
Malam ini rasanya segala sesuatu nampak berbeda, agak aneh memang menerima banyak perubahan sikap Brian yang dulu kukenal, kini sikap kaku nya berubah menjadi lebih terlihat santai, hangat bahkan cenderung agresif, sehingga tidak ragu menggenggam tanganku berkali-kali.
Aku merentangkan tubuh diatas tempat tidur, melepas lelah kaki ku atas seharian banyak berdiri dalam Training tadi, tidak aneh sebenarnya karena ini rutinitas yang dilakukan hampir setiap hari, tapi fokus kali ini jauh dari itu semua, aku memikirkan Brian.
****
Keesokan harinya seperti biasa bersiap diri berangkat lebih pagi menghindari segala kemacetan, aku bergegas turun dari kamar untuk segera berpamitan.
Dulu, kak Edo selalu bisa mengantarku berangkat ke kantor di awal-awal karirku, semenjak ia punya tunangan nampaknya dia mulai fokus jadi tukang antar jemput, tapi biarlah ... saatnya aku membiasakan diri untuk tidak bergantung karena tahun depan kakakku akan menikahi kekasihnya.
Aku menuruni tangga perlahan dan sedikit mendengar percakapan dari arah teras, nampaknya Mama Papa juga sedang menghirup udara pagi bersama-sama. Tapi yang kudengar lebih dari dua orang bercakap-cakap disana. Aku menghampiri mereka dengan berjalan sedikit terburu-buru meski saat ini masih pukul enam pagi.
Kubuka pintu depan dan cukup terkejut dengan apa yang kutemui.
“Hai Sue, Good morning, kita berangkat?” Brian menyapa diantara kedua orangtua ku yang wajahnya sumringah entah kenapa, hipnotis macam apa yang Brian berikan pada Mama Papa sehingga mereka memasang senyum ala sambutan seperti ini.
“Bri—an? tapi kamu kan ... “ aku berjalan mendekati mereka.
“Kita satu tujuan kan? maaf aku tidak bilang apa-apa, sini ... biar aku bawa” tersenyum dan meraih blazer dan tas ditanganku, lagi.
“Eh, gak ... hmm” sempat menolak tapi ternyata lebih cepat ia meraih kedua benda tadi di tanganku “kamu jam berapa kesini tadi?”
“Setengah enam, aku tidak tau jadwalmu berangkat makanya lebih baik aku datang lebih cepat, Bu Trainer hehe ” canda Brian sambil tertawa kecil.
“Apa sih kamu, norak ah” akupun tertawa malu “mam ... pap ... berangkat dulu” akupun berpamitan mencium tangan kedua orang tuaku, dan mengejutkan lagi Brian yang ikut-ikutan cium tangan, aduh ... aku harus bilang apa sikapnya kali ini, hormat atau menjilat.
“Om—Tante, kami berangkat dulu”
“Oh, ya ... hati-hati, kalau jam segini macet juga lewat tol, kalian lewat jalur biasa saja, bisa banyak alternatif nanti” ucap Papa yang hilang sikap acuhnya pada orang lain selama ini.
“Ya baik, Om Tante, terima kasih ... permisi”
Saat baru saja melangkah beberapa meter, Mama memanggil lagi.
“San ... San!”
Kami berdua terhenti dan menoleh,
“Apa Ma ... nanti keburu siang loh”
“Nanti malam ... eh ... kita makan malam sama-sama dirumah ya, ajak nak Brian juga, mama mau masak hari ini” Mama tersenyum “mau ya, nak Brian?”
‘Heh? apa-apaan ini, mereka semua seperti drama pagi-pagi, kenapa mama jadi berlebihan begitu, tumben mau repot-repot masak banyak kalau gak arisan, senyumnya itu lho ... astaga’
“Ha? oh ... eh ... yaa ... ya nanti aku kabarin ya mam.”
“Eeh ... iya terima kasih tante, kalau Susan ... kasih, saya pasti datang” Brian melirik ke arahku yang sedang tercengang oleh drama pagi-pagi ini.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan lagi anggukan mama yang tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah kami berdua, aku sigap berjalan lebih dulu ke arah mobil Brian, kini ia malah membukakan pintu mobil untuk ku, OMG!
‘Seperti mimpi ketiban Brian, eh Duren maksudnya’
Kami pun masuk ke dalam mobil, dan tiba-tiba Brian menyodorkan sesuatu.
“Kamu pasti belum sarapan, aaah ... here, pizza?”
“Pizza? kok bisa? kamu tiap pagi sarapan begini?”
“Tidak, itu buat kamu ... aku tau pasti sulit sarapan kalau dikejar waktu, dan pizza satu-satunya makanan yang pernah kamu makan di depanku, ‘kan?”
“Oh ... okay, ya ampun kamu masih ingat rupanya, hahaha”
“Apa ada alasan aku untuk lupa?” Brian memalingkan posisi dan mencondongkan tubuhnya ke arahku, sambil memperhatikan ekspresiku yang terlihat bingung sambil memegang sekotak pizza medium.
“Maksudnya?”
