
Flashback On
La Cienega Boulevard, Los Angeles. Seorang pemuda berusia 24 tahun sedang berkemas dalam kamarnya, untuk kedua kali dalam hidupnya inilah saat-saat ia memantapkan diri untuk meninggalkan kota yang sudah membesarkannya.
Eli tidak ingin karir sampingannya sebagai Disc Jockey (DJ) terkekang oleh keinginan ayahnya. Kakaknya Zachary White, 26, sudah jauh meninggalkan negerinya sendiri selama bertahun-tahun.
Entah apa yang mereka inginkan selain menghindar dari tuntutan Ayahnya menjadi pewaris salah satu perusahaan kontraktor besar di LA. mereka hanya ingin kebebasan, jauh terbang ke Asia tenggara yaitu Indonesia.
Tidak ada hubungannya sama sekali dengan dunia bisnis apalagi bidang konstruksi, kedua anak laki-laki dari keluarga Mr. Warren White menggeluti bidangnya masing-masing.
Zac yang mengambil pendidikan di bidang Film dan Televisi pada salah satu Universitas swasta di Jakarta. Sedangkan Eli akan melanjutkan kuliahnya di bidang llmu Budaya melalui pertukaran mahasiswa ke salah satu Universitas negeri terbesar di daerah pinggiran kota Jakarta.
Eli tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia tapi berkat kegigihannya untuk menetap lah yang membuatnya banyak belajar dan mencari tau tentang budaya Indonesia.
Selain itu Eli dan Zac sudah tergila-gila dengan keberagaman dan keramahan masyarakat nya semenjak beberapa kali berkunjung ke Indonesia. Kini mereka mencoba mengasah ilmu di negara ini tanpa tau peruntungan selanjutnya. Perempuannya juga manis-manis menurut selera mereka.
Sosok wanita-wanita cantik dengan kehidupan glamor dan kehidupan malam sudah menjadi pemandangan yang tidak asing bagi Eli, yang kini ia cari adalah sosok yang berbeda dan natural.
...Wanita layak dihargai apabila ia menghargai dirinya sendiri....
...Penampilan bisa dirubah, tapi sisi ...
...natural tidak mudah didapat dalam era moderen seperti ini....
****
Diartikan dalam bahasa Indonesia
”Apa kau sudah yakin untuk menolak tawaran ku, El?!”
Seorang pria paruh baya sedang mengamati anaknya yang sedang sibuk berkemas-kemas dikamarnya bersiap untuk pergi.
Eli tidak bergeming atas pertanyaan ayahnya, ia lebih memilih sibuk dengan tumpukan piringan hitamnya yang akan segera dikemas dalam box.
“Aku menempatkanmu diposisi terbaik di perusahaan!” Bujuknya lagi.
“Tidak ada yg perlu aku jelaskan, Dad ... ” ucap Eli menghindari perdebatan.
”Kau pasti tidak paham kenapa Dad sangat berharap padamu, kau bisa melanjutkan pendidikan di Harvard, sesuai yang kau mau” bujuk Mr. White
”Sesuai yang kau inginkan Dad, bukan aku” sindir Eli, memotong perkataan ayahnya.
“Zac sudah tidak bisa ku andalkan, apa kau mau perusahaan ini hancur ditangan orang lain!” jelas Mr. White
__ADS_1
“Aku harap Hannah bisa menggantikan harapanmu terhadapku, Dad” jelas Eli
“Dia masih kecil!” tegas Mr. White
“Lalu ?? apakah dengan begitu kau tidak mampu mempercayai anakmu sendiri hanya karena dia seorang perempuan?”
“Bukan begitu, Dad paling tau kau yg paling berpotensi dalam bidang ini, kau selama ini yang paling berprestasi diantara mereka berdua” meyakinkan Eli
“Apa ini karena kau tidak punya pilihan lain, Dad ... kau pernah menyampaikam hal yang sama pada Zac!” tegas Eli.
“Baiklah kau benar ... tapi itulah kenyataannya, lagipula Dad memang tidak punya pilihan lain ... aku tidak rela perusahaan ini dipegang dengan orang yang salah.”
“Bukan salah, kau hanya harus memilih dan percaya, banyak orang yg lebih memenuhi syarat daripada aku”
“Tapi kan mereka bukan darahku!” tegas Mr. White
“Lalu apa bedanya dengan perusahaan lain yang tidak bergantung pada keluarganya sendiri, kau hanya harus memilih orang yang tepat! apa hal se ringan itu saja kau tidak bisa mengerahkan anak buahmu untuk mencarinya!”
“Hmmh ... “ Mr. White tidak mampu mengalahkan perdebatan ini dengan anak keduanya. dia tau betul bagaimana Eli berniat gigih untuk pergi “Kau memang keras kepala!”
“Dan aku anakmu!” dengan jawaban secepat kilat.
“Aku harap ini bukan soal wanita”
tambah Mr.White.
