My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Pria Misterius


__ADS_3

"Show timeee ... "


Senyum kecil tersungging dari sudut bibirnya.


...Aku terkesiap mendengar perkataannya, merasakan kepuasan batinnya yang keluar dari segelintir kata barusan....


'Apa yang sedang ia rencanakan dibalik ini semua? padahal beberapa waktu tadi wajahnya masih terlihat muram terlarut dalam pikiran' batinku membaca ekspresi kontras Dicky yang keluar seketika.


"Dic, jangan berhenti depan rumah. Tolong aku, kamu mengerti 'kan?" pintaku dengan sikap lemah.


"Kamu takut? ketahuan pulang denganku apa jadi masalah untuknya?" jawab Dicky dengan santai.


"Bukannya kamu juga mau merahasiakan identitas? apa kamu siap menampakan diri kamu setelah sekian lama menghilang?"


"Siap ataupun tidak, semua tergantung sikapmu," Dicky menoleh sambil menghentikan kendaraannya beberapa meter dari lokasi "apa pernah aku merasa takut berhadapan dengan masalah?" Dicky menyeringai tipis.


"Aku sudah menuruti permintaanmu hari ini, besok, ataupun nanti. Selama kamu 'pun ingin identitasmu dijaga, sebaiknya kita saling menjaga komitmen, setuju?" tegasku dengan nada rendah.


"Sepele, kamu yang takut atau aku sih sebenarnya?" Dicky sedikit bergumam melanjutkan kata-kata "dulu waktu aku hampir mati dihakimi kalian pun aku hadapi, apalagi cuma begini, hih!"


"Dic, ayolaah ... aku harus turun. Adam sedang melihat kemari!"


"Ya turun sana!"


"Janji gak berbuat macam-macam ya!" aku menodongkan jari telunjukku ke arahnya.


"Terserah. Sana!"


Aku terdiam sesaat memandangnya, dan sigap keluar dari dalam mobilnya. Sambil berjalan menunduk, telingaku tetap menyimak suara yang kutunggu, mobilnya untuk segera melaju.


Aku mendongakan kepala sesaat kudengar kendaraan itu melaju meninggalkan lokasi tadi, hatiku lega ia tidak berbuat aneh-aneh kali ini.


Kuhampiri Adam dan Leo yang duduk di kursi teras sambil memandangku.


'Ada apa ini, kenapa mereka kesini?'


Langkahku terhenti di depan mereka berdua.


"Kalian? kenapa kalian menunggu dirumahku? Brian mana?"


"Biar nanti tuan yang jelaskan, dia sedang di dalam" jawab Adam.


Tiba-tiba Brian muncul dari dalam dan berdiri di ambang pintu.


"Dear, sudah sampai?" Brian mengembangkan senyuman.


"Kamu ... tadi kamu balas pesanku seperti itu, kenapa sekarang disini?"


"Sudahlah, ayo masuk. Aku sedang bicara dengan Papamu"


"Papa? but ... " belum selesai aku menyelesaikan kata, Brian menyambut tanganku hendak menuntunku masuk ke dalam. Tapi belum sempat lagi kami melangkah masuk sebuah klakson mobil mengejutkan kami semua.


Tiiin ... Tiiiin ...


Sebuah mobil berhenti tepat seberang jalan, kami pun melihat bersamaan ke arah mobil itu. Sesaat kemudian kacanya terbuka penuh, menampakan sosok pria dengan hoodie dan masker hitamnya di kejauhan. Ia melambaikan tangan dan menempelkan tangannya dibagian mulut yang tertutupi masker, melepaskannya lagi mengisyaratkan tanda cium dari jarak jauh.


'Kurang ajar Dicky!! Ngapain dia masih disini!'


Mobil itu kemudian melaju kembali dengan cepat, dan seketika saat itu pun semuanya berbalik memandangku. Seakan-akan menunggu penjelasan.


"Kamu pulang dengan Pria itu tadi?" Brian menatapku sambil menghela napas lalu menunduk enggan melihatku "maaf jika kedatanganku tidak tepat untuk kalian"


"Bri, itu ... "


Brian melepaskan genggamannya dan menyesapkan kedua tangannya dalam saku celana.


"Ya sudah, masuklah. Ada pembicaraan yang perlu kau pertimbangkan" senyumnya meredup seketika, ia berbalik kembali masuk kedalam tanpa melihat ke arahku lagi.

__ADS_1


Sejajaran buket-buket bunga cantik diletakkan pada sofa meja hias ruang tamu dan giftbox dari merek terkenal yang diletakan di meja.


'Ya ampun, dia membuat kejutan ini ternyata ... '


Wajahku terasa panas karena rasa haru sekaligus sedih melihat Brian yang mencoba menutupi sikap kecewa nya tadi.