Sesaat Brian terdiam tidak menjawab dan menatapku lebih dalam, jantungku berdebar membalas tatapannya mencoba mengerti pertanyaan singkatnya.
“Makanlah, Hufff ... kita berangkat ... “
Selama perjalanan kali ini tidak banyak yang ia bicarakan, entah apa yang Brian pikirkan tapi sangat terlihat ia lebih banyak melamun ketimbang semalam.
****
Kantor
Aku berbelok ke arah ruang kerja ku sedangkan Brian berjalan lurus ke arah ruang meeting. Moody macam apalagi ini, ternyata masih banyak kesamaan dirinya seperti dulu, ia sulit ditebak.
Terlihat beberapa teman satu ruanganku sudah datang lebih dulu, kusodorkan beberapa potong sisa Pizza yang baru saja kumakan satu slice tadi.
“Nih, cemilan pagi ya!”
“Wiiihh mantapp ... Bu Susan dalam rangka apa nih? ulang tahun?” ucap Rio.
“Bukan, Pak Rio ... , kan lagi ada yang kasmaran sama Mentor. sering-sering ya Bu Susan ... besok berarti lain lagi nih yang dibawa hahaha” sahut Ocha
“Ehh Ucan, ada gosip apa nih ... apa Cha?” canda Mbak Wulan
“Ituuu ... mentor yang kemarin mbak Wulan, ternyata oh ternyata .... gimana Bu Susan ...? mohon klarifikasinya ya hahaha” canda Ocha
“Apaan sih ini? hahaha gosip banget kalian. eh, Haya belum datang?”
“Belum, kenapa? mau curhat? sini lah sama kita-kita ya, ‘gak?”
“Udahh makan aja itu Pizza, sudah lama ya ... gak ada yang traktir hahaha”
__ADS_1
“Eh San, si Mentor itu pacarmu ya? apa mantan? bilangin ya sama dia ... Pak Rio HRD se-Jakarta gak akan perpanjang waktu Mentoring lagi kalau di sindir-sindir, memangnya dia tau apa kondisi layanan dan Agent kayak apa.”
“Yeh, ngomong saja langsung sana, ah kamu paling karena takut kesaing ganteng saja kan, Rio? ya jauhlah hahaha”
“Iisshhh, ganteng sayaaa laah hahaha”
Ternyata terus saja teman-teman satu tim-ku mencoba menggali info tentang hubunganku dengan Brian, apalah ini ... aku pun tidak tau harus mulai membuka hati lagi, bukan saja tidak mudah dengan status selama ini, tapi terasa janggal jika harus mencintai.
****
Sore itu aku bersiap pulang tanpa melihat Brian selama seharian, entah kemana dia hingga tidak ada saat makan siang, bahkan temanku bilang hanya beberapa Tim nya yang turun tangan, dia tidak ada, kemana dia pergi lagi. apa ia marah padaku atas sesuatu?
Aku meraih tasku dalam semangat yang hilang seharian ini, entah ada perasaan kecewa tersimpan dalam hati. Saat aku berbelok ke arah loby, kutemui Brian sedang berbincang dengan security lantai kami.
“Loh? kamu Bri ... “ aku berjalan menghampiri Brian.
“Hai, kenapa? mencariku ya? kamu kangen? hahaha”
”Ehh bukan, tadi pagi kan kamu datang kesini tapi kok malah pergi?”
“Hari ini memang aku serahkan pada tim-ku untuk sesi pengenalan Global, tidak perlu aku untuk materi hari ini, mereka juga bisa berjalan sendiri, aku sedang ada kepentingan lain.”
“Oh, kenapa tidak langsung pulang?”
“Menjemputmu. Memangnya ... aku tidak boleh dinner dirumahmu?”
“Hm ... ya boleh, tapi aku belum bilang sama Mama kalau hari ini jadi, aku pikir kan kamu tidak ada tadi”
“Tentu saja jadi, aku kan ingin berbincang-bincang dengan orangtuamu” Brian berjalan menghampiriku dan meraih Blazer dan tas ku lagi.
“Hm? sepenting itu?”
“Sangat penting untukku” Brian menunduk dan berbisik halus dekat telingaku. “ayo, pulang ... Pak terima kasih ya” ia melingkarkan tangan dipunggungku dan agak sedikit ku elak kali ini
“Eh ya Pak Brian, makasih ini lho donatnya” menunjukan sekotak donat.
“Sama-sama pak, sampai ketemu” kali ini mencoba menggandeng lenganku.
“Kamu kasih Pak Samsul Donat?”
“Iyaa aku pesan online tadi sambil menunggu kamu, daripada rokok, ya ‘kan? they love donut’s hehe.” sambil berjalan menuju lift.
‘Dia terlalu banyak nonton film, atau memang iya ... seperti di film-film amerika sana polisi suka makan donat?’
“Hhwoow” aku melirik terkesan dengan caranya kali ini, dan aku tersenyum melihat sikap baiknya terhadap orang lain, padahal dulu aku tau betul cara bicara dan sikapnya yang kaku terhadap Adam, sungguh kali ini aku mulai kagum melihatnya.
.
__ADS_1
.
Bersambung