“Bagaimana bisa kau menanamkan prinsipmu sedangkan kau selama ini tidak selalu ada untuk kami, buatlah dirimu sibuk demi perusahaan yang kau perjuangkan mati-matian ... kurasa pembicaraan kita sudah cukup Dad ... aku sangat sibuk saat ini!” tegas Eli.
Brakkkkk
Mr. White berjalan cepat keluar dan membanting pintu kamar Eli dengan cukup keras, raut wajahnya menegang dan memerah karena geram.
Diantara ketiga anaknya, Eli adalah sosok anak yg tertutup (Introvert)dan paling sulit diajak komunikasi, dia tidak menyangka sebesar itu perlawanan Eli terhadapnya.
Namun tidak ada yang bisa dibela dari semua pernyataan itu karena selama ini ia sendiri yang terlalu sibuk membangun kejayaan perusahaannya tanpa mendengar dan memperhatikan anak-anaknya sendiri.
Seketika mendengar suara bantingan pintu tadi, sebulir air mata turun dari sudut mata Eli saat sekejap memejamkan mata, ia masih tertegun dan menghentikan aktifitasnya sejenak merasa bersalah atas segala ucapannya tadi.
“Sampai jumpa Dad ... “ bisiknya pelan.
****
Indonesia
Bandara Internasional Soekarno-Hatta siang itu terlihat sibuk dengan lalu lalang wisatawan lokal dan asing, namun tetap terasa senyap bagi Eli, beberapa orang berpakaian rapi dengan jas dan dasi terlihat berada dilokasi yang sama di Lounge tersebut, semacam pertemuan bisnis yang akan mereka lakukan dengan serangkaian perjalanan selanjutnya.
__ADS_1
Eli seakan-akan mengabaikan aura formal disekitarnya, ia masih tenggelam dalam lamunan semenjak kemarin saat melihat kesedihan dari wajah Ibu dan Adiknya yang mengantar kepergiannya dibandara kota Westchester kemarin.
Lebih dari 20 jam perjalanan dan transit di negara lain tidak membuat tubuhnya lelah, tapi ia lelah akan pikirannya sendiri. Kebimbangan hatinya untuk pergi telah mantap dilepaskan demi hasratnya berpetualang di Negeri orang.
Eli duduk pada sebuah lounge area sambil menyeruput secangkir teh yang disediakan pelayan tadi, teh itu sudah lama dingin karena lama diabaikan oleh pemiliknya.
Eli melirik jam tangan dan sudah sekitar satu jam sejak pesawatnya tiba, belum juga ada kabar dari kak Zac untuk menjemputnya ke Bandara.
Ia meraih ponselnya dimeja dan mengetik pesan untuk kak Zac, meski sedari tadi tidak ada pesan apapun yang masuk.
“Blue sky premier lounge”. ia meletakan ponselnya kembali dan memejamkan mata bersandar disofa panjang karena hanya dia satu-satunya orang yang duduk di sofa itu.
“10 minutes, just wait” kak Zac membalas singkat karena ia sedang sibuk menyetir.
Eli membaca sedikit dari notifikasi pesan yang muncul tanpa membuka kunci hpny dan kembali bersandar ... Menunggu ...
****
Sekitar 15 menit kemudian kak Zac datang dan menepuk pundak Eli dari belakang.
Diartikan dalam bahasa Indonesia
“Hei! Bangun ... kau mau barang bawaanmu hilang” tegur Kak Zac, menghampiri.
Eli terkaget dan menoleh ke belakang sofa, pria tinggi berambut sebahu itu datang menjemput adiknya dengan tersenyum.
“Oh ... Tuhan ... kau lama sekali ... “ ucap Eli, sambil mencoba membelalakan matanya yang lelah terlelap tadi.
Zac, berjalan ke arah depan sofa menghampiri adiknya, Eli memaksa berdiri dengan lunglai dan Zac memeluk pelan seakan merasakan ada sesuatu yang berat sedang dialaminya. Saat kak Zac menepuk-nepuk punggung Eli dalam sekejap mata nya pun mulai memerah dan berkaca-kaca, ia tidak bisa lagi membendung rasa sedihnya kali ini
“Sudahlah ... nanti kau ceritakan padaku apa yang terjadi dirumah”
Zac melepas pelukannya meninju kecil dada Eli, menyemangati adiknya untuk kembali tegar.
“Bukankah banyak wanita cantik disini ... hahahha ... jangan sampai kita dibilang homo” canda Kak Zac.
Eli meraih ponselnya dimeja dan mengetukny ke kepala Zac.
“Bercanda kau ... bodoh ... Hahaha”
Mereka berdua berjalan keluar dari lokasi terminal 2 bandara itu.
Kemudian Eli tersenyum dan menghela satu tarikan napas yang lega saat melirik ke sebuah gearbox bertuliskan ...
WELCOME TO JAKARTA
__ADS_1
Bersambung