
Pria setinggi 188cm itu berjalan acuh menuju kamar kecil dan nampak kembali keluar dengan kaus body fit putih dan celana tidurnya. Ia melangkah menjauhi istrinya yang masih menyelimuti diri di balik selimut tebal dan bergeming, tidak berani bertanya.
Selama 15 menit menunggu kesiapan diri, Susan bergegas membersihkan diri, dan menggunakan piyama tidur untuk segera menghampiri Brian yang menyendiri di ruang baca. Ia menuruni tangga perlahan, mengendap-endap mendekati pintu. Ruang baca itu tertutup, tanpa suara apapun dari dalam.
Susan memutar kenop pintu dengan hati-hati, ia takut bertindak salah lagi. Tidak lain oleh suasana hati Brian yang terlanjur tidak baik akibat ulahnya. Pria itu melirik dari sudut mata, tak menoleh. Dan tampak wajah istrinya menyembul dari balik pintu yang perlahan membuka.
"Belum mau tidur ...?"
Brian tidak menjawab satu patah kata pun, hanya terdengar desis suaranya merapal kata-kata dari dalam buku. Terabaikan, Susan tidak ingin berhenti mencoba. Sekali lagi ia bertanya seraya menghampiri, sosok pria yang tengah duduk seakan tak peduli.
"Jangan diam gitu dong ...." ucap Susan dengan nada merajuk.
"Kamu di kamar aja, biarin aku disini. Ssstt ...." Brian menempelkan jari telunjuknya di bibir, memintanya untuk diam. Sedikitpun tak mengangkat wajah dengan raut kesal yang disembunyikan.
'Harus gimana ini.' Susan menunggu, berpikir keras mengatasi gugupnya menghadapi Brian.
"Kamu gak mau cerita kejadian kemarin pagi? Aku ... sebenernya khawatir, ya tapi ...."
"Bisa nanti ya kan?" Brian mendelikkan mata dari tundukannya, menatap tidak suka dan terganggu.
"E— , eh, jadi aku harus gimana?"
"Tidur," jawab Brian singkat dan datar. "Di kamar," tambahnya.
"Bacanya lain kali, kamu juga butuh istirahat, sayang ... masih ada besok dan harus jaga stamina."
__ADS_1
"Ahh ..., sudah, nanti kususul." Nada bicaranya sedikit malas menanggapi.
"Kalo gitu aku tunggu di sini aja sampe kamu ngantuk." Susan menggigit bawah bibirnya, memandangi Brian yang terpaku pada tulisan di buku bacaannya.
"Ngapain?" Jawabnya acuh.
Buntu sekali menghadapi pria yang telanjur dingin, rasa ingin menyudahi usahanya mendekati suami yang sedang tidak ramah. Tapi Susan mencoba beralasan meski tergambar rasa bersalah bagi Brian.
"Mau ... dengerin kamu baca apa. Biar aku ngerasa ditemenin, percuma kan aku gak bisa tidur."
"Huff ... aku bukan lagi baca dongeng, wife—. Tidur aja, taruh apa kek di sebelahmu." jawab Brian dengan risih.
"Emangnya masih jaman ya ditemenin guling? Sebentar kok, tidur di pangkuanmu deh."
Brian mengangkat wajahnya, matanya naik turun memerhatikan Susan sesaat, seakan menimbang-nimbang permintaan itu. "Hhh ... ya udah, sini." Jawabnya tetap dingin, meski begitu Brian belajar mengesampingkan kekesalannya.
Nyatanya Brian malah merasa canggung kala membaca. Tarikan napasnya terdengar tidak tenang, berhembus tak beraturan, sesekali ia berdeham dan bergerak gelisah di posisi duduknya. Paham sekali, Susan menyadari Brian memang tengah menahan diri saat keduanya tadi gagal melanjutkan untuk bercinta. Susan semakin serba salah dan mengasihani posisi Brian saat ini.
