My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Hotel 1


__ADS_3

Aku tidak percaya sebesar itu Eli mencoba menipuku dengan pernyataan yang melenceng dari kenyataannya.


Ia pembohong!!


Pembohong besar!!


Aku tidak akan memaafkannya ... .


Aku bahkan membenci sikap naif mu yang hanya pura-pura, penuh drama untuk sebuah cinta pandangan pertamaku.


Rasanya aku tidak ingin memaafkan diriku yang telah salah mencintai ...


Tapi aku tidak bisa menghindar kala tak mampu menguasai diri dan membenci perbuatan Dicky


Kisahmu dan aku sudah selesai ... begitu pun kisahnya ...


****


Semenjak perkataan Eli saat itu, aku meninggalkannya mentah-mentah tanpa basa-basi, kunyatakan untuk tidak ingin berhubungan dengannya lagi, semudah itu kata-kata terlontar dari mulutku, apapun alasannya aku tidak terima dihancurkan dengan cara kotor seperti itu.


Bagiku, semua adalah kenangan ...


Meski aku kini telah merasa terbuang oleh seseorang yang sempat kuharapkan kembali, tapi aku lebih memilih untuk tidak berhubungan dengan siapapun lagi.


****


POV Author


Selama seharian Dicky tidak mencoba sedikit pun beranjak dari sisi Ibunya, hingga beberapa jam setelah wanita itu siuman dari pingsannya selama berjam-jam Dicky berhasil menyadarkan Ibunya dengan semampunya, mungkin Ia hanya panik, bukan karena tidak tahu apapun saat itu.


Malam itu Dicky mencoba menenangkan Ibunya yang masih dalam keadaan bimbang, mencari jalan dan tindakan, agar Dicky bisa terlepas dari masalah.


Kak Dheta yang ikut menangis dan prihatin atas kejadian yang menimpa adiknya juga tidak mampu berbuat apa-apa.


“Mama tidak menyangka hal seperti itu bisa kamu lakukan Dicky, apa kamu telah gelap mata hingga bertindak sangat bodoh seperti itu” lirih Mama Inka seraya menangis kembali dalam pelukan Kak Dheta yang tidak hentinya mengusap halus punggung Ibunya.


Dicky hanya tetap terdiam di sisi Mama Inka merenungi kesalahannya, dalam hal ini Dicky memang sangat menghormati Ibunya, Ia tidak pernah membantah sedikitpun apa yang dikatakan wanita paruh baya itu. Dicky memang sosok pria yang sangat berbakti menjaga kedua wanita dalam keluarga nya.

__ADS_1


“Dicky! kamu harusnya bilang kakak kalau kamu suka sama dia, jadi bunga yang waktu itu buat apa coba! hal seperti itu aja kamu gagal padahal kamu bisa mendapatkan pacar berkali-kali, atau bahkan perempuan yang lebih cantik daripada dia! cantik juga pacar-pacarmu itu kan?!.” tegas Kak Dheta tidak hentinya menyalahkan tindakan adiknya.


“Kak, aku bukan kakak yang sibuk sendiri! dulu Kak Edo juga sempat mendekati Kakak tapi diacuhkan begitu saja, ya 'kan? selama ini aku berpacaran dengan mereka semua yang Kakak anggap cantik itu hanya sebatas popularitas, mereka hanya cantik ... tapi tidak pernah membuatku nyaman! mereka sibuk memperindah diri hanya untuk menarik perhatianku, mereka hanya pajangan” bantah Dicky


“Jahat sekali pikiranmu Dicky! bagaimanapun mereka wanita, sama seperti aku dan Mama, jangan-jangan ... kamu juga merusak mereka ya?.”


“Jangan sembarangan! aku tidak sekotor itu, Kak! mereka yang berusaha memancing ku dengan banyak cara, tapi aku malah semakin jijik ... tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar berada disampingku tanpa memandang fisik! mereka hanya wanita-wanita agresif! hanya Susan yang mau mendengarkanku, dia paling mengerti dan menemaniku saat aku benar-benar merasa sendiri, dan itulah ...aku tidak ingin kehilangan, dan aku tidak tau kalau Mama juga berharap kami bersama ... .” jelas Dicky yang akhirnya teringat kembali dengan kilasan masa-masa bersama Susan, terenyuh perasaan sendiri.


“Tapi kenapa kamu ceraikan dia?” tanya Kak Dheta dengan nada menyalahkan.


“Dia berkhianat di belakangku!,” tegas Dicky kembali meninggikan suara “itulah yang membuatku mengambil keputusan buntu, tapi sekali saja seseorang berkhianat ... bisa saja berulang, seperti Papa ... .” Perlahan intonasi dan emosi menurun seiring nama terakhir yang di sebutnya. dengan lirih ia mengucap nama yang sebenarnya sangat Ia rindukan.


“Kalian memang masih terlalu labil, payah ... darimana kau bisa mendapat pikiran seperti itu, pikir dulu sebelum membuat keputusan!” ucap Kak Dheta merasa tidak yakin.


“Berhenti membicarakan dia! jangan coba-coba mengganggu keputusanku!” tegas Dicky bersikeras dengan kata-kata nya, mencoba menyangkal perasaannya sendiri.


