
Aku melihat kak Edo yang berjalan dari kejauhan menuju ke arahku, sedangkan Eli yang terlihat tidak berminat dengan situasi saat itu langsung berbelok ke arah rumahnya, sama sekali tidak menoleh ke arah kami berdua.
“Sedang apa malam-malam disini, kalian tidak lihat tempat ya.” ucap kak Edo dengan ketus.
“Ehh A—aku mau ... .”
“Mengantar aku pulang, ya ‘kan Sue?” Brian meneruskan perkataanku yang terlihat gagap kala kak Edo mulai berjalan mendekat.
Dari kejauhan aku dengar suara bantingan pintu yang berasal dari rumah Eli. Sepertinya Eli malas menyapaku seperti biasanya, meski sekian waktu lalu kami tidak bertemu.
“I—iya Brian mau pulang”
“Kamu tau jam berapa ini?” kak Edo terdengar kurang bersahabat dengan pertanyaannya.
“Iya aku tau ... oh, iya. eeeh ... kak Edo masih ingat Brian, ‘kan?” aku mencoba mencairkan suasana melihat kakak ku yang super ketus muncul dengan suasana hati yang tidak baik.
Lelah sepertinya.
Kak Edo pun berdiri di hadapan kami.
“Hhh ... ya!” kak Edo menghela napas lelah sejenak berhenti sambil menenteng koper pakaian kecil dan meletakkan disamping kakinya.
“Apa kabar, Edo” Brian mengulurkan tangan.
Kak Edo pun mencoba menyambut salam Brian yang mengajak bersalaman meski nampak tidak tertarik.
“Hhh ya ... baik, Brian. sudah lama kalian disini?” Muncul sikap tidak ramah kak Edo dengan bertanya gamblang didepan tamu yang sudah lama tidak ia temui.
“Ow, ah ... we just had a dinner, right Sue?” Brian menjelaskan mencoba mengendalikan kecanggungan saat itu.
“Eeh iya, tadi kita baru selesai makan malam sih, ini juga lagi ngobrol sebentar, sebentar lagi mau pamit sama mama papa”
“Hm, ya sudah, masuk dulu ya ... jangan malam-malam.” ucap kak Edo dengan nada datar sambil memandang kami berdua.
“Okay” Brian canggung berusaha tersenyum paksa.
“Iya kak, sebentar ... .” jawabku yang paham dengan sikap acuh kak Edo.
Sepertinya dari sejak awal dulu kak Edo kurang menyukai Brian, mungkin karena takut segalanya terungkap meskipun sebenarnya kunci masalah kami saat itu sudah semua Brian ketahui.
Kak Edo pun berlalu masuk meninggalkan kami berdua lagi diteras.
Sesaat kulirik ia memasuki rumah, tidak sabar untuk menjelaskan perihal sikap dingin kakak ku tadi.
“Maaf ya, dia memang suka begitu, kamu tau kan ... .” aku berharap Brian memaklumi perkataan kak Edo tadi.
“Don’t worry, bukan salahmu ... dia hanya terlalu protektif, aku akan mencoba baik dengan calon kakak iparku”
“Hahaha Ge-er kamu” aku tertawa kecil sambil meninju pelan lengannya.
“Hahaha. Loh, kenapa? memangnya tidak boleh berharap begitu?”
“Ya belum lah, baru saja kita jadian sudah memikirkan jauh kesana, kalau aku diambil orang lain bagaimana?” goda ku sambil tersenyum manja.
“Hahaha, aku rebut kembali, dan tidak aku kasih kesempatan”
“So sweet”
__ADS_1
“Hahaha ya, untuk apa aku biarkan orang merebut yang sudah kumiliki, mau berani macam-macam hadapi aku dulu secara jantan”
“Memangnya kamu bisa berkelahi hahaha, paling-paling Adam kamu suruh turun tangan”
“Aku menghindari kekerasan dalam bentuk apapun, aku tidak suka kekerasan. Tapi jika kondisi genting apa aku juga harus diam? buat apa Adam, jangankan dia ... mau kuminta beberapa bodyguard untuk menjagamu mungkin akan kulakukan jika perlu, tapi aku laki-laki ... ada saatnya aku harus menangani sendiri” Brian meraih tanganku dan menggenggamnya lagi mencoba menenangkan hatiku.