Susan mengangkat kepalanya dan kembali duduk bersebelahan menyandar pada sofa. Brian menoleh dengan bingung, mengangkat kedua alisnya. Belum ada lima belas menit istrinya terlihat tidak betah karena pikirannya juga tidak bisa fokus sama sekali. "Kubilang apa, tidur sana. Bacaanku gak menarik buat kamu, gak saat ini. Coba kamu terapkan quality sleep udah bisa kan? Mau kubantu?"
"Aku bukan mau baca, cuma mau dekat sama kamu aja." Susan menyandarkan kepalanya pada bahu Brian.
"Gak usah manja, kamu udah gak tinggal sama keluargamu lagi, mulai sekarang kita kan selalu ketemu tiap hari, oke. Get sleep." Brian tersenyum, menggeser kepalanya hendak mengecup kening. Tapi Susan mengizinkan lebih, ia menyambar bibirnya tak peduli suaminya yang membatasi diri.
Ragu akan terpancing, beberapa detik setelah merasakan kelembutan ciuman itu Brian kembali memundurkan kepala, menghindari aktifitas berlebih nantinya. Ia khawatir akan kembali kecewa, baginya, semakin tidak beres kemauan Susan kali ini, memancing—lalu menjatuhkan, tak terselesaikan.
__ADS_1
"Jangan main-main, maksudmu apa sih. Tidur sana." ucap Brian dengan pelan dan mulai sedikit ketus.
"Aku mau buat kesibukan buat kamu. Silahkan baca buku." Susan menurunkan tangan, menaruhnya di pangkuan suaminya. Jarinya sedikit iseng menuju arah lain hingga Brian sempat terkesiap merasakan sesuatu akibat tersentuh olehnya.
"Whoaa ... woaa ... tunggu dulu." Brian menyingkirkan pelan tangan Susan. "Mau ngapain? Tadi bilangnya—."
"Wait ... aku coba ...," Susan memaksa menaruh kembali tangannya di posisi awal.
Brian kembali menangkap dan menahan punggung tangan Susan agar tidak lagi menyentuh bagian sensitifnya. "Oh! Gak usah, itu gak perlu. Next time aja, dear ...." Brian memerhatikan Susan yang malah bangkit kemudian turun ke karpet dan berlutut di hadapannya.
"Huuuussh ... diam! Disini aku yang berkuasa." Susan berbisik lembut dengan intonasi menggoda.
"Wow, begitu?" Brian menyungging senyum malu di sudut bibirnya. Baginya ini sangat konyol mengetahui istrinya mau bertindak sendiri tanpa bantuannya. "Bangunlah ..., kamu gak perlu begini ...."
Lagi-lagi Brian terkejut dengan tindakan istrinya yang tak diduga saat ini, setelah ia berani menarik sedikit celana tidurnya dan mulai beraksi sendiri.
"Aku nyonya disini, ya kan ...."
"Ta-tapi ... o-oww ... huuff ... belajar darimana, heh?" Brian memegang kedua bahu Susan, mulai terpancing dengan sensasi yang ia dapatkan. Susan menyingkirkan tangan Brian. Dan menyuruhnya untuk tetap diam, tidak mengizinkannya menyentuh dirinya sama sekali.
"Dari mana aja boleh ..., kamu masih mikir? Aku ini usia berapa memang?"
"Dear ... tapi i-ini ...." Brian hendak memajukan tubuhnya, sangat gemas ingin turut andil menyenangkan istrinya. Lagi-lagi Susan mendorong tubuh Brian untuk tetap dalam posisi duduknya. Kembali sibuk dengan sesuatu diantara kedua paha suaminya.
"Giliranmu nanti, gak sekarang. Biar kuselesaikan ... anggap aja kamu punya hutang ..., hahaha."
__ADS_1
"Nakal banget sih. Seandainya kamu mau, aku gak mau berhutang sama kamu. Ta-tapi ... hhuuff ... s**t! O-okay, this is good ...," umpat Brian, ia tertawa kecil lalu menyandarkan kepalanya kebelakang menikmati saat-saat itu atas perintah istrinya.
"Nyonya selalu benar ...., ya kan Tuanku ...?"