“Dheta, sudah ... sudahlah kalian, jangan dibahas lagi apalagi bawa-bawa masa lalu buruk keluarga kita, Mama pun yakin Papa tidak bersalah kala itu, semua hanya intrik menyingkirkan Papa dari jabatannya,” Mama kembali menoleh ke arah Dicky “Dicky ... jadi bagaimana sekarang, Mama tidak siap melihatmu menderita di penjara, Nak ... “ lirih Mama Inka.


“Sedari awal aku siap dengan segala konsekuensi Ma ... lagipula ... “


“Tapi bukti rekaman ada 'Ma ... jika bukti kuat maka Susan juga tidak bisa menyangkal, memang dia yang mengutarakannya sendiri! tapi ... kapan dan dengan siapa ... “ Dicky berpikir sejenak bagaimana Susan bisa mengutarakan semua itu dengan seseorang.


Ia teringat pada seseorang yang saat ini dekat dengan Susan dan potensi besar menjadi tempat untuk konsultasi atas masalahnya. Pak Brian!


‘Brengsek memang orang itu! dimana saja dia ada dan ikut campur, pantas saja dia selalu terlihat tenang ... ternyata busuk sekali rencananya, sial! ... aku tau dimana ia menginap saat ini, tapi dimana letak kamar raksasa sinting itu ...‘ batin Dicky mulai merasa geram, ia melirik jam tangan dan beranjak bangun dari duduknya.


“Mau kemana sayang? ini sudah malam ... “ tanya Mama Inka dengan lembut.


“Sebentar Ma ... a—aku ada sedikit urusan!“ jawab Dicky cepat.


Dicky bergegas menuju kamarnya mengambil jaket serta kunci motornya. melajukan kendaraannya dengan cepat menuju Hotel kediaman Brian.


****


Sudah menjelang hampir pukul 8 malam itu, Dicky berada diloby dan menuju bagian Front Office mencari informasi letak kamar Brian. Dicky menunggu sesaat resepsionis menghubungi pihak yang dimaksud bahwa ada tamu yang hendak menemui nya. Dicky diminta menunggu di loby hotel.


Di kamar Brian. Adam mengangkat telepon dan menoleh ke arah Brian yang sedang sibuk dengan berkas-berkasnya.

__ADS_1


“Tuan, mahasiswa cabul itu kesini ... dia ingin menemui anda ke kamar ini, bagaimana?” ucap Adam kesal dan enggan menyebut Dicky dengan panggilan yang lebih baik.


Brian menoleh dengan posisi duduknya yang agak membungkuk kemudian melempar berkas ditangannya ke arah meja.


“Kamu turun temui dia, nanti saya menyusul” tegas Brian dengan tatapan kesal.


‘Sudah kukira dia akan berani nekat kesini, mau cari mati dia kubuat menetap di sel seumur hidup’ Brian bermonolog


Adam segera berbicara dengan pihak resepsionis dan menutup telepon itu.


“Saya langsung kesana tuan,” Adam menggulung lengan kemeja nya dengan gaya bersiap akan menghabisi lawan.


“Mau ngapain kamu? tidak semua hal bisa kamu selesaikan dengan cara kekerasan, berlaku selayaknya professional, saya bukan mafia, jangan buat saya malu!” jelas Brian sambil mengernyitkan dahinya.


“Kita lihat saja nanti jika dia bertindak berlebihan” tegas Adam sambil berlalu keluar tanpa menggubris Brian lagi.


Adam bergegas turun menuju loby menemui pihak resepsionis, bertanya kemudian menghampiri Dicky yang tengah berdiri menunggu di posisi yang tidak jauh dari bagian Front office.


“Anda Dicky?” Adam bertanya memasang ekspresi siaga.


“Mana pengecut itu? mana Si Brian!” Dicky menatap balik dingin ke arah Adam, kedua tangannya yang melipat di depan dada kini mengepal keras menahan emosi.


“Kuperingatkan kamu Anak muda, jangan coba-coba menghina beliau didepan saya sekali lagi! Tuan Brian, sebut yang sopan! jika kamu lakukan lagi, tinggal pilih Hukum Rimba atau Hukum Negara” ucap Adam bernada mengancam sambil menunjukan kedua kepalan tangannya di depan Dicky yang tersenyum mengejek melihat apa yang dilakukan Adam.


(Author pun ingin tepok jidat karena dua tawaran itu juga sama-sama dalam bentuk kepalan ... apaa pula Adam ini bahasanya)


“Tuan ya, jadi Anda ini orang kepercayaan Si Brian itu ternyata, Haha ... dibayar berapa sampai-sampai mau pasang badan begini? Hmm ... tapi nampaknya Dosen aneh itu cukup berada juga ya bisa tinggal berlama-lama di Hotel seperti ini! jangan-jangan ... banyak juga wanita nya ya?” ejek Dicky sambil memandang ke seluruh bagian langit-langit bangunan Hotel itu.


“Kalau sekedar menjadi orang yang mudah dibayar, orang semacam kamu pun pasti rela memohon hanya untuk setengah gaji yang saya miliki, tapi ini bukan tentang uang, Tuan Brian lebih punya moral daripada pemuda seperti Anda, seorang pelaku pelecehan seksual!!”


Perdebatan ini semakin memanas tanpa berani mencoba memulai penyerangan dari salah satunya, untuk kedua pria yang nyaris memiliki proporsional tubuh yang sama.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2