'Bri, maafkan aku ... '


Papa memintaku bergegas membersihkan diri ke kamar, dan kembali ke ruang tamu untuk menemui mereka lagi.


Brian terlihat tenang saat berbincang-bincang dengan Papa. Sedangkan yang tak bisa dibohongi adalah sikap Brian terhadapku, bahkan sedikit saja tidak mengindahkan kedatanganku di antara mereka berdua. Hanya sedikit melirik dari sudut matanya.


Aku pun mengambil posisi duduk di sebelah Papa yang berada di kursi panjang berseberangan dengan Brian.


'Kenapa aura ruangan yang seharusnya menyenangkan dengan jajaran bunga jadi terasa mencekam dengan ekspresi datar Brian kali ini. Buyar semua rasa bahagia itu'


"Jadi, Susan. 'Dek Brian sudah membicarakan dengan Papa maksud kedatangannya kali ini, bahwa niat baik untuk hubungan kedepan kalian bagaimana sudah di utarakan seluruhnya. Nah, Susan sendiri gimana ... ?"


"Hm ... ya aku sih ... 'Pa ... selama beberapa syarat yang Papa pernah sampaikan ke aku bisa Brian sanggupi ... kita tunggu sampai semuanya selesai dilaksanakan, terutama beberapa hal"


"Aku secara pribadi ... tidak akan memaksa kamu, setiap waktu pilihan bisa saja berubah, tapi ... aku akan berusaha melaksanakan semua yang menjadi syarat utama ku untuk bisa melamarmu" Brian menatapku serius, sama sekali tidak tajam, yang ada hanyalah sinar mata kekecewaan.


"Ya Bri ... aku janji akan menepati ucapanku jika Papa memang mengizinkan waktu yang tepat" ucapku pelan.


"Saat kalian berdua sudah mantap, Papa gak akan mencegah kok. Tapi satu, karena ... proses pernikahan Edo akan diundur hingga tahun berikutnya kalian harus tetap merundingkan dengannya perihal waktu pelaksanaan nya, siapa yang lebih dulu maju ke pelaminan"


Aku menarik napas dalam-dalam mendengar kata 'pelaminan' seakan proses ini cepat sekali dalam hubungan kami yang terbilang baru, bahkan belum genap setengah tahun.


"Itu sudah saya pertimbangkan 'Om, bahkan sebelum itupun saya yakin tidak hanya meminta restu dari Om dan Tante, tapi tentunya dari kakak kandung Susan juga mungkin pihak keluarga lainnya"


"Oh bagus itu 'Dek Brian, saya senang ada inisiatif seperti itu, boleh kapan waktu kalian main atau hadir di acara keluarga untuk perkenalan, Susan sudah bertemu siapa aja keluarga Brian disini?"


"Uncle saya 'Om, Susan sudah beberapa kali bertemu dengannya"


"Di Jakarta? keluarga lain?"


"Ibumu bagaimana? setidaknya meminta izin dan direstui adalah hal utama agar pernikahan kalian berjalan lancar"


"Nanti akan diatur bagaimana caranya bisa bertatap muka, apakah Ibu saya datang ke Jakarta atau ... kalau boleh Susan saya ajak ke rumah saya disana"


"Maksudnya?"


"Eh ... maksud saya, ikut ke London. Eh, hehehe itu pun hanya jika diizinkan, saya tidak memaksa, Om. Bagaimana baiknya saja"


"Nggak usah lah, belum ... belum saya izinkan kalau ikut-ikut kamu, bukan tidak percaya, hanya tidak baik karena belum Sah, mengerti maksud saya 'kan?"


"Sangat mengerti 'Om, saya paham aturan disini"


Aku hanya terdiam dengan banyaknya pikiran, termenung dikala apa yang baru saja kudengar sangatlah nyata, pantas saja Brian cukup terkejut dengan kejadian tadi, karena semua hal ini sudah ia persiapkan untuk meminta izin dari Papa.


Ini memang bukan sebuah lamaran, sedikit pembicaraan serius atas niat baiknya, meraih hati kedua orang tuaku tanpa rasa takut ditolak.


karena baginya ...


...Niat baik yang disampaikan dengan baik, akan mendatangkan hal yang baik pula....


Dalam hal ini Brian memang lebih terlihat dewasa dari usianya, lain denganku yang selalu bersikap kekanak-kanakan.


Setelah panjangnya pembicaraan antara kami bertiga, Brian memohon diri untuk pulang ke kediamannya. Untunglah kak Edo tidak menemui situasi ini kalau tidak, suasana pasti jauh berbeda dan pembicaraan mungkin belum selesai sampai disini.