“Hahaha jangan, nanti tanganmu kotor” canda ku. mengetahui masa lalunya yang di hakimi sebagai penderita OCD.
“Ah, masih saja kamu, kotor kenapa?” Brian seakan berusaha menekankan keadaannya yang sudah jauh lebih baik.
“Ya kalau berkelahi kan pasti tanganmu kotor, terus jadi sakit”
“Kan kamu yang obati, mau kan?” Brian mengusap pipiku dan menatap halus.
Aku seperti terhipnotis sesaat memandangnya kala ini, kami lama terdiam dan saling menatap hangat, jantungku benar-benar terasa berdegup lebih cepat. Dan perlahan Brian menunduk dan mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi ... dekat lagi ... dan ...
“San ... ! dipanggil Papa!” Suara kak Edo lagi memecahkan suasana.
Dia sudah pasti sengaja memantau gerak-gerik kami sedari tadi didalam.
Brian menegakkan tubuhnya kembali, menghela napas kasar. Aku pun canggung dengan wajahku yang sepertinya terlihat memerah saat ini.
“A—aku kedalam dulu Bri”
“Ya ... Hhhuufff”
Aku bergegas masuk kedalam rumah, dan berniat menemui Papa, dan nyatanya kak Edo yang belum lama sampai itu sedang berdiri dibalik jendela, menarik lenganku untuk bicara.
“San!” Bisik kak Edo menarik lenganku saat aku persis masuk melewati pintu.
“Apa sih kak? aku mau ke Papa dulu!”
“Apa?!” tanyaku kesal
“Sedang apa sama Dosenmu tadi?”
“Ya ampun kak, aku cuma ngobrol saja tadi ... lagipula kenapa sih kakak kepo deh!”
“Pakai peluk-peluk, kamu tau kan kalau diluar orang bisa liat kalian berdua””
“Kak, itu refleks lah, dan aku benar-benar cuma ngobrol, namanya juga orang pacaran! eh.”
“Pacaran? kalian pacaran??” terkejut dengan pernyataanku yang tanpa sengaja terlontar
“Eh ... Iya, ... iya!” perkataan itu terlepas dari mulutku tanpa sengaja “Ya kan aku sudah dewasa masih kakak mau atur juga? itu sudah tidak perlu kak, cukup dengan segala aturan kakak”
“Terserah kamu, aku cuma mau bilang dia itu sudah jauh lebih dewasa daripada kamu, kamu harus hati-hati dengannya.”
“Hhh iya ... aku tau apa yang harus aku lakukan, tidak perlu protektif seperti itu. Sudahlah, kalau tidak ada yang dibicarakan lagi aku mau ajak Bri untuk pamit, puas ‘kan?!”
Aku berjalan keluar meninggalkan kak Edo dengan sikap protektifnya tadi. Segera menemui Brian untuk mengajaknya kembali ke dalam rumah berpamitan pulang dengan keluargaku, termasuk kak Edo yang masih saja bersikap dingin terhadap Brian.
Sedikit canggung ketika Bri menyebut kata ‘Dear’ untuk memanggilku kini, aku jadi ingat saat masih menjalin hubungan dengan Eli kala dulu.
****
Flash back on
__ADS_1
Dua bulan sebelumnya
Durham, UK. Pagi itu cuaca yang begitu dingin menyelimuti kota, dan seorang pemuda nampak sedang duduk di sofa sambil memainkan ponsel dan menikmati meminum segelas cokelat panas yang berada di depannya.
‘Hmm cuaca ekstrim berbulan-bulan semakin hari membosankan saja tidak bisa kemana-mana, enak sekali bisa traveling ke tempat-tempat wisata diluar sana ... aahh entahlah’
Ia mengetik beberapa kata kunci di laman web pencarian melalui ponselnya, beberapa gambar menarik dari tempat-tempat wisata muncul di beranda web tersebut.
