseling penting sekali apa sampai segitunya buat orang dapat nilai D!” Protes Susan.


“Ya penting mungkin ... untuk Dosen, kalau kita sih kan begini-begini saja dari dulu, anggap saja buat penambah nilai, ya kan?” Chica seperti biasa, dengan jawaban yang lurus-lurus saja.


Delta terus mengusap-usap punggung Susan.


“Gini aja, kamu tau kan konselornya itu bukan Dosen disini, siapa tau dia bisa ajak bicara Ibu Ike persoalan nilai, apa bisa diambil melalui wawancara secara personal ...” Adrian yang lurus-lurus saja.


“Iyaaa ... kan kamu suka tuh sama yang bule-bule ... sekalian kasih cipika cipiki siapa tau langsung dikasih nilai A!”. Dan Urip yang belok-belok saja.


Kenyataannya tidak ada satupun yang tau justru orang yang berada dibelakang mempunyai keputusan kuat adalah Brian.


“Kak Brian nya juga tadi jutek sekali, ya kan Del?”


“Heh, aku gak liat ... pas dia lewat yang kelihatan badannya saja, harus mendongak liat kepalanya, kaya tiang listrik ... Eh, tampan ya katanya??”


“Yaaaa yaaa mungkin, tapi masih tampan punyaku lah!”


“Eh, memang kamu sudah punya pacar? emang bisa si Susan ini?”


Susan hanya diam membisu tidak ingin melanjutkan lagi, jangankan pacar... mereka memang bahkan tidak tau apa-apa tentang kehidupan instannya saat ini, tapi ia lebih memilih bungkam.


Kelas selesai, Susan berjalan keluar kelas diiringi teman-temannya, seketika pergelangan tangannya tertarik oleh cengkraman tangan seseorang, sehingga ia termundur ke belakang terpisah dari teman-temannya.


“Eli? what are you doing here?”


“Hai!” tersenyum manis seperti biasa.


Sigap teman-teman susan menoleh.


“Eh San! siapaaa?? Ohh ... Cye cyee ... “


“Hehe ya sudah kalian duluan saja ya ... udah-udah sana, besok yaa besok diceritain ... “


Delta, Chica tersenyum-senyum.


“Iyaa ... met pacaran yaaa ... “ Delta berjalan berlalu dan tertawa kecil.


Susan tidak menyangka Eli nekat mencarinya ke area kelas, bahkan Eli tidak tau jadwal kuliah Susan sebelumnya.


“Apa kabar?” Eli tersenyum “keluar sebentar ya?”


“Tapi Kak Edo nanti mau menjemputku katanya ... “ Susan berbisik dalam lorong kelas yang menggema diantara riuhnya beberapa mahasiswa yang keluar kelas bersamaan.


“Masih sore,” Eli melirik jam tangannya “Edo mungkin saja belum keluar kantor kan?”


“Hhhh ... ya sudah, tapi sekitar kampus ini saja” menarik tangan Eli


Eli dan Susan menghabiskan waktu sejam berkeliling sekitaran kampus membeli beberapa minuman dan cemilan, mereka duduk di pelataran gedung kampus, karena Susan menolak untuk berada dimobil bersama Eli meski hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol. menghindari hal-hal yang ‘diinginkan’.


“Give me that!”. mengambil minuman Cup yang sedang dipegang Susan, dan meminumnya. “Tasty(enak)”.


“Iih ... ini kan minumanku ... tuh kan mau habis”. merengut


“Ini, ambil punyaku”


‘Bekas dia ... uwu uwuu’ keinginan bertolak belakang.

__ADS_1


“Tidak ah, aku tidak suka ... enak yang vanilla”


“Kita beli lagi nanti, haus ya” mengacak-acak rambut Susan.


“Berantakan Eliiii ... “ Susan protes dengan intonasi manja.


“Sini kurapikan lagi” Eli merapikan rambut Susan lagi hingga tangannya turun menyentuh telinga kemudian mengusap pipi, bertatapan.


‘Jangaan ... jangan lihat matanya ... ‘ Susan terus melawan batinnya. Sadar seharusnya ia tidak pantas bersama Eli saat ini karena sudah menjadi perempuan bersuami.


“3 minggu... “ kata-kata itu terlepas dari mulut Susan, membuang pandangannya.


“Kenapa harus menunggu 3 minggu kalau kau memang tidak hamil”. Eli melepaskan tangannya dan kembali serius.


“Bagaimana kemarin di Surabaya?” mengalihkan pembicaraan.


“Ya maaf, sebelum ke Jakarta Tim kami ke Bandung beberapa hari, Sorry I didn’t tell you”.


“Gak apa-apa, aku juga ... “


“Dicky kerumahmu terus ya?” memotong cepat.


“Hmm ya,” Duh, terbiasa kelepasan jujur “eh ga kok, kan papa mama dirumah”


“Jadi kalau mereka gak ada dia boleh kerumah terus ya?” Eli memotong cepat lagi.


