My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Confused


__ADS_3

POV Susan


Sepertinya baru saja aku mendengar suara kendaraan seseorang yang tidak asing di telingaku, Iya ... mantan sahabat atau suami, aku pun tidak tau harus memanggilnya apa. Yang pasti, dia bukan lagi orang yang ku benci seperti beberapa waktu lalu, kini semua berubah perlahan menuju cinta sesungguhnya.


Tidak lagi memandang fisik sekedar untuk kesenangan saja, tapi kurang menarik apa dia dengan wajahnya ... hingga sudah sering Ia bergonta-ganti pacar, dulu ... sebagai kapten basket di sekolah kami, banyak anak wanita yang tergila-gila ingin menjadi pacarnya, untuk dia yang hanya selalu kulihat sekilas mata.


Aku memang sudah menganggapnya seperti sahabat rasa saudara. Dan lucu nya Ia selalu mendahulukan ku dibanding pacar-pacarnya, tidak jarang aku sering jadi bahan bully karena mereka yang iri, tapi selalu saja Dicky membela ku lagi.


Dicky memang rupawan ... wajah belasteran, semakin tampan dengan tinggi serta proporsional tubuhnya yang atletis nyaris sempurna, dan ... dan ... ah! pikiran apa ini, aku sudah melihat semuanya. Sejenak tersadar aku merasa berlebihan, tapi tanpa sadar aku tidak henti memuji dirinya.


Dibalik sikap protektif nya selama ini seharusnya aku yakin ia pantas menjadi kepala keluarga bagi diri ku yang tidak seberapa.


Aku belum mendapat jawaban apapun dari teka-teki ini, menjadi Janda dalam semalam, mimpi apa aku! cita-cita memiliki keluarga harmonis saat ini sudah pupus, mungkin dia bukan jodoh ku.


Tapi, memikirkan Eli saat ini pun rasanya tidak adil bagi Dicky yang ternyata perjuangan nya lebih besar kepadaku. Dicky mengubah kebencianku jadi terhenti seketika seperti ditelan bumi, emosi yang meluap dari Dicky tanpa sebab menjadi tanda tanya besar, sudah terjadi issue apa tentang aku dan Eli? siapa yang bertanggung jawab atas pernyataan jahat bahwa aku telah bercinta dengan mantan pacarku.


Terakhir kali terjadi adalah pertama kali nya juga saat aku kehilangan kehormatanku. Bercinta? nyaris, jika tidak kucoba menghentikan Eli yang sudah diluar kendali dalam kondisi kacau ku saat itu, Pria sopan itu ternyata bisa gagal juga, lagipula mana mau aku sembarangan begitu, aku masih punya harga diri.


Tidak ada orang yang tau apa yang terjadi pada dini hari kala itu, hanya aku dan Eli. Apakah Dicky hanya mengira-ngira kemudian menyimpulkan sendiri hanya berdasar aplikasi ponsel yang selalu Ia gunakan untuk mengetahui keberadaan ku, rasa penasaran ku semakin tinggi, meski tidak guna lagi mengklarifikasi namun aku tidak ingin keputusan Dicky menceraikan ku atas dasar fitnah.


****


Aku mencoba menulis pesan singkat kepada Eli, semoga ia segera membacanya.


* Apa aku mengganggu? bisa kita bicara El ... . (Susan)


Pesanku sampai dan baru dibalasnya sekitar 15 menit kemudian.


* Yes love, bisa ... tapi tunggu setengah jam lagi aku akan menemuimu di Rumah Sakit


* Tidak, tidak perlu ... aku meneleponmu saja bagaimana? (Susan)


* Ah, jangan khawatir ... aku pun juga ingin sekali menemui mu, maaf kemarin tidak sempat. (Eli)


* Tidak perlu El ... .


* Kenapa?


* Aku tidak ingin bertemu dengan mu dulu


* what’s wrong?


* Sudahlah ...


* Ada yang tidak beres


* Tidak, aku tidak apa-apa

__ADS_1


* Kalau begitu aku kesana


* Tidak perlu


* Aku memaksa


* Sudah kubilang tidak!


Pesan terhenti sejenak dan terlihat ia mulai mengetik sesuatu lagi.


* Aku hubungi Kak Edo saja kalau begitu, dia pasti mengijinkan ku menemui mu


* Tidak perlu, El ... tolong hargai aku saat ini


* Tapi kau aneh mana mungkin aku bisa diam


* Sudahlah aku cuma butuh istirahat


* Tadi kau bilang mau meneleponku kan?


Aku berhenti sejenak, nyata nya aku terjebak kata-kata ku sendiri.


* Ya, aku yang meneleponmu


* Aku harus tau ini ada apa, 15 menit lagi aku ke Rumah Sakit


* See??


Tiba-tiba status pesan tertanda Eli yang tadi sedang online berubah menjadi Last seen. Sepertinya Eli memaksa datang tanpa meminta ijinku lagi, untuk apa dia kesana aku sudah berada dirumah sejak kemarin siang.


* Eli, jangan ke Rumah Sakit!


Pesanku tidak dibalas ataupun muncul centang biru tanda bahwa ia membacanya, tidak ku sangka dia lebih nekat dari yang kukira.


* Aku sudah pulang ke rumah! tapi jangan kesini!


