
Pria yang tersungkur itu bangkit dan melawan balik meluncurkan pukulan ke arah Eli, namun dengan sigap Eli menangkap dan menahan lengan Pria yang tubuhnya lebih tinggi darinya itu.
TAPP!
Tanpa menunggu lama Eli meluncurkan kepalan tangannya pada bagian perut dan hulu hati Pria itu secara bertubi-tubi, kemdian menendangnya hingga terhempas kembali ke sofa Lounge yang berjajar berbentuk setengah lingkaran itu.
BUGG...BUUGG...
Beberapa pekikan pengunjung wanitaterdengar juga disambut segelintir orang yang mencoba memanggil security di Club tersebut.
Pria itu meraih gelas minuman yang berada di atas meja Lounge dan memecahkan bagian ujungnya pada meja tersebut
PRAAANNGG
Ia menodongkan gelas yang terpecah pada bagian pangkalnya tadi ke arah Eli, dengan cepat melangkah maju untuk menghujamkannya ke tubuh Eli, sigap Eli menepis tangan Pria itu namun tak terhindarkan tangannya sempat terbesit benda tajam itu.
Security yang datang dengan cepat menodongkan senjata ke arah Pria tersebut, dengan pasrah akhirnya Ia melepaskan gelas runcing itu dari tangannya.
“Dia berniat melakukan pelecehan, Pak!” tegas Eli seraya menunjuk ke arah Pria tersebut.
“Benar begitu?! wanita itu siapa?? dia pacar anda?!” bertanya kepada Pria tersebut.
Karena didalam situasi seperti itu apabila memang mereka sepasang kekasih, pihak club tidak melanjuti jika terkait urusan pribadi.
“Diaa ...”
Belum sempat Pria itu menjawab, Eli membantah cepat.
“Bapak lihat wanita itu kan?? dia tadi bersama saya! jelas-jelas dia kekasih saya Pak!!” tegas Eli, sambil berusaha mengatur napasnya setelah berkelahi tadi.
“Oh, ya baik kalau begitu , Mas ikut saya!” Security itu menarik tangan Pria itu yang menengadahkan tangannya ke atas.
Sesaat Pria itu dibawa oleh pihak security, Eli yang masih terluka pada bagian lengannya membopong tubuh Susan yang setengah sadar dengan kedua tangannya untuk keluar dari area. Beberapa orang tim yang berusaha membantunya tidak digubris oleh Eli, ia tetap membawa Susan keluar dari Club itu.
Eli membawa Susan ke arah parkiran dan merebahkannya di kursi belakang mobil, ia bahkan mengabaikan darah yang menetes dari lengannya.
“Ya Tuhan, kau sudah kuingatkan sayang ... kenapa tidak mendengarkan aku ...” lirih Eli menatap Susan yang mencoba membuka matanya yang terasa berat.
Eli merasa tidak bisa meninggalkan Susan sendiri lagi, ia pun menghubungi tim untuk membawakan sebagian barang bawaannya.
“Tolong bawakan beberapa peralatanku ke parkiran, aku tidak bisa melanjutkan lagi malam ini ... ! ya! nanti aku coba hubungi manager club selepas ini! ku tunggu ya, segera!”
Beberapa lama menunggu, tim-nya datang menghampiri Eli membawa beberapa barang penting miliknya.
__ADS_1
“Sampaikan pada Darren, gantikan posisiku sementara malam ini ... aku harus kembali segera, kondisinya tidak terkendali!” tegas Eli kepada Tim nya.
“Okay El, tapi tanganmu terluka, bagaimana ... apa kamu bisa mengemudi dengan kondisi seperti itu!” tanya Tim nya terlihat khawatir.
“I’m okay!” jelas Eli dengan singkat sambil menghidupkan mobilnya, dengan cepat kemudian mengemudikannya keluar dari parkiran dan melaju cepat di jalan raya yang mulai sepi di malam itu.
Perasaan bersalah menyelimuti hati dan pikiran Eli, matanya yang memerah karena menahan emosi tadi kini tergenang cairan bening yang tidak mampu keluar dari matanya.
‘*Sekali lagi aku gagal menjagamu, kenapa kau begitu keras kepala seperti ini ketika aku lengah dengan keberadaanmu’ *lirih Eli
****
Kendaraan itu melesat cepat di jalur tol malam itu, dalam waktu singkat mulai memasuki kota kecil tempat tinggalnya, Eli memikirkan bagaimana membawa Susan kembali ke rumahnya, karena itu sangat tidak mungkin mengingat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Eli mencoba menghubungi Kak Zac namun tidak ada jawaban.
Sesampainya di kawasan perumahan elit itu, Eli menghentikan kendaraannya secara perlahan, menekan remote rolling door garasi dan memarkirkannya ke dalam.
Eli membuka pintu bagian belakang, dan mencoba melihat kondisi Susan yang sesekali mengerang kesakitan.
“Susan! kamu sudah bisa mendengarku? jangan banyak gerak, kita ke dalam!” pinta Eli dengan suara yang pelan.
Eli membopong kembali Susan masuk ke dalam rumahnya dan membawanya ke kamar pribadinya.
(jeng.. jeng...jeng.., Thor jgn ngerusak cerita dong Thor hehe)
‘Kenapa kau tidak sadarkan diri begitu lama, kalau saja martini yang benar diberikan tidak akan separah ini kondisimu sekalipun kau tidak pernah mencoba sebelumnya’ Batin Eli bertanya-tanya
Eli terduduk di sisi tempat tidurnya dan memandangi mantan kekasihnya itu dengan iba, mengusap perlahan dahinya yang berkeringat dan akhirnya menyadari ada kelembaban pada kaus wanita itu.
