
POV Author
Susan mencoba tetap berjalan tegap dalam sesak hatinya mendapati kabar dari Adam. Tidak menyangka sekian lama merahasiakan keberadaan Dicky yang telah kembali adalah beban yang teramat dalam.
'Aku bisa memahami jika Brian tidak ingin menghubungiku karena kesibukan, tapi bukan karena membenciku, ingin mati rasanya'
Kembali ke dalam ruangannya mulai terasa lunglai tanpa semangat, menjatuhkan dirinya dikursi kerja sambil menopang dahinya.
Berharap setiap dering masuk ke ponsel ataupun sebuah notifikasi pesan pribadi adalah dari kekasihnya.
'Bri ... Bri ... apa yang sedang kau pikirkan tentangku ... '
Susan terkejut saat seseorang menepuk bahunya, rupanya Haya yang baru saja mengambil Break sesaat meninggalkan kelas Training.
"Say, kenapa? kamu gak enak badan?" ucap Haya lembut.
"Eh, kelas ditinggal 'Hay? lagi apa mereka?"
"Kutinggal sebentar di materi apa yang bisa diubah dan tidak bisa diubah, lagi mereka kerjakan. kamu kenapa?"
"Nggak, gak apa-apa ... agak pusing aja"
"Hari ini kamu gak ke layanan? refreshing deh ... sambil liat-liat Agent, apa gitu ketemu kordi ngobrol aja"
"Itu bukan refreshing namanya, mereka pun masih sibuk jam siang, aku gak mau ganggu"
"Okelah, siapa say ... pacarmu? atau ... "
Susan menatap Haya ingin sekali mencurahkan perasaannya tentang masalah ini.
"Eric ... dan Brian ... "
"Ah, dia itu. Diapain kamu sama dia? mau aku tegur sekalian?"
"Tolong jangan terlalu dalam mengetahui masalahku, Brian ... cuma nggak ada kabar ... "
"Ya ampun, gitu aja. Telepon sih! mungkin dia sibuk say ...positif aja"
"Aku takut ..., seandainya gak ada yang terjadi mungkin gak akan aku berpikir kemana-mana"
"Ada apa?" Haya berbisik dan mencondongkan tubuhnya ke arah Susan berusaha menggali info lebih tanpa terdengar teman-teman se ruangan.
Susan menceritakan segelintir kejadian semalam, serta berita yang ia dapatkan melalui Adam.
"Aku bahkan nggak tau kenapa Brian hari ini pasang status Busy, biasanya nggak gitu"
"Uhhh ... si Eric itu ya! dia masih naksir sama kamu deh Say, kenapa juga dia segitu isengnya sama kamu kalo nggak ada apa-apa"
"Mungkin dia dendam Hay ... "
"Dendam kenapa? ada apa sih sebenarnya kalian ini?"
"Lain kali kuceritakan, kisah kami panjang. Mungkin kamu nggak akan menyangka ini seperti apa"
"Oke ... oke ... aku tunggu cerita kamu, aku harus kembali ke kelas, jangan nggak cerita! kamu coba hubungi Brian sekarang, mungkin itu cuma prasangka kamu aja"
"Yes thanks, udah deh kamu. Balik sekarang ... kasian Agent baru, kalo ada yang ganteng jangan lupa tebar pesona, Hahaha"
"Nggak usah dikasih tau, insting jomblo tepe nya garis keras. Hahaha ... "
__ADS_1
Haya meninggalkan Susan kembali ke ruang Training, keberanian Susan muncul setelah mencurahkan isi hati nya barusan.
Calling ... 'My Big Bri'
Declined
Calling ... 'My Big Bri'
No Answer
Pesan masuk
Brian [ Aku sedang meeting ]
Susan [ Okay ]
Susan menjatuhkan sandarannya kembali ke kursi dengan kasar. Memejamkan matanya rapat-rapat mencoba hilangkan segala tanya dalam hati tentang Brian.
****
Ruang kerja Brian.
"Jadi, bagaimana Leo ... kamu bilang ada permasalahan?" Brian meletakan ponselnya kembali di atas meja.
"Beberapa saham perusahaan dalam kondisi krisis ini memang Bearish, Bandar lain kemungkinan akan siap mengGoreng perusahaan-perusahaan ini. Tapi masih aman tidak perlu ambil langkah cut loss, karena masih bisa tertolong di Saham blue chip kita yang konsisten."
"Kirimkan saya Annual report Blue chip kita, meeting kemarin bagaimana? dan ... berapa perusahaan yang menurutmu grafiknya menurun tadi?"
"Tujuh perusahaan, Tuan. Salah satunya Sempurna Group, ini yang saya katakan tadi masih aman, sisanya PT. Andara, PT. Intelcomm.Tbk, PT. Graha Adhitama, PT. Huni Semesta, PT. Arunda Contractor, dan PT. Daya Asia Bank"
"Sempurna Group? saham middle cap seperti itu bisa mengalami Bearish?"
Brian menunduk terdiam sesaat sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di meja.
"Stop loss di angka ******** per-lot, jika potensi Bearish. Saat grafik menurun, kita buy back dan pecah akun ke beberapa broker untuk ikutan mengGoreng sahamnya!
Leo mengernyitkan dahi keheranan.