‘Hhm menyenangkan pasti diluar sana ... hmm Asia, tak kukira lama-lama membosankan juga berada disini. Jangankan berolahraga, kondisi begini saja sudah membuatku enggan beranjak dari dalam rumah. Tapi mengingat kata Asia masih saja membuat hatiku sakit saat ini, dan entah sampai kapan.’
Sesaat kemudian seseorang datang memanggilnya.
“Ericks sayang, tadi pagi Caitlin mencari kamu, tapi kamu susah sekali mama bangunkan, memangnya dimana ponselmu dia coba menghubungimu berkali-kali”
“Aku sedang malas ’Ma, biarkan saja nanti aku balas pesannya. Aku sedang tidak ingin kemana-mana, paling-paling dia mau mengajakku keluar, bosan sekali. Aku mau tidur saja!”
Wanita paruh baya itu menghampiri anaknya sambil membawakan beberapa potong kue panggang pada piring kecil ditangannya.
“Mau sampai kapan kamu tidak bergerak begini, carilah pekerjaan ... perbanyak pengalaman kamu disini”
“Aku sudah mencoba ‘Ma. setahun aku bekerja rasanya aku tidak puas kalau harus dibawah perintah ayah sendiri, seperti anak kecil saja!.”
“Lalu kenapa tidak mencoba peluang baru, pekerjaan bagus bisa kamu dapatkan di tempat lain, tanya ‘Dad mungkin saja punya relasi-relasi yang bisa mempekerjakanmu disini.”
“Dad lagi ... Dad lagi, aku tidak ingin bergantung padanya terus, aku sudah menurutinya untuk berkuliah dari awal lagi, sekarang mencari pekerjaan pun harus dengan ketentuannya, Aku mulai bosan disini.”
“Dan apa tindakanmu sekarang? sudah tidak pantas kamu bermalas-malasan begini. Ingat usiamu itu, sayang.”
“Aku mau cari peluang ditempat lain, terserah lah aku mau dimana nanti, mama tidak usah khawatir. Lagipula mama dan kakak juga sudah betah tinggal disini, ‘kan? dari awal aku sudah tidak ingin tapi kalian memaksa.”
Ia kembali memainkan ponselnya melihat beberapa tempat wisata dengan segala keindahan alamnya. Lalu ia beranjak ke kamarnya, mengambil laptop dan duduk kembali ke sofa itu.
‘Mungkin tidak ada salahnya aku pergi dari sini, aku masih punya keluarga besar untuk tinggal sementara aku mencari pekerjaan, Hhhh ... apakah aku memang ingin kembali mencoba ... ‘
Ia kembali mengetik sebuah laman web lowongan pekerjaan di laptopnya, kali ini iseng mencoba dengan peluang di negara asalnya, Indonesia.
Beberapa lowongan pekerjaan muncul berurutan, ia mencari peluang pekerjaan untuk posisi IT di beberapa perusahaan. Dan yang paling pertama muncul adalah perusahaan Telekomunikasi terbesar nomor satu di Indonesia, dengan pengalaman edukasi nya di UK saat lalu membuatnya yakin bisa mendapatkan pekerjaan pada perusahaan besar itu.
‘PT. Telc Indo, lowongan pekerjaan, sedang membutuhkan IT Programmer dengan Jobdesk membangun aplikasi menggunakan Web Service, WDSL - SOAP dan WSO2.’
“Hmm ... Wicked!”
“Kenapa?” tanya mamanya terheran yang dilakukan anaknya didepan laptop.
“Nothing, it’s just ... Huh, okay. show time!”
Ia tetap fokus di depan laptopnya dan menekan tombol sebuah kolom meng upload CV.
File, Open, CV.
‘Dicky Erickson Neville Dobson’
UPLOAD ...
.
.
__ADS_1
Bersambung