Memberanikan diri mendekat untuk mengetahui cairan apa yang membasahi bagian depan kaus yang dipakai Susan.
Deg.. deg.. deg
( hajaaaaar... hajaaaar...! woy Thor berisik!!!)
Eli mengusap perlahan bagian tersebut an mendekatkan jarinya ke hidung dan menghirupnya untuk mengetahui cairan apa itu, Eli terhenyak mengetahui bahwa itu adalah bau alkohol yang jelas bukan martini yang disebutkan mengandung lemon didalamnya, ini jelas minuman lain yang sudah diminumkan ke Susan sehingga wanita itu sulit untuk siuman dalam waktu yang cukup lama.
‘Ini pasti minuman dari gelas yang dipecahkan dan mengenaiku tadi’ pikir Eli
“Hhhh ... ke—palaku sa—kit 'El ... ini sakit sekali ... “ ucap Susan, ia merasa seakan baru saja benda keras membentur hebat di bagian kepalanya
“Sayang ... istirahatlah ..., kamu aman disini bersamaku, Love” ucap Eli dengan halus
(YAAKIINN??!..,, hehe)
__ADS_1
“El—li ... bagaima—na ini ... dimana aku ...” ucap Susan sambil menahan sakit dikepalanya dalam keadaan terpejam.
“Berhenti bicara ... Istirahatlah ... ini masih dini hari, kita belum bisa kembali kerumahmu” Sambut Eli seraya mengusap rambut Susan perlahan.
Sesaat Eli mengalihkan pandangannya ke arah bekas luka ditangannya dan segera membersihkannya ke kamar mandi, Eli mencuci luka serta wajahnya kemudian membuka kemeja yang dipakainya dan mengambil selembar kaus lain dalam lemarinya, tubuh atletis yang selama ini tertutup kaus itu kini nampak terlihat jelas, Eli berjalan mengibaskan kaus sambil tetap memperhatikan kondisi wanita itu dari kejauhan.
‘Apa aku harus mengganti pakaiannya juga? bisa sakit dia dengan pakaian lembab seperti itu’ batin Eli masih fokus pada ke khawatirannya.
Ia menghampiri perlahan dan berniat menggantikan pakaian Susan dengan kaus yang dipegangnya, baru saja ia melayangkan tangannya untuk menyentuh pakaian Susan ia berpikir kembali.
‘Apa aku harus menutup mataku sambil mengganti kausnya, baiklah ... kalau ini memang harus’ Batin Eli memaksa, ia memejamkan matanya ketika posisi membuka kaus yang dipakai Susan.
Sedikit meraba letak helai kaus yang harus dilepasnya, mengulurnya ke atas untuk dilepaskan ke bagian tangan dan kini wanita itu hanya terlihat menggunakan pakaian dalam serta celana jeans nya.
“Di—ngin ...“ Lirih Susan sambil mengerang kesakitan serta gemetar seperti kedinginan.
Eli terpaksa membuka mata karena mendengar Susan berbicara, dan seketika hasrat yang sedari berangkat tadi ditahannya muncul kembali dan terlebih menemui kondisi kekasihnya yang sudah hanya tertutup sebagian tubuhnya.
DEG
Napas Eli kini mulai lebih terasa berat dan semakin cepat. Menjadi tidak mudah baginya menguasai diri.
Tangan Susan yang lemas terangkat, berusaha menolak dan mendorong dengan tenaga yang tersisa pada bahu pria mantan kekasihnya itu.
“Hold on, Love ... please ... be calm ...” ucap Eli dengan halus saat terhenti sejenak mengambil napas saat lebih leluasa mengambil tindakan sendiri. Tanpa berpikir panjang menciumi mantan kekasihnya itu.
“El—li ... please ... don't ...” ucap Susan, terbawa suasana dan ikut terpancing akibat pengaruh Alkohol yang masih melekat.
Sekali lagi dan mereka belum bisa terhenti.
Hingga kini begitu dalamnya permainan itu nyaris tidak bisa mengendalikan tingkat kesadaran keduanya. sekali lagi segalanya menjadi meningkat lebih jauh.
“Stop ... Dont— do this ... El ..!” lirih Susan dengan napas yang tidak stabil masih menahan campurnya rasa sakit dikepala dan menentang keinginannya sendiri.
Bagaimana pun kondisi tersulit seperti ini dialaminya kedua kali, meskipun hubungan mereka terpaksa kandas mendadak, dilema karena perasaan yang belum hilang bagi mereka berdua.
Eli sepertinya tenggelam oleh suasana sehingga pendengarannya seakan tertutup ... enggan mendengar permintaan wanita itu kesekian kalinya, dan kini Eli mulai mengikuti instingnya menginginkan lebih.
“ please stop ... Eli ... I—Love—you ... ”
Seketika cairan bening mengalir dari dalam mata wanita itu ... hanya mampu memohon dengan terbata-bata diantara kelemahannya lagi yang tersisa .... sekali lagi ...
Bersambung
menurut thor ya🤓
__ADS_1
seandainya itu memang minuman yang sudah bercampur dengan kandungan aman lainnya semacam jus seharusnya tidak membuat orgny tidak sadarkan diri, hanya rasa seperti kantuk yang dominan timbul atas efek tersebut (tapi tergantung tiap orang yaa) makanya Susan dalam kondisi Drop akibat kembali dipaksa meminum alkohol dengan persen yang tinggi, tp entah apa itu namanya. mata dan kepala akan terasa lebih berat... kalau dibawa jalan kejedot bisa itu orang.., maka.,, jagalah diri.., sebelum ada org lain yang mencoba mengambil keuntungan dari kelemahan kita...
berpikirlah dua kali sebelum bertindak