"Ini akan terbaca Broker lain"
"Bukan kita satu-satunya yang bermain begini, itu sebabnya pecahkan akun, atau cari Broker lain agar tidak terdeteksi"
"Tidak gambling, Tuan? apa yakin perusahaan itu akan growing signifikan, itu ... "
"Permainan mafia. Pelajari banyak issue tentang perusahaan ini, lebih detail lagi seputar kegagalan mereka, saya masih percaya mengingat recordnya," Brian memotong kata-kata Leo "berani ikutan ber spekulasi?"
"Terlalu ber resiko menjadi investor risk taker , banyak investor melihat ini semakin lemah."
"Percaya sama saya, ada perencanaan proyek besar yang disembunyikan setelah pergantian Direksi. Sebelum terpublish, kita sudah kembali memboyong jumlah besar. Capital gain sudah kita dapat, kita tidak kehilangan Cuan. Coba sesekali jangan cari aman dikondisi penuh permainan. Suhu politik memanas, mereka takut, kita maju!"
"Apa sebaiknya tidak kita tunggu Adam untuk beri ajuan pendapat?"
"Kamu tidak percaya saya? saya sedang kesal sama dia, sampai detik ini belum ada kabar, meeting dimana dia?"
"Kawasan Tamrin, Tuan"
"Tindakan harus cepat begini ... dia bergerak lambat"
"Bukan karena ... masalah pribadi yang mengganggu 'kan?"
__ADS_1
"Saya bukan pengambil keputusan sembarang karena urusan pribadi, ke kanak-kanakan."
Leo nampak tidak yakin ego Brian dalam mengambil keputusan sebuah agresi biasa, ber resiko tinggi kehilangan dana yang cukup besar adalah yang paling ditakutkan sebagai pemain saham yang bergelut selama kurun waktu sepuluh tahun seperti Brian.
Brian meraih ponselnya kembali untuk mengecek beberapa akun tabungannya dalam aplikasi bank, beberapa dirasa aman untuk bertahan jika kemungkinan terburuk terjadi, matanya terarah pada salah satu akun yang digandakan untuk Susan, isi tabungan berjumlah sesuai tanpa penarikan atau notifikasi transaksi sedikitpun, hanya potongan biaya administasi Bank bulanan.
'Dia tidak pernah menggunakan uang yang kuberikan ... memangnya cukup untuk biaya hidup dengan gaji segitu ...'
"Leo, hari ini kau jemput Susan. Antarkan dia pulang"
"Anda tidak mau menemuinya?"
"Tidak," menatap kembali laptop di hadapannya "saya butuh fokus, jadwal besok konseling klien ku ... ada yang harus ku analisa malam ini"
"Baik, Tuan"
"Apa menurutmu aku harus membeli satu unit mobil dan memperkerjakan Driver untuk antar jemput?" Brian tidak melepas pandangannya dari laptop.
"Untuk siapa?"
"Beberapa kali kutawarkan dia menolak dengan alasan tidak berani mengemudi, Susan ... dari dulu dia takut membawa kendaraan ... "
Brian menghempaskan tubuhnya disandaran kursi, sembari menopang belakang kepala dengan kedua tangannya.
"Sayang sekali"
"Haha, sekali saja ia lakukan karena mengejarku ke Hotel lima tahun lalu ... nekat, nekat sekali ...," Brian memejamkan matanya sesaat mengingat kejadian lalu "dia ... melepaskan rasa takutnya karena takut kehilangan saat terakhir bertemu, itu sebabnya saya kembali kesini ... menemui dia lagi ... "
Leo memberikan senyum tipis mendengarkan atasannya bercerita kecil tentang hubungannya, sangat memahami Brian yang tidak memiliki sahabat dekat untuk berbagi cerita, selain dua Asisten kepercayaan yang sekaligus sahabat untuknya. Adam dan Leo.
"Apa menurutmu ... saya layak memperjuangkan hubungan ini jika kemungkinan terburuk terjadi karena Pria itu?"
"Tergantung seberapa besar anda percaya, anda yang tau betul bagaimana Nona"
"Dia tidak akan lari dengan Pria itu kan?"
"Jangan tanya saya soal itu, Tuan. Saya tidak pernah serius dalam hubungan"
"Leo ... leo, sibuk menghabiskan waktu bersenang-senang nanti kamu tidak punya cinta"
"Hahaha, belum terpikirkan ... "
"Ya, entah ... saya juga baru tau, kaget dan memusingkan sekali. Terlebih orang yang kuhadapi ini tidak mudah, gesit ... mudah lolos, licik, dan tak terduga. Ya ... Dicky itu licik, Pria ini membahayakan hubungan saya"
"Saya dan Adam perlu melakukan tindakan lebih, jika dibolehkan ... "
"Mau apa? kalian bukan tukang pukul. Tetaplah profesional, jaga reputasi kalian ... saya melarang tindak kekerasan, meski dengan tangan lain. Jika memang harus, kutangani ini sendiri"
"Saya dan Adam sudah geram juga dengan orang ini, gatal tangan saya ... "
"Saya belum pernah berkelahi, tapi jangan ragukan saya jika terpaksa, jika terdesak ... semua Pria harus bisa membela diri"
'Ya ... jangankan kalian, tanganku sendiri ingin sekali mencekik lehernya ...' gumam Brian dalam hati.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Kasih tau Thor kl salah, lupa maen ginian.🤣