Aku mengantarnya ke mobil usai Brian berpamitan. Dalam langkah kami menuju mobil, Brian tetap terdiam tidak berusaha membuka pembicaraan. Mungkin minatnya berbicara sudah hilang. Kucoba kembali membuka kata.


"Bri ... " kuraih tangannya yang ia selipkan dalam saku celana "terima kasih sudah memberi aku kejutan seperti ini ... "


"Sama-sama ... " jawabnya datar, Brian tetap menunduk berjalan pelan beriringan denganku.


"Emmm ... kalau aku tau tadi kamu mau datang 'kan bisa sekalian kusiapkan makan malam" ucapku pelan, ragu mendapat jawaban datar lagi.

__ADS_1


"Aku belum lapar juga, mungkin cari makan malam bersama Adam dan Leo nanti di jalan"


"Bri ... , utarakan sa ... " belum selesai mengucap, Brian memotong kata-kataku.


"Kalau mau bicara hal lain, kita bahas lain kali saja. Aku sedang tidak minat berdebat atau mendengar alasan apapun"


"Bri, dengar aku," aku menarik tangannya hingga posisinya berhadapan denganku, dia menatapku malas saat aku berusaha menatap matanya untuk bicara. "aku mohon jangan berpikir macam-macam"


Brian memandang ke arah Leo dan Adam yang terhenti di samping mobil mereka, menunggu Brian juga ikut masuk ke dalam mobil satu nya. Brian menganggukan kepala sekali, memberi kode agar mereka pulang lebih dulu. Maka mereka pun melaju pulang lebih dulu.


"Apa yang kamu takutkan, kenapa kamu lebih panik daripada aku"


"Aku ... aku gak panik, maksudku ... "


"Hm?" Brian kini memandangku dalam-dalam. "aku percaya padamu, sudah cukup 'kan?"


"Tapi Briii ... aku gak mau begini, sikapmu gak menampakan kepercayaan, aku akan coba jelaskan"


"Dia, ehm ... Pria itu orang yang mengganggu mu, mantan saat sekolah, karena kamu dipaksa, jadi kamu pulang sama dia. Itu 'kan yang ingin kamu sampaikan?"


"Eh, memang iya, itu kejadiannya!"


"Ya sudah, apalagi?"


" .... " aku tidak sanggup lagi berkata-kata. Hanya mampu menggelengkan kepala.


"Aku mau pulang, dan langsung istirahat. Gak perlu hubungi aku dulu, mungkin aku sudah tidur saat kamu telepon nanti"


Brian berjalan kembali dan masuk ke dalam mobilnya. Terdiam beberapa saat dibelakang kemudinya, dan membuka kaca mobil disampingnya. Aku yang sedang berdiri tepat di pintu samping bagian kemudi, menunggu respon dari kekasihku. Hingga tanpa sadar kini cairan bening keluar dari sudut mata, menetes cepat jatuh di kiri kanan pipiku.


Brian menoleh lalu menatapku, dan menghela napas dalam-dalam.


"Huuufffff ... " Brian kembali mematikan mesin, membuka pintu mobil lalu menghampiriku.


Aku termundur beberapa langkah hingga kemudian ia dengan cepat memelukku erat.


"Bri! Kamu janji mau memperjuangkanku 'kan?" tangisku meluap seiring airmata yang keluar lebih cepat.


"Aku sudah katakan, perjuanganku itu pasti, tapi perasaanmu lah yang harus kupastikan kembali, ... aku tau ini terlalu cepat. Tapi aku memang harus segera bertindak agar kita tidak berpisah, kecuali kamu yang menginginkannya" Brian mengusap pelan rambutku dikala wajahku kini terbenam dalam pelukannya.


"Aku takut kamu cemburu ... "


"Hahaha, cemburu? hmm ... yaa ... aku akui cukup terkejut tadi, tapi ... aku anggap Pria seperti itu tidak mungkin bisa meraih hatimu 'kan?"


"Tentu saja gak mungkin!"


"Hanya satu yang aku takutkan ... "


"Apa?" aku mendongakan kepala, ia menatapku halus.


"Aku takut kehilanganmu karena Pria dari masa lalu"


"Maksudmu?" aku melepaskan pelukannya.


"Kamu tau maksudku, Pria yang mungkin saja namanya tertanam dalam dihatimu, ... Dicky"


"Di—Dicky?" jawabku panik


Aku terhenyak mendengar nama itu ...


'Tidak bisa kubayangkan seandainya saja Brian tau Pria tadi adalah Dicky, entah se-marah apa dia nanti, hingga bisa saja syarat lamaran dariku tadi akan dibatalkannya mentah-mentah ... '


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2