
Satu minggu berlalu dan mampu menghindari Dicky bagaimanapun caranya, Mama dan Papa juga tidak menaruh kecurigaan apapun atas semua konflik yang terjadi pada anak-anaknya.
Hingga persoalan konsultasi ke dokter hanya Aku dan Kak Edo yang tau, ia turut mengantarku ke beberapa dokter yang terbaik hanya untuk membandingkan hasil. bahkan sempat dikira ia suamiku ... Gila, horor sekali kalau suamiku macam dia!
Hari kebebasan tiba ... Susan belajar kembali merasakan udara dan lingkungan kampus lagi, meski dampak trauma itu melekat padanya, rasa risih ketika berada dekat dengan pria di sekelilingnya termasuk teman gengnya Adrian dan Urip.
Sebenarnya bukan mereka yang kelihatan aneh ... tapi aku yang aneh. Susan
“Susaaaaan ... “. sambut delta seraya merentangkan tangannya ingin memeluk. “Kemana aja sih, kamu sakit ya katanya? sakit apa?”. Delta merangkul pundak Susan.
‘Kenapa ke perempuan juga aku merasa risih sih’ . Susan memandangi tangan delta yang menempel di pundaknya sambil senyum memaksa.
“Tipes ... ada apa aja yang sudah kulewatkan ini?”.
“Ah ... gak ada yang penting sih. OH! yaa ... kamu dicariin sama Ibu Ike tuh!”.
“Ahhh iya iya aku tau soal itu tidak perlu dibahas lagi lah, nanti biar aku yang ke ruang sekdos ... “
Usai jam pelajaran pertama Susan berniat menghampiri Ibu Ike diruang sekdos, ditemani Delta karena Susan tau tidak akan sanggup kalau kena dimarahi sendirian.
Tokk Tokkk
Ceklek
Susan melongok kedalam ruangan yang terdapat beberapa dosen yang sedang bercakap-cakap dan sebagian melakukan aktifitas dengan berkas-berkasnya.
“Permisi saya mau bertemu dengan Ibu Ike sebentar, ada pak?”. Seperti layaknya mahasiswi yang tau salah dan takut kena marah ada baiknya Susan berlagak Innocent saat ini, sedikit akting mungkin bisa menyelamatkannya. menaruh kedua tangannya tergenggam dibawah.
“Ada keperluan apa, mbak?”. Tanya Pak Wahyu Dosen Kesehatan Mental kami.
“Mau tanya soal konseling pak ... Soalnya kemarin saya ... “ sebelum Susan menyelesaikan kata-kata, Dosen itu memotong.
“Kamu ... Susan Adriana ya?”
“Ya Pak!”.
“Ooo ... ini dia nih lho mbaknya ... “ menoleh ke arah beberapa Dosen seakan memberikan informasi tentang kedatangan Susan.
Selintas beberapa Dosen sigap menoleh dan berkata-kata sepintas.
“Oalaah mbak ... kemana aja itu ...”
Adapula yang berdecak sambil bergeleng-geleng kepala,
“Yaa biasa mahasiswa gitu sih suka pada enaknya saja, duh kamu mbak ... “
“Hayo loohh ... “
‘Ini ada apa sihh!!! namaku nampaknya jadi Viral di ruangan ini’. Susan
“Ibu Ike sedang keluar sebentar, kamu tunggu saja disini dulu”.
“Eh ... apa saya kembali lagi nanti saja ya pak ... ?” Susan berpandangan dengan Delta yang masih berdiri di samping pintu
“Gak ... tunggu saja dulu disini, biar ketemu sama Bu Ike sekarang!”.
__ADS_1
Setelah menunggu selama 15 menit, Bu Ike berjalan masuk dengan membawa beberapa berkas dibantu oleh seseorang dibelakangnya. Kak Brian!
Susan menutupi kepalanya dengan hoodie, posisi membelakangi dan mengintip sedikit, entah kenapa Dosen-dosen yang sempat protes tadi diam tiba-tiba hening.
Terdengar ada yang berbisik.
“Bu Ike ... sstt ... sttt ... tuh anaknya”
Kak Brian berjalan keluar dan melihat kearah Susan sambil memicingkan matanya dengan wajah yang suuuuupppper duper masam saat Susan mencoba mengintip dari balik hoodie dan ketahuan, matanya jadi berbalik membulat sambil tetap berjalan cepat dan melengos keluar dari ruangan.
‘Nampaknya dia mengenali sweaterku, Hhh ... dasar gapura 17an!’
“Mbak!” Bu Ike memanggil berdiri disamping mejanya sambil menepuk-nepuk meja seperti menunggu tidak sabar.
“Eh ... Iya ... Bu ... “ dag dig dug, rasanya fungsi teman tidak bisa menetralisir situasi yang akan terjadi selanjutnya.
Bu Ike duduk dan memperhatikan Susan dari atas sampai kebawah. Wajahnya seperti siap memakan manusia.
“Duduk!”
“Ya Ibu!” Susan duduk perlahan
“Kamu ini gimana toh ya, kemana aja mbak baru muncul sekarang ... “
‘Kalau kuceritakan rasanya akan muncul backsong ... kumenangiiiss membayangkaaann ... ‘
“Saya sakit bu...”