‘Kok jadi cerewet sih dia’ batin Susan


“Gak juga, Kak Edo kan dirumah”.


“Jangan biarkan dia menyentuhmu ... ” Eli menunduk dan bergumam.


“Aku ... “


“Oh jadi disini kamu!” Dicky berjalan mendekat ke arah mereka.


Eli dan Susan tersentak kaget melihat Dicky yang kini berdiri memandangi mereka dengan marah.


“Dicky!! Kok ... ??“


“Selama ini dia menggunakan Phone tracker untuk mencarimu!” Eli berbicara cepat mengungkap yang dilakukan Dicky selama ini.


“Kamu ... “ Susan belum selesai dari kaget dan kesalnya.


“Memangnya masih urusanmu ya?” menegur Eli sinis sambil berkacak pinggang dan beralih pandangan ke arah Susan “hei Istri ... kamu ikut aku, kita pulang!” menarik tangan Susan dengan paksa.


“Jangan kasar dengan perempuan!“


Eli bangun dan menepis tangan Dicky. dan Dicky cepat menyambutnya dengan menarik kerah baju Eli.


“Heii, kalian apa-apaan sih, sudah!”.


Eli mendorong Dicky nyaris ingin memukulnya.


Beberapa orang mahasiswa yang sedang berada disekitar juga ikut berdiri seperti melihat tontonan seru.


“Jangan buat keributan di Area kampus!” Suara menggema dari arah belakang mereka bertiga.


‘Kak Brian!’

__ADS_1


“Kalian anak Ekstensi (kelas malam) atau bukan?!” Brian menghampiri dengan wajah kesal.


Dicky melepas Eli dengan kasar, pandangan mereka bertiga sekarang tertuju ke arah Brian.


‘Haduh ... ini tiga bule ribut saja kalian lah ... aku mau pergi rasanya’ Susan


“Bukan Kak ... “ Susan menjawab merendahkan suara.


“Kalau bukan, kenapa kalian masih disini, ini sudah jam 6 sore ... kelas sudah selesai!!” Tegas Brian.


“Baik kak, ini ... kami baru mau pergi kok ... “ Susan agak merundukan kepala menunjukan sikap bersalah.


Brian memandangi mereka bertiga dengan wajah tidak suka. Eli dan Dicky jadi ikut terdiam dengan napas yang masih tersulut emosi.


Sesaat kemudian Brian berjalan kembali dan Acuh.


“Kak Brian!” Susan mencoba kesempatan untuk bicara.


Brian berhenti tanpa berbalik badan.


“Saya mau minta maaf soal absen, Kak ... boleh saya bicara dengan Kakak nanti?” Susan merendahkan suara, berharap ada kesempatan bicara.


“Urusan saya dengan kamu sudah selesai, temui Ibu Ike saja kalau mau mengeluh!”kata Brian acuh.


“Tapi Kak ... “


Brian berjalan kembali lebih cepat ke arah parkiran, mengabaikan Susan.


Panggilan telepon masuk ke ponsel Susan.


“San, aku sudah di depan gerbang!” Suara Kak Edo terdengar berada disisi jalan raya.


“Oya aku kesana sekarang!” jawab Susan cepat.


Susan mengambil beberapa barangnya ditempat tadi.


“Sudah ... Kak Edo sudah sampai, kalian selesaikan saja ... Eli aku pergi dulu ya ... !” Susan tersulut emosi juga akhirnya. berjalan meninggalkan mereka berdua.


“Istriku ... sampai ketemu dirumah ya!”


Susan mengabaikan Dicky.


Eli menyusul berjalan menuju parkiran sambil menunjuk ke arah Dicky.


“Lihat kau nanti!”.


****


‘Anak itu ... kerjanya pacaran saja, sekarang masih bisa kau begitu ya ... liat nanti ekspresi wajahmu ketika tau akan dikeluarkan oleh pihak kampus’


Brian berpikir jauh tentang rencana sementaranya dalam perjalanan menuju hotel.


****


Keesokan harinya Susan meminta Kak Edo untuk datang menghadapi Ibu Ike, meski ia sempat protes karena harus mengambil cuti dikantornya lagi, tapi itu jauh lebih baik karena berbahaya mengajak orangtua mereka datang menghadap pihak kampus, sama sekali mereka tidak mengetahui bahwa Susan tidak kuliah selama hampir tiga minggu.


Kak Edo akhirnya menemui Ibu Ike dengan alasan orangtua kami memang sedang tidak dirumah, memberikan alasan sakit tipes dengan mendapatkan surat dokter palsu dari seorang teman.


Ibu Ike belum bisa memberi keputusan apa untuk sanksi yang akan didapatkan oleh Susan.

__ADS_1


Karena itu semua keputusan Brian semata ... tergantung atas apa yang mampu Susan lakukan untuk Brian ...


Bersambung


__ADS_2