Centang biru, aku terkejut melihat secepat itu responnya.


* Stay there


Bahaya, lebih baik aku segera turun menemui nya ketimbang membiarkan dia datang dalam keadaan marah begini.


Aku bergegas keluar dari kamarku dan berlari menuruni tangga, tidak peduli kondisi ku yang masih harus bed rest, tapi demi menghindari keadaan yang tidak terduga. cepat-cepat aku berjalan menuju pintu ruang depan, membuka kuncinya dan aku tersentak saat membuka pintu, Eli sudah berada persis di depan pintu dengan memasang ekspresi yang tidak bersahabat.


“Mau kabur kemana? “ tanya Eli dengan nada dingin, sedingin gunung es yang ditabrak oleh kapal Titanic.


“Aa ... ayo kita duduk diluar “ ucapku seraya mencoba maju sedikit dan menutup pintu dibelakangku.

__ADS_1


Untungnya dia menuruti perkataanku, dalam keadaan hanya berdua begini, aku harus tetap antisipasi karena bisa saja emosi berubah jadi tidak terkendali, seperti yang terjadi malam tadi saat aku bersama Dicky.


Kami duduk sejajar berseberangan pada kursi teras yang terbuat dari besi, memang tidak tepat rasanya bicara ketika cuaca panas begini, meskipun Pria di sebelahku ini mengeluarkan Aura dingin tadi, tetap saja aku antisipasi untuk menjawab cecaran pertanyaan nya nanti.


“Kenapa kalian tidak memberitahuku saat ingin pulang?” Eli memandangku sekilas mengerutkan alisnya, dan melirik ku lagi dengan bola matanya yang semakin berwarna biru dengan pantulan cahaya matahari yang menyorot sedikit di teras siang ini.


“Bukan aku, Kak Edo hanya ingin aku beristirahat tanpa diganggu oleh siapapun” aku mencoba menjelaskan meski nampaknya Eli tidak terima penjelasan klise semacam itu.


“Langsung saja, apa yang ingin kau bicarakan padaku?” kini Eli menoleh dan mulai memperhatikan wajahku yang mulai kelihatan canggung.


“Hmm ... ada yang memberitahuku ... seseorang menyebarkan issue tentang kita malam itu, kau tau siapa?”


“Ehhh ... haha ... mana aku tau, kau tau dari mana?” Eli seperti malas menanggapi.


“Apa yang kalian berdua pertengkar kan saat di Rumah Sakit kemarin itu?”


“Siapa? aku? itu Suami mu ... bukan aku” jawab Eli datar


“Yaa ya, kalian berdua ... memang siapa lagi yang akan bertengkar, hingga kau tidak jadi menjenguk ku di dalam, nampaknya ramai sekali hingga aku bisa mendengar ibu-ibu histeris di luar ruangan, dia memukulmu?”


“Kau sedang membuat reka adegan berita kriminal? harus se detail itu imajinasimu mengenai kejadian malam kemarin?”


“Bukan, Kak edo mengatakan bahwa Dicky cemburu dengan kedatangan mu, apa yang dia lakukan padamu?”


“Haha ... tidak, dia hanya nyaris memukul ku, tenang lah itu tidak mungkin terjadi, kau pikir aku akan membiarkan dia semena-mena terhadapku?” Eli tersenyum mengejek, wajahnya masih terlihat tenang namun seketika berubah kembali serius. “Jadi apa kaitannya dengan kau tidak ingin menemui ku?” Eli memandangku tajam seakan-akan mencurigai sesuatu yang berat hati untuk aku ungkapkan.


“Aa ... aku ... hanya butuh waktu El, ada satu hal yang sangat berat sedang aku hadapi” Aku mulai merasa canggung untuk bercerita, sangat bimbang untuk memulai dari mana.


“Apa? katakan!”


“Semalam Dicky datang ke rumahku”


“Apa yang dia lakukan terhadapmu?! apa dia menyakiti mu lagi?! kurang ajar dia!” Eli terlihat geram


“Ya, untuk ku saat ini itu sangatlah buruk, kau tidak perlu tau itu apa, hanya aku merasa janggal dengan kata-kata nya, apa kau yang telah mengatakan bahwa ... kita ... telah ... melakukan ...“


“Iya! kenapa? “ Berani nya Eli membuat semua orang menuduhku melakukan hal yang tidak pantas dengan nya, dengan menyatakan kebohongan besar seperti ini.


“Apa-apaan kamu!!” tegas ku merasa tidak terima dengan pengakuan Eli. “Kita tidak melakukan hal itu El! kau membohongi semua orang, kau berkhianat padaku!”


“Memang aku harus bilang apa? memang iya kan?”


“Tidak! aku tau persis apa yang terjadi saat itu, tidak mungkin kita melakukan hal sejauh itu, jangan memanipulasi cerita!”


“Memangnya kau masih ingat tingkat kesadaranmu saat itu? kau bahkan tidak berkutik sedikitpun”


“Pembohong kamu Eli!”

__ADS_1


Aku menghentakan dorongan di kedua bahu Eli, sangat tidak terima dia membuat satu kebohongan yang ku saksikan dengan mata kepalaku sendiri, atau kah ... memang benar itu terjadi!!


__ADS_2