“Mana surat dokternya?!”
“Ga buat bu, soalnya saya berobat jalan saja bu, kakak saya lupa minta... “ Ayooo skill berkelit keluarlaaaah.
“Tipes bu ... “ semoga tidak, Aamiin
“Hp kamu kemana?”
“Oh itu ... Eh iya saya lupa cas, jadi selama sakit saya cuma ditempat tidur saja Bu”. Berbohong didepan orang-orang psikologi? pintar sekali bodohnya.
“Kamu bohong ini, ya? coba nanti bawa orangtua kamu kesini!”.
‘Kak Edoooo toloooong’ . meronta dalam hati
“Baik bu ... nanti saya bawa kesini”.
“Besok pagi ya! kalau tidak nilai kamu bakal banyak D ini, siap-siap saja mengulang angkatan”.
Shock!
Wajah Susan pias.
“Ba—baik Bu ....”.
“Sudah sana deh, begitu saja ya ... saya tunggu ... “
“Baik Ibu ... permisi ... “
__ADS_1
Susan keluar dari ruang sekdos dan menunduk tidak sanggup menahan takutnya tadi akhirnya tangisnya pecah. Bulir airmata turun deras tanpa raungan hanya ada isak tangis sesekali terdengar, ia terduduk dilantai depan ruangan sekdos.
“Eh ... San, gimana ... ?? ya ampun ... ” Delta memeluk Susan.
Susan menceritakan kejadian di dalam.
Sempat terpikir untuk meminta bantuan Kak Brian untuk menolong nilainya , padahal sebaliknya yang ia tidak tahu adalah segala yang terjadi dengan situasi di dalam tadi adalah efek dari kekesalan Brian.
Beberapa kali Ibu Ike terkena teguran dari pihak Dekan, hingga para Dosen pun mengetahui faktor utama penyebab ini semua karena Ibu Ike jadi terlalu banyak cerita tentang permasalahannya kepada rekan sesama Dosen.
Betapa Brian memiliki andil besar disini atas statusnya yang kuat hingga mampu saja meminta pihak tertinggi kampus melakukan apapun untuknya. Hanya saja Brian tidak mau terlalu mengekspose dirinya dan tetap berpenampilan layaknya dosen biasa.
Dalam Obsesinya pada usia 27 tahun, ia mengabdikan dirinya pada dunia Pendidikan dan Sosial, hal itu membuatnya memiliki banyak LSM dan Sekolah-sekolah khusus bagi orang yang kurang mampu, serta sebagai salah satu pemilik saham tertinggi di Universitas Gema Karya dimana Susan saat ini berkuliah. Tapi dalam hal kehidupan pribadi dia pantang diganggu.
****
‘Kurang ajar dia baru muncul sekarang!’
Brian mengetuk-ngetukan jarinya diatas meja dengan gigi yang merapat karena geram.
Sesi kelas sudah selesai minggu sebelumnya, hanya tinggal memberikan feedback berupa folder berisi materi-materi dan sertifikat kepada para konseli untuk bekal mereka membaca mengenai hasil perkembangan mereka selama konseling.
Brian sudah nampak terlalu kesal dengan ketidak sempurnaan hasil penelitiannya kali ini, tapi sudah enggan mencoba untuk mengulas lebih dalam tentang kehidupan pribadi subjek gagalnya, jangankan melakukan konseling nampaknya melihat sosok Susan saja sudah tertanam kebencian.
Ia memandangi ponselnya dan segera menuntaskan rasa penasarannya dengan mengirim pesan untuk Bu Ike.
Brian [ Bagaimana dengan mahasiswi tadi Bu Ike? ]
Bu Ike [ Sudah saya informasikan Pak, beliau akan membawa orangtuanya untuk bicara dengan saya besok pagi. ]
Brian [ Apa alasannya perihal absen? ]
Bu Ike [ Sakit Pak, cuma tidak bisa menunjukan surat dokter atau rawat inap, jadi saya pastikan kebenarannya dulu ]
Brian [ Lalu apabila tidak terbukti sakit, Ia harus menerima konsekuensi bukan? ]
Bu Ike [ Ya pak, saya sudah sampaikan memberi nilai D dan mengulang kelas tahun berikutnya ]
Brian [ Jangan! ]
Bu Ike [ Bagaimana pak maksudnya? ]
Brian [ DO (dikeluarkan) saja dari kampus ini! ]
Bu Ike [ Apa harus seperti itu Pak? ]
Brian [ Seorang calon Praktisi dalam bidang apapun harus menjaga komitmen atau ia berarti dikategorikan gagal ]
Bu Ike [ Saya mengerti Pak Brian ]
Brian [ Sebaiknya seperti itu Ibu Ike, jangan lemah dalam memberikan sanksi, kita tidak akan mengeluarkan calon-calon Praktisi dengan kualitas buruk bukan? ]
Bu Ike [ Baik Pak, saya mengerti ]
Brian [Terima kasih]
__ADS_1
Dan masalah baru muncul lagi